My Possessive Duda

My Possessive Duda
MPD ~ 34



Acara makan malam dengan keluarga Praditya membuatnya sangat terkesan


Bagaimana tidak si mesum a.k serkan selalu menggangunya dengan akal bulusnya, akhhk sialan!! kalau tidak memengang ketuguhan dalam sopan satun dia bakal meninju wajah tampan gunung es itu sampai babak belur


"Sayang, bagaimana kalau kamu menginap saja? Sepertinya diluar juga sudah malam" ujar dewi saat dia melihatnya seperti ingin undur dari acara hangat keluarga Praditya


Rani menggeleng tidak setuju, tentu saja aku tidak setuju, aku masih ingin nama ku berada di KK keluarga Rumengan


"Tidak apa apa mom, rani bisa jaga diri ko. Lagian juga uda pesan taksi online jadi aman" sahutku


"Duuh kamu gak takut apa"


"Takut? Takut siapa" ujarku memiring kepala bertanya


"Nih ya ran, mom denger denger tuh diluar banyak kejadian-kejadian anak gadis perawan tuh diculik, diperkosa terus tuh dibuang sama taksi online. Kamu gk takut gitu, bahaya ran" ujar dewi khawatir saat ia mengingat kata temen temen sosialitanya agar menjaga anak gadis mereka dirumah karena rumor yang sudah melebar kemana mana


Rani mengeleng "gak bakal mom. Mom tenang aja rani sampai rumah bakal selamat, tenang aja" bantah rani terkekeh menyenangi dewi agar tidak terlarut dengan rumor yang beredar


Yah walaupun itu bener bener ada korban gituan sih, otomatis buat jantungnya ketar ketir bagai kudah


"Tapi ran, mom itu kurang yakin tau. Kamu nginap aja disini biar nanti momy izinin yah" bujuk dewi


No! Rani gak mau nginap satu atap sama tuh tembok es, bisa gila dia ntar terus di ***** tuh sama tembok, gak bakal


"Tidak bis-"


"Tsk,, apa kau tidak bisa menurut sedikit" dengus seorang dibelakangnya dan mulai berjalan mendekatinya


Rani membalikan badan kemudian berhadapan langsung dengan dada bidang serkan lalu menaikan pandangan nya dan itu membuat rani kesal karena itu


Selain muka datar dan dingin lelaki didepannya. Ia juga sangat tinggi, waahhh luar biasa!! Dan aku baru menyadarinya, ckck


"Apa?" Tanya serkan menaikan alisnya memnunduk karena memang tingginya dengan gadisnya hanya sebatas dadanya kalaupun sampai kebahu nya hanya beberapa senti saja dan itu membuat serkan gemes ingin memeluk rani sangat erat agar beruang galaknya ini tidak kemana mana


"Tidak ada" acuh rani mesampingkan muka karena kesal


"Mom rani harus pulang. Pasti mereka khawatir rani belum pulang juga"


"Kau sangat keras kepala, honey"


"Itu bukan urusan mu" sinisnya menatap serkan tajam


"Tentu saja itu urusan ku. Mulai sekarang!" Tekan serkan diakhir ucapannya


"Dasar sinting" gumamku membuang muka lalu menatap kedewi yang melihatnya dengan mata berbinar binar


Hei! Ada apa dengan tatapan itu?


"Sudah sudah jangan bertengkar lagi. Momy akan izinin kamu pulang, kalau serkan yang mengantar kamu" final dewi pada mereka yang masi memandang sengit satu sama lain


Mendengar itu serkan tersenyum kemenangan tapi tidak dengan rani yang hanya mendengus tidak terima


"Ckk,, baiklah" dumelnya pasrah


"Sudah lah mengalah saja honey, biarkan calon suami mu yang mengantarmu sampai rumah" bisik serkan lalu mengacak rambutnya


Calon suami? Iuww dalam mimpimu saja bastard, batinnya berteriak


"Don't touch me" tekannya tajam  menghempas tangan serkan dikepalannya


"you're so fierce, baby. Tapi, tidak apa-apa. Karena aku suka" ujar serkan mengedip matanya sebelah menggoda gadisnya yang wajah sudah memerah. No, bukan karena tersipu malu. Tapi menahan kemarahan, mungkin?


