
"Kamu benar, Ali memang bukan kakakku. Melainkan dia suamiku, tapi entah kenapa Ali mengaku bahwa aku ini adiknya bukan istrinya. Mungkin dia merasa malu karena menikah denganku."batin Prilly
Ucapan Bani membuat Prilly bungkam seketika, ia larut dalam lamunannya~
"Prilly, hei?"tanya Bani sambil melambai lambaikan tangannya di hadapan wajah Prilly
"Ehh iya, apa? kenapa?"tanya Prilly tersadar
"Kamu yang kenapa? Kenapa melamun seperti itu?"tanya Bani
"Aku? Enggak, aku gak apa apa. Sudah selesai, aku bayar dulu ke kasir."ucap Prilly kemudian meninggalkan Bani begitu saja
Kemudian Bani melangkah mengikuti Prilly~
Setelah selesai dengan belanjaannya Prilly memutuskan untuk mencari tempat makan dan segera mengisi perutnya yang terus terusan meronta, dengan ditemani Arbani tentu saja.
Mereka mulai memasuki restaurant tersebut, dan betapa kagetnya Prilly melihat orang yang dikenalnya tengah terduduk disana. Namun ia memilih untuk tetap diam, ia berpura pura seakan tidak melihatnya..
"Prilly, bukankah itu Ali?"tanya Bani sambil menunjuk ke arah Ali
"Hmm..."jawab Prilly singkat melihat sekilas kearah yang ditunjuk Bani
"Tapi dia bersama siapa? Mereka terlihat akrab sekali. Tunggu tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana? Siapa ya?"ucap Bani mencoba mengingat ingat
"Ahh Tania?"ucap Bani berhasil mengingatnya
Ya, Ali tengah bersama dengan Tania saat ini..
"Kamu mengenal Tania?"tanya Prilly
Bani terdiam dan tersenyum..
"Tentu saja, aku pernah bekerja bersamanya beberapa kali."jawab Bani
"Bekerja bersama? Dalam bidang apa?"tanya Prilly penasaran
"Sepertinya kamu penasaran sekali pada Tania?"Goda Bani
"Apa? Tidak, biasa saja."ucap Prilly berusaha mengelak
Bani tersenyum karena merasa telah berhasil menggoda gadis cantik di hadapannya itu~
"Mmm, modelling dan juga perfilman."jawab Bani
"Apa, modelling dan perfilman? Berarti kamu? Kamu juga seorang artis seperti mereka?"tanya Prilly seakan tak percaya kemudian menutupi mulutnya dengan kedua tangannya
"Ahh sudahlah, ayo duduk saja dan pesan makanan.."ucap Bani
Mereka pun duduk di meja yang cukup dekat dengan Ali dan Tania.. Prilly acuh saja seolah tak mengenal, sedangkan Ali sejak tadi hanya melirik Prilly secara diam diam..
Sambil menunggu pesanan mereka tiba Arbani kembali membuka pembicaraan..
"Prill, boleh aku bertanya?"tanya Bani
"Boleh, mau tanya apa?"ucap Prilly
"Apa mereka mempunyai hubungan khusus?"tanya Bani
"Mereka? Mereka siapa maksud kamu?"tanya Prilly
"Maksudku Ali dan juga Tania. Apa mereka berpacaran?"tanya Bani lagi
"Mungkin, aku tidak tahu. Ali tidak pernah bercerita apapun padaku."jawab Prilly tersenyum
"Ohh, lagipula itu urusan mereka.. Lalu bagaimana denganmu?"tanya Bani mengubah arah pembicaraan mereka
"Apa? aku?"tanya Prilly dengan mata yang menyala dan menunjuk dirinya sendiri
"Memang aku kenapa?"sambung Prilly
"Iya, kamu. Tidak apa apa. Aku hanya ingin tahu, apa kamu sedang mempunyai hubungan khusus dengan seseorang?"ucap Bani
"Tidak ada, aku tidak sedang dekat dengan siapapun atau mempunyai hubungan khusus dengan siapapun. Bagaimana denganmu?"ucap Prilly dan balik bertanya
"Apa? Tidak ada? Seorang Prilly?"ucap Bani dengan suara tinggi sehingga membuat semua pengunjung termasuk Ali dan Tania menoleh kearahnya..
"Tidak usah berteriak juga. Aku malu.."ucap Prilly sambil membekap mulut Arbani dan itu membuat jarak wajah diantara mereka menipis, sekilas mereka saling menatap satu sama lain.
Dalam diam Ali terus saja melirik ke arah Prilly dan juga Arbani~
Tak lama setelah itu Prilly melepaskan bekapannya..
"Ehh, maaf maaf. Aku minta maaf.."ucap Prilly
"Tidak, aku yang minta maaf."ucap Bani
Ali melihat semua kejadian itu, dan entah kenapa Ali mendadak terdiam menatap Prilly.. Menatap tajam!
