
Satu minggu sudah Ali dan Prilly menempati rumah baru mereka, atas bantuan Radit dan juga Alya Prilly sekarang menempati rumah yang sesuai dengan keinginannya yaitu dekat dengan kampusnya. Sedangkan Ali hanya mengikuti kemauan istrinya itu, sebagai salah satu usahanya agar di maafkan oleh Prilly. Namun dengan susah payah pula Prilly tetap berusaha menjauh dari suaminya. Pasalnya sudah tujuh hari pula Prilly menjalankan rencananya, selama itu Prilly mencuekkan Ali. Ia selalu saja menghindari Ali, padahal dengan segenap usaha yang ada Ali terus saja meminta maaf dan mencari perhatian Prilly. Namun istrinya itu tetap saja mengacuhkan Ali.
Karena bahkan ketika tidur pun Prilly memunggungi Ali, meskipun Ali memeluknya dari belakang. Ia benar benar bertekad untuk memberi suaminya itu pelajaran..
"Mau sampai kapan kamu menghindar dariku?"dengan gerakan cepat Ali mencekal Prilly yang hendak berjalan melewatinya, ia memegang erat pergelangan tangan istrinya
Prilly terdiam~
"Jawab aku."ucap Ali kembali
Prilly masih terdiam membisu..
"Aku bilang jawab pertanyaaku. Apa kamu tidak bisa berbicara?"ucap Ali sedikit berteriak karena kesal terhadap istrinya
"Lepaskan aku. Ini sakit Al.."Prilly terus saja meronta minta di lepaskan
"Tidak akan, aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu mau berbicara lagi denganku dan memaafkanku."ucap Ali
"Aku kesakitan Ali, kamu tidak lihat tanganku memerah ?"tanya Prilly
Ali sejenak terdiam~
"Aku sangat tidak suka kepada laki laki yang bersikap kasar seperti ini."ucap Prilly penuh penekanan
Dengan perlahan Ali mulai melonggarkan genggaman tangannya, kemudian melepaskan tangan Prilly yang semula ia genggam..
"Maafkan aku."ucap Ali kemudian mengelus perlahan pergelangan tangan Prilly yang memang memerah karena ulahnya
"Maaf telah menyakitimu. Aku hanya merasa putus asa karena kamu terus saja menghindariku. Aku tidak tahu harus melakukan apalagi agar kamu mau memaafkanku dan berhenti mendiamkanku seperti ini."ucap Ali mengusap kasar wajah frustasinya kemudian menatap Prilly dengan tatapan sendunya, menatap dalam Prilly
Prilly membalas tatapan Ali, ia bisa melihat sorot mata Ali yang terlihat begitu frustasi itu.
"Kurasa sudah cukup aku mendiamkan Ali beberapa hari ini, dia terlihat sangat frustasi gara gara aku mendiamkannya."ucap Prilly dalam hatinya
"Kumohon maafkan aku."ucap Ali kembali tak lupa ia memasang wajah memelasnya
"Ya? Jangan marah lagi padaku, jangan menghindariku."ucap Ali lagi dan lagi
"Aku sudah memaafkanmu."ucap Prilly menyentuh pipi kiri Ali
"Tapi kamu mendiamkanku, kamu menghindariku. Aku tidak suka."ucap Ali memegang tangan Prilly yang menyentuh pipinya dan mengecup punggung tangan itu
"Itu sebagai pelajaran untukmu, bahwa kamu tidak boleh berbuat sesukamu. Berjanjilah kamu tidak akan mengulanginya."ucap Prilly
"Iya, aku berjanji. Tapi Prill, akukan suamimu jadi menurutku sudah sewajarnya jika aku......"ucapan Ali terpotong
"Kamu memang suamiku kamu berhak melakukannya, tapi kamu melakukan itu terhadapku dalam keadaan aku sedang tidak sadarkan diri. Terlebih lagi hal itu merupakan hal pertama bagiku. Bukankah akan jauh lebih baik jika kita melakukannya dengan orang yang kita cintai dan dalam keadaan yang sepenuhnya sadar."ucap Prilly panjang lebar
"Baiklah baiklah, sekali lagi maafkan aku ya sayang."ucap Ali memegang kedua tangan Prilly
Prilly hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, kemudian langsung memeluk tubuh suaminya itu. Dengan senang hati Ali membalas pelukan istri tercintanya..
Kini Ali dan Prilly sedang menghabiskan waktu mereka berdua dengan bermesraan di dalam kamar.
Tiba - tiba saja handphone Ali berdering dan tertera nama Tania disana, sejenak Ali mengalihkan pandangannya pada Prilly yang kini sedang menatapnya..
