My Possessive Duda

My Possessive Duda
MPD ~ 10



maaf ya readrs kalo author menggangu acara bacanya


author hanya memberi satu permintaan jika para readrs menyukai cerita ini bisa di LIKE AND KOMEN untuk melanjutkan chap lainnya agar author lebih sering update dan semangat membuat ceritanya


cuma diklik dan selesai hehe😊 okeoke gak mau buat lama author langsung aja ya


**


"Good morning moma and popa" sapa rani pada orang tuanya mencium kedua pipi orang tuanya kemudian menduduki pantatnya dikursi meja makan


"Good morning sayang" balas mama dan ayahnya sambil tersenyum


"Mama bang radit kemana? Gak keliatan batang hidungnya tuh" tanya rani memakan serapannya setelah mama memberi sepiring nasi goreng buatan mama tercinta


"Kamu gak liat ini uda jam berapa honey" ucap mama menoleh kearah anaknya lalu duduk disebelah suaminya


Rani menepuk jidat


"Ah iya ran lupa" kekeh rani mengingat jika sudah jam 08.34 wib kalau sebagai pekerja kantoran jam segini sudah berada diruang pekerjaan mereka masing masing


Sama seperti radit yang bekerja sebagai ceo diperusahaan ayahnya yang sekarang sudah pinda tangan oleh bang radit tapi karena ayah masih ingin bekerja dan karena itu ayah hanya membantu sedikit mengurus perusahaannya dan selebihnya anaknya yang akan mengurus perusahaan yang sudah bercabang cabang


Pasti itu sangat melelahkan, pikirnya


"Trus ayah kenapa gak ikut ama bang radit?" Rani menaikan alisnya


"Tch... kamu gak liat ini perinces, kaki ayah itu lagi sakit jadi mau jalan gak bisa princes. Ini aja ayah pake tongkat. Sementara ini ayah akan cuti dan biar abng mu saja yang mengurus perusahaanya" jawab ayah menjelaskan


Rani mangut mangut mengerti


"Emang masi sakit ya, yah?" Tanyanya dengan pandangan khawatir


"Bukan sakit princes hanya membengka sedikit, jadi untuk berdiri berjalan seperti normal masi belum bisa. Palingan sembuh total seminggu, jadi princes ayah jangan khawatir ya, ayah baik baik aja kan uda ada mama kamu yang merawat ayah" bujuk ayah padanya dan melirik istrinya. Mama tersenyum mengiyakan


"Ehmm yauda deh kalo gitu" ujar rani melanjutkan makanan yang tertunda


"Hari ini kau gak kemana mana kan princes" rani mendongak saat ayah menanyai daftar hariannya


Rani menggeleng kepala kalau ia tidak kemana mana seharian ini


"Tidak ada ayah. Eemm, ran cuma hanya dirumah menyelesaikan sketsa baju" jawabnya membalas pertanyaan ayahnya


"Kalau begitu kamu yang akan mengantar berkas pada abang kamu" ucap ayah


"No!! Ran gak mau" sahutnya menggeleng tidak menerima suruhan ayahnya


Dahi ayah berkerut


"Lah kenapa, princes?" Tanya ayahnya mendengar putrinya menolak suruhannya


"No, ayah. Ran sangat tau pasti ran gak cuma mengantar tapi juga mengikuti meeting itu" tolak rani bersikukuh


Ayah terkekeh "haha..hha kau sangat pintar princes. Jadi tidak disungkan kan jika ayah dan abng kamu lebih menghadirin kamu diruangan rapat itu sweety"


Rani mencebik "ran tetap tidak akan mau kesana" bantahnya melipat kedua tangan


"Ayah tidak menerima bantahan mu princes" ucap ayah


"Sayang coofenya" ujar mama disela perbincangan anak dan suaminya kemudian ia melanjutkan merapikan meja makan


Ayah menoleh kearah istri tercintanya "terima kasih sayang" suhut ayah tersenyum. Mama membalas senyuman itu


