My Possessive Duda

My Possessive Duda
MPD ~ 9



Rani berlari keluar halaman rumah ralat mansion dengan terburu-buru mencari taksi atau ojek didepanya


Setelah menemukan taksi tersebut rani memberhentikan taksi itu kemudian masuk kedalam dan memberi alamat yang dituju


"Pak tolong ke alamat komplek Alconia Twonhouse ya pak. Jalanya agak ngebut pak soalnya ini sangat penting, bisa pak?" Ucap rani gelisah memberi alamat rumahnya


"Baik mbak. Monggo selt betnya dipakai agar keamanan terjaga mbak" rani menganguk lalu memasang seltbet nya dengan duduk manis gelisah memikirkan keluarganya


Dengan gelisah yang melandanya ia tidak bisa diam dalam duduknya. Melihat lihat diluar kaca memutar ujung bajunya


Rani memang seperti itu jika ada sesuatu yang membuatnya khawatir dia akan terdiam gelisah sambil memutar ujung baju agar rasa gelisah dihatinya bisa berkurang tapi sayang ia justru tambah sangat khawatir saat ini


"Pak saya mohon cepetan dikit!" Seruku


"Sabar mbak, saya akan berusaha lebih ngebut"


Skip


Aku berlari memasuki perkarangan rumah dengan rasa khawatir melingkupinya


"Assalammualaikum!! Ma... mama! Eeh bentar mbok" panggil ku melihat mbok melintas diujung tangga


Mbok ina menoleh


"Yah non, ada yang bisa mbok bantu" ujarnya sopan


"Mbok yang lain dimana? Ayah juga mbok dimana? Mereka udah pulang dari rumah sakit kan?" Tanyaku buru buru


"Aduh non pelan pelan aja atuh non. Mbok pusing dengernya. Coba non nafasnya ditarik trus dibuang non agar rileks" ucap mbok ina menyuruh rani mengatur nafasnya


"Baiklah mbok" sahutku mengikuti perintah mbok ina, tarik nafas buang nafas, hemm huuufftt


"Gimana udah rileks non" tanya mbok. Rani mengiyakan


"Tadi non nanyakan dimana nyonya sama tuan" tanyanya lagi


Aku menganguk sekali lagi


"Tuan dan nyonya ada dikamarnya non. Tadi tuan sudah pulang dari rumah sakit langsung kekamar dibantu oleh tuan muda radit tapi tuan radit sudah berangkat lagi kekantor. Katanya ada rapat penting, jadi hanya bisa mengatar tuan saja non" jelas mbok ina


"Tapi ayah baik baik saja kan mbok?"


Tanyaku lagi setelah memdengar penjelasan mbok


Mbok menganguk kepala


"Insyallah non tuan sudah baikkan" jawab mbok


"Trus mbok mau kemana? Ini mau buat siapa mbok" melihat mbok membawa nampan berisi makanan


"Ooh ini buat tuan non. Tadi nyonya yang nyuruh mbok. Kalo gitu mbok keatas dulu ya" sebelum mbok melangkah rani mencegah


"Ah tidak usah mbok!" Ucap rani cepat lalu mengambil nampan tersebut


"Loh loh kenapa non?" Tanya mbok bingung


"Hehe maksudnya biar rani saja yang bawa makanannya keatas. Mbok ina duduk aja gih santai minum teh gitu, pasti mbok capekkan" ujarku membujuk mbok


"Emang gak papa non? Tadikan nyonya nyuruhnya mbok non" mbok mencoba mengambil nampan dari tangannya karena tidak enak hati dengan nonya


Sebelum digapai mbok, rani langsung keatas lalu berkata


"Udah gak papa mbok. Sekalian rani mau liat ayah" ucapku tersenyum melangkah menuju kamar orang tuanya


"Kalau begitu mbok terimakasih yah non" kata mbok. Aku menganguk kepala tersenyum


"Mama... ayah..." panggil ku kemeraka lalu meletakan makanan diatas nakas


Melihat ayah yang terbaring disertai mama disebelahnya


"Sayang kamu udah pulang?" Tanya mama melihatnya berjalan dengan rasa khawatir


"Udah ma" rani mendekati kedua orang tuanya


"Ayah kenapa bisa gini sih ma?" Tanyaku pada mama kemudian menduduki pantatku disebelah kasur menatap ayah khawatir


Ayah tersenyum melihatnya


"Ayah gak papa sayang. Cuma luka ringan aja besok pasti sudah sembuh ko" ayah mengelus tangannya agar tidak terlalu mengkhawtirkannya


"Kamu sih kemana aja? Mama telepon kamu gak kamu angkat angkat. Padahal mama nyuruh kamu kepasar beli bahan pangan aja kelamaan" omel mama menatapnya gemes


Rani mengaruk kepalanya tidak gatal


"He..hehe maaf ma..." nyinyir ku tersenyum


"Tapi ma rani tuh lagi bantuin momy eh- maksudnya ibu ibu diserempet sama kereta. untungnya rani itu punya kejiwaan yang sangat baik pada semua orang dan... itu tu soal handphone rani tinggalkan dikasur hehe..." lanjutku menjelaskan dan sedikit memuji diri sendiri disertai nyinyiran