"Kenapa tidak di jawab?"tanya Prilly
"Ini dari Tania."jawab Ali
"Iya aku tahu, lantas kenapa tidak di jawab teleponnya?"tanya Prilly kembali
"Tidak apa apa jika aku menjawab teleponnya? Apa kamu akan baik baik saja?"tanya Ali
"Memangnya ada apa denganku? Tentu saja aku akan baik baik saja. Jawablah teleponnya, aku ke dapur dulu."jawab Prilly beranjak pergi
"Jangan pergi, disini saja. Dengarkan pembicaraan aku dengan dia, aku akan meloudspeakernya."cegah Ali memegang tangan Prilly
"Aku ingin mengambil air, lihatlah tinggal sedikit."ucap Prilly menunjukan botol air dingin ditangannya yang memang tersisa setengahnya
"Tidak apa, berbicaralah dengannya. Aku percaya padamu, jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa apa."sambung Prilly menepis perlahan tangan Ali yang memegangnya kemudian berlalu pergi
"Baiklah, jangan lama lama."ucap Ali sedikit berteriak
Kemudian Ali menjawab telepon dari Tania~
"Halo......"sapa Ali
"Halo sayang.."jawab Tania dari sebrang telepon sana
"Ada apa Tania? Kenapa kamu menelponku?"tanya Ali
"Ada apa? Memangnya aku tidak boleh menelpon kekasihku sendiri?"tanya Tania sedikit menaikan suaranya sehingga membuat Ali menjauhkan handphone dari telinganya
"Sudahlah lupakan saja, lagipula aku menelponmu bukan untuk bertengkar denganmu."ucap Tania
"Kamu sekarang dimana sayang?"tanya Tania
"Aku? Tentu saja aku berada di rumahku. Memangnya mau dimana lagi."jawab Ali dengan nada kesalnya
"Iya, aku tahu. Maksudku, kamu dirumah orangtua Prilly atau di rumah mama papa?"tanya Tania
"Mama papa? maksudmu di rumah orangtuaku?"tanya Ali
"Iya sayang.... Sebentar lagikan orangtua kamu juga akan menjadi orangtua aku, jadi wajarkan jika aku memanggil mereka dengan sebutan mama papa?"ucap Tania
Ali terdiam sejenak~
"Apa maksudmu berkata seperti itu Tania?"tanya Ali
"Kamukan sudah berjanji padaku akan menikahiku begitu kamu bercerai dengan istrimu itu, kamu tidak lupa akan janji itukan sayang?"tanya Tania
"Ohh i....iya sayang... tentu saja aku ingat, tidak mungkin aku melupakannya."ucap Ali dengan sedikit kaku
"Aku sudah tidak sabar menanti hari itu tiba sayang, aku ingin segera menikah denganmu dan menjadi nyonya Ali Syarief. Membayangkannya saja sudah membuatku sangat bahagia."ucap Tania dengan begitu sumringahnya
Ali terdiam mendengar celotehan kekasihnya itu. ia tidak tahu harus berkata apa~
"Sabarlah Tania, aku juga menantikannya. Aku akan selesaikan ini dengan segera. Jadi tolong bersabarlah..... sa....yang."ucap Ali
"Iya pasti sayang, aku akan sangat sabar menunggu untuk itu."ucap Tania
"Yasudah kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya, ada Prilly datang. Aku takut nanti dia curiga."ucap Ali
"Baiklah, bye sayang. Aku mencintaimu."ucap Tania
"Iya..."jawab Ali
"Katakan bahwa kamu juga mencintaiku, biasanya kamu membalas ucapan cintaku. Kenapa sekarang tidak?"ucap Tania dengan nada manjanya
"Iya, iya, aku juga mencintaimu."ucap Ali dengan volume suara yang dia buat serendah dan sekecil mungkin
"Yasudah aku tutup teleponnya yaa.."sambung Ali
"Baiklah, bye.. muaacchhh..."ucap Tania mengakhiri teleponnya dengan memberikan ciuman di akhir kalimatnya
Ali dengan segera menyimpan kembali handphonenya di saku celananya..
"Aku harus segera memikirkan cara untuk permasalahan ini, aku tidak mau ini berlarut larut dan semakin menyakiti semua orang nantinya."ucap Ali mengusap kasar wajahnya
"Tapi apa? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu jika pada akhirnya akan seperti ini."sambung Ali
"Tuhan......apa yang harus aku lakukan? Tolong bantulah aku, beri aku petunjuk agar dapat menyelesaikan masalah ini."ucap Ali lagi dan lagi
#Ceklek...
Terdengar suara pintu terbuka kemudian tertutup kembali, terlihat Prilly mulai melangkah mendekat ke arah Ali..
"Sayang..."ucap Ali dan mengambil alih botol minum di tangan Prilly dan meletakkannya di meja kemudian menarik Prilly agar duduk di pangkuannya
"Kenapa sihh? Kenapa sikap kamu jadi aneh seperti ini?"ucap Prilly yang terheran melihat sikap Ali terhadapnya
"Enggak, gak apa apa. Aneh? Aneh bagaimana? Memangnya tidak boleh seorang suami memperlakukan istrinya seperti ini?"tanya Ali sambil memegang dagu Prilly dan menatap dalam matanya
"Enggak, bukan begitu maksudku."ucap Prilly
"Tania bicara apa?"tanya Prilly memegang tangan Ali uang menyentuh dagunya dan menurunkannya perlahan
"Hanya menanyakan bagaimana kabarku, karena sudah beberapa hari ini aku tidak menghubunginya."jawab Ali
"Ohh begitu."ucap Prilly sambil mengangguk anggukan kepalanya pertanda mengerti
"Bahkan sekarang pun kamu tetap saja berbohong kepadaku, bagaimana mungkin aku bisa menaruh kepercayaan padamu kalau kamu saja masih seperti ini. tidak jujur.."batin Prilly kemudian turun dari pangkuan Ali
Ali terheran dengan perubahan ekspresi pada wajah istrinya itu..
"Aku mengantuk, aku tidur lebih dulu yaa.."ucap Prilly kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi membelakangi Ali
Bersambung.....
Maaf ya baru up sekarang, maaf beribu maaf pokonya.. 🙏🙏 Maaf juga kalau kurang dapat feelnya, ditunggu komentarnya biar aku tetap semangat buat nulisnya. terimakasih buat kalian yang masih setia nunggu kelanjutan ceritanya My Prilly, maaf udah bikin kalian nunggu sangat lama 😘😘
Jangan lupa tekan LIKEnya setelah membaca ❤😘