
"Ehemm! Sepertinya lagi ada ya g serius ni, sampai oma diangguri" ucap dewi berjalan kearahnya membawa nampan berisi teko air dan beberapa cemilan diatas piring
Aku menangapi itu tersenyum
"Iya ni bu, lehan lagi pengen dimanja manja cantik sama momy barunya. Ya gak myboy" godaku mencolek dagu reyhan
"Ck ck oma ini ganggu aja" kata reyhan melirik omanya sebal. Dewi yang menerima perlakuan cucunya terkikik
"Salah sendiri cerita gak ngajak oma. Tuhkan oma ganggu" dewi menduduki pantatnya disebelah rani sambil menyolek perut reyhan
"Momy, lain kali kalau kita bicala bedua jangan ada oma mom" hasut rehan padanya
Aku melirik bu dewi. Bu dewi menghedik bahunya
"Kenapa sayang?" Tanyaku
"Oma ini selalu jahilin lehan setiap lehan lagi ngomong dengan selius. Itu membuat lehan telkadang sebel liat oma, untung oma kalau tidak uda lehan kasih ikan pilanha omanya mom" jelasnya mendekap dada sambil menatap budewi dengan sebel
"Heh emang kamu bisa. Tangan rehan kecil gini mana bisa bawa ikan besar. Yang ada kamu yang akan dimakan sama ikan piranha itu" ejek dewi pada cucunya
"Iiisss omaa! Tuh kan mom, oma itu ngeselin" cemberutnya
"Haha...haha oma kamu hanya bencanda sayang" rehan menganguk kepalanya lalu mengelamkan kepalanya lagi didekapan rani
"Ayo nak, makan dulu" tawar bu dewi padanya
"Iya bu makasih. Ohya bu dewi, ran mau buang air kecil ni tiba tiba uda sesak aja" izinya permisi kebilik ingin menuntuskan masalahnya dengan alam
"Jangan panggil ibu yah nak ran. Panggil momy seperti rehan manggil kamu" suruh dewi padanya
"Eh tapi bu-"
"Uda jangan pake tapi tapian segala, oke"
"Emm... baiklah bu- eh momy" ucap ku ragu
"Ha seperti itu. Yauda tadi kamu mau ke toiletkan" aku mengganguk kepala
"Kamar mandi ada di belakang dekat dapur, nanti kalo jumpa sama mbok ijah tanya aja yah sayang" ujar bu dewi yang sekarang ia panggil dengan momy? Momy, bisakah ia sebut dengan momy
"Baiklah bu ah momy maksudnya" jawabku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal
Karena belum terbiasa menyebut kata momy pada seorang ibu yang baru saja dikenalnya selain ibu kandung, mamanya
Kalian tahukan jika seorang perempuan memanggil seorang ibu menyebut dengan momy, padahal ia belum menikah. Rasanya sangat canggung
"Serahkan rehan pada momy ran. Pasti kamu kelelahan memangkunya"
"Tidak juga mom. Rehan tidak seberat itu, kan honey" jawabku lalu menyerahkan rehan dipangkuan bu dewi, maksudnya momy dewi
Rehan mengganguk kepalanya lalu melihat omanya
"Lehan itu tidak belat oma. Badan oma aja yang belat, lihat tuh badan oma kayak galon yang seling diangkat sama pak budi" rehan mengejek dewi setelah menduduki pantatnua dipangkuan dewi
"Tch... kamu yah masi kecil uda bisa aja ngejek ngejek gini" delik oma pada rehan
"Ini ya oma kita itu jangan mau di injak injak nanti olang malah menyepelehi kita yang tidak tau sebelapa kemampuan kita oma" jelasnya dengan lancar menyeramahi omanya yang juga menatap rehan dengan takjub
Masi kecil saja bisa berbicara dengan dewasanya. Aku aja yang modelnya gini gak sampe situ loh pemikirannya, aduuh makan apalah anaknya ni
Aku memandang rehan dengan cengo
"Siapa mengajarimu berbicara ssperti itu boy?" Tanyaku
Rehan menoleh
"Tentu saja dady, momy. Dady selalu mengajari lehan, apalagi dady itu sangat tegas jadi kalau lehan nakal telkadang dady malah sama lehan. Padahal kan lehan masi kecil. Yah wajalkan momy" jawabnya bersedekap dada saat mengingat dady yang sifatnya selalu posesif
Selalu yang ia inginkan pasti dibantah kalau bukan untuk kepentingan atau keperluannya saja, ah dia sangat kesal dengan dady nya itu
"Wuaaaaaa kau sangat imut sayangg" aku mencubit kedua pipinya
"Aduh mom sakit ihh..." rintihnya
