My Prilly

My Prilly
Mimpi



"Tania, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini."ucap Ali


"Apa kamu bilang? Tidak, aku tidak mau."jawab Tania


"Tania, aku sudah memiliki istri. Dan..... dan kini aku mencintainya."ucap Ali


"Aku tau kamu mencintainya, tapi tetap saja aku tidak akan pernah melepasmu. Karena aku juga mencintaimu."ucap Tania


"Tapi aku sudah tidak mencintaimu lagi."ucap Ali yang mulai kesal


"Dan aku tidak perduli."ucap Tania tetap bersikeras


"Bagaimana mungkin kamu tetap ingin menjalin hubungan dengan orang yang sudah tidak mencintaimu lagi Tania? Tolonglah lepaskan aku saja."ucap Ali


"Tidak bisa, dan tidak akan. Aku tidak rela kamu bahagia bersama dengan wanita lain, sedangkan aku harus kehilangan dirimu."ucap Tania tersenyum getir


"Aku yakin kelak kamu akan mendapatkan laki laki yang jauh lebih baik dariku. Percayalah padaku."ucap Ali


"Tapi aku tidak akan bisa mencintainya sebesar aku mencintaimu Ali. Tolong mengertilah."ucap Tania dengan mata yang berkaca kaca


Ali terdiam, ia tidak tau harus berkata apalagi pada wanita yang masih berstatus kekasihnya itu.


"Ceraikan dia!"ucap Tania tiba tiba


"Apa?"tanya Ali membulatkan matanya


"Iya ceraikanlah dia. Ceraikan istrimu, Prilly. Kemudian menikahlah denganku."ucap Tania


"Apa maksudmu berkata seperti itu?"tanya Ali


"Apa kamu lupa apa yang dulu kamu katakan padaku sayang? Perlu aku ingatkan lagi?"tanya Tania menyentuh dada Ali


Ali terdiam namun tangannya memindahkan tangan Tania yang kini berada di dadanya.


"Kamu bilang kamu akan segera menceraikannya, kamu sudah berjanji padaku bukan? Kamu meminta padaku agar memberimu waktu 3 bulan agar bisa menceraikannya, tapi kurasa aku salah telah menyetujuinya. Karena dalam waktu kurang dari 3 bulan saja kini kamu bilang bahwa kamu mencintainya."ucap Tania tersenyum sinis


"Aku bersalah karena telah mengatakan itu padamu dulu. tapi sekarang perasaanku telah berubah aku tidak bisa menceraikan wanita yang aku cintai. Aku minta maaf karena tidak bisa menepati janjiku padamu."ucap Ali menggenggam tangan Tania


"Baiklah jika kamu tidak bisa menceraikannya tidak apa apa, tapi........"Tania menggantungkan perkataaannya


"Tapi apa?"tanya Ali


"Nikahi aku, jadikan aku istri keduamu."sambung Tania


"APA?"Ali seketika membolakan kedua matanya dan melepaskan genggeman tangannya pada tangan Tania


"Iya nikahi aku tanpa harus menceraikan Prilly, kenapa? Apa kamu keberatan dengan permintaanku?"tanya Tania


"Kamu sadar dengan permintaanmu? Apa kamu sudah gila?"tanya Ali sedikit meninggikan suaranya


"Iya aku memang sudah gila, dan aku seperti ini juga karena kamu Ali. Jadi kamu harus bertanggung jawab."jawab Tania


"Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu."ucap Ali dengan wajah frustasinya


"Kalau begitu ceraikan Prilly."ucap Tania dengan begitu entengnya


"Aku tidak bisa melakukan keduanya. Kedua hal itu akan sama sama menyakitinya. aku tidak ingin mengecewakannya, aku tidak ingin membuatnya terluka, aku tidak ingin membuatnya merasa di khianati jika aku menikahimu."ucap Ali


"Kamu tidak ingin menyakiti hatinya dan tidak ingin membuat dia kecewa, tapi dengan mudahnya kamu menyakiti hatiku dan mengkhianati cinta kita. Ali hubungan kita berlangsung bukan hanya sebulan dua bulan saja, tapi kamu mengkhianatinya hanya demi wanita yang baru saja kamu kenal dalam jangka waktu yang singkat dan karena sebuah perjodohan konyol. Sadarlah Ali. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada dirimu?"ucap Tania


"Jawab aku, jangan hanya berdiam diri saja seperti itu."ucap Tania kini memegang tangan Ali


