
"Sayang gak diangkat lagi" ujar dewi muka bersedih
"Mungkin yang punya rumah lagi gak ada sayang" bujuk kemal
"Apa rani gak mau kenal lagi yah sama momy" pikir buruknya berkelana memikirkan hal yang buruk
"Tapi kamu bilang rani itu baik, ramah. Gak mungkin lah dia gak mau kenal sama momy" bujuk kemal lagi untuk menyemangati istrinya
"Huaaa dadd" histerisnya menangis beseduh seduh
Melihat itu kemal mengeleng geleng kepala
"Cup cup sayang... nanti kita coba telfon lagi yah" dewi mengangguk kepala seadannya sambil memegang handphonenya
Kemal yang mempalingkan wajahnya kesamping tak sengaja melihat serkan menurunkan tangga dengan gaya tangan sebelahnya di masukan ke saku dan wajahnya yang menatap kedepan dengan mimik tegas nan tajamnya
Sama persis dengannya, batin kemal bangga
Serkan melihat adengan didepannya menaikan alis disebelah nya
"Ooh selamat pagi serkan" sapa kemal
Mendengar ada nama anaknya dewi mendongak lalu membuang mukanya lagi. Dewi masi meratapi handpohennya
"Pagi dad" sahut serkan berdiri dekat meja membuat antara serkan dan orang tua nya memiliki jarak
"Kapan dady pulang? Kenapa tidak bilang serkan?"
"Dady pulang tadi malam jam 4 dini, kamu kan lagi sibuk sama pekerjaan jadi dady sungkan mau ganggu kamu" jawab kemal dan diangguki oleh serkan lalu ber alih ke arah momy nya
Serkan yang ditatap oleh momynya lalu membuang muka seperti itu berpikir pikir
Ada apa dengan momynya itu
"Momy kenapa dad?" Tanya serkan heran pasalnya momynya itu menangis tanpa keluar air mata
Momy menangis kencang saat putra nya malah bertanya ada apa dengan nya. Bukan nya memberi kan info tentang menantunya malah bertanya ada apa dengannya
Dan itu semakin membuat serkan tambah aneh melihat monynya
"Hiks... hiks kenapa kamu di sini?" Delik dewi pada serkan
Serkan menatap dadynya, memberi tatapan bertanya tapi dady nya malah mengangkat bahu nya
"Tentu saja ini juga rumah serkan mom, gak salah kan serkan tinggal disini" jawab serkan mengerut dahinya bingung
"Sejak kapan kamu bilang ini rumah kamu?" Omel dewi
"Sejak lahir kan mom" jawabnya lagi
"Terserah!! momy mau ke atas dulu, hiks... hiks... punya anak kenapa pada kagak peka" tuturnya berjalan melangkah terseok seok
"Huuuft... serkan tidak mengerti sama momy, dad. Apa dady lagi berantem sama momy?" tanya serkan sembari menarik bangku lalu menduduki nya
Kemal mengangkat alisnya
"Dady berantem sama momy? Yang ada nya kamu yang buat momy jadi begitu" sinis kemal menyeruput kopi nya dengan kesal
Dahi serkan mengerut
"Karena serkan? Seingat serkan gak pernah buat salah sama momy deh" unjuk nya sediri mendalam kan pikirannya mencari kesalahan nya pada ibunda ratu
"Bagusan kamu ingat lagi serkan! Dady gak mau momy kamu jadi ngambekan sama dady" kesalnya menatap putranya tajam
Serkan menghembus nafasnya
"Tapi serkan beneran gak tau, dad"
Kemal memutar matanya jengah
"Lebih baik kamu mikirin gimana cara menemui menantu momy kamu!" Tekan dady pergi berlalu meninggalkan serkan yang membelakan matanya
"Astagfirullah aku lupa" tempuk jidatnya
"Pantes momy kamu marah sama kamu. Emang bentuknya kamu kayak gini, gak berguna!" sinis kemal ditangga
"Dan dady gak mau tau! Bujuk momy kamu itu" lanjut kemal tegas menaiki tangga jangan lupakan gaya kemal yang angkuh dan berwibawa sampai menurun ke serkan
"Baiklah dad" ujarnya malas
Sebenarnya sih serkan tidak terlalu melupakan pencarian nya terhadap perempuan yang di inginkan anaknya dan momynya dua hari lalu
Karena semenjak melihat putranya yang sudah mendingan dan juga tidak ada keluar sebutan momy dari mulut nya serkan memberhentikan pencarian tersebut
Untuk apa perempuan yang tidak ia inginkan dalam keluarganya
Tapi melihat momynya seperti ingin sekali berjumpa dengan perempuan itu yang bernama Rani mebuatnya di atas kebimbangan
Mengingatkan nama insial Rani dia mengingat gadisnya, ah betapa rindunya ia dengan gadisnya itu
Hahaha ini akan membuatnya gila saja, batinya mengacak rambutnya terkikik geli
"Dari pada memikirkan gadisnya, aku lebih baik berangkat kerja saja" katanya dengan dirinya sendiri
***
Di satu sisi di kelurga Rumengan
Dring... dringg... dringg (suara telepon rumah berbunyi)
"Bik... itu ada telepon tolong diangkat dulu" panggil salma dari arah taman belakang
"Baik buk" jawab bik ijah patuh
Bik ijah mengangkat gagang telepon lalu memberi salam "Assalammualaikum..."
