
Tania semakin yakin bahwa kekasihnya saat ini memang sedang merasa cemburu..
Ali hendak beranjak dan mengikuti kemana arah pergi Prilly dan Arbani, namun Tania menahannya.
"Kamu mau kemana?"tanya Tania memegang tangan Ali
"Aku....."ucapan Ali terpotong
"Kamu suka sama dia? Iya?"tanya Tania
Ali terdiam~
"Jawab aku! Kamu suka sama Prilly?"tanya Tania berusaha menahan airmatanya yang hendak keluar dari pelupuk matanya
Ali masih saja terdiam~
"Baiklah, aku mengerti. Kamu memang menyukainya."ucap Tania menyimpulkan alasan dari diamnya Ali dan melepaskan genggamannya
"Tidak, aku hanya mencintaimu Tania. Percayalah."ucap Ali mencoba meyakinkan Tania
"Bohong! Semua sikapmu terhadapnya bisa menjelaskan segalanya."ucap Tania dengan tatapan marah
"Jawab aku dengan jujur, apa kamu menyukainya?"tanya Tania kembali
"Maafkan aku. Maafkan aku Tania."jawab Ali kini beralih ia yang memegang tangan Tania. Tania menepisnya~
Jelaslah sudah..
Tania menundukan kepalanya, menangis disana.. Ia juga mengepalkan tangannya, mencoba menahan amarah yang kini sedang memuncak di dalam dirinya~
Kemudian ia menghapus airmatanya dan kembali mendongakan kepalanya..
"Sejak kapan? Sejak kapan kamu mulai menyukainya?"tanya Tania dengan rasa pedih dihatinya bercampur amarah. Semua rasa yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata kata
"Aku tidak tahu."jawab Ali singkat dan mengalihkan pandangannya dari Tania
"Sejak kapan ?"tanya Tania kembali sedikit berteriak frustasi
"Aku tidak tahu itu sejak kapan Tania. Tapi setiap melihatnya bersama lelaki lain, itu membuatku marah."ucap Ali sedikit meninggikan suaranya
Seketika Tania memejamkan matanya dan tangannya ia letakan di dadanya mencengkram bajunya disana, berharap itu bisa menghilangkan rasa sakit hatinya. Ali lelaki yang ia cintai kini telah mengkhianatinya, mengkhianati cintanya~
"Lantas bagaimana denganku?"tanya Tania memberanikan diri menatap Ali meski hatinya kini sangat sakit
"Apa kamu masih punya perasaan terhadapku?"sambung Tania
Awalnya Ali terdiam. Namun.....
"Aku tidak tahu. Maafkan aku."hanya itu yang mampu Ali ucapkan
"Jangan hanya meminta maaf, aku tidak membutuhkan permintaan maaf darimu."ucap Tania
"Lantas apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa."ucap Ali mengusap wajahnya frustasi
Tania kembali menitikkan airnya, ia mengerti semua yang dimaksudkan Ali. Arti permintaan maaf Ali yang berarti kini Ali sudah tak lagi mencintainya. Itu sudah membuatnya lebih jelas untuk dimengerti. Tania benar benar merasa terbuang~
"Mau aku beritahu apa yang harus kamu lakukan?"tanya Tania dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan
"Katakan. Apa yang harus aku lakukan?"tanya Ali dengan tatapan seriusnya
"Hilangkan perasaan suka itu dari dalam hatimu. Aku yakin itu hanyalah perasaan sesaat, kamu pasti bisa dengan segera menyingkirkan perasaan suka itu."ucap Tania penuh ketegasan dan menatap tajam kearah Ali
Ali membolakan matanya~
"Tapi Tania, aku tidak yakin aku dapat melakukannya. Aku tidak yakin akan dapat menghilangkan perasaan ini dengan mudah."jawab Ali
"Tidak yakin atau tidak mau?"tanya Tania
"Bukan begitu maksudku.."jawab Ali
"Kalau begitu kita akhiri saja hubungan kita sampai disini. Semoga kamu bahagia bersamanya."ucap Tania
Ali heran mendengar pernyataan Tania. Tidak biasanya Tania melepaskan sesuatu dengan begitu mudahnya~
"Kamu berharap aku akan mengatakan hal itu? Iya?"tanya Tania dengan senyuman sinis di wajahnya
"Hhh, jangan pernah berharap. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah berkata demikian. Aku takkan melepaskanmu!"sambung Tania
Benar dugaan Ali~
Ali sudah sangat memahami bagaimana sifat asli Tania. Dan terlihatlah sekarang bagaimana sifat aslinya. Ia bahkan bisa saja berbuat nekat!
"Maafkan aku. Aku harap kamu dapat menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku."ucap Ali masih tetap dengan usahanya agar Tania mungkin saja bisa melepaskannya
"Berhenti merayuku, karena aku tidak akan termakan oleh ucapanmu. Kamu kekasihku, dan akan selamanya menjadi milikku. Tidak untuk orang lain!"ucap Tania
"Jadi sebaiknya cepat lupakan perasaanmu itu terhadapnya, jika kamu tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Aku permisi.."ucap Tania beranjak dari duduknya
#CUPSS
Tania mengecup sekilas bibir Ali
"Beristirahatlah, tidur yang nyenyak Sayaang.."ucap Tania kemudian melangkah pergi
Tidak sengaja Prilly yang hendak pergi ke dapur melihat itu semua. Ia sudah tak heran dengan pemandangan yang baru saja dia lihat. Bahkan ia pernah melihat yang lebih parah dari ini. Prilly bergidik ketika kembali mengingat kejadian tersebut. Menjijikan, pikirnya~
Ali melihat keberadaan Prilly, dan memandangnya lekat~
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud, aku ingin mengambil sesuatu di dapur."ucap Prilly canggung karena telah menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak dilihatnya kemudian dengan cepat melangkahkan kakinya menuju dapur
Dengan cepat Ali melangkahkan kakinya menuju dapur..
