
"Ouh ayolah princes, temani abng yah. Yah yah plies" radit memelas seperti anak anjing
Ck kemana wajah menyeringgainya tadi, dengusnya
"Tidak akan!" Bantahnya lagi duduk berdiam tidak memperdulikan wajah memalas abngnya yang tidak cocok dengan tampang sangar radit
"Kenapa princes?" Tanya radit "biasanya kau mau jika ayah dan abng menganjakmu dan sekarang kenapa" lanjunya
"Tck... karena kau CEO nya" rani mendengus sekali lagi
Ntah berapa kali ia mendengus dan mendesis karena ulah abngnya atau karyawan disini
"Walaupun abng CEO disini tidak salahkan jika abng mu ini meminta bantuan adik abng. Kau tau princes disaat kita ingin rapat dan kau ada pasti mereka menerimanya" ungkap radit bersedekap dada
Rani menatap tajam keradit
"Heh! Kau pikir aku pajangan sampai mereka dengan ikhlas menerima kontrakannya"
"Kenapa abng harus mengagapmu pajangan? Bukannya itu bagus salah satu dari keluarga Rumengan bisa menarik konsumen kesini dan kau lagian seorang desainer apa salahnya princes" jelas radit
Iya juga sih, pikir rani
"Ehm yaud-" disela rani menjawab pintu terbuka menampilkan secetaris bang radit, apalagi kalau bukan si maxel. Dibilang sih maxel ini adalah secetaris radit sekaligus tangan kananya
"Kenapa tidak mengetuk? Kau tidak punya tangan ha!" Ucap radit dingin dan tajam
"Maaf tuan tapi saya sudah beberapa kali mengetuknya tapi tuan dan nona tidak menanggapinya makanya saya inisiatif untuk masuk sendiri" sopan maxel merunduk kepala dan memberi senyum pada rani
Rani membalas senyumannya
"Hem baiklah. Kalau begitu ada apa?" Tanyanya
"Mr. Praditya sudah menunggu tuan diruangan meeting. Karena saya sudah menyuruh Mr. Praditya langsung keruangan rapatnya selagi anda menunggu berkas yang ketinggalan" ujar maxel
Radit menganguk kepala mengiyakan
"Baiklah tiga menit aku akan menyusul kau, luanlah" perintah radit
"Baik tuan kalau begitu saya undur diri tuan dan nona" pamit maxel
"Abng melakukan kerja sama dengan perusahaan Praditya?" Tanyanya bingung
Radit menoleh
"Tentu saja princes kenapa tidak. Perusahaan mereka besar dan ada dimana mana, princes. jadi tidak mungkin abng dan ayah akan membatalkan kerja sama tersebut tapi bagaimana, ayah saja tidak datang kemari dan kau juga tidak ingin ikut"
"Baiklah ran ikut, puas!" Ngalahnya
"Sangat puas, princes. Kalo begitu ayo kita keruangan rapat" radit menarik tangan rani lalu mengambil berkas dimeja
Berjalan beriringan membuat mata karyawan menatap mereka kagum
"Kau sudah melihat isi berkasnya kan?" Disela mereka berjalan radit bertanya
"Sudah hanya melihatnya saja aku sudah mengetahuinya"
"Ckk kepercayaan diri mu sangat besar" ejek radit
"Ohya? Apa kau juga tidak sepertiku. Hei! Kau yang sangat besar kepedean mu dari pada ku, tauk"
"Yayaya terserah kau saja" radit mengalah
Setelah sampai didepan pintu ruang meeting. Radit memutar kenopnya sedangkan rani masi setia dibelakang radit membaca berkas yang akan ia jelaskan nanti
Ceklek...
"Selamat siang, dan senang berjumpa dengan mu Mr. Praditya" radit menjabat tangan kepada serkan
"Iya saya juga senang bertemu dengan anda Mr. Rumengan" sahut serkan mempertahankan wajah dinginnya tidak ada senyuman diwajahnya
"Dimana Mr. Esad Rumengan?" Tanya serkan menoleh dibelakang radit dan menemui seorang perempuan menundukkan kepala membaca berkas ditangannya
"Sepertinya ayah saya tidak bisa mengikuti rapat ini, jadi hanya saya saja. Tidak masalah bukan Mr. Praditya"
"Sangat tidak masalah. Kalau begitu apa lagi ayo kita mulai" ucap serkan menduduki pantatnya kembali
"Sudah siap" tanya radit melihat fokusnya adiknya memahami berkas itu
Rani menoleh keradit
"Ehem ya sudah" rani menganguk sambil memberi berkas pada radit
"Ahya saya akan perkenalkan perempuan disebelah saya" rani mendekati meja rapat tersenyum manis menunduk sopan kepada orang orang penting diruangan itu
"Ini adik saya. Karena ayah saya tidak bisa datang ada suatu kendala. Jadi, saya menghadirin adik saya untuk membantu. Ayo kenalkan dirimu, princes"
"Nama saya Rania lewana Rumengan" sapa rani tersenyum
Cantik, sangat cantik, batin serkan terpesona
Sampai serkan yang otomatis tidak memperdulikan perempuan membuat seorang serkan yang super dingin bisa tertarik dengan gadis didepannya dengan memandang disekitar tersenyum manis
Ntah kenapa melihat senyuman itu membuat jantungnya berdetak seperti ia pertama kali bertemu dengan mantan istrinya. Tapi, ini lebih deras
Serkan mencoba memegang dadanya agar bisa memberhentikan detakan kencang dijantungnya. Serkan Melihat disekitar jika semua orang menatap gadis itu dengan pandangan seperti menggoda dan itu membuat serkan tidak menyukainya
Ada rasa ingin memiliki gadis itu sepenuhnya. agar senyumannya hanya untuknya tidak ada seorang pun melihat senyum itu kecuali dirinya sendiri
"Ekhem! apa boleh kita melanjutkannya lagi" ucap serkan dingin menatap tajam disekitar agar mata mereka tidak memandang gadisnya lagi
Mereka yang diruangan jangan diragukan lagi kalau jika mereka mendapatkan tatapan tajam dan perkataan dingin oleh Mr. Praditya sang Billionaire mendunia dibilang serkan adalah orang terkaya nomar ke satu
"Baiklah kita akan melanjutkannya" ucap radit memulai acar meeting dibantu oleh rani disebelahnya
Acara itu lancar tