My Possessive Duda

My Possessive Duda
MPD ~ 24



Rani langsung memeluk reyhan sangat erat "Maafin momy ya" ujarnya senduh


Rehan mengeleng geleng kepala "bukan salah momy juga, lehan saja yang tellalu lindu sama momy" jawabnya melepaskan pelukan itu lalu memegang kedua pipi rani dengan tangan kecilnya sambil tersenyum kecilnya


Rani mengangguk kepala membalas senyuman anaknya, ah anaknya? terasa meneduhkan hatinya


"Ada apa?" reza datang disaat moment terharu diantara anak dan ibu yang lagi berpelukan


Rani bangkit lalu menggelengkan kepalanya, kalau tidak terjadi apa apa. Reza menyipitkan matanya kearah rani karena melihat ada beberapa tetesan air dipipinya


"Tidak ada apa apa, za. Hanya lepas rindu dengan anak" ucapnya mempalingkan wajahnya ketempat reyhan yang masi memandang orang dewasa didepannya


"Ayo boy kita temani uncle beli barangnya yah" ajak rani terhadap reyhan yang dibalas anggukan kecil


"Oke doky momy" senyumnya


Mereka berjalan beiringan di keramain yang berlalu lalang


"Aku masih penasaran barang apa yang akan kau beli?" Ujarnya melirik kesamping


"Kita akan sampai" jawab reza menjadi pandu jalan yang akan mereka tuju


Sebelum mereka sampai seseorang memanggil salah satu dari mereka "Reyhan?"


Mendengar panggilan mereka menoleh kesamping dan yang membuat rani sakin terkejutnya reyhan malah menyambut panggilan itu dengan "Daddy" teriak reyhan lalu berlari kearah pria itu


Haa... gila aja!! Lelaki itu ayahnya reyhan? Waaah bisa gila aku, batin nya


Lelaki itu atau barusan dipanggil reyhan adalah ayahnya, berdiri dengan gagah dan menunjukan tatapan tajam kearahnya dan reza


Tapi kenapa? Apa dia ada salah?


"Aku baru tau dunia begitu sempit" gumamnya kecil mengeleng geleng kepala tidak percaya bahkan mata nya tertutup dan terbuka kembali


"Saya tidak menyangka akan berjumpa dengan anda Mr. Praditya" ucap reza menjulurkan tangan untuk berjabat dan dibalas oleh serkan. Rani melebarkan matanya kaget, huhu dewi furtuna tidak berada dipihaknya


"Dan saya juga Mr. Wijaya dan Nona Rumengan" balasnya tajam dan ucapan terakhir ditekan masi memandangnya intens


"Ah ya Mr. Praditya" ujarnya dengan senyum paksa


Yah lelaki itu, yang membuatnya sangat risih diruangan meeting kemaren, Serkan Praditya? Dan anehnya reza juga mengenalnya


Reyhan menarik ujung baju serkan


"Dady" panggil reyhan


Serkan menoleh kebawah memandang putranya dengan mengangkat alisnya "ada apa?"


Selagi serkan berbicara pada reyhan. Rani melirik reza dan mendekatinya pelan "kau mengenalnya?" Tanyanya dengan berbisik


Reza mengangguk kepala mengiyakan


"Tentu saja aku mengenalnya, dia salah satu partner diperusahaanku" sautnya enteng


"Ck..." desisnya pelan dan terdengar oleh reza


"Memangnya kenapa sih?" Ujar reza tanpa sadar masi mengikuti acara berbisik bisiknya disaat melihat tampang rani yang tidak menyukai situasi antara mereka ber empat


Rani mengelengkan kepalanya "tidak ada" sautnya cuek. Reza bingung plus heran, ada apa dengan wanita disebelahnya


"Ada apa rehan?" Tanya serkan membungku badan


"Emm dady boleh kah lehan pelgi sama momy" jawabnya berharap


"Momy? Mana momy yang kamu sebut" Tanya serkan lagi celingak celinguk


Reyhan menunjuk tangan kearah rani yang sudah masang tampang cueknya


Asal kalian tahu wajahnya ini untuk orang yang tidak disukainya walau hanya berjumpa sekali, tapi bagi rani itu sudah membuatnya sangat tidak suka, apalagi tatapan pria itu


