My Possessive Duda

My Possessive Duda
MPD ~ 25




Mereka bertiga sekarang berada di mobil serkan untuk menuju rumahnya, kalo dikatakan suasana dalam mobil sangat sangat canggung apalagi reyhan yang sedang tidur di atas pangkuannya


Tadi rani ingin sekali duduk di belakang bersama reyhan agar tidak terlalu berdekatan dengan pria muka tembok nan serem tapi pria itu melarangnya duduk dibelakang malah menyuruhnya duduk di depan bersamanya


"Aku bukan supir kamu, duduklah didepan" kata serkan tajam


Pria ini sangat menyebalkan sekali, batinya mengingat kejadian diparkir tadi


Sesekali rani melirik serkan dengan kesal diwajahnya dan tanpa sepengetahuan rani pun serkan juga meliriknya dan tersenyum tipis didalam hati


Aaahhh dia sangat bahagia


"Aku tidak menyangka kamulah yang membuat anak ku dan ibu ku terus mencari mu, Nona Rumengan" kata serkan membuka suara karena tidak tahan untuk mendengar suara gadisnya, ia ingin mendengar suara milik gadisnya


Rani melirik mendengar perkataan serkan lalu menghadap kedepan lagi dengan wajah cueknya, kalau dikatakan pun dia juga tidak menyangka dengan keadaan ini


Apa kalian pikir kalau ia mengetahui pria ini ayah nya reyhan akan kesenangan lalu jingkrak jingkrak gak jelas gitu, hahaha no! Bahkan kalau bisa rani akan memutilasi pria ini yang selalu memberikan senyum menyeringgai nya dan jangan lupakan matanya yang sangat tajam, setajam silet


"Saya juga tidak menyangka TUAN PRADITYA jika anda lah ayah nya reyhan" saut rani menekan kata 'tuan praditya' sembari menoleh memberi senyuman terpaksanya pada serkan


Serkan tersenyum kecil melihat itu, ia sangat tau jika gadisnya tidak menyukai keberadaannya, tapi kenapa? Ia tidak membuat salah pada gadisnya


"Jangan terlalu formal padaku. Kamu bisa memanggil ku dengan sebutan nama" kata serkan tanpa menoleh


"Haha maaf Tuan Praditya saya tidak bisa. Anda partner ayah saya, dan anda seorang pengusaha yang sangat menjungjung nama kebesaran anda, saya sangat tahu hal itu" tawanya kecil dan geleng geleng tidak percaya. Hei rani sangat tahu keluarga seorang Praditya


"Aku tidak tahu jika kamu seorang stalker" ujar serkan terkikik


Baguslah serkan menciptakan suasana didalam mobil tidak sepi seperti kuburan


Rani menoleh menaikan alisnya


"Stalker? Ah yang benar saja" decaknya tidak percaya dengan pemikiran pria disampingnya


"Maaf ni ya Tuan Praditya pekerjaan saya lebih penting dari pada menjadi pengutit anda" ujarnya sinis


"Tapi bagaimana kamu bisa tahu, emm. Kalau bukan stalker" saut serkan menghedik bahunya. Ini akan menjadi salah satu favorite nya untuk menggoda gadisnya


"Apakah anda bodoh, ya. Anda itu ada dimana - mana, di TV, dan majalah. Apa anda pikir saya tidak punya TV dirumah sampai saya tidak tahu dengan keluarga anda, haha tuan Praditya sangat lucu" ucapnya kesel, bahkan ia tidak ingat dengan perkataannya yang mengatai seorang pengusaha dengan kata 'bodoh' dan itu juga baru di alami oleh serkan, baru ini seorang gadis mengatainya


Bener bener gadis yang unik, batinya terkikik geli


"Baiklah kamu bukan seorang stalker apalagi pengutit. Tapi bisakah kamu memanggil aku serkan saja. Soalnya kamu bukan karyawan atau partner ku" pinta serkan menoleh kearah rani dengan serius


Gila ni orang pemaksaan bener


Serkan tidak mau membuat rani tambah kesel padanya, tapi serkan ingin sekali mendengar namanya disebut oleh bibir kecil merah merona oleh gadisnya


Rani menghela nafas


"Ehmm akan saya usahakan" cueknya menghadap kedepan


Keheningan didalam mobil terjadi lagi setelah perdebatan soal nama, lebih baik rani diam dan fokus menatap kedepan tidak mau melihat atau melirik sekalipun pada pria menyebalkan itu


Dan sekarang tampaklah rumah mewah yang pernah ia kunjungi setelah kejadian pasal kecelakaan momy dewi dulu


Jika saja rani tidak membantu momy dewi pasti ia tidak akan didalam situasi tidak mengenakan ini. Tapi dia tidak sejahat itu untuk membantu seseorang meminta bantuannya


