
Selesai dinner Ali dan Prilly diberikan waktu untuk berdua. Hanya berdua.. Keluarga mereka sengaja memisahkan diri dengan berpindah meja. Dan tersisalah Ali Prilly di meja itu..
"Kalaupun memang pernikahan ini akhirnya harus terjadi. Jangan pernah berharap untuk bisa memilikiku seutuhnya, jangan pernah berharap pula aku akan mencintaimu karena itu tidak akan mungkin terjadi.."Ucap Ali
"Asal kau tau saja aku sudah memiliki seseorang yang sangat aku cintai. dan dia sangat berharga dalam setiap detik hidupku. Kau memang istriku kelak, namun itu hanya berlaku di depan keluarga kita.. selebihnya anggap saja kita tidak pernah saling mengenal! Hanya itu yang ingin aku bicarakan, aku permisi.."ucap Ali panjang lebar tanpa memberikan celah sedikitpun untuk Prilly berbicara, kemudian meninggalkan Prilly seorang diri
Prilly hanya terdiam, pikirannya berkecambuk.. Memory otaknya merekam semua perkataan Ali. Semua terekam sangat jelas, teratur, dan tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Bahkan mungkin kalimat menyakitkan itu akan tertanam dalam otaknya. Prilly hanya tertunduk kedua tangannya pun saling menggenggam mencoba menahan airmatanya yang mulai saling berlomba keluar dari tempat persembunyiannya, yakni dari mata indah Prilly.. tiba tiba ada yang mengusap lembut bahunya. Yang ternyata adalah......
"Bersabarlah, Ali memang seperti itu.. Dia hanya belum bisa menerima semua keputusan ini, cobalah untuk belajar mengerti dia. Dia orang yang baik ko sebenarnya. Aku yakin nanti juga ia akan mencintaimu, aku bisa jamin itu. Percayalah.."ternyata itu adalah Alya kakak dari Ali, calon suaminya.
Alya yang semula hendak menyusuli Ali dan Prilly pun kaget mendengar dengan sangat jelas semua ucapan yang Ali lontarkan pada calon adik iparnya itu.. Ia tak menyangka adiknya bisa dengan sangat mudah mengeluarkan kata demi kata yang menurutnya begitu menyakitkan. Rasanya sangatlah tak pantas Ali berbicara seperti itu, apalagi pada seorang gadis. Ohh tidak tidak, ini pada calon istrinya sendiri yang akan menjadi pendamping hidupnya. sungguh keterlaluan, pikir Alya~
Prilly hanya mengangguk kemudian memeluk calon kakak iparnya itu.. Alya mengelus lembut punggung Prilly.
"Kaia yakin kamu pasti bisa merubah semua sikap Ali terhadapmu.. Lakukanlah dengan caramu sendiri, buat dia bertekuk lutut dihadapanmu. Buktikan kalo semua perkataan Ali itu salah. Kamu pantas menjadi istrinya, pantas dicintai olehnya dan menggantikan posisi Tania dihatinya. Kakak yakin kamulah yang terbaik untuk Ali."ucap Alya memberikan semangat pada Prilly
Prilly melepaskan pelukannya dengan tatapan heran pada Alya..
"Tania??"hanya nama itulah yang keluar dari mulut Prilly
"Ya, dia adalah kekasih Ali.."seakan mengerti Alya dengan cepat menjawab
"Kakak kenal Tania?"tanya Prilly
Alya mengangguk~
"Tania adalah kekasih sekaligus lawan main Ali disalah satu filmnya.. Mereka bertemu pada saat project film itu, dan kemudian menjalin hubungan. Biasa, mereka terbawa perasaan. kamu mengertikan maksudku.."sedikit penjelasan Alya mengenai hubungan Ali dan Tania namun diselingi dengan sedikit candaan juga.. Dan itu berhasil, senyuman manis kini terukir di bibir tipis nan indah milik Prilly
"Nahh, gitu dong senyum kan cantik. Udah ahh jangan sedih lagi, lebih baik sekarang kita pulang. Soalnya Kaia kesini niatnya mau nyusulin kalian berdua, mama papa udah pada tunggu di mobil tuhh.."ucap Alya
"Mmm, kak makasih yaa.."ucap Prilly
"Iya samasama, ayo kita pulang."ajak Alya kemudian merangkul bahu Prilly agar berjalan berdampingan dengannya
Keesokan harinya, Ali dan Prilly kembali pada kesibukannya masing masing.. Prilly sibuk dengan kuliahnya, sedangkan Ali dengan dunia keartisannya..
Tak dapat dipungkiri ucapan Ali pada malam itu masih terngiang sangat jelas ditelinga Prilly, bahkan membekas dihati dan juga pikiran Prilly. Namun apa yang harus Prilly lakukan, segala penolakan telah ia lakukan bahkan Ali juga tau itu. Tapi kenapa sekarang seakan hanya Prilly yang bersalah disini karena telah menyetujui pernikahan ini, padahal jelas jelas Ali juga menyetujuinya.. Entahlah, Prilly dibuat bingung dengan semua keadaan ini -_-
-------------------
"Apa?? Jadi kamu menerima perjodohan itu, dan akan menikahi wanita sialan pilihan orangtua kamu ?"ucap Tania dengan suara yang sedikit meninggi mendengarkan pernyataan Ali.
