
"Tck... kenapa kau lama sekali. Seperti model saja" ledek rani bersedakap dada jika ia sudah melupakan berdebatan antara arabella padanya
Radit cengigisan lalu mengacak rambut adiknya gemes "maaf abng mu ini princes. Kau tau tadi di lift sangat ramai dan ruanganku paling atas" ujarnya tersenyum
"Itu bukan alasan bang radit" ujar rani memutar matanya
"Baiklah ada apa kau kesini princes" tanya radit lalu melihat disekitarnya dan jatuh kepada arabella
"Dan ini kenapa kalian juga disini ha! Kembali bekerja kalian!" Bentak radit pada semua karyawannya
"Jangan! Biarkan mereka disini" ucap rani melirik seluruhnya
Wow ketika gilaranku mereka tidak tunduk dan sekarang malah tertunduk takut sama bang cebolnya
"Apa mereka yang membuatmu marah tadi princes" tanya radit lagi. Rani menganguk kepala cemberut
"Kau tau bang karyawanmu sangat keterlaluan. Aku heran bagaimana kau bisa mengerjakan mereka yang tidak punya sopan santun, terutama perempuan itu" ucap rani pada radit lalu menunjuk kearah arabella yang sudah keringat dingin
"Aku tidak mengerti princes. Jelaskan saja kenapa hem. Kenapa kau marah tadi"
"Abng tau mereka disini tidak mengetahui status ku siapa bagimu. Dan malah mengataiku ******" rani mengadu dengan gaya merajuknya
"******! Siapa yang bilang itu princes?" Radit menahan emosinya karena tidak menerima jika ada orang menghina adiknya yang sudah pasti itu kebalikanya
Rani menunjukan wajah andalanya yaitu wajah bersenduh, mata yang berkaca kaca seraya mengangkat jarinya menunjuk kearah arebella
Arabella terjengit kaget saat perempuan itu menunjuknya. Arabella mulai bergetar kecil saat bosnya mendekat kearahnya
Arabella tidak tau jika perempuan yang sudah ia hina adalah salah satu keluarga bosnya
"Cukup bng radit. Arabella urusanku nanti, yang perlu kau umumin saja aku siapa" rani memberhentikan jalan radit yang sudah pasti sangat marah sekarang
"Huuft baiklah. Kalian semuanya dengar perempuan yang ada disebelah saya yang barusan kalian hina adalah adik kandung saya! Dan dari kalian yang berani menghinanya lagi akan berurusan denganku" tegas radit dingin pada semua karyawannya
Mereka terkejut mendengar itu pantesan saja perempuan itu sangat tidak takut pada arabella rupanya ia adalah adik dari bosnya. Mereka pucat pasi menunduk kepala tidak berani hanya orng bodoh yang berani pada Raditya Fabriano Rumengan. Abngnya saja sudah seperti itu apalagi adiknya
Dan mereka hanya bisa menatap kasian pada resepsionis barunya
"Kalian boleh pergi" usir radit melayangkan tangannya. Mendengar itu mereka melengang pergi
"Waahh kau hebat kak. Aku baru tau kalo kau sangat setegas ini, aku bangga padamu. Semoga kau diberkati" senyum rani merekah mengikuti ala ala orang india
Radit mencubit pipi rani gemas
"Kau saja yang tidak mau tau tentang abangmu ini" delik radit kemudian menarik tangan rani keruangannya
"Eeettt tunggu bentar bang"
Radit menaikkan alisnya heran
"Ada apa lagi hem?"
"Gak, rani hanya bingung" jawabnya
"Bingung kenapa princes?"