"Aku tidak tau, apa yang sebenarnya telah terjadi padaku aku benar benar tidak tau. Semua mengalir begitu saja, aku.... aku juga tidak tau sejak kapan rasa cinta ini hadir."ucap Ali


"Jadi sekarang apa keputusanmu?"tanya Tania


"Keputusan apa?"Ali balik bertanya


"Ceraikan Prilly atau menikahlah denganku tanpa harus menceraikannya. Hanya itu pilihanmu."jawab Tania


"Aku sudah bilang aku tidak bisa melakukan keduanya. Sampai kapanpun aku tidak bisa melakukan dua hal itu."ucap Ali


"Lalu bagaimana? Aku sudah merelakan kamu agar tetap bersamanya, aku juga bersedia berbagi laki laki yang aku cintai kepada Prilly. Tapi sekarang kamu tidak ingin melakukannya, tidak cukupkah rasa sakit hati yang kamu berikan ini padaku Ali?"ucap Tania yang kini mulai menangis


"Maafkan aku, aku sungguh minta maaf Tania. Tapi aku benar benar tidak bisa melakukannya, aku tetap ingin hubungan kita berakhir. Aku harap kamu dapat mengerti keputusan yang aku ambil ini."ucap Ali berlutut di depan Tania yang saat ini terduduk dan menggenggam tangannya


"Terimakasih telah menemaniku untuk beberapa tahun ini, sekali lagi maafkan aku karena telah menyakitimu. Kuharap kamu segera menemukan laki laki yang jauh lebih baik dariku dan bisa membuatmu bahagia."sambung Ali


"Ali tidak..... kumohon jangan....."ucap Tania memegang erat tangan Ali dengan deraikan airmata di pipinya


"Maafkan aku Tania."ucap Ali kemudian beranjak pergi dan meninggalkan Tania seorang diri


"Aliiiiiiiiii........"teriak Tania kemudian terbangun dari mimpinya dengan airmata bercampur keringat di wajahnya


Tania melirik jam weker yang terletak di nakas samping tempat tidurnya..


"Pukul 3 pagi."ucap Tania setelah melihatnya dan kembali meletakkannya di tempat semula


Tania mencoba mengatur napas dan menenangkan dirinya..


"Syukurlah hanya mimpi, tapi mimpi itu terasa begitu nyata."ucap Tania


"Aku takut mimpi itu akan menjadi kenyataan. Bagaimana......bagaimana jika..... Ahh tidak tidak, jangan sampai hal itu terjadi. Membayangkannya saja sangat mengerikan."ucap Tania mengacak ngacak rambutnya panik


"Aku harus bertindak, ya benar. Aku harus melakukan sesuatu sebelum hal itu benar benar terjadi padaku. Aku tidak ingin kehilangan Ali."ucap Tania terus berbicara pada dirinya sendiri


Sejenak Tania terdiam, berpikir~


"Tapi tunggu, apa yang harus aku lakukan?"tanya Tania pada dirinya sendiri


Senyum menyeringai kini menghiasi wajah Tania..


"Jika memang Ali tidak bisa meninggalkan Prilly seperti apa yang ada dalam mimpiku, maka akan aku buat Prilly yang meninggalkan dia. Akan aku lakukan segala cara untuk dapat mempertahankan Ali agar tetap di sampingku."ucap Tania dengan senyum jahatnya


"Aku yakin akan dapat memanfaatkan kepolosan Prilly demi kepentinganku. Kamu memang cerdas Tania, selalu menjadi wanita yang cerdas."ucap Tania memuji dirinya sendiri


"Baiklah, haruskah aku memikirkan strateginya sekarang? Semakin cepat rencanaku terlaksana akan semakin baik untuk hubunganku dan Ali. Sebelum Ali benar benar meninggalkanku demi wanita sialan itu. Prilly..... tunggulah takdir yang telah aku persiapkan untukmu. Hahaha!"ucap Tania kemudian tertawa menggelegar


Kira kira rencana apakah yang telah disiapkan oleh Tania demi mempertahankan hubungannya dengan Ali? Terus tunggu kelanjutan ceritanya 😉


Mohon maaf kalau aku telat telat up yaa, harap memaklumi karena waktuku juga bukan hanya untuk menulis. Tapi intinya sihh tetap berterimakasih sama semua yang mau baca My Prilly 😘


Like dan komennya aku tunggu yaa 😉


Kalian boleh komen soal kekurangan ceritanya dimana, biar aku bisa memperbaiki. Terimakasih.. 😘❤🙏