"Hehe maaf. Lagian sih siapa suruh jadi imut gini, kan buat momy jadi tambah gemes" ucap rani lalu mencium pipi reyhan dalam. Reyhan yang merintih langsung tersenyum
Dewi melihat itu sangat senang plus bahagia kepada kedua manusia yang sedang berbincang sangat bahagiannya. Ah dia sangat bersyukur
"Duuh kayaknya momy uda gak tahan ni. Mom tunggu bentar ya" rani lansung berlari kearah belakang untuk mencari dimana letak kamar mandi tersebut
Saat berjalan mencari bilik yang tidak ia ketahui sebab rumah ini sangat besar dan kemungkinan ia akan tersesat dalam rumah bak labirin yang tak ada ujung untuk keluar
Aku bertemu mbok ijah berjalan keliar dari dapur
"Anu mbokk! Sebentar, saya mau nanya kamar mandi disini mana ya mbok. Dari tadi saya keliling tak nemu nemu. Kalo boleh tau mbok bisa nunjukin kamar mandinya. Serius mbok uda diujung tanduk ni" ujarku memanggil mbok ijah sambil cengingiran menampilkan gigi putihnya
Mbok menoleh lalu terkekeh mendengar panjang cerita anak gadis manis ini saat berbicara tentang mencari toilet. Lihat bahkan dia sudah melinting linting untuk menahannya
"Yauda non biar saya antarin" sahutnya tersenyum lalu berjalan menunjukkan jalan
"Aduh mbok gak- aduuh gak tahan lagi ni. Makasih ya mbok"
aku ingin membantah ucapan mbok saat memanggilnya 'non' tapi karena urusan alamnya tidak bisa diajak kompromi ia langsung masuk kekamar mandi tersebut setelah mbok ijah menunjukkan kamar mandi didepannya
"Iya sama sama non. Kalau gitu saya permisi" balas mbok lalu menunduk kepala lalu berjalan meninggalkannya. Kalo gini mah ia mana bisa melihat orang yang lebih muda darinya untuk menghormatinya
Skip
"Haaaa... leganyaaa. Eh ngomong ngomong ni uda jam berapaan yah" tanya ku pada diri sendiri kemudian celangak celinguk mencari jam dinding tapi tak ada satupun apa yang dicarinya disekitar rumah tersebut
Selagi mencari iya berjalan kearah dapur karena didepan nya itu adalah ruangan besar, karena ia orangnya penasaran jadi ia memasukin ruangan tersebut. Tadikan ia tidak sempat untuk mengamati ruangan dirumah ini makanya ia baru mengetahui jika dapur didepannya sangat besar seperti ruang tamu dirumahnya
Pas sekali ada mbok ijah yang lagi meracik ramuan alias minuman
"Permisi mbok" panggilku memegang bahunya
"Ah ya non. Non uda selesai toh" sahutnya setelah menoleh menghadapku
"Hehe ya mbok" senyumku menggaruk leher bingung apa yang mau ia ucapkan selanjutnya
"Non mau apa? Biar saya yang buatin"
"Gak mbok saya lagi gak mau apa apa. Oh ya Mbok, jangan manggil saya 'non' atuh mbok. Saya kan lebih muda dari mboknya. Malu saya dengan kalangan muda, hehe" ucapku
Mbok tersenyum menanggapi
"Gak perlu non. Saya hanya menghormati orang rumah saja. Lagian saya tidak keberatan, karena ini pekerjaan saya non"
"Menurut mbok sih gak keberatan tapi menurut saya sangat sangat keberatan. Karena mbok itu lebih tua dari saya, pasti umur mbok seperti umur emak saya yang lagi dirumah. So, mbok harus manggil saya dengan nama kalau tidak nak ntah apalah itu asalkan jangan 'nona' karena nama saya bukan nona mbok" nasehat ku pada mbok ijah
"Tap-" aku menyela ucapan mbok
"No! No, tidak ada kata tapi, kata mom dewi. Soal pekerjaan itu bukan alasan untuk tidak menghormati, bukan. Ini ya mbok senakal nakalnya saya, saya masi mau menghormati orang yang lebih tua dari saya. Itu yang selalu saya tanamkan dihati saya apa yang diucapkan oleh mama saya mbok" lanjutnya memegang kedua bahu mbok ijah dengan wajah seriusnya
Mbok ijah tersenyum
"Kamu sangat baik nak. Mbok sangat tersanjung mendengarnya, tidak ada orang seperti kamu"
"Semua orang baik mbok. Hanya saja orang berbeda untuk menyekapi itu semua. Dan satu lagi nama saya rani, mbok bisa manggil saya rani" senyumku tulus
***
By, Mh04
❤❤❤