"Pokoknya ran gak mau. Lagian bang radit tuh punya seketaris ayah, yah pakai saja seketariany. Bercuma jadi seketaris gak dipake emng tuh seketaris mau jadi pajangan aja dikantor" dengusnya masih membantah


Ayah mengedelik kedua bahunya dan mengabaikan ucapan anaknya


Rani tercengang mendengarnya


"Apa! Menjodohkan! Ouh come on ayah ini bukan zaman siti nurbaya pake segala menjodohkan" pekiknya terkesiap menatap kedua orang tuanya yang memandang kearahnya dengan senyuman tidak bisa diartikan


"Kenapa tidak" kata ayah menyeruput cofenya


Ini gila! oke sip sekarang orangtuanya bakal menjelma menjadi orang zaman dulu, pikirnya frustasi mengacak rambutnya


Baiklah aku akan menurut mengantar tuh berkas mengorbankan kedamaianku berserakan diperusahaan bang radit dari pada orangtuanya menjadikan ia siti nurbaya kedua, batinya menggeleng kepala


Rani menarik napasnya dalam


"Huuft!! Baiklah ran akan kesana" ujarnya malas tanda ia menyerah


"Padalan mama berharap kalau kamu mau menerima dijodohkan" kata mama dengan etengnya tidak memperdulikan gimana ekspresi putrinya


"Huh, yang benar saja" sahutnya menggelng tidak percaya


"Yasudah kalo gitu kamu ambil berkasnya diatas meja kerja abng kamu diruangannya" perintah ayah


Rani menganguk kepala lalu beranjak dari kursinya dengan malas


Ouh shit mama dan ayahnya selalu membuatnya bukam dengan enaknya mengancamnya dengan kata laknat perjodohan! Ou ouh itu membuatnya gila tch...


Setelah mengambil berkas tersebut ia berjalan kekamarnya untuk berganti baju yang layak bukan yang sekarang ia pakai, baju tidur bermotif doraemon



Rani melihat dirinya dicermin lalu tersenyum melihat penampilannya yang natural karena rani tidak menyukai hal yang seperti mencolok atau disebut menor. Walaupun ia memakai make up yang natural rani terlihat sangat cantik, kulitnya seputih kapas rambut coklatnya memanjang kebawah dan juga matanya coklat berbinar sejuk saat orang menatapnya seperti orang itu masuk kedalam


Rani menurun anak tangga satu persatu berjalan keruang tamu dimana orang tuanya berada sekarang


Dan lihat sekarang orang tuanya malah bermesraan didepannya


"Ekhem!!" Dehemnya keras saat ayahnya ancang ancang untuk mencium mamanya


Ck mataku sudah tidak suci lagi sekarang, batinya mendengus


Gani dan salma menoleh melihat anaknya memandang mereka malas


"Kalian serius? Tch ayah mama kenapa tidak dikamar saja kalian bermesraan sih. Gak liat sudah berapa pasang mata melihat adengan kalian ini" decaknya melipat kedua tangan didada


Ayah terkekeh "hehe maaf princes. Kau tau mama mu selalu menggoda di mata ayahmu ini. Jadi ayah tidak bisa mencari tempat untuk bermesraan, lagian ini rumah ayah princes, tidak salahkan" kata ayah lalu melanjutkan menggoda istrinya yang sudah kepiting rebus


"Huh! terserah, ran pigi dulu" pamitnya pergi dari ruangan yang membuatnya sumpek


"Kau tidak melupakan berkasnya kan princes" tanya ayah pada rani sudah mulai jauh


"Tidak ayah! Berkas ya ditangan ku" jawabnya teriak. Ayah menganguk kepala


Gani menoleh kesalma dengan pandangan tidak bisa diartikan


"Ayo kita buat adik untuk rani, sayang" ujar gani mengendong bridal style istrinya kekamar


"Apa kau gila gani" pekik salma berontak


"Iya aku gila, gila karena mu sweety" balas gani menggoda istrinya


***


By.mh08