My Prilly

My Prilly
Menahan Gejolak



Berbeda dengan Ali~


Selama pemotretan ia hanya terdiam, tanpa sepatah katapun. Ia melakukannya dengan baik, hanya saja hari ini ia sangat sulit untuk diajak berbicara apalagi diajak untuk bercanda.


'Aku harus segera menyelesaikan perkerjaanku'hanya itulah yang ada dipikirannya.


Oleh karena itu ia begitu serius melakukan pemotretan hari ini, agar cepat selesai. Itulah alasan atas diamnya Ali hari ini..


"Kamu kenapa? Dari tadi susah sekali diajak bicara. Kamu marah sama aku?"tanya Tania setelah selesai melakukan pemotretan sekitar pukul 5 sore. karena melihat Ali yang dari tadi terus terdiam


"Tidak apa. Aku hanya merasa lelah."jawab Ali


"Tapi kamu tidak biasanya seperti ini Ali. Aku tahu kamu bagaimana!"jawab Tania menyangkalnya


"Sungguh aku tidak apa apa, aku hanya merasa kelelahan. Lagipula tadi malam aku tidak bisa tidur. Tidurku tidak nyenyak."jawab Ali kembali..


"Baiklah baiklah, kalau begitu cepatlah pulang dan segera beristirahat. Okay.."ucap Tania dan menangkup wajah kekasihnya itu


"Iya, aku akan segera tidur sepulang dari sini."ucap Ali


"Nanti malam aku akan mampir ke villamu dan membawakanmu vitamin."ucap Tania


"Tapi........"ucap Ali


"Tidak ada penolakan. Jadi tunggu saja."ucap Tania serta menaruh telunjuknya di bibir Ali


Ali hanya diam, tidak tahu harus berkata apalagi. Karena ia tahu benar bagaimana sifat kekasihnya itu..


"Baiklah.."jawab Ali pada akhirnya


Dengan segera ia melajukan mobilnya menuju villa. Lelah? Persetan dengan ucapannya pada Tania..


Karena yang terpenting saat ini adalah keberadaan Prilly. Meskipun ia sendiri belum yakin dengan perasaannya terhadap Prilly. Semua masih samar samar~


Prilly sudah rapi dengan pakaian santai di villanya. Ia memeluk setoples cemilan sambil menonton televisi diruang keluarga.


"Hmm, indahnya hidupku ini. Apalagi jika tak ada Ali. Ehh...."ceplos Prilly kemudian langsung menengok kanan kiri takut jika Ali sudah datang dan mendengarnya


*TOKTOK


Ali tiba di villanya sekitar pukul set.7  malam


"Pasti dia datang."ucap Prilly mendengar suara pintu diketuk


"Kenapa tidak langsung masuk saja? Apa dia lupa membawa kunci?"Prilly bertanya tanya karena dirinya dan Ali sengaja membawa kunci masing masing agar bisa masuk villa bila salah seorangnya sedang tak ada dirumah


Prilly beranjak dan membukakan pintu..


"Kenapa tidak langsung masuk saja. Kamu lupa membawa kunci?"ucap Prilly begitu sudah membuka pintu dan kembali ke tempat duduknya semula


"Kamu darimana?"tanya Ali tanpa menjawab pertanyaan Prilly


"Main."jawab Prilly singkat karena fokus pada tontonannya dengan mulut yang penuh dengan cemilan


"Aku sedang bicara.."ucap Ali dengan nada dinginnya dan menatap tajam Prilly


Prilly mendengus kesal dan mulai mengalihkan padangannya pada Ali meninggalkan tontonannya, tidak dengan cemilan ditangannya yang tetap ia pegang


"Apa kamu lupa membawa kunci?"tanya Prilly tidak nyambung


"Tidak, aku selalu membawanya."jawab Ali seadanya


"Terus kenapa......."ucapan Prilly terpotong


"Aku sengaja melakukannya, karena ingin tahu kamu sudah pulang atau belum."jawab Ali seadanya


"APA?"tanya Prilly heran


"Kamu darimana?"tanya Ali dengan pertanyaan yang sama


"Apa kamu pergi lagi dengannya?"tanya Ali lagi dan mulai melangkah mendekati Prilly


"Iya."jawab Prilly jujur


"Untuk apa?"tanya Ali kembali lalu ia berlutut dihadapan Prilly yang tengah terduduk disofa


"Tidak ada tujuan apa apa. Aku hanya bermain, bersenang senang. Itu saja."Prilly memberanikan diri menjawab sambil kembali melahap cemilannya, santai~


"Tidak bisakah kamu hanya berdiam diri di villa dan menunggu suamimu pulang?"tanya Ali dan mulai mendekatkan wajahnya


Dengan spontan Prilly memundurkan wajahnya. Ia menggeleng dengan mulut yang masih terisi oleh kue stick kejunya~


"Kenapa?"tanya Ali kembali dan terus mendekatkan wajahnya


Prilly menggeleng (lagi)~


"Kamu bosan? Apa kamu butuh teman? Akan aku berikan jika kamu menginginkannya."ucap Ali semakin dekat dengan Prilly


Prilly kembali menggelengkan kepalanya. Ia masih terdiam~


Kurang lebih hanya ada jarak 2cm antara wajah Ali dan Prilly..


Dekat...


Dekat...


Dekat...


Dan...............