Yaa, Ali telah menjelaskan semuanya pada Tania. Kekasih pujaan hatinya!
"Apa kamu bilang, 'kami'? Siapa yang kamu maksud dengan 'kami'? Belum apa apa kamu sudah menyebutnya seperti itu, seakan kalian sudah benar-benar menjadi satu!! "tanya Tania dengan tatapan menyelidik
"Bukan begitu sayang, maksudnya aku dan Prilly.. Kami sudah berusaha sekeras mungkin untuk menolak pernikahan ini."ucap Ali
"Ohh jadi nama wanita sialan yang merebut kamu dari aku adalah Prilly.. Baiklah!"ucap Tania tersenyum licik
"Heihei, dengerin aku.. Dia tidak merebutku darimu, tidak akan pernah. Karena aku cuma cinta sama kamu, dan aku hanya akan menjadi milik kamu seorang."ucap Ali menangkup wajah Tania
"Bener? Janji?"ucap Tania manja
"Iya janji sayang.."jawab Ali
"Tapi pernikahan kamu?"tanya Tania
"Aku akan tetap menikahinya dan menjadikannya istriku, namun itu hanya di depan keluargaku dan keluarga dia. Selebihnya kita bahkan seakan tak saling mengenal, dan diluar keadaan itu semua aku milikmu. Hanya menjadi milikmu."ucap Ali kemudian menangkup wajah Tania dengan mesra.
"Aku sayang kamu. Aku gak mau kehilangan kamu."ucap Tania kemudian memeluk tubuh tegap Ali
"Aku juga sayang kamu. Kamu gak akan pernah kehilangan aku. Dapat ku pastikan itu, I promise."ucap Ali membalas pelukan Tania dan mengelus lembut punggung Tania
Tania tersenyum dalam pelukan Ali, karena ia telah mendengar dari mulut Ali sendiri bahwa Ali takkan pernah meninggalkannya. Meskipun ia telah menikahi Prilly sekalipun. Setidaknya hati dan perasaannya jauh lebih tenang sekarang.
"Sampai kapanpun kamu takkan bisa merebut Ali dariku Prilly sialan. Karena Ali hanya akan menjadi milikku seutuhnya dan selamanya. Hanya milikku!!"batin Tania di iringi dengan senyum kemenangannya
--------------
Hari demi hari berganti, pernikahan itu semakin dekat. Namun berbeda dengan hubungan Ali dan Prilly, bukannya semakin dekat mereka malah semakin jauh..
Padahal hari pernikahan mereka hanya tinggal 2 hari lagi. Segala persiapan pernikahan mereka pun telah selesai dengan sempurna, ini berkat kerjasama yang kompak antara Radit dan Alya. Mereka telah mengatur segalanya dengan sangat baik. Dari mulai gedung beserta dekorasinya, cathering, baju pengantin, dan juga undangan. Sebenarnya Radit dan Alya hanya mengecek ulang dan sedikit memperbaikinya, karena sesuai dengan apa yang dikatakan tante Uly pada waktu dinner malam itu kalau semuanya telah diatur hanya tinggal beberapa persen saja dan sekarang Radit Alya telah menyempurnakan semuanya.. Jadi sekarang hanya tinggal menunggu hari H nyaa saja. Keluarga Ali Prilly sudah tidak sabar menunggu datangnya hari penting itu.
Namun keadaan itu berbanding terbalik dengan Ali dan Prilly. Tak disangka masa depan mereka akan berakhir pada pernikahan yang di dasari bukan atas nama cinta namun hanya karena sebuah perjodohan konyol!!
Ali membuang secarik kertas setelah sedikit membacanya ke sembarang arah. Yaa, kertas tersebut berisi barisan kata yang sangatlah penting dalam sebuah pernikahan. Yakni kalimat ijab qabul beserta nama calon pengantin wanita yang harus ia hafalkan. Ia menerimanya lewat perantara sang kakak, Alya..
"Prilly Mahatei Latuconsina. Siapa dia? aku sama sekali tak mengenalnya.. Tapi kenapa aku harus menikahinya? Menikahi gadis yang sama sekali tidak aku cintai... Kenapa Tuhan kenapa?? Arrrgghhh...."teriak Ali frustasi dan menjambak rambutnya
Begitu juga dengan Prilly, ia semakin dibuat tak karuan rasa karena peristiwa yang satu itu. Ingin rasanya ia pergi sekarang juga meninggalkan pernikahan yang tak pernah ia harapkan sedikitpun, namun ia tak ingin mengecewakan keluarga besarnya terutama kedua orangtuanya dan juga kakaknya tentu saja..
Jangan lupa tekan likenya. Terimakasih 🙏