Tapi tidak ada menjawabnya. Bik ijah melihat telepon itu lalu menyapanya
"Mungkin salah sambung kali yah" ujar bibik lalu pergi ke dapur melanjutkan tugas pekerjaan nya
Salma yang sudah selesai menyiram tanaman bungannya masuk kedalam melangkah kan kaki nya ke dapur untuk minum menghilang kan rasa dahaga karena capek menyiram bunga satu halaman yang lebarnya seperti lapangan sepak bola
"Eh ibuk uda selesai nyiram nya" ucap bik ijah tersenyum
"Iya bik sudah, ini mau minum haus banget" ujar salma membalas senyuman bik ijah
Karena umur yang lumayan jauh jadi salma menghormati pembantunya. Salma tidak menyukai dibilang nyonya dan lebih suka dipanggil ibuk
Salma menuangkan air di gelas lalu duduk mendeguknya dengan nikmat tat lupa membaca doa biar barokah
Melihat bik ijah masih berkutat dengan pekerjaan nya. Salma bertanya pasal telepon tadi
"Bik tadi yang menelepon siapa?" Tanya salma melipat tangannya di meja menghadap bik ijah
"Gak tau buk. Kayaknya salah sambung deh yang telpon tadi" ucap bibik dan di balas anggukan pelan oleh salma
"Yauda bik. Kalo ada yang telpon bibik angkat aja yah bik. Saya mau mandi dulu sudah gerah ini" ucap salma melangkah pergi ke kamar nya
"Baik buk" kata bik ijah melanjutkan pekerjaannya
Salma yang melihat putrinya yang sudah rapi medekatinya
"Kamu mau kemana ran?" Tanya nya pada putrinya
"Eh- eh.. ayam goreng... astagfirullah ma, jangan kagetin ah. Sakit ini jantung rani seketika" kagetnya mengelus dada menstabilkan nafasnya
"Siapa yang mau kagetin kamu! Orang mama nanya kamu mau kemana? Kamu aja yang lebay" ujar salma menepuk jidat anaknya gemes
"Iis mama ini lah. Kayak gak tau pekerjaan anak nya aja" jawabnya sambil memegang dahinya yang baru ditimpuk sama mama nya
"Emang kamu ada pekerjaan apa?" Tanya salma mengejek
Rani membelak matanya
"Ya allah mam lupakan saja rani sekalian" ujarnya kesal sampai bibirnya juga melengkung kebawah tandanya ia sekarang lagi cemberut
"Mama kan bercanda. Mama baru ingat anak gadis mama ini uda besar uda pande mengelola pekerjaan nya"
"Ooh itu pantaslah mam bagi seorang rani dari keturunan rumengan" bangga nya menepuk dada disebelahnya
Mama mengeleng geleng kepala melihat ke Pede-an anaknya
"Terserah kamulah. Mama mau mandi dulu" ujar mama menyenggol bahu rani
Diperlakukan seperti itu rani mengangak lebar
"Wajar anaknya gini emaknya aja gitu" dengusnya berjalan keluar lalu menaiki mobil kedua kesayangnya
(Baju yang dipake rani pergi kebutik)
***
Budayakan
○LIKE
○KOMEMTAR
○FOLLOW
Aku cinta kalian semuaaa😍