"Kita apakan karyawanmu yang itu" ujar rani sembari menunjuk arabella yang masi terpaku ditempatnya
"Bukannya kau yang bilang kau saja yang mengurusnya princes"
"Iya sih, tapi sebenarnya dipikir pikir aku malas bang. Tapi gimana ia sudah membuat ku turun derajat" rajuknya
"Tenang saja princes biar abng yang akan mengurusnya" kata radit mengelus puncak rambut rani
"No! Rani gak mau tangan abng kotor karena perempuan itu" omelnya menepis tangan radit berada dikepalanya
"Bukan abang, tapi maxel. Yauda kita keatas abng mau tau apa tujuan princes abng datang kemari, kan tumben tumben adik abang kesini" rani menganguk kapala kemudian menatap arabella menyeringgai
Kau salah lawan, bukan begitu arabella, pikir rani seakan perkataanya bisa tersampai kepikiran arabella melalui matanya
Setelah radit dan rani sampai keruangan mereka menduduki pantatnya disofa panjang duduk berdampingan
Rani menarik nafasnya dalam dalam
Kemudian berdecak menatap radit
"Kalau tidak diperintahkan ayah dan pake mengancam segala aku tidak akan kesini" ujarnya sebal mengerucut bibirnya dan itu sangat menggemaskan
Jika saja rani bukan adiknya dia sudah menikahinya karena sikap rani yang sangat menggemaskan dimata radit
Kalau saja ada adat membolehin menikah dengan sodara kandung atau satu ibu, radit pasti salah satu melakukan tersebut
"Mengancam?" Tanya radit
Rani mangut mangut
"Em iya mengancam sampai rani bungkam" tuturnya
"Mengancam apa princes, sampai kau tidak bisa menelah ancaman itu? Biasanya kau yang selalu membantah ancaman ayah abng dan mama. dan lihat sekarang seorang rani dengan segala bantahannya bisa ditaklukan oleh ancaman ayah. Abng penasaran jadinya" ujar radit terkekeh
Rani mendengus "apalagi kalo bukan perjodohan!"
"Hahahahah...hhaa abng sudah yakin sekali" tawa radit meledak
Sebenarnya radit juga mengetahui perjodohan itu tapi radit hanya diam saja biarkan adiknya berbicara dengan nada kesalnya itu
Keluarga radit memang ingin menginginkan perjodohan salah satu sahabat ayahnya tapi karena mereka tau anak bungsu mereka bakal mentah mentah tidak menerima perjodohan itu makanya keluarga radit hanya melakukan dengan perlahan lahan
"Jangan tertawa kau membuatku tambah kesal" ujarnya mengembungkan mulutnya jika dia benar benar kesal sekarang
Radit memberhentikan tawanya saat adiknya berucap dingin padanya
"Oke oke abng minta maaf yah" rani hanya diam mencebik kearahnya
Radit tersenyum seraya menarik pundak rani seperti memeluk dari samping
"Jangan pikirin kata ayah. Ayah hanya mengertakmu princes lagian abng tau kalo kamu tidak menginginkan itu, yakan" ungkap radit menoel pipi rani seperti balon sekarang
"Rani tidak akan memikirkan itu ko, tenang aja" jawabnya membalas senyuman radit
"Ohya itu ditangan mu apa? Berkas yang abng tinggal" tanya radit melirik berkas dengan sampul coklat berada ditangan rani
Rani menoleh keberkas ditangannya
"Ah iya! Rani hampir lupa, hehe. Yauda ini kata ayah ini penting. Ayah gak bisa datang ke rapat karena kondisi ayah masi sakit bang dit, jadi rani yang mengantarnya dengan segala ancaman peejodohan sialan itu" ujar rani memberi berkas untuk rapat
Radit mengambil berkasnya
"Trus kalo begitu abng sendiri nih yang ngadirin meetingnya" ujar radit senduh
Lah buset ni orang didepanya udah kayak ilang separuh jiwa dah untung abng kalo kagak ia lempar juga dari atas sini, batinya mendesis
Rani menaikkan alisnya
"Itu bukan urusan rani. Rani cuma disuruh ngantar tuh berkas jadi jangan macam macam yah!" Deliknya melototkan matanya
Radit tersenyum miring menatapnya
Rani melihat itu horor
"Apa! Mau nyuruh rani juga"
"Ogah!! Rani gak mau" bantah rani mulai mundur
***
Jangan lupa dilove yah
By.mh08