
Prilly bangun dari tidur lelapnya, ia hendak beranjak dari tempat tidur. Tapi tunggu, kenapa Prilly merasakan ada sesuatu yang menimpa perut ratanya. Diliriknya kearah tersebut, dan.... ia menemukan tangan seseorang disana.
Tangan Ali? ya benar, itu tangan kekar milik Ali. Suaminya.. Tapi kenapa bisa? Kemana perginya pembatas jarak yang Prilly buat? Sepertinya Ali merobohkannya dan berhasil menerobos pembatas tersebut yang sekarang berada dibelakang tubuh Ali..
Mungkin Ali lebih tertarik pada tubuh mungil milik Prilly dibandingkan pembatas tersebut yang tak lain adalah bantal guling..
Dengan sangat perlahan Prilly mencoba memindahkan tangan Ali namun gagal karena Ali kembali menarik pinggang Prilly.
"Diamlah."ucap Ali mengigau dalam tidurnya
Prilly terdiam sejenak~
Kemudian kembali mencoba melepaskan tangan Ali yang melingkar di pinggangnya, secara perlahan dan akhirnya berhasil.
Prilly dengan segera membersihkan dirinya sebelum Ali terbangun dari tidurnya. Kini ia sudah terlihat rapih dan cantik seperti biasa dengan polesan makeup tipis di wajahnya..
"Dia belum bangun juga.. Hhhh, bukannya cepat bangun, mengajak istrinya jalan jalan atau apa. Benar benar tak bisa diharapkan."ucap Prilly melihat Ali yang masih tertidur pulas
Kemudian Prilly berlalu hendak membuat sarapan.
Dengan telaten Prilly memasukkan semua bahan makanan yang ia butuhkan dan membumbuinya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Prilly untuk menyelesaikan masakannya. Ia hanya memasak makanan yang simple dan menurutnya dapat mengenyangkan.
Tersedialah dua piring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, tak lupa dengan hiasan sayuran serta taburan bawang goreng. Cukup menggugah selera. Prilly juga menyiapkan dua gelas jus orange disana, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri meskipun ia sendiri tidak yakin apakah Ali akan memakan masakan yang ia buat atau tidak.
Kemudian ia memakan hasil masakannya dengan lahap~
"Enak, tidak mengecewakan."ucap Prilly berkomentar atas masakannya sendiri
Prilly selesai dengan sarapannya, dilihatnya kembali Ali yang masih tertidur pulas.
"Hmm, Ali masih tidur.. Sampai kapan dia akan tertidur? Padahal aku ingin pergi, atau aku....."ucap Prilly kemudian tersenyum.
Ali mulai membuka kedua matanya karena gangguan sinar matahari yang semakin tinggi masuk melalui celah jendelanya.. Di rabanya kasur disampingnya, dan kosong. Tak ada siapa siapa disana.. Siapakah yang dia cari? Prilly mungkin? Hhh, tidak mungkin~
"Dia pergi kemana pagi pagi begini??"tanya Ali seorang diri
Ali mulai beranjak dari tempat tidurnya, bergegas untuk mandi..
Tak butuh waktu lama, kini Ali sudah terlihat rapih dengan pakaian yang digunakannya..
Namun sesuatu berbunyi, apakah itu? Perutnya, suara itu berasal dari perut Ali.. Lapar kini melanda dirinya.
Dibukanya tutup saji di meja makan, matanya tertuju pada sesuatu disana, namun yang pasti bukan kearah makanan. Sebuah surat. Mata Ali tertuju pada sebuah surat disana, tepat disamping makanan tersebut.
Ali mengambil surat tersebut, kemudian membacanya....
"Aku pergi keluar, tidurmu sangat lelap aku tidak tega membangunkan. Sarapan kamu udah aku siapkan. Aku harap kamu suka, maaf aku tidak berpamitan atau meminta izin dari kamu..." -Prilly
Kurang lebih seperti itu isi surat dari istrinya, Prilly..
"Hhh, dia pikir aku mau makan makanan yang dia buat. Jangan pernah bermimpi!!"ucap Ali melemparkan surat tersebut kesembarang arah kemudian pergi
Dilain tempat -----
Prilly asyik berjalan santai di pinggir pantai, melihat alam sekitar. Memperhatikan ombak yang saling berkejaran, sesekali iya bermain air tatkala gulungan ombak kecil menghampiri kaki mungilnya..
Ia dapat tersenyum dengan begitu bebasnya disini, bahkan sesekali ia juga tertawa.. bukan tanpa alasan. Melainkan ia dibuat tertawa oleh segerombolan anak kecil yang sedang asyik bermain disana, bersamanya. Menemaninya..