Serkan berbalik berjalan Menuju meja kecil. mengambil kunci mobil disana


"Come on, honey. want to go home or stay here" ujar serkan menaikan alisnya menoleh kebelakang


"No, I'm coming" jawabnya cepat. Serkan berlalu pergi setelah mendapat jawaban meninggalkan gadisnya dibelakang


"Emm rani pulang ya tan"


"Momy rani bukan tante" kata dewi menyela


"Ups, sorry mom"


"Pergilah serkan menunggu" rani mengganguk kepala


Setelah salam perpisahan rani berlari menyusul serkan didepan. Masuk kedalam mobil yang sudah ada manusia kutub duduk manis dikemudi


"Sudah?" Tanya serkan padanya


"Yakin?" Rani naikan alisnya bingung menatap pria disampingnya


"Tentu saja, yakin" ucapnya mantap


Aneh ni orang, buset dah. orang uda duduk anteng gini berarti ia kan sudah siap dong. Tinggal jalan aja ni mobil


Serkan menbuang nafasnya. Membuatnya bingung "kenapa sih? Gak ada yang ketinggalan ko, santuy aja"


"Keliatan banget kamu ingin berdekatan dengan ku"


"Idih ke-Geeran banget sih jadi orang" ucapnya memandang serkan jijik


"Aku tidak ke-Geeran, honey. Buktinya kamu belum memakai seatbeltmu. Kenapa, Mau aku yang memasangnya? Aku sih tidak masalah"


Rani memandang kebawah, iya sih ia tidak memakain. Emang bermasalah kah? Kan tidak kenapa hepot sekali lelaki kutub ini


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri" jawabnya dan memakainya


"Ah,, padahal aku berencana aku yang memasangnya" ujar serkan kecewa


"Apaansih, uda deh buru bawah mobilnya jalan" ucapnya kesal


"Baiklah, baiklah" serkan melajukan mobilnya keluar dari perkarangan mansion


Skip


Seminggu berlalu setelah kejadian Rumah Praditya,,,


Leone Café


"Kau tidak lupakan menceritakan pasal kemarin kepadaku, sweety" reza berujar memandang seorang gadis sedang sibuk dengan kentan gorengnya


Rani memutar matanya jengah "hentikan panggilanmu itu reza!" Ujarnya melemparkan satu ketan goreng ke reza


Reza menghedik bahu "kenapa sekarang kau mempermasalahkan panggilanku? Biasanya tidak tuh"


"Cck kampret ini" dengus rani mendelik


"Aku kesal padamu. kau itu Susah sekali dihubungi setelah bertemu dengan Praditya. Apa kau benar-benar ada hubungan dengannya?"


"Idih yakali aku ada hubungan dengannya, no bad jangan deh" ucapnya bergidik


Amit-amit dah


"Kamu yakin? Setelah semua terjadi didepan mataku. Mommy? He, masih mau mengelak"


Aku menghembus nafas kasar


"Panjang ceritanya. Kalo diceritain pun kamu tak mengerti" meminum milkshake coklatnya


"Kamu pikir aku se idiot itu, ayolah ceritain aku penasaran" paksa reza membujuknya


"Ya allah za jangan kayak cabe-cabean deh, gak cocok tau sama badan besarmu" deliknya


"Gelagatmu ini seperti sudah sangat dekat ya dengan Praditya, ck ck mau berdalih heh"


"Heh ho he pala lo hahe, enak aja tuh muncungnya. Yagaklah, ogah banget"


"Kalau gitu ceritain ran, kamu mau akuu mati jadi arwah penasaran"


"Baiklah, tapi jangan dipotong ya. Kalo kamu potong gak bakal aku lanjutin lagi" ancamnya dan dibalas anggukan oleh reza


Aku menceritakan awal mula bertemu dengan mom dewi sampai keantek-anteknya yang membuat anak dewi a.k serkan selalu menempel padanya. Kalau masalah reyhan yang menempelnya yah, dia mah sah sah aja. Tapi, ini induknya yakali kalo beneran dipaksa nikah


Mengingat kejadian pasal lalu membuatnya bergidik, hanya sekali es kulkas itu mencabulinya


Reza angguk-angguk mengerti setelah ia mendengar dan mengamati semua alur cerita yang dialami sahabatnya "Ah seperti itu toh. Pantes aja kemaren aku deket denganmu uda kayak jadi mangsa"


"Emang kenapa? Kamu diancem sama ketek buaya itu" kataku menaikan alis sebelah


Reza mengeleng "gak tau, tapi pikirku sih iya" ujar reza membingungkan


"Apaansih gak jelas" balasku memutar mata malas


****


*B*y,Ranimh08