
Dengan perlahan tapi pasti Ali semakin mendekatkan wajahnya, ia menatap intens bibir Prilly yang kini berada tepat di depan matanya yang sedari tadi menggodanya.
Sedangkan Prilly menatap wajah tampan suaminya. Mengabsen satu persatu di mulai dari alis tebal Ali, mata indahnya yang di hiasi oleh bulu mata yang lentik, hidung mancungnya, dan terakhir fokus Prilly teralihkan pada bibir Ali yang kini berada sangat dekat dengan bibirnya.. Seketika itu juga tubuh Prilly menegang, seluruh permukaan wajahnya merasakan hembusan napas suaminya.
Melihat Prilly yang masih membuka matanya, Ali menutup mata Prilly dengan tangannya. Ia juga menyatukan bibirnya dengan bibir Prilly. Mengecup, menyecap, dan mencumbunya dengan sangat lembut. Prilly semakin terbuai dengan perlakuan Ali terhadapnya, ia tidak tau lagi apa yang sedang di pikirkannya saat ini. Yang Prilly tau ia hanya menikmati cumbuan suaminya itu, dan bahkan ia menginginkan lebih dari sekedar cumbuan.
Pikiran Ali dan Prilly benar benar sudah tidak jernih, keduanya telah di liputi oleh hawa nafsu yang amat sangat besar. Prilly yang bahkan kini membalas setiap cumbuan Ali itu sempat membuat Ali heran sekaligus senang karena Prilly sudah berani meresponnya, yang berarti Prilly juga menginginkan hal sama sepertinya. Ali sedikit menggigit bibir bawah Prilly sontak membuat Prilly membuka mulutnya, dan itu mempermudah bagi Ali semakin memperdalam ciumannya..
Entah sejak kapan Prilly juga sudah mengalungkan kedua tangannya di leher milik suaminya, Ali tersenyum di tengah aktivitas sibuknya mencumbu Prilly. Tangan Ali juga mulai bergerilya kemana mana, mengusap sensual punggung Prilly kemudian menelusup ke dalam pakaian Prilly. Perlakuan itu sontak membuat Prilly membuka kedua matanya lebar lebar.
Prilly menatap Ali yang saat ini sedang memejamkan matanya sambil terus saja memcumbunya tanpa henti, tak lama kemudian Prilly pun kembali memejamkan matanya tanpa memberikan penolakan sedikitpun terhadap apa yang di lakukan oleh Ali.
Ciuman Ali mulai turun ke arah dagu kemudian leher putih milik Prilly dan terus turun menuju ke arah dua buah kembar milik Prilly, Prilly terkesiap seketika. Ia mencoba menghentikan Ali dengan meraih wajahnya, Ali menatap Prilly dengan tatapan sayunya..
"Kumohon, jangan hentikan aku kali ini."ucap Ali dengan tatapan sayunya
Prilly terdiam, ia tidak tau harus berkata apa. Jika Prilly boleh jujur, ia juga menginginkan hal yang sama. Tapi.........
"Ya?"tanya Ali kembali
Entah apa yang terjadi dengan Prilly, ia dengan polosnya menganggukan kepalanya seolah memberikan izin kepada Ali. Ali tersenyum~
"Terimakasih, istriku."ucap Ali dan Prilly hanya mengangguk
*CUPSS
Ali mengecup sekilas bibir Prilly..
"Boleh aku bertanya?"tanya Prilly
"Katakanlah.."ucap Ali namun tanpa menghentikan aktivitasnya
"Apa setelah aku memberikan hal yang paling berharga milikku padamu, kemudian kamu akan meninggalkanku?"tanya Prilly dengan segala keberanian yang ada
Seketika itu juga Ali menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam Prilly.
"Apa kamu masih belum percaya padaku?"tanya Ali
"Tidak, bukan begitu. Aku percaya padamu, hanya saja......"ucapan Prilly terpotong
"Kamu ragu?"tanya Ali
Prilly terdiam~
"Prilly?"panggil Ali
"Ya?"jawab Prilly
"Bolehkah aku berkata jujur?"tanya Ali
"Tentang apa?"tanya Prilly
"Sebuah rahasia. Aku pikir aku harus mengatakan yang sejujurnya padamu."ucap Ali
"Bicaralah.."ucap Prilly
"Berjanjilah setelah aku mengatakannya kamu tidak akan marah padaku?"ucap Ali
"Itu tergantung dengan apa yang kamu katakan dulu."jawab Prilly
"Kalau begitu aku tidak akan mengatakannya."ucap Ali
"Kenapa?"tanya Prilly
"Karena aku takut kamu akan marah padaku, dan......"Ali menggantungkan ucapannya
"Dan?"tanya Prilly
"Dan.... pergi meninggalkanku."ucap Ali menatap tajam istrinya yang saat ini berada dibawah kungkungannya
Hati Prilly bergetar mendengarnya..
