
"Berhentilah Al, kenapa kamu seperti ini? Kamu membuatku takut. Apa yang salah denganmu?"tanya Prilly
"Kamu yang membuatku seperti ini Prill. Kamu membuat hubunganku dan Tania hancur, kamu membuatku merasakan perasaan ini padamu. Ini semua salahmu, jadi kamu harus bertanggung jawab."ucap Ali berteriak tepat dihadapan wajah Prilly
"Perasaan? Perasaan apa?"tanya Prilly heran
"Aku tidak tahu. Perasaan apa yang aku miliki terhadapmu aku juga tidak tahu. Perasaan cinta atau....... ah sudahlah. Tidak perlu membahasnya."ucap Ali
"Kenapa? Kita perlu meluruskan masalah ini. Kenapa aku? Kenapa itu menjadi salahku? Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menyukaiku sehingga dapat merusak hubunganmu dengan Tania. Kamu juga tahu dari awal aku tidak pernah keberatan dengan hubungan kalian. Karena aku mengerti pernikahan kita ini hanya atas dasar kemauan kedua orangtua kita dan memang gara gara pernikahan ini hubunganmu dengan Tania jadi terganggu. Dan aku sadar akan hal itu. Tapi kenapa itu hanya menjadi salahku saja?"dengan segenap keberanian yang ada Prilly mengucapkan semua unek unek yang ada di dalam hatinya
Ali kini terdiam~
"Itu bukan salahku sepenuhnya, kamu juga ikut bersalah disini. Kenapa kamu tidak bisa mengendalikan perasaanmu sendiri? Karena jika kamu dapat mengendalikannya, hubungan kamu dan Tania tidak akan ada masalah. Jadi jangan hanya menyalahkanku atas hal ini dan memaksa ku untuk mempertanggung jawabkan semuanya."sambung Prilly
Lagi dan lagi Ali hanya terdiam. Ia mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Prilly. Ada benarnya juga, pikir Ali~
Prilly hanya bisa menghela napas dan memejamkan matanya. Ia mengerti jika saat ini Ali hanya terbawa emosi, jika ia sama emosinya dengan Ali maka masalah ini tak akan ada akhirnya.
Maka Prilly pun memutuskan untuk mengalah pada Ali..
"Baiklah, jika menurutmu ini memang salahku aku minta maaf. Maafkan aku Al, jadi sekarang kita sudahi pertengkaran ini. Aku malas terus berdebat denganmu."ucap Prilly meminta maaf pada Ali atas kesalahan yang Prilly sendiri tidak tahu apa
Ya, Prilly hanya ingin segera mengakhiri percekcokan ini. Ia terlalu takut melihat Ali yang marah, dan mungkin bisa saja berbuat hal yang tak dapat Prilly perkirakan sebelumnya.
"Tanganmu.....apa tanganmu baik baik saja?"sambung Prilly mengingat tangan kanan Ali yang tadi menonjok pintu
"Tidak apa apa, jangan khawatir tanganku baik baik saja."ucap Ali menatap lekat Prilly
"Berhentilah menatapku seperti itu. Lebih baik kita obati tanganmu."ucap Prilly kemudian beranjak mengambil kotak P3K
Prilly meraih tangan Ali yang terluka dan melihatnya dengan seksama..
"Kurasa tanganmu tidak baik baik saja. Lihatlah, tanganmu membiru Al, memar. Kemarilah.."Prilly menuntun Ali untuk duduk di tempat tidur mereka
Dengan telaten Prilly mengobati tangan Ali. Sedangkan Ali hanya memperhatikan wajah Prilly..