"Momy? Siapa yang kamu sebut momy ha!" Tanya mama


"Emm..emm itu... anuu" gugupku beralih menatap sekeliling tidak berani menatap mata mama dan ayahnya yang menunggu penjelasan darinya


"Anu anu apa?" Tanya mama penasaran


"Anu itu rani udah kebelet" aku berlari keluar kamar dengan tergesa


"Rani, Hei! Ck anak ini" decak mama


"Udahlah ma, mungkin rani belum mau kasih tau kita" bujuk suaminya memandang istrinya dengan sayang


"Uda uda lebih baik kamu urus suami kamu yang lagi sakit ini"


"Kamu sih pake segala jatuh. Tuhkan jadi gini" omel istrinya


"Adudu duh sayang pelan pelan dong. Lagiankan bukan kemauan ayah juga mau jatoh trus ditabrak" belanya meringis memegang bahunya karena habis ditepuk oleh bininya tersayang


Skip


"Huuft untung aja langsung lari kalo gak udah habis disidang aku" aku mengatur nafasku duduk diatas kasur dengan mengelus dada


"Gini ni punya orang tua pada peka aja apa yang diomongin hadeehh" eluhku mengilap keringat didahi


Kemudian beranjak kekamar mandi untuk membersihkan tubuh yang sudah lengket dengan berbagai keringat


Setelah selesai memanjakan diri dengan air hangat dan juga wewangian yang ia sukai yaitu stoberry


Rani berjalan kearah meja kerjanya atau disebut meja lukis untuk membuat pola baju terbarunya


Rani melajutkan sisa sisa gambaran baju dengan teliti


Kalian pasti bertanya aku membuat baju dengan bentuk atau disebut fashion bagaimana? Kalian tau aku itu membuat berbagai bentuk fashion wanita dan lelaki didasari baju muslimah dan non muslimah seperti baju dres atau long dress


Ohya dan jangan lupakan ia juga membuat baju pernikahan makanya butiknya itu sudah terkenal menduniai. Dimana pasti orang tau dimana letak butiknya bahkan majalah majalah televisi dan sebagainya sudah ia lakukan


"Raniii!!" Panggil seseorang dari bawah


"Astagfirullah itu apaan" kejutku mendengar teriakan membahana dibawah. Aku berjalan kebawah dan melihat kearah asal suara tersebut


Bahkan seluruh rumah keluar melihat teriakan seperti tarzan


"Siapa itu rani malam malam begini teriak manggil kamu?" Tanya mama


Aku menghendik bahu bahwa aku juga tidak mengetahui


"Ayah mana ma?" Tanyamu balik


"Ayah didalam kamar lagi tidur"


"Tidur?"


"Iya ran. Coba kamu liat dulu itu siapa, kayaknya laki laki tuh yang teriak" ujar mama menyuruhnya keruang tamu


Aku menganguk kepala


"Suaranya kayak femiliar gak sih ma"


"Ranii... oy rani abng coming" teriaknya lagi


"Eh buset kaget aku tuh... mah tuhkan kayaknya abng radit tuh" ucapku menoleh ke mama


"Iya sepertinya" sahut mama berjalan deluan keruang tamu


Dan lihatlah abngnya datang berlari kearah mama dan rani dengan tampang tak bersalah setelah membangunkan seluruh orang berada dirumahnya


"Assalammualaikum mama, adik abng yang imut" sapanya riang


Aku melipat tangan lalu memutar mata


"Waalaikumsalam" sahutku malas lalu berlalu pergi kekamar


"Ets mau kemana sih dek" tanyanya menarik belakang baju rani seperti menarik anak kucing


"Hei aturan mama yang bilang, kamu ngapain teriak teriak gak jelas gitu gak liat tuh udah malem" omel mama pada radit


"Hehe... maap ma, gak ngulang lagi deh" radit cengegesan mengangkat jarinya berbentuk v


Mama menghela nafas


"Yauda terserah kamu. Mama mau keatas lagi liat ayah kamu"


"Ayah udah lebih baikkan ma" tanya radit tidak sadar bahwa ia masi memegang kera rani


"Iya ayah mu uda baikan" balas mama


"Iss lepas dulu dong bang! Gak liat ni adek uda gak bisa bernafas" ujar rani cemberut


"Ouh iya abng lupa haha..haha makanya badan tuh jangan kecil kayak cebol tauk" ejek radit


"Apa! Cebol enak aja" teriaknya tidak terima dibilang cebol


"Ssttt udah udah jangan berantem udah malem nanti kedengaran tetangga, malu" kata mama berakacak pinggang


"Hehe iya ma maap lagi deh" ucap radit


"Tuh rasain, wlekk" ejeknya menjulur lidah. Radit melihatnya melotot


"Kamu juga sama ran, yauda kalian kembali kekamar masing masing" kata mama beranjak pergi


"HAHAHA..HAHA, makanya jangan tau ledekin orang haha..haha tuh rasain juga" tawa radit berlalu pergi meninggalkan rani dengan wajah cemberutnya menatap abngnya sinis


"Awas aja nanti" ujarnya berjalan kekamarnya sambil menghentak hentak kaki kesal



***


By. Mh088