"Kamu janji tak akan marah?"tanya Ali memastikan
"Iya, aku berjanji."jawab Prilly
"Sebenarnya..... sebenarnya aku sudah menyentuhmu satu kali."ucap Ali pada akhirnya
"Menyentuhku? Satu kali? Apa maksudmu? Aku benar benar tidak mengerti."ucap Prilly
"Kamu ingat malam ketika kamu tertidur di bathup?"tanya Ali
"Iya. Lalu?"ucap Prilly mengiyakan
"Malam itu aku tidak hanya memindahkanmu ke tempat tidur, tapi...... tapi aku juga.... telah menyentuhmu.... tanpa seizinmu."ucap Ali menjelaskan lebih detail
Prilly terkesiap, sontak ia menyilangkan kedua tangan di dadanya.. Ia juga mendorong tubuh Ali menjauh darinya
"Tidak, jangan berbohong. Kamu pasti berbohongkan?"tanya Prilly
"Aku tidak berbohong. Aku minta maaf karena telah melakukannya tanpa izin darimu. Maafkan aku, aku tidak bisa menahan diri malam itu."ucap Ali
"Tapi kemarin kamu bilang....."ucap Prilly
"Itu karena aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya padamu. Soal sprei dan bedcover yang ku katakan juga itu sepenuhnya bohong, aku memang menggantinya dengan yang baru tapi bukan karena basah. Melainkan ada bercak darahmu disana."ucap Ali
"Maafkan aku."ucap Ali menggenggam tangan Prilly
Prilly terdiam...
"Kamu sudah berjanji tidak akan marah padaku."ucap Ali
Prilly menatap kosong kearah Ali..
"Jangan menatapku seperti itu."ucap Ali dengan tatapan memelas
Prilly sedikit tersenyum disana, muncul ide jahilnya pada Ali. Ia melepaskan genggaman tangan Ali perlahan dan beranjak dari duduknya..
"Kamu mau kemana?"cegah Ali dengan cepat memegang tangan Prilly
Prilly terdiam tanpa membalikkan tubuhnya..
Ali menarik Prilly ke dalam pelukannya..
"Aku minta maaf karena sudah lancang. Kumohon jangan marah padaku. maafkan aku......sayang."ucap Ali sedikit ragu saat mengatakan kata 'sayang'
Sedangkan Prilly tersenyum disana dan sedikit meledek suaminya..
"Rasakan, aku akan sedikit bersenang senang dengan menjahilimu."batin Prilly dengan senyum jahilnya
"Maafkan aku. Ya?"ucap Ali lagi dan lagi terus meminta maaf
"Aku butuh waktu untuk memikirkan ini semua."ucap Prilly melepaskan pelukan Ali kemudian pergi meninggalkan suaminya
"Prilly tunggu, Prilly...."panggil Ali namun Prilly tetap melangkah pergi keluar dari kamarnya
"Arrrggghhhh....."teriak Ali frustasi
"Seharusnya aku tidak perlu mengatakan tentang hal itu kepadanya. Sekarang lihat akibatnya kan, dia marah kepadaku. Dasar bodoh, kenapa aku harus mengatakannya ? Bodoh bodoh bodoh, aku sangat menyesal.."ucap Ali
"Maafkan aku Prilly."ucap Ali berbicara seorang diri
Ali benar benar di buat frustasi oleh sikap Prilly saat ini kepadanya. Prilly benar benar marah kepadanya, pikir Ali~
Kalau saja malam itu Ali dapat menahan dirinya agar tidak menyentuh Prilly, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini. Penyesalan memang selalu datang di akhir, dan Ali mempercayai hal itu sekarang. Semuanya sudah tidak ada gunanya lagi sekarang, karena semua sudah terjadi dan tak akan mungkin dapat di putar kembali. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana agar Prilly mau memaafkannya dan berhenti bersikap acuh kepadanya, itulah yang saat ini Ali pikirkan~
Bersambung dulu ya teman teman......
Maaf ya baru up sekarang, maaf beribu maaf pokonya.. Maaf juga kalau kurang dapat feelnya, ditunggu komentar baiknya. terimakasih 🙏🙏
Jangan lupa tekan LIKEnya setelah membaca ❤😘