CUP^


^TINGNONGG


Namun ciuman Ali meleset pada pipi kanan Prilly, berkat kecepatan Prilly menoleh akhirnya hanya pipi kanan Prilly lahh yang menjadi korban 'keisengan' Ali.. Prilly hanya memejamkan matanya. Tegang~


Ali menjauhkan wajahnya dan tersenyum begitu melihat raut wajah Prilly, dengan kue stick keju yang berada dimulutnya dan mata yang terpejam. Imut~


Kemudian Ali meraih dagu Prilly dan menghadapkan kearahnya..


"Aku menginginkan ini, kenapa kamu malah tidak mau memberikannya? Pelit sekali."ucap Ali dan dengan cepat mengambil alih kue stick keju tersebut dari mulut Prilly menggunakan mulutnya. WHAT???? 😱


Prilly seketika membolakan kedua matanya~


"Lain kali kamu harus memberikannya padaku jika aku menginginkannya."ucap Ali kemudian beranjak dan hendak membukakan pintu


Prilly masih terdiam mematung~


"Apa maksud perlakuannya padaku ini? Rupanya ia ingin mencoba mempermainkan aku, lihat saja siapa diantara kita yang akan lebih dulu bertekuk lutut."batin Prilly


Dengan cepat ia beranjak pergi dan menuju kamar.. Akan lebih aman. Pikirnya^


Ali kembali namun tidak melihat keberadaan Prilly..


"Kamu sedang apa tadi? Kenapa lama sekali membukakan pintunya?"ucap Tania yang ternyata sungguh datang


"Aku baru saja sampai dan duduk disini, lihat pakaianku saja masih sama. Tadi jalanan macet, jadi aku sedikit terlambat sampai kemari."ucap Ali jelas saja berbohong


Tania hanya mengangguk~


"Ini vitamin untukmu."Tania menyerahkan apa yang dibelinya diperjalanan ketika hendak ke villa Ali


"Terimakasih."ucap Ali menerimanya


"Prilly mana?"tanya Tania


"Aku tidak tahu. Aku belum melihatnya."ucap Ali berbohong kembali


"Duduklah, akan aku ambilkan minum untukmu. Dan sekali lagi terimakasih untuk ini."ucap Ali menunjukan vitamin yang dibawa Tania kemudian berlalu pergi


Tania hanya mengangguk mengiyakan.. kemudian terduduk..


Ali kembali dengan dua gelas minuman ditangannya.. Dan merekapun mengobrol..


Tak lama kemudian Prilly keluar dari kamarnya dengan tergesa gesa sambil menerima telepon dan melangkah menuju pintu keluar..


"Iya tunggu, aku akan keluar segera."ucap Prilly kepada orang di seberang telpon sana


Seketika Ali merasa terganggu dengan itu. Penasaran~


"Dia menelpon siapa? Kenapa harus berlari terburu buru seperti itu?"batin Ali bertanya tanya


"Kenapa?"tanya Tania


"Ha? Tidak. Tidak apa apa."jawab Ali dengan rasa penasarannya yang memuncak


Tak lama kemudian.......


"Ayo masuklah."ucap Prilly mempersilahkan masuk seseorang


"Iyaa."jawab seorang lelaki


Ali menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar adanya suara seorang lelaki. Matanya membola seketika..


"Hai Al.."sapa lelaki tersebut yang ternyata sudah mengenal Ali


Ali terdiam~


"Ohh hai Bani, kamu sedang apa disini?"malah Tania yang menjawabnya dan sekaligus bertanya


"Hanya ingin bertemu Prilly."jawab Arbani


"Ka...kalian saling kenal?"tanya Tania


"Iya, aku bertemu dengannya dibandara beberapa hari yang lalu."jawab Arbani menjelaskan


"Ayo Bani kita ngobrol di......"ucapan Prilly terpotong


"Dimana? Disini saja..!"ucap Ali tiba tiba sedikit menaikan suaranya


Semua heran dengan respon yang diberikan Ali..


"Tidak, aku tidak mau. Disinikan sudah ada kalian."jawab Prilly


"Memangnya kenapa jika ada kami? Kalian mau apa?"tanya Ali kembali dengan tatapan tajamnya


"Tidak apa. Hanya sajaa........."ucap Prilly


"Akan terasa aneh jika kita saling mendengar obrolan masing masing. Takutnya ada yang bersifat privacy diantara setiap pasangan."jelas Arbani


"Maksudnya setiap pasangan?"tanya Ali merasa tak terima dengan ucapan Arbani yang menyebut Prilly sebagai pasangannya


"Iya, kamu dengan Tania dan aku dengan Prilly tentu saja."jelas Arbani lebih mendetail


Mendengar itu Ali mengepalkan tangannya menahan amarah~


"Sudahlah, ayo pergi."ucap Prilly menarik tangan Arbani menuju teras belakang villa dimana terdapat kolam renang disana


Ali semakin membolakan matanya melihat tangan Prilly yang memegang tangan Arbani dan kemudian menariknya pergi..


Amarah Ali meradang disana. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menahannya, menyembunyikannya dari Tania. Rahangnya mengeras, wajahnya yang kini memerah dan dengan sorot mata yang semakin menajam. Ali masih bertahan disana, bertahan mengepalkan tangannya~


Jangan lupa tekan Likenya teman teman, Terimakasih sudah baca "My Prilly". Dan maaf untuk segala kekurangannya 🙏😊


Terus tunggu kelanjutan ceritanya yaa 😘😘