My Possessive Duda

My Possessive Duda
MPD ~ 14



karena seminggu ini hari besar author update langsung dua chap dungs, gimana senang gak para readrsku😘 okeokeh tapi ini jangan lupa di LIKE AND KOMEN


**


"Kenapa, princes?" Tanya radit


Rani mendelik "aku mau pulang"


Radit mengerutkan kening "kau mau pulang naik apa"


"Naik apa aja bisa. Lagian rapatnya sudah selesai juga. Yauda rani mau pulang dulu dah" rani berjalan keluar tidak mendengar panggilan abngnya


"Serkan sebentar dulu ya, aku mau menyusul adik ku" radit mengejar rani tidak jauh dari ruangan meeting


Melihat itu serkan tersenyum simpul. Ah sudah berapa kali ia tersenyum dibuat oleh gadisnya, gadisnya? Ah iya sekarang rani sudah ia anggap menjadi miliknya


"Stop ran! Kau tidak mendengar abng apa" radit menarik bahu agar memberhentikan jalan rani


"Iiss apaan lagi bang, elah! Bosen rani disini"


"Sebentar, biar abng yang ngantar okey. Kamu masuk aja kedalam ruangan abng. Ingat jangan kemana mana" perintah radit. Rani menganguk pasrah


Radit mengacak rambut adiknya gemes "jangan cemberut kau tampak sangat jelek. Yauda sana keruangan abng" radit mendorong pelan tubuh rani memasuki ruangannya


Dengan lesuh rani berjalan memasuki ruangan yang amat bosan baginya


"Kau juga jangan lama lama kalau tidak aku akan melarikan diri" ancam rani


Radit tersenyum geli mendengar ancaman kekanakan adiknya "iyaiya"


Radit beranjak dari tempatnya "Maaf serkan aku harus mengurus adikku" ujar radit sampai diruang meeting


"Ya gakpapa" jawab serkan


"Kau gak ada kegiatan lagi?" Tanya radit


"Sepertinya ada"


"Radit kenapa kau tidak pernah bilang kalo kau mempunyai adik?" Tanya serkan memiringkan kepalanya


"Ck apakah itu penting. Kenapa? Kau tertarik dengan adikku" radit menggoda serkan dengan menaik naikan alisnya


Kalian pasti bertanya kenapa serkan dan radit sangat akrab karena mereka adalah sahabat dari perkuliahan


"Kalau aku bilang iya gimana" tantang serkan dengan santai


Radit menatap tajam


"Dan aku tidak akan merestui itu" jawab radit


"Kau tidak bisa memaksakan kehendak dia kalau bener suatu hari dia akan menyukaiku" ucap serkan bersedekap dada menatap radit yang menatapnya menahan ketawa


"Haha..haha kau jangan bermimpi serkan. Kau tidak akan bisa mendekatinya hahh..hah..Haha" tawa radit pecah mendengar ulasan dari sahabatnya


Serkan mengerut dahi "kenapa kau tertawa?"


"Ha coba saja kalau kau ingin mendekatinya" radit menghendik bahunya acuh


"Lagian aku percaya pada mu. Tapi kalau kau benar benar bisa menaklukannya menerima kau yang otomatis kau seorang duda, man" radit terkikik disela pembicaraannya


"Ada apa dengan duda? Itu tidak masalah" serkan memutar matanya


"Ck ck terserah kau sajalah semoga kau bisa menaklukan adikku" ujar radit menenpuk bahu radit berulang kali


Serkan dengan percaya dirinya kalau serkan bisa menaklukan adik radit dengan menegakkan badan dan berwajah keseriusan "pasti"


"Yauda aku kembali keruangan ku. Kalau tidak aku akan dimakan beruang" ujar tadit terkikik geli


Serkan menatap radit bingung


"Hemm beruang yang sangat ganas. Luan ya bro" radit pergi meninggalkan serkan dengan kebingungannya. Tak ingin teralalu berpikir serkan mengeleng kepala sekali agar membuyarkan kebingungan yang melekat diotak karena perbuatan radit tidak menuntaskan pertanyaannya


"Kau! Kau bilang cuma sebentar! Aku menunggu abng hampir satu jam" cercah rani mengancungkan jarinya sambil melempar satu buku kearah radit


