My Possessive Duda

My Possessive Duda
MPD ~ 8



Mbok mengganguk kepala membalas senyumanku. Ah nyonya nya sangat beruntung sekali


"Baiklah nak ran. Tadi kamu kesini ada apa hem?" Tanya mbok


"Mbok rani boleh pinjamkan handphonenya. Soalnya rani belum kasih kabar sama orang tua ran, mbok. Ran lupa bawa handphone" ujarku menggaruk kepala tersenyum cengingiran


"Yauda ini mbok pinjamkan" mbok mengeluarkan hp nya dikantong depan celemek dapur


"Terima kasih ya mbok"


"Sama sama nak. Mbok lanjutin masak dulu yah"


"Oke sep mbok"


Rani membuka kontak telepon dan memasukkan nomer mama


Tringg...tringgg (suara dering)


"Assalammualaikum ma?" Sapaku memeberi salam


"Ya, waalaikumsalam. Ini siapa ya?" Tanya mama Sahut diseberang sana


"Ma, ini rani" jawabnya


"Rani? Anak mama"


"Eh buset mah emang anak mama emang ada lagi selain nama rani"


"Ooohh, Rani. Ini rani anak mama? Aduuh sayang kamu dimana? Ha! Mama nyariin kamu. Mamakan nyuruh kamu belanja bukan cari jodoh ooh nakku"


"Rani lagi ditempat orang ma" jawabku


"Mama gak mau tau ran. Kamu cepet pulang ayah kamu kecelakaan! Ayah nyariin kamu. Mama sudah nelpon kamu tapi gak kamu angkat"


"Apa! Ko bisa ma. Hp ran dikamar ma ran lupa bawannya" khawatir ku mengingat ayahnya kena musibah


"Trus ayah dimana ma. Udah dibawa dirumah sakitkan? Yauda ran langsung kesana ya ma" ujarki dengan wajah panik


"Yauda kamu buruan kesini ayah mu udah manggil manggil kamu"


"Yah ma, ran otw" jawabku mematikan posel tersebut lalu mengembalikan ponsel mbok ijah yang menatapnya bingung


"Mbok ijah ini ponselnya. Saya pamit dulu ya, mbok" ucapku tergesah gesah


"Nak ran, ada apa? Ko mukanya panik. Ada sesuatu yang terjadi, nak?"


"Ah gak ko mbok. Kalo gitu saya luan ya mbok, kalau nanti jumpa sama reyhan dan mom dewi bilang kalau saya sudah pulang karena ada hal yang penting. Luan ya mbok" setelah berbicara menjelaskan pada mbok. Rani berlari pelan


Sampai diruangan tamu ia menemukan reyhan tapi tidak menemukan mom dewi karena ini hal yang mendesak ia melewatkan reyhan yang melihatnya juga dengan wajah bingung lalu mengejarnya tergesa gesa


"Mommy!! Momyyy... mom mau kemana? Mom-mom jangan tinggalin lehann! Hiks momy" teriak rehan memanggil rani yang berlari keluar tidak memperdulikannya yang memanggilnya dengan teriakan disela tangis segugukan


Maaf banget boy momy harus pergi ini suatu yang sangat penting, lirihnya berlari keluar tidak memperdulikan reyhan menangis tersedu memanggilnya dengan kuat


Bahkan mbok yang berada didapur  juga mencoba mengejarnya


Rani menoleh kereyhan sebentar yang sedari tadi memanggilnya. Ada rasa kasian dan ingin mengampirinya tapi dia menyingkir perasaan itu dengan menggeleng gelengkan kepalanya lalu tetap berlari keluar


"Nak ran, berhenti!" Mbok ijah menghampiri reyhan lalu mengegendongnya


Saat mbok mencoba mengangkat reyhan. Reyhan memberontak untuk melepaskan beteriak histeris memangil momynya


"Uwaaaa... momyy!! Jangan tinggalin lehan huaaa... mbok lepasin hiks hiks lehan mau ngejal momy!" Lirihnya memberontak melepaskan gengaman mbok ijah ditubuhnya


Mbok melihatnya sedih. Apa segini sayangnya tuan mudanya pada seorang perempuan yang baru saja dijumpainnya


"Maaf tuan muda" ujar mbok dengan sayu menahan tuan mudanya. Rehyan mengeleng kepala tidak ingin mendengarkan ucapan mboknya itu


"Hikss hikss lehan gak mau mbok! Lehan mau momy. Kembalikan momy lehan" tangismya semakin menjadi saat mboknya hanya diam menunduk kepala


"Omaaa..." reyhan berlari menubruk kaki omanya dengan erat. Ia ingin mengadukan jika momynya pergi meninggakanya


"Ada apa sayang? Kenapa menangis hem. Mana momy kamu" tanyanya lagi mengelus puncak kepala reyhan untuk menenangkan cucunya disela tangis sesegukan


"Uwaaa oma hiks... hiks mom-my tadi keluar bulu bulu... hikss... lehan manggil momy tapi momy gak nayhut lehan. cuma lihat lehan telus jalan belali kelual... hiks hiks...hiks momy kemana oma? Uwaaa momy!!" Tangisnya pecah. Bahkan seluruh maid ruangan itu juga terharu melihat tuannya menangis tersedu