"Apa sakit? Kurasa ini sedikit membengkak."ucap Prilly yang saat ini sedang mengompres tangan Ali yang sebelumnya sudah di bersihkan sejenak kemudian sedikit mengoleskan salep di area memar tersebut
Ali hanya menggelengkan kepalanya. Ia terlalu fokus memandang Prilly~
"Kamu yakin tidak sakit? Padahal inu......"belum selesai Prilly berbicara Ali terlebih dahulu memotong ucapannya
"Kalau aku bilang tidak sakit ya tidak sakit."jawab Ali sedikit meninggikan suaranya
"Kenapa harus berteriak? Telingaku masih berfungsi dengan baik asal kamu tahu saja itu. Jadi tidak perlu selalu berteriak seperti itu padaku."ucap Prilly sedikit meninggikan suaranya juga
"Membuatku kaget saja."dumel Prilly
"Kamu juga melakukan hal yang sama padaku."jawab Ali enteng
"Itu karena kamu yang memulainya."jawab Prilly
"Lalu bagaimana jika begini?"tanya Prilly sambil sedikit menekan luka tersebut. Prilly kesal karena Ali membentaknya
"Aaaaaaaa...."refleks Ali berteriak
Prilly menahan tawanya~
"Katanya tidak sakit, kenapa sekarang malah berteriak kesakitan seperti itu?"ucap Prilly seakan mengejek sambil terus mengobati tangan Ali
"Karena kamu menekannya, jadi terasa sakit. Dasar bodoh!"ucap Ali
"Apa kamu mau bilang? Bodoh?"tanya Prilly dan memelototkan kedua matanya ia tidak terima Ali menyebutnya 'bodoh'
"Baiklah, iya benar aku memang bodoh. Apa kamu puas?"sambung Prilly menekan nekan lebih keras luka Ali
"Aaaa, sakit Prill. Kenapa kamu terus saja menekannya? Hentikan, sakit!"ucap Ali meringis tangannya sedang berusaha untuk menghindar namun Prilly memegang erat tangannya
"Tidak mau, kamu sudah menyebutku bodoh. Dan itu membuatku kesal dan marah. Jadi rasakan saja ini!"jawab Prilly masih menekan nekan luka Ali
"Baiklah baiklah, aku minta maaf. Aku mengaku salah. Jadi tolong berhenti menekannya dan obati saja lukaku."ucap Ali pada akhirnya
Prilly berhenti menekan nekan luka Ali. Dan pergi begitu saja, itu membuat Ali heran~
"Apa dia marah?"tanya Ali dalam hatinya
"Kenapa di simpan? Apa sudah selesai mengobatinya?"tanya Ali seakan pura pura bodoh
"Iya sudah selesai.."ucap Prilly singkat
Ali dengan tiba tiba memeluk Prilly dari belakang.
"Terimakasih.."ucap Ali masih dalam posisi memeluk Prilly
Prilly hanya mengangguk tanda mengiyakan dan mengusap tangan Ali yang sedang memeluknya perlahan..
"Ali?"tanya Prilly
"Apa?"jawab Ali
"Jangan seperti ini, kamu akan menyakiti perasaan Tania."ucap Prilly
Ali terdiam~
"Perasaan apapun yang kamu miliki terhadapku, tolong hilangkan itu. Karena aku juga yakin itu hanyalah perasaan sesaat. Perlahan kamu pasti akan dapat melupakannya."ucap Prilly lagi
"Kenapa?"tanya Ali akhirnya bersuara
"Kenapa? Apa maksudmu kenapa?"ucap Prilly balik bertanya
"Kenapa kamu menyuruhku untuk melupakan perasaanku kepadamu?"tanya Ali
"Tentu saja untuk kebaikan kita semua. Dengan begitu tidak akan ada yang tersakiti. Bukankah begitu?"tanya Prilly
"Bagaimana kalau aku tidak bisa?"tanya Ali
"Aku yakin kamu pasti bisa."jawab Prilly
"Baiklah, akan aku coba. Tapi aku tidak bisa sepenuhnya berjanji padamu. Jangan paksa aku jika aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini."ucap Ali
Prilly melepaskan pelukan Ali~
"Ingatlah semua kenangan yang telah kamu dan Tania lalui bersama, maka dengan begitu kamu pasti akan bisa melupakan perasaanmu terhadapku."ucap Prilly
"Ya aku akan melakukan sesuai dengan apa yang kamu katakan. Tapi aku memiliki permintaan, dan kamu harus mau memenuhi permintaan ku tentu saja."ucap Ali dengan tatapan seriusnya
"Permintaan? Permintaan apa yang kamu maksud?"tanya Prilly
"Berjanjilah untuk memenuhi permintaanku itu terlebih dahulu."ucap Ali
"Tapi aku perlu tahu dulu permintaan apa yang kamu berikan."jawab Prilly keukeuh
"Tidak akan aku katakan, sebelum kamu berjanji padaku."ucap Ali tetap teguh pada pendiriannya
"Ali, tapikan......."ucapan Prilly terpotong
"Berjanjilah, dan setelah itu akan aku katakan apa permintaanku."ucap Ali
"Permintaan apa yang sebenarnya Ali maksud? Kenapa perasaanku mendadak jadi tidak enak seperti ini."batin Prilly
Prilly menghela napasnya dan kemudian menghembuskannya perlahan..
"Baiklah, aku berjanji. Jadi katakan apa permintaanmu?"ucap Prilly pada akhirnya kembali mengalah
"Pastikan kamu menepatinya. Karena aku paling tidak suka kepada orang yang mengingkari janjinya."ucap Ali memastikan
"Iya aku berjanji. Kenapa kamu cerewet sekali? Tinggal bilang saja apa permintaanmu. Malah berbelit belit seperti ini."ucap Prilly sedikit ketus karena Ali tak juga mengatakan apa permintaannya
"Aku minta kamu..............."
Kira kira apa permintaan Ali yaa? Adakah yang bisa nebak? 😆
Mohon maaf beberapa hari ini aku gak up My Prilly, dikarenakan urusan pribadi dan juga badan aku yang kurang fit. Semoga kalian tetep mau baca karya amatiranku 🙏
Jangan lupa tekan likenya yaa setelah membaca, terimakasih 🙏😘