
12.00 pm, waktu makan siang
Dringg... dringgg... dringgg
Rani mencari handhone nya didalam tas karena terus menerus berdering
"Ah dapat, ih siapa sih ganggu aja" ucapnya disela omelannya disaat rani sibuk dalam membuat sketsa baju
Dringg...dringg
"Aelah ni orang" ucapnya langsung mengangkat tanpa melihat nama yang menelepon
"Halo" sapanya
"Halo, sweety"
Rani menjauhkan handphonenya dari kupingnya dan melihat nama Reza disana. Rani memutar matanya malas
"Ada apa za?"
"Gak papa sih, hehe. Cuma pengen telepon aja"
"Kayak gak ada kerjaan yah za"
"Duuh aku tuh bosen, ayo kita makan siang" ajak reza
"Makan siang? Emang uda jam berapa"
"Duh sweety kerja boleh tapi jangan terlalu memaksa. Aku kesana yah, jemput kamu"
Rani melihat jam tangannya dan benar ini sudah jam 12.17 pm. hampir saja dia melupakan makan siangnya kalau tidak penyakit lambungnya akan kumat
"Baiklah, aku tunggu"
Tok...tok.. (suara ketukan pintu)
"Masuk"
"Permisi bu"
"Ada apa sil?"
"Ini kan sudah jam makan siang. Apakah ibu mau pesan sesuatu karena saya juga lagi memesan makanan bu rani" tawar karyawan yang bernama sisil luanda, asistennya
"Tidak perlu sisil saya sudah punya janji untuk makan siang" ucapnya tersenyum simpul
"Baik bu kalau begitu sisil undur diri" sopannya menunduk kepala
"Lain kali jangan terlalu formal sisil. Ini bukan kantor" katanya terkikik geli
"Maaf bu saya sudah terbiasa bekerja profesional" rani mengangguk kepala mengerti
"Saya permisi bu"
"Emm"
Ting... (pesan masuk)
Rani membuka notifikasi pesan di hp nya dan membuka pesan dari reza
"Aku sudah diluar. Cepat keluar disini panas"
Rani segera mengambil tasnya lalu melangkah keluar dari ruangan kerjanya menuju pintu utama butik karena sudah ada yang menunggu disana. Tapi sebelum keluar rani memberi pesan pada asistenya
"Sisil, kalau saya lama kembali. Tolong handle selagi saya keluar" pesan rani pada sisil yang menganggukan kepalanya mengerti
"Baik bu"
Sesampai diluar rani celengak celinguk mencari objek yang dicarinya
Dan disanalah Reza Alghifari Wijaya bersender dimobilnya sambil tersenyum kearahnya
"Ini dia tuan putri Rumengan sudah datang"
"Apaan sih gak jelas banget. Udah ayo" ajaknya
"Silahkan tuan putri" ujar reza membuka pintu mobil
"Lama lama gila gue karena lo" ucapnya mengeleng geleng kepala lalu masuk mobil
"Haha maaf kalau membuatmu pusing, swety" reza memutar dan memasuki mobilnya
"Mau kemana?" Tanya reza
Rani mengangkat bahunya
"Gak tau, terserah sih" ucapnya. Reza menganggukkan kepalanya
"Kalo gitu sekalian kawani aku beli barang yah" ujarnya memulai menghidupkan mesin mobil dan melaju ketempat tujuan yang dituju reza
"Barang? Barang apa" tanya rani
"Ada deh" reza menghedipkan mata sebelahnya
"Haa terserah" rani memutar matanya jengah
"Gak sopan memutar matamu, swety" tegur reza mengacak rambutnya
"Iiis jangan di berantain za. Tuh kan berserakan jadinya" cemberutnya melipat bibirnya kesal
"Jangan cemberut kau tampak jelek" reza tertawa
Padahal dimata reza saat ini rani sangat imut dimatanya, menggemaskan
"Ketawa aja terus" deliknya
Rani yang tadinya mempalingkan wajahnya langsung menghadap ke reza dengan wajah mimik antusias
"Serius, oke deh. Aku maafin" ujarnya tersenyum merekah
"Alah makanan gratisan baru mau" ejek reza
"Lagian siapa yang gak mau makan gratis, **** ko dipelihara" rani membalas ejekan reza sambil melet lidah
"Sudah sampai ayo turun"
"Cepat banget"
"Kan mall nya dekat kantor kamu sih" balas reza turun dari mobil dan diikuti oleh rani
"Aku kira tadi kita ke restoran" katanya
Reza menyetil dahi rani
"Apa kau lupa? Tadi kan aku sudah bilang ada yang ingin ku belik, jadi kita ke mall aja nyari barangnya"
"Gitu aja ko marah" sebalnya melangkahkan kakinya memasuki mall tersebut
Ntah kenapa setelah memasuki pintu masuk utuma mall ini hatinya berdegup deg...deg...deg... seperti ada sesuatu terjadi ketika dia masuk nanti
"Lah ko malah bengong, ayo" reza merangkul bahu rani yang terdiam kaku memperhatikan keliling mall itu
"Ehh... iya" gugupnya melangkahkan kakinya bergantian
"Mau makan apa?" Tanya reza melihat kesamping dan yang dilihat pun menghedik bahu kalau ia juga tidak tau
"Aku terserah sih, yang penting bisa dimakan aja" jawabnya
"Apa setiap perempuan kalo ditanya akan dijawab terserah apa tidak ada kata terserah gitu?"
