
Skip
"Haaah... perusahaan ayah dan bang radit dari dulu gak ada perubahannya" aku berjalan kearah resepsionis utama
"Apa yang bisa saya bantu, nona" tanya resepsionis tersenyum dan jangan lupakan wajahnya dipenuhi berbagai macam tepung sampai tebal begitu bahkan pakainya saja tidak bisa disebut dengan namanya baju
"Hem radit ada diatas" balasnya
Perempuan itu melunturkan senyumnya lalu menelitinya dari bawah sampai atas memandangnya remeh dan sinis
Rani menaikan alisnya
Ada yang salah dari penampilannya, pikirnya menatap dirinya sendiri
"Untuk apa kau menemui Mr. Rumengan" sinisnya melipat tangan meremehkan rani
"Kau menilaiku!" Tekanya tatkalah sinis
"Wah wah sepertinya kau benar benar ****** yang ingin menemui Mr. Rumengan!! Kau sadar diri nona. Kau siapa memanggil Mr. Rumengan dengan namanya asalkan kau tau aku disini sebagai kekasihnya dan kau pasti mengaku menjadi jalangnya kan" ejek wanita itu dengan bentakan sampai orang tertarik melihat adengannya dan itu membuat wanita ini tersenyum kemenangan
Menyebutnya ****** didepan wajahnya berani sekali dia
Orang orang disekitar mulai berkumpul saat dari salah satu dua perempuan itu dengan suara besar menyebut kata ******, memang bener kalau setiap ada perempuan mencari bos mereka pasti disebut ******
Mereka memandang rani dengan pandangan remeh saat tau jika wanita itu adalah salah satu ****** yang sering datang
Ck..ck.. sudah berapa lama aku tidak pernah kesini sampai mereka tidak mengenalku, pikir rani berdecak
Rani terkekeh mendengarnya "Kau karyawan baru disini. Jadi jangan sok tau, nona. Dan tadi kau pacarnya radit, Hahaha yang benar saja! Aku baru tau selera bang radit adalah kau. Ouh atau kau bermimpi jika radit menjadi kekasihmu. Dengar nona ini sudah siang, bangunlah!" Ujar rani tajam dan masih demgan gaya santainya
Nenek lampir didepanya mengepal tangan tidak terima saat orang mengatainya
"Kau!! Pergi dari sini kau ******! Jangan sampai aku memanggil satpam lalu memgusirmu dengam tidak layak!!" Pekik perempuan itu
Rani menaikkan alisnya lalu menurunkan pandangannya melihat bad nama perempuan itu
Ouh namanya Arrabella, okey akan ku ingat namamu *****, batin rani
"Kau mengusirku nona arabella" rani mendekat perempuan itu dengan perlahan
"Aku baru tau jika seorang ****** mengatai dirinya sendiri. Ck..ck.. kau sangat jahat dengan dirimu sendiri nona arabella" bisiknya lalu menjauhkan wajahnya dan lihat perempuan itu sudah memerah menahan emosinya. Rani membiarkan arabella yg sudah emosi seraya berjalan ditengah tengah keramaian
Jangan macam macam dengan rani kalau tidak mau sampai tersulut emosi karena ucapanya walaupun rani berkata dengan santai tapi sangat tajam perkataanya dan itu membuat lawannya sangat emosi
Rani memandang kesuluruhan memandang orang sekitarnya yang juga menatapnya "panggil bos kalian kesini" tegas rani tajam dan angkuh jika perintahnya tidak bisa dibantahkan
Rani menghela nafasnya menatap sekerumbun didepanya dengan pandangan jengah
"Lebih baik kau pergi saja ******! Tidak ada yang mengopeni kau!" Ujar arabella sinis
"Kalian membuat ku marah, baiklah kalau itu mau kalian. Dan kau arabela kau berurusan dengan ku" ucap rani mengundang sekitarnya menatapnya bingung
Mereka berbisik bisik merendahkannya
"Mereka membuatku marah, sialan!" Makinya pelan
Rani mengeluarkan handphonenya. Mencari salah satu nomor yang diincarnya setelah dapat
Rani menelepon nomor tersebut
**Tringg...ttingggg (suara dering)
"Lebih baik kau turun bng. Mereka membuatku marah! Jangan sampai kantormu berantakan karenaku!" Ujarku menahan emosi
"Ada apa princes? Kau ada disini, diperusahaan abng" tanya radit
Rani memutar matanya malas
"Eem aku datang dan sekarang cepat kau kesini! Aku muak melihat mereka!" Marahku berteriak ditelepon**
Orang yang menatap rani bingung, siapa yang ditelepon perempuan itu sampai perempuan itu marah
"*Mereka siapa princes?" Radit bingung
"Siapa lagi kalau bukan karyawanmu ini! Shit mereka membuatku tambah marah"
"Oke oke aku akan kesana sweety. Tenangkan dirimu okey"
"Hem cepat!"
Tiiittt (telepon berakhir**)
"Apa kau mengadu pada orang tua mu *****" sindir arabella padanya
"Diam kau sialan! Jangan sampai kau menyesal dengan ucapanmu" bentak rani tajam. Rani tidak bisa menahan kemarahannya lagi karena perempuan didepanya selalu membuatnya tersulut emosi
Kesabaran itu punya batasnya bukan
"Wow kau marah? Haha kau seperti perusahaan ini milikmu *****! Dengar lebih baik kau pergi saja atau kau mau aku bermain fisik denganmu *****" kau salah arabella kau mengajak rani bermain fisik yang otomatis rani adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo kau akan meyesal jika melawan seorang rani
Rani menyeringai sinis berani sekali perempuan ini mengajaknya bermain fisik "kau mengajak ku berantem arabella" ujar rani tersenyum miring
"Kenapa? Apa kau takut" ejek arabella padannya
Rani mendelik "kau sangat salah mencari lawan. Tapi tenang saja akan aku layani, kau sudah ku incar" rani tersenyum menyeramkan
Arabella melihat perempuan itu sangat seram. Wajahnya mulai mempias saat perempuan itu memdekat kearahnya dengan wajah menyeringai. Dia baru tau jika perempuan didepanya sangat memyeramkan tapi arabella tidak mau dilihat takut dan arabella mencoba menatap berani pada rani
Sebelum rani mulai mendekat seseorang memanggilnya
"Ranii!" Pekik radit melihat semerumbunan orag mengelilingi adiknya
Radit memasuki sekerumbunan karyawanya otomatis orang atau karyawannya memberi jalan padanya lalu menunduk pandangan memyapanya. Mereka tidak menyangka jika bos mereka turun tangan pada masalah ini
Radit heran kenapa karyawanya malah berkumpul disitu bukanya bekerja. Radit mulai bertanya pada seketarisnya
"Ada apa disitu maxel" tanyanya
Maxel menghedik bahu jika ia juga tidak mengetahui. bagaimana bisa ia mengetahui jika ia sedari tadi bersama bosnya
Setelah dilihat radit. Radit mendekat kalau didepannya memang adiknya mulai menyerang perempuan itu
"Princes, stop" rani menoleh kearah asal suara dan itu abngnya, radit
***
Jangan lupa vote nya😘
By.mh08