Rani menghembus nafasnya kasar dan itu memancing perhatian serkan


Ada apa denganya?, batin serkan bertanya tanya


"Ayo turun, kita sudah sampai" ajak serkan turun lalu memutar untuk membuka pintu rani karena reyhan berada di atas pangkuannya. Rani mengangguk kepala


"Sini biar aku saja yang membawanya" kata serkan menggendong reyhan


"Apa tidak apa - apa?" Ujar rani melihat reyhan yang masih terlelap dalam tidurnya


"Iya tidak papa, ayuk" ajak serkan memegang tangan rani lalu menariknya untuk masuk kedalam


Rani melihat kebawah saat serkan seenaknya memegang tangannya lalu membawanya


"Bisakah anda lepaskan tangan saya? Saya bisa berjalan sendiri tanpa panduan" katanya mencoba melepaskan pegangan erat serkan ditanganya dan itu membuatnya sangat risih


Serkan menoleh sebentar dengan wajah datarnya lalu menggeleng dan melanjutkan jalannya menuju pintu besar utama rumah mewah ini


Rani berdecak melihatnya, sangat minim ekspresi


Huh dasar, batinya sebal


"Nona Rani? Apakah itu anda" panggil seorang wanita tua berjalan kearahnya dengan semangat dan tak lupakan senyuman lebar disana


Rani memiringkan kepalnya mengahadap wanita tua didepannya. Kalau di ingat - ingat sepertinya ini mbok ijah


Rani membelak matanya lalu tersenyum merekah bahkan ia melepaskan tangan serkan yang sedikit melonggar


"Waaah mbok ijah" ujar rani mengahambur dipelukan mbik ijah sakin kangen nya


"Aduuh non, saya sangat terharu bisa melihat non rani lagi" saut mbok ijah membalas pelukan nona rani yang sudah ia anggap anaknya sendiri


Rani melepaskan pelukan mbok ijah lalu tersenyum "sekarang rani sudah datangkan" mbok mengangguk kepala semangat


Melihat gadisnya yang tersenyum kesenangan berjumpa dengan pembantunya itu heran. Dipikir pikir ia tidak pernah mendapatkan senyuman lembut seperti itu kecuali senyuman paksanya


Seberapa dekat sih mereka, batinya bertanya bingung


"Nyonya akan senang melihat nona datang kemari apalagi tuan muda yang membawa anda" ujar mbok ijah. Rani melihat kebelakang dimana serkan berdiri tegap sambil menggendong reyhan didadanya


"Apakah nona sudah mengenal tuan serkan?" Tanya mbok ijah


Rani mendekatkan wajahnya dikuping mbok ijah


"Mbok sebenarnya saya tidak mengenal pria itu apalagi saya juga tidak menyukainya, sifatnya sangat arogan " jawabnya berbisik pelan lalu memundurkan wajahnya


Mbok ijah hanya diam setelah perkataan rani yang membuatnya sangat bingung


"Sudahkan acara cupika cupikinya?" Kata serkan datar lalu pergi keatas membiarkan dirinya dengan mbok ijah disana


Lagi lagi ia cemburu dengan hal yang sepele, batin serkan sangat kesal


Rani mendengus tidak suka


"Ada apalagi sih dengan pria ini, dasar kekanakan" gumamnya kecil


"Sudah sudah non, mari kita ke ruang tamu saja" ajak mbok ijah berjalan ber iringan ke ruang tamu


"Baik mbok"


Rani melihat lihat sekeling, tidak ada perubahan sama sekali ya


Mbok mempersilahkan rani untuk duduk di sofa empuk ini


"Non tunggu sini yah. Saya mau ambilkan minum dulu" kata mbok hendak pergi tapi rani menahannya karena panggilannya


"Mbok" panggilnya


"Ada apa non? Non mau minta sesuatu lagi?" Tanya mbok ijah berhenti lalu menatap rani


Rani menggeleng kecil


"Gak ko mbok, rani cuma mau bilang. Mbok bisa panggil nama saja atau sebutan anak seperti dulu, bisakan" ujarnya tersenyum


Mbok mengangguk kepala dan membalas senyumannya


"Baik nak ran" rani tersenyum puas mendengarnya


"Kalau begitu mbok kedapur dulu ya" rani mengganguk kepala mengiyakan


Selagi rani sendiri diruangan tamu dan melihat lihat ruangan tersebut seseorang datang dari arah tangga melihatnya bingung


"Hei siapa kamu?"


Ah dia mengingat suara ini, batinya tersenyum lebar


***


Aduuuh gimana yah mood author ntah kenapa jadi rada malas😣


Ayo dong beri LIKE kalian biar semakin semangat authornya