Serkan menaikan alisnya memastikan


"Dia, momy yang reyhan sebut" kata serkan menoleh kearah rani dan menoleh lagi kearah anaknya


Reyhan mengangguk antusias


"Kenapa tidak bilang sama dady dari dulu boy, kalau dia momy yang kamu bilang" ucapnya diiringi senyuman tipis


"Lehan sudah bilang sama dady untuk cali momy" cemberutnya melipat tangannya membuang muka


"Oke oke maaf ya, tapi kerja anak dady sangat bagus" ujarnya berdiri lalu mengacak rambut reyhan


"Maksudnya dady?" Tanya rehan bingung karena ucapan dadynya yang tidak jelas


Reyhan kembali mendekati wajahnya dikuping reyhan


"Reyhan mau kan jika momy yang rehan sebut menjadi sungguhan"


"Mau dad lehan sangat mau, lehan gak mau kehilangan momy lagi" sautnya


"Kalau begitu kita harus kerja sama, okey" rehan mengangguk kepala cepat. Melihat kesetujuan anak nya serkan kembali berdiri dengan tegap dan memasuki tangannya disaku


"Momy" ujar reyhan berlari kearah rani


"Ya sayang, ada apa?"


"Bagaimana kalo kita kelumah lehan, momy mau" ucap reyhan membinarkan matanya


Mendengar ajakan reyhan rani menggaruk tenkuknya yang tidak gatal "emm gimana ya"


"Momy gak mau yah" lirihnya menundukkan wajahnya


"Bukan sayang, momy mau tapi kita kan momy bawa uncle reza. Momy gak mungkin ninggalin uncle reza" 


"Apa itu sebuah alasan?" tanya serkan masi berjaga jarak disana. Mendengar itu rani berdecak tidak suka


"Jadi momy gak mau ikut" senduhnya


Serkan berjalan mendekatinya dan reyhan dan itu membuat rani menahan nafasnya sejenak


"Apa anda tidak bisa menerima ajakannya, nona rani" ujar serkan tegas


Rani menghela nafasnya panjang. Kalau dibilang rani mau mau saja tapi karena yang dipermasalahkan nya ini adalah ayahnya si anak


"Aku tidak apa apa jika kau ingin pergi dengan mereka, swety" kata reza mengangkat suaranya sambil tersenyum kecil


Sweety?, batin serkan tidak menyukai panggilan pria itu pada gadisnya


"Apa kau yakin?"


"tentu saja" saut reza menghedik bahunya


"Bukan nya kau ingin membeli barangnya, apa perlu ku kawani dulu baru aku pergi dengan mereka" tawar rani menghadap ke reza


Dasar tidak peka, batinya teriak


Mereka tidak mengetahui jika lelaki disampingnya sudah menahan amarahnya karena cemburu? Iya dia cemburu melihat ke akraban gadisnya dengan pria lain, serkan hanya bisa mengepal tangannya untuk menahan emosinya agar tidak keluar


"Tidak perlu" senyumnya mengacak rambut rani gemes


Perlakuan reza terhadap rani menambah kecemburuan nya. Ini tidak bisa di biarin, lebih baik ia segera membawa rani keluar dan membawanya ke rumahnya


"Sudah kan? kalau begitu ayo kita pergi" ajak serkan disertai tekanan disetiap katanya


"Momy ayo" ajak reyhan memegang tangan rani dan menariknya berjalan ber iringan dengan dady nya


Rani menoleh ke reza dan meminta maaf "aku akan menelepon mu nanti" ujarnya dengan muka tidak enak. Reza hanya mengangguk kepala mengiyakan


Tidak akan ku biarkan kamu menelponya sayang, batinya menyeringgai sinis


"Momy, lehan sangat senang bisa ketemu momy lagi, apalagi momy jumpa sama dady lehan" ujar reyhan kegirangan bergandengan dengan kedua orang tua nya


Orang tua nya? Bisakan reyhan menganggap itu nyata suatu saat nanti?


"Momy juga senang sayang" balas nya tersenyum lembut


Melihat pemandangan ini serkan tersenyum tipis kalau orang yang melihatnya pasti akan menjerit tidak menyangka seorang Serkan Praditya yang irit ekpresi bisa tersenyum walau hanya tipis