
Sementara di dalam pesawat hanya tercipta keheningan antara Ali dan Prilly.. Ali hanya menutup matanya mencoba mendapatkan ketenangan, sedangkan Prilly sibuk menatap kearah luar jendela pikirannya melayang entah kemana. Namun pada akhirnya Prilly pun tertidur pulas di bahu sang suami, Ali...
Cukup lama mereka tertidur bersama dengan posisi kepala yang saling bersenderan, sampai akhirnya Prilly terbangun lebih dulu namun dengan wajah heran. Ia mencoba mengangkat kepalanya namun terasa berat dan ternyata ada kepala Ali disana.. Prilly mencoba mempertahankan posisinya karena ia tak ingin membangunkan pria yang kini sudah berstatus suaminya itu. Tak lama kemudian Ali pun terbangun dan langsung memasang wajah dinginnya.
Prilly hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami..
"Gengsi pasti."batin Prilly melirik Ali
Sampai akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan sempurna, dengan seenak jidatnya Ali berlalu begitu saja tanpa menunggu Prilly.. Jangankan menunggu Prilly, berucap satu patah kata pun tidak. Dan itu sukses membuat Prilly amat sangat kesal..
Sepanjang perjalanan menuju villa Prilly terus saja mengoceh seorang diri karena Ali telah berjalan jauh di depan dengan langkah kaki panjang beserta koper miliknya, sedangkan Prilly tertinggal di belakang mencoba mengejar langkah Ali. Namun tetap saja tak bisa, karena langkah Prilly yang mungil tidak sebanding dengan langkah besar suaminya..
Saking fokus mengejar langkah Ali dengan tidak sengaja Prilly menabrak seseorang.....
#BRUUKKKK
Prilly dan pria yang ditabraknya itu samasama terjatuh .. PRIA?? Ya, orang yang ditabrak Prilly adalah seorang pria.. Seorang pemuda lebih tepatnya~
"Maaf, aku tidak sengaja.."ucap Prilly penuh penyesalan
Pemuda itu kemudian tersenyum..
"Gak apa apa, lagipula aku juga yang salah.. Jalan gak lihat lihat."ucapnya sambil berdiri
"Butuh bantuan? Aku Arbani.."ucap pemuda tersebut yang ternyata bernama Arbani sambil mengulurkan tangannya mencoba untuk membantu Prilly untuk berdiri
"Terimakasih, aku Prilly.."jawab Prilly memperkenalkan diri dan menyambut uluran tangan Arbani
Cukup lama mereka bersalaman, sampai akhirnya mereka tersadar dan melepaskannya..
"Mmm, sendirian aja??"tanya Arbani
"Tidak, aku bersama.."ucap Prilly terpotong
"Laki laki yang sejak tadi berada di depanmu?"tanya Arbani lagi agak sungkan
"Ahh, iyaa. Bagaimana kamu bisa tahu?"tanya Prilly
"Karena aku berada di pesawat yang sama denganmu, jadi aku tahu.. mmm, siapa dia? sepertinya kalian sangat dekat."ucap Arbani
"Dia...Dia itu adalah...."ucap Prilly kembali terpotong
"Prilly....."panggil seseorang yang ternyata adalah Ali
"Ali...."ucap Prilly
"Bisakah kamu berjalan lebih cepat? Dasar lelet.."ucap Ali seenaknya
"Tunggu, siapa dia?"tanya Ali menyadari keberadaan Arbani
"Dia, dia Arbani. Tadi aku tidak sengaja menabraknya. Arbani, kenalin dia Ali.. Dia...."ucap Prilly
"Gue Ali, kakaknya Prilly.."ucap Ali memperkenalkan dirinya sendiri
Prilly terkejut mendengar pernyataan Ali yang mengatakan bahwa mereka adalah kakak beradik..
"Ahh iya, gue Arbani. Cukup panggil Bani aja. Jadi lo kakaknya Prilly, pantas kalian terlihat sangat dekat.."ucap Arbani
Ali dan Prilly hanya saling menatap satu sama lain..
"Yaudah Bani kalau gitu kita duluan yaa.. Ayoo KAK Ali.."ucap Prilly sedikit canggung kemudian menggandeng lengan Ali dan berlalu pergi..
"Hmm, jadi mereka kakak beradik.. Syukurlah, gue jadi punya kesempatan buat dekat sama lo Prill.."ucap Arbani
Ali dan Prilly akhirnya sampai di villa yang telah dipersiapkan oleh Radit dan Alya. Dan benar yang diucapkan mereka villa ini sangatlah indah, karena dengan sangat mudah kita dapat melihat keindahan laut. Bukan hanya itu, Prilly juga dapat melihat keindahan sunset. Fenomena alam yang sangat ia sukai.. Yaa, Prilly sangat menyukai sunset.. Entah kenapa alasannya, hanya ia yang tahu..