Prilly yang saat itu sedang mempersiapkan minum di dapur tersentak kaget karena ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Erat~
"Aku tidak suka......."
"Aku tidak suka melihatmu dengannya!"ucap lelaki tersebut yang saat ini menyandarkan dagunya pada bahu Prilly dan sesekali mengecupnya
Ia menenggelamkan wajahnya di leher putih Prilly. Hembusan napasnya yang mengenai kulit leher Prilly seketika membuat Prilly menegang~
^DEGDEGDEG
Kini jantung Prilly berdetak berjuta kali lipat, darahnya juga berdesir lebih cepat. Ia merasa seluruh tubuhnya seperti terkena sengatan arus listrik dengan ketegangan yang amat sangat tinggi. Dikarenakan kontak fisik kali ini bukan atas dasar pekerjaan, bukan profesionalisme dalam bekerja.
Semua terjadi dengan begitu alami, tanpa skenario. Dan begitu tiba tiba, tanpa dapat Prilly prediksi~
"Aku tidak suka kamu melakukan itu."ucapnya sekali lagi dengan posisi wajahnya yang ia tenggelamkan di leher Prilly, yaa Prilly bisa merasakan gerakan bibirnya disana
Tanpa berkata Prilly hanya bisa terdiam mematung. Sepenuhnya membeku disana~
"Apa maksudmu? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?"tanya Prilly tak mengerti maksud ucapan lelaki yang kini tengah memeluknya
"Kamu dan dia membuatku cemburu. Aku hampir gila karena melihatmu selalu saja bersama dengan lelaki lain. Aku saja tidak pernah sedekat itu denganmu, padahal disini akulah yang suamimu."ucap lelaki tersebut yang ternyata adalah Ali, ia kembali meletakkan dagunya di bahu Prilly
Prilly terdiam mendengarnya..
"Jangan lakukan itu lagi, kumohon berhentilah. Atau kamu akan melihatku melakukan hal gila!"ucap Ali mengancam, semakin mengeratkan pelukannya dan sesekali mengecup bahu Prilly
"Lepaskan, aku mohon jangan seperti ini. Oranglain akan melihatnya."ucap Prilly berusaha melepaskan pelukan Ali
Namun bukan Ali namanya jika ia tetap memaksa mempertahankan posisinya saat ini..
"Siapa? Arbani maksudmu? Biarkan saja. Biarkan dia melihatnya, dan mengetahui semuanya."ucap Ali enteng karena terlalu asik bermain dileher milik Prilly istrinya, kembali menenggelamkan wajahnya disana
"Tania......akan melihatnya."ucap Prilly
Ali mendongakan wajahnya seketika..
"Tidak akan. Karena dia sudah pulang...."ucap Ali
"Ali, aku........ Aaaaa!!"ucapan Prilly terpotong
"A....ap... apa yang kamu lakukan?"tanya Prilly meringis
"Hanya memberi tanda kepemilikan."jawab Ali dengan entengnya
Ya, Ali menghisap kuat kuat leher putih milik Prilly. Sehingga membuat Prilly menjerit~
"Apa?"Prilly membulatkan matanya
"Tapi kurasa ini kurang, aku akan membuat satu lagi di sebelah sini."ucap Ali dan menyingkirkan rambut Prilly yang menghalanginya
"Tolong hentikan, jangan seperti ini."ucap Prilly dan membuat Ali berhenti seketika. Padahal bibir Ali hendak mendarat dengan sempurna di leher Prilly
Ali membalikkan tubuh Prilly menjadi berhadapan dengannya..
"Kenapa? Kamu itu istriku, jadi aku bebas melakukan apapun terhadapmu. Kamu harus bisa menerima perlakuan apapun dariku, jangan pernah menolaknya. Aku tidak suka di tolak!"ucap Ali mengusap rambut Prilly dan menyampirkannya ke belakang telinga Prilly
Tangan Ali kini beralih ke tengkuk leher Prilly dan mendorongnya. Sehingga membuat Prilly semakin mendekat~
Prilly menelan ludahnya kasar~
"Apa yang akan kamu lakukan?"tanya Prilly di tengah rasa gugupnya
"Menurutmu? Jangan banyak bertanya, terima saja.... dan..... nikmatilah!"ucap Ali semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Prilly
Dengan sekuat tenaga Prilly mencoba menahannya, mendorong dengan kuat dada Ali. Namun.......
"Ali......."
Kira kira apa yang terjadi? Berhasilkah atau malah gagal? Terus tunggu kelanjutan ceritanya yaa 😘 Rela banget bangun pagi pagi buat next ini cerita, demi kalian para readers My Prilly 💋 Jadi..........
Jangan lupa tekan LIKEnya teman teman, maaf juga untuk kekurangannya. Terimakasih 🙏😊