Dewi menoleh kembok ijah yang terus menerus menatap cucunya dengan pandangan sedih


"Mbok, coba jelaskan ada apa dengan cucu saya? Kenapa jadi begini" Tanyanya memandang mbok ijah. Lalu beralih mengendong rehan untuk membawanya kekursi kedalam pangkuannya sambil menenangkan rehan yang masi setia menangis


Rehan tidak peduli apa yang di omongkan omanya dengan mbok ijah. Ia hanya memikirkan momy barunya yang pergi meningalkannya tanpa pamit


"Maaf nyoya, tapi saya pun juga tidak tau. Tiba-tiba saja nona rani sudah panik setelah menelepon seseorang lalu pergi berlari keluar. Saya mencoba bertanya pada nona rani tapi nona hanya bilang ada sesuatu hal yang penting" jawab mbok ijah memperjelaskan


"Menelepon?" Tanya dewi. Mbok menganguk kepala mengiyakan


"Iya, nyonya. Nona rani setelah keluar dari kamar mandi langsung meminjam handphone pada saya. Katanya ia ingin mengabari orang tuannya. Ntah setelah berakhir, nona tiba-tiba pucat dan panik setelah memerima panggilan itu. Karena nona ingin pergi, nona meminta saya untuk memberi salam pada nyonya dan tuan muda rehan" lanjut mbok panjang lebar memperjelaslan agar nyonyanya memgerti


"Mana handphone mbok? Coba saya chek dulu. Saya akan mengambil nomer yang beru saja menantu saya teleponkan tadi" kata dewi menjulurkan tangan meminta ponsel mbok ijah


Mendengar itu Mbok mengeluarkan ponsel lalu memberikannya pada dewi


"Ini nyonya"


"Maaf ya mbok, ponselnya saya periksa"


"Tidak apa apa nyonya. Saya juga khawatir pada nona rani. Apalagi melihat tuan rehan sangat bersedih" sahutnya memberi izin. Dewi mengiyakan perkataan mbok ijah


Dewi mengambil nomer handphone tersebut agar ia bisa menghubungkan menantunya atau mempermudahkan untuk mencari menantunya karena ia juga tidak mengetahui dimana rani tinggal


Dan selagi mencari mbok berucap "Nyonya, menurut saya pasti ada sesuatu dikeluarganya. Makanya nona ran berlari tidak menyahut panggilan tuan muda. Sepertinya itu sangat penting bagi nona, nyonya" mbok memberi saran positif pada dewi


"Mudah mudahan apa yang mbok ucapkan benar. Saya hanya takut jika rani pergi seperti perempuan laknat itu" ucap dewi memandang kedepan dengan pandangan sulit diartikan antara benci dan sedih memgepalkan kedua tangannya lalu beralih pandangan kerehan yang sudah tertidur pulas karena sudah lelah menangisi momyanya yang tidak tau kemana keberadaannya dalam artian momy barunya bukan momy yang sudah tega membuangnya tanpa ada rasa bersalah dan sesal dihatinya


Mbok melihat itu meghela nafas tidak tega melihat nyonyanya


"Tidak akan nyonya. Saya yakin nona rani orangnya sangat baik. Saya bisa merasakan itu, dengan kasih sayangnya kepada rehan dan juga sopan santunnya kepada sekitarnya. Nyonya tidak akan salah mengambil keputusan yang terbaik ini" dewi tersenyum memdengar pencerahan itu mbok membalas senyuman itu


Benar apa yang mbok ijah bilang padanya ia tidak akan menyesal telah memilih menantu seorang perempuan yang baik dengan sedikit kegesrekannya walaupun didasari dengan insiden dipasar dua jam yang lalu


"Benar mbok saya tidak akan memyesalin itu. Ahh... saya tidak sabar untuk menemui rani dengan anak saya mbok. Kalau begitu mohon bantuannya ya mbok!!" Ujar dewi semangat sambil tersenyum lebar


"Pasti nyonya. Saya akan selalu dibelakang nyonya" sahutnya mbok dengan tiada semangatnya. Dewi mengganguk terkikik


"Kalau begitu saya keatas dulu ya mbok" mbok menganguk kepala mempeesilahkan nyonya nya


Dewi mengendong cucunya dengan hati hati agar tidak terjatuh kemudian menakin tangga menuju kamar reihan, cucunya



Setelah sampai dewi membaringkan reihan lalu menyelimutin tubuh reihan dan tidak lupa mengkecup keninh cucunha dengan sayang


"Tenang sayang, oma akan mencari momy kamu. Jadi jangan bersedih. Kalau perlu kita yang akan menyuruh dady rehan mencari momy, okey" dewi pergi berjalan keluar kemudian menutup pintu perlahan


***



Wee jangan lah lupa lovekan tuh dibawah dan jangan lupa juga kelen kasih saran sama guekk tentang ni cerita


Tersarah dah mau tuh kritik lek mau pesan kek mau muji kek, setiap manusia berbeda memprediksi yekan we


Tapi serius ni love ❤ kan sama tuh komen dibawh


By. mh04