Prilly duduk termenung memandang indahnya lautan yang berada di depannya..
---------
"Apa Ali belum pulang?"tanya Prilly pada dirinya sendiri karena ketika kembali memasuki villa tidak ada tanda tanda keberadaan Ali
Prilly melangkahkan kakinya menuju ruang tv, dan disana tvnya menyala namun tak ada yang menonton.. Heran? pastinya..
"Darimana saja? baru pulang jam segini?"ucap seseorang dan Prilly mengenali suara itu
"Ali? kamu ada dirumah?"tanya Prilly
"Aku tanya kamu darimana? Malah balik nanya.."ucap Ali sinis
"Maaf, aku habis jalan jalan.. Disekitar pantai ko, aku kira kamu belum pulang.."ucap Prilly mencoba tersenyum
"Lain kali kasih kabar aku, senang sekali membuat orang khawatir. Kamu tidak tahu dari tadi aku menunggumu..."ucap Ali sedikit menaikkan suaranya
"Iya aku minta maaf."jawab Prilly
"Tunggu, tadi apa kamu bilang? Kamu menunggu aku? khawatir?"tanya Prilly memastikan apa yang barusan ia dengar
"Ya tentu saja aku khawatir."ucap Ali tak sadar
"Mmm, maksudku.... kamu itu istri aku, kalau ada apa apa sama kamu nanti aku juga yang kena marah sama keluarga kamu, sama keluarga aku juga."ucap Ali menjelaskan
"Iya maaf, tidak akan ku ulangi lagi. Ohh iya, kamu sudah makan?"tanya Prilly mencoba mengalihkan pembicaraan
"Sudah, lagipula kamu tidak perlu sok - sokan masak untukku. Karena percuma, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau memakan masakan kamu. Buang buang bahan makanan saja."ucap Ali kemudian pergi menuju kamarnya
"Ishhhh, itu orang benar - benar menyebalkan. Huhh, sabar Prilly sabar.."ucap Prilly mengelus dadanya
Prilly bergegas membersihkan dirinya, kemudian ia kembali berkutat di dapur membuat apapun yang dia bisa untuk mengisi perutnya yang kini sedang dilanda rasa lapar..
"Akhirnya selesai juga."ucap Prilly yang baru saja menyelesaikan masakannya yaitu kwetiaw goreng..
Ya, itulah yang dibuatnya sore hari ini, untuk menghilangkan rasa laparnya..
Dengan lahap Prilly menyantap hasil masakannya itu. Tangan Prilly yang memang sangat lihai dalam hal memasak, jadi tak diragukan lagi kalau hasil masakannya selalu enak.
Ali keluar dari kamar menuju meja makan. Entah karena ia mencium aroma masakan Prilly atau karena hal lain..
"Ali, aku buat kwetiaw goreng. Kamu...."ucapan Prilly terpotong
"Tidak perlu.."jawab Ali sekenanya sambil membawa satu botol air mineral dari dalam kulkas
Prilly hanya mendengus kesal melihat kelakukan Ali yang semakin hari semakin membuatnya jengkel, kesal, bahkan sangatlah marah.. Hmm, mungkin ini penyebab Prilly tak betah berada di villa apalagi ketika sedang berdua dengan Ali. Ia lebih memilih jalan jalan keluar sesuka hatinya..
Selesai makan Prilly mencoba untuk menonton tv meskipun ia tak suka melakukan itu.. Namun apapun akan ia lakukan untuk menghilangkan kejenuhan dan kesepian hatinya..
Sedangkan Ali? Entah apa yang sedang ia perbuat di dalam kamarnya itu. Dan yang jelas Prilly tak perduli dan tak tertarik dengan apa yang sedang dilakukan Ali saat ini..
Hari terus berganti, kurang lebih sudah satu minggu Ali dan Prilly berada di Bali. Namun hubungan mereka sama sekali tak ada perubahan, sama seperti awal mereka bertemu. Semuanya datar, benar benar tak ada peningkatan sedikitpun. Terkadang mereka bahkan malah bertengkar hanya karena masalah sepele.. Dan itu selalu Ali'lah yang memulai pertengkaran, dan berakhir dengan permintaan maaf Prilly meskipun ia sendiripun tidak tahu dimana letak kesalahannya. Tapi berhubung Prilly malas untuk berdebat maka ia yang lebih memilih mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu pada suaminya~
Jangan lupa tekan Likenya, terimakasih 🙏😊