Kan sudah dibilang jangan membuat sang beruang betina kalau tidak semua barang akan dilemparnya atau dihancurkan


mendapatkan sinyal lemparan buku radit buru buru bergerak kesamping agar tidak terkena buku lumayan tebal itu "Uwwoow sabar princes kau buat abng takut. Hahahaha sabar okey" radit terkikik geli karena kalau kena pasti akan mukanya yang kena imbas


Perbuatan rani sama persis seperti mamanya. Galaknya gak nangung nangung


"Maaf princes, kau taukan Mr. Praditya gak bisa kita tinggalin gitu aja. Jadi abng ada ngomong ngomong sikit" ucap radit meringis menggaruk tengkuk yang tidak gatal


"Iya ngomong, tapi ko lama. Iis uda ah rani mau pulang udah gak betah disini" tuntut rani


"Yauda yauda yuk kita pulang. Dari pada beruangnya ngamuk lagi" rani melototkan matanya


"Apa mau lempar buku lagi" ujar radit bersiaga


"Idih perasaan banget. Yauda buruan"


"Abng heran liat kamu princes. Setiap datang kekantor bawaannya selalu bosen kalo gak bad mood, adeeh emang kamu ni beneran gak cocok yang namanya kantor"


Rani menjetikan jarinya jika perkataan radit ada benarnya


"Hah tuh tau. Makanya jangan ngajak rani kesini. Udah tau muak liat semua karyawan abng malah disuruh kesini"


"Noh apalagi tuh berkas yang menumpuk kekgitu, buat stres liatnya. Masi mending kalo tumpukan itu hasil karya rani mah ya wes wes aja. Dah tuh huruf semua, lagi" radit melirik kearah meja melihat beberapa setumpuk berkas yang belum ia selesaikan


Memang benar sih ucapan rani, terkadang ia juga jengah melihat tuh berkas berkas tapi mau bagaimana lagi. Seorang CEO memegang semua kendali walaupun dibantu oleh papanya


"Malah bengong. Udah ayok" cercah rani membuyarkan lamunan panjang radit


Radit mendelik "untung kau adik ku, princes kalau tidak-" perkataan radit dipotong


"Kalau tidak apa!" Marahnya berkacak pingang dan jangan lupakan tatapan rani seperti mau mengeluarkan leser


Radit gelagapan "emm itu... anu ah kamu ingin sesuatu, princesnya abng mau coklatkan? Ayo kita beli, sepuasnya yang adik abng mau"


Mendengar kata coklat rani membinarkan matanya "coklat! Iya rani mau! Ayuk kita pergi. Tapi janjikan semaunya rani kan, yakan yakan" dengan antusias rani menarik tangan radit keluar dari ruangan kantor radit yang menurut rani ruangannya seperti tidak ada udara, pengab


Radit menghela nafas "ha syukurlah" gumamnya mengelus dada dan radit pasrah saja ditarik tarik kesana kesini oleh adiknya


Jangan sampai beruang betina bangun lagi, gak papa badan ini diombang ambing olehnya


Sesampai ditoko coklat rani memasuki toko itu dengan semangat dengan wajah tersenyum bagaikan anak kecil diberi hadiah istimewa


Radit dan rani bukan seperti adik kakak mereka persis seperti sepasang kekasih bergadeng tangan dengan mesra yang satu sisinya perempuan tersenyum antusias memandang coklat lalu memandang kepria sebentar menunjukan jika ia ingin mengambil coklat itu dan disatu sisi sang pria tersenyum manis sampai menampilkan lesungpipit dipipinya memandang sang perempuan dengan lembut


Orang yang beralalu lalang tersenyum memandang antara radit dan rani karena kemesraan yang mereka umbar, mereka tidak tau jika mereka dua adalah adik kakak seperti sepasang kekasih memanjakan sang wanita


Tapi sayang, mereka hanyalah saudara kandung bukan lebih?


"Princes, abng bilang sepuasnya tapi jangan sebanyak kayak begini. Kasihani abng nanti dirumah princes" bujuk radit memberhentikan atraksi rani yang mengambil berbagai coklat lalu meletakan diranjangnya



Habislah aku dirumah nanti, batinya frustasi


Kalau begini ceritanya aku tidak berani menjanjikan coklat lagi pada rani, ini terakhirnya, batin radit menghembus nafas sabar


***


Jangan lupa dilove and komen😘


By.mh08