Prilly mulai membenahi pakaian miliknya dan juga milik Ali. Meskipun ia terlihat kurang bersahabat dengan pernikahannya bersama Ali, Prilly tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang baik.. Sedangkan Ali tengah sibuk dengan handphonenya sambil senyum senyum seorang diri.. Kenapa? Prilly pun tak tahu apa penyebab Ali tersenyum seperti itu, dan tak perduli juga apa yang Ali perbuat..
"Kamu mau kemana?"tanya Prilly melihat kepergian Ali
"Bukan urusanmu.."jawab Ali masa bodo
"Ishh, sumpah yaa itu orang bikin gue naik pitam aja.. Dibaikin salah, gak dibaikin apalagi.. Hhh, Tuhan kenapa aku harus bertemu dan menikah dengannya?"keluh Prilly
"Aduhh, perutku lapar.. apa masak aja ya? tapi malas, lagipula belum ada bahan makanan juga. Beli yang instan aja kali yaa."ucap Prilly kemudian beranjak pergi
Diperjalanan mencari makanan sekaligus membeli persediaan bahan makanan Prilly bertemu kembali dengan seseorang yang baru saja ia kenal tadi, Arbani..
"Hai, sendirian aja Prill?"sapa Bani basa basi
"Ehh haii, yaa seperti yang kamu lihat.."jawab Prilly apa adanya
"Alinya mana?"tanya Bani
"Mmm, Ali...Itu apa kak Ali tadi keluar gatau kemana.."ucap Prilly mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu
"Ohh gitu .. Kamu mau kemana jalan sendirian kayak gini?"tanya Arbani
"Lagi mau cari makan, terus sama beli persediaan bahan makanan juga.."jawab Prilly
"Berani sendiri?"tanya Arbani
"Kenapa aku harus takut?"Prilly malah balik bertanya
"Ya maksudnya kan kamu itu perempuan, bahaya juga kalau jalan sendirian kayak gini. Nanti kalau di culik gimana? Mana tubuh kamu kecil mungil gitu, gampang banget di bawa orang."ucap Bani
"Tuhkan pasti nyambungnya ke fisik aku juga, sudah aku duga. Tapi benar juga kata kamu, apalagi aku inikan tamu disini yaa. Ihh, kamu jadi buat aku takut sihh.."ucap Prilly bergidik ngeri
"Lohh, aku gak ada niatan bikin kamu takut ko. Memang benar harus ada yang menemani kamu. Apa mau aku temani saja?"tawar Bani pada akhirnya
"Mmm, boleh dehh. Setidaknya berdua lebih baik, daripada aku sendirian. Ngeri juga akunya."jawab Prilly menerima tawaran Bani dengan senang hati
Prilly dan Arbani pun berjalan berdampingan, sesekali Bani melakukan hal yang lucu sehingga membuat Prilly tertawa terbahak bahak..
Prilly dan Arbani tengah berada disebuah minimarket untuk membeli semua kebutuhan Prilly.. Ya, Prilly memutuskan untuk membeli bahan makanan terlebih dahulu setelah itu barulah ia mencari makan untuk mengisi perutnya. Awalnya Bani menolak, karena ia ingin Prilly mengisi perutnya terlebih dahulu. Namun bukan Prilly namanya kalau dia tidak keras kepala dan Bani menyerah menghadapi sifat Prilly yang satu itu..
"Mmm, boleh aku tanya sesuatu?"tanya Bani
"Iya boleh, mau tanya apa??"ucap Prilly sambil terus memasukkan belanjaannya ke dalam keranjang
"Ali itu beneran kakak kamu?"tanya Bani dengan langkahnya yang terus mengikuti langkah Prilly
"Lohh, kenapa kamu nanya itu? kamu kan sudah tahu sendiri tadi jawabannya.."jawab Prilly sambil terus melangkah mencari apa yang hendak ia beli
"Enggak, gapapa. Cuma mau memastikan saja."ucap Bani
Sontak Prilly menghentikan langkahnya dan menoleh pada Arbani, pemuda yang baru beberapa jam ia kenal itu..
"Maksud kamu memastikan?"tanya Prilly dengan wajah herannya
"Aku minta maaf kalau kamu merasa tidak nyaman dengan pertanyaanku itu, tapi entah kenapa aku merasa tidak yakin kalau kalian itu kakak beradik."jawab Bani dengan jujur
"Kenapa begitu?"tanya Prilly lagi dan masih menatap heran pria di hadapannya
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa seperti itu saja tanpa alasan."jawab Bani seadanya
Prilly terdiam sejenak~
"Kamu benar, Ali memang bukan kakakku. Melainkan dia suamiku, tapi entah kenapa Ali mengaku bahwa aku ini adiknya bukan istrinya. Mungkin dia merasa malu karena menikah denganku."
Jangan lupa tekan LIKEnya teman teman, terimakasih. Maaf jika ada kesalahan mengetik 🙏😊