"Ahh, tidak.. Aku tidak apa apa. Ayo lanjutkan makan, setelah itu kita pulang."ucap Ali
"Apa, pulang? tapi aku masih mau jalan jalan sama kamu.."rengek Tania
"Tania, aku capek.. Aku baru aja sampai, tolong mengertilah."ucap Ali sedikit membentak Tania
"Kamu bentak aku?" ucap Tania
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.. Aku hanya lelah. I am sorry.."ucap Ali mengelus kepala Tania
"Tidak apa, lagipula aku yang salah. Seharusnya aku mengerti kamu yang sedang capek. maafkan aku sayang."ucap tania mengelus pipi Ali
Ali kembali menatap meja Prilly, dan Prilly sedang makan disana. Dan disuapi oleh Arbani.. Ohh my god!!!!
"Coba makanan aku Prill, ini sangat enak.."ucap Bani mancoba menyuapi Prilly yang sejak tadi menolak..
"Tidak perlu, aku juga sedang makan.."tolak Prilly secara halus
"coba satu suap aja.. Ayolah..Aaaaaa"ucap Bani..
Prilly menyerah, dan akhirnya iapun membuka mulutnya..
"Bagaimana? Enak bukan?"tanya Bani
Prilly hanya mengangguk karena mulutnya sibuk mengunyah.. Bani hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Prilly yang sedang mengunyah makanan, seperti anak kecil..
Ali tidak melanjutkan makannya, dengan segera ia mengajak Tania pergi dengan alasan ia sangatlah lelah dan butuh istirahat. Tanpa banyak bicara Tania pun hanya menurut saja..
Sedangkan Prilly masih asik menikmati makanannya bersama Arbani..
Selesai menikmati makanannya, akhirnya Prilly kembali ke villa dengan diantarkan pria yang baru saja ia kenal beberapa jam yang lalu itu, siapa lagi kalau bukan Arbani..
"Kenapa lampunya masih mati? Apa Ali belum pulang?"tanya Prilly seorang diri sambil menyalakan satu persatu lampu di villanya..
Prilly kemudian membersihkan dirinya..
Sedangkan ditempat yang berbeda....
"Aku pulang yaa..."ucap Ali
"Ihh, kenapa pulang? Nanti dululah, temani aku dulu disini.."rengek Tania sang kekasih sambil bersandar pada Ali
"Aku kan butuh istirahat juga sayang, kamu gak kasian apa sama aku."ucap Ali
"Yaudah kamu istirahatnya disini aja, menginap disini.."pinta Tania
"Aku minta maaf, aku tidak bisa menginap sayang. Nanti Prilly bagaimana, kasian dia sendirian di villa.."ucap Ali tanpa sadar
"Apa? Kasian Prilly?"tanya Tania
"Iya.. Ehh, bukan begitu maksudnya."ucap Ali
"Kasian sama Prilly, iya? Yaudah sana pulang.. Kasiannya sama Prilly kan, bukan sama aku? yaudah sana pergi. kasian tuhh nanti Prilly nunggu kelamaan.."ucap Tania kesal
"Bukan begitu maksudku Tania, dia kesini sama aku itu berarti dia jadi tanggungjawab aku. Nanti kalau dia kenapa-kenapa, aku juga yang kena marah sama keluarganya sama keluargaku juga. Emang kamu mau seperti itu?"ucap Ali
Tania hanya terdiam..
"Dengarkan aku, aku hanya memegang amanat keluarga aku sama keluarga dia saja untuk menjaga dia. Bukan karena aku care sama dia atau apapun itu, sebenarnya aku juga malas sayang harus menjaga dia.. Kamu mengertikan maksudku, kamu harus percaya sama aku. Aku cuma cinta sama kamu, inget itu!"ucap Ali menangkup kedua pipi Tania
"Gak tahu, terserah kamu..!"ucap Tania kemudian beranjak pergi dari tempat duduknya
"Sayaanggg....."ucap Ali
Tetap tak ada jawaban dari Tania...
"Yasudah aku pergi ya, aku pulang.."ucap Ali dengan suara yang sedikit dikeraskan kemudian pergi
Ali benar benar pergi~
---------------------
"Ini sudah jam berapa? Kenapa Ali masih belum pulang juga?"ucap Prilly yang sedari tadi menunggu kepulangan sang suami sambil sesekali melirik jam yang tertempel pada dinding
"Bodoh, Prilly bodoh! kenapa juga aku harus menunggu Ali pulang? Mau di tunggu sampai kapanpun dia tidak akan pulang, sudah pasti dia menginap ditempat Tania.. Dasar bodoh! Lebih baik aku tidur.."ucap Prilly merutuki dirinya sendiri
Tak lama terdengar suara mobil, mungkin itu adalah Ali.. Prilly masih bisa mendengarnya, namun ia sudah tak bisa menahan rasa kantuknya lagi. Jadi ia tertidur..
Ali membuka pintu kamar dan menemukan Prilly sudah tertidur lelap..
"Istri macam apa dia ini, bukannya menunggu suami pulang malah enak tidur sendiri."dumel Ali kemudian membersihkan tubuhnya
Setelah itu ikut terlelap bersama Prilly yang telah lebih dulu mengembara di alam mimpi