Rani mengangkat bahunya
"Ohya za katanya mau beli barang kan? Kamu mau beli barang apa sih?"
"Nanti kau tau sendiri. Kita makan dulu aku sudah lapar ini" kata reza. Rani anggu ngguk kepala
Mereka memasuki salah satu restoran di mall itu
"Permisi mbak mas, mau pesan apa ya?" Tanya seorang waiters wanita memegang buku kecil dan memberikan buku menu dimeja
Kami dua pesan makanan yang kami pilih "emm disini ada daging sapi dendeng gak, mbak" tanya rani
Reza menaikan alisnya pasalnya dimenu ini tidak ada dendeng
"Maaf mbak disini belum tersedia dendeng sapi"
"Sayang sekali" ujarnya lesuh
"Tapi kami disini punya menu baru chiken panggang madu, jika mbak ingin pesan saya akan menulisnya?" Tawar pelayan itu
"Yauda apalah itu saya pesan saja, minumannya air kosong saja"
"Baik mbak, dan mas nya?" Tanya pelayan itu beralih ke reza
"Aku samakan saja sepertinya"
Pelayan itu mengangguk kepala
"Ada pesan yang lain mas"
Reza menggeleng "itu saja" jawabnya
"Baiklah kalau begitu saya undur mbak mas" ucapnya sopan
"Ada apa?" Tanya rani pada reza yang memperhatikan sejak tadi
Reza menggeleng kepala sambil tertawa kecil
"Kau tidak ada perubahan nya sama seperti dulu" kekehnya
"Dan kau juga sama seperti dulu gak ada perubahan, apalagi tingkah laku mu" ucapnya melipat tangan
"Ohya... padahal dulu kau yang sangat jahil"
Mengingat masa masa dulu membuat mereka tertawa sampe mengudang para pengujung juga menatap mereka dengan pandangan iri, tersenyum
Karena kedekatan mereka seperti sepasang kekasih yang tertawa memberikan lawakan pada pasangannya
Selagi mereka berbicang dan tertawa tak sedar seorang anak kecil yang berkeliaran karena menunggu sang ayah meeting membuatnya berkelana mall sendirian
"Duh aku mau kemana yah, bocen nunggu dady selesai meetingnya" ujar reyhan melihat lihat mall itu bingung
Tapi karena kebingungannya melihat lihat reyhan tak sengaja melihat perempuan yang dicarinya, siapa lagi kalo bukan mommynya sedang duduk tertawa bersama seorang pria
Ada rasa bahagia menyelimutinya sampai air matanya keluar, ia sangat rindu pada momynya yang cantik dan baik itu
Dengan tak sabaran reyhan berlari memasuki restoran yang berkaca transparan "mommmyyy..." teriaknya langsung memeluk rani dengan erat tidak membiarkan momynya pergi lagi
Menerima pelukan dadakan dan panggilan mengelegar diruangan itu membuat rani tersentak dan terkejut
Rani melihat kebawah dan melihat seorang anak kecil yang memeluknya sangat erat, ah dia sangat merindukan reyhan yang sudah ia anggap menjadi anaknya
***
Huhuyy akhirnya reyhan berjumpa juga sama rani
Oke tunggu episode selanjutnya dan jangan lupakan VOTE kalian
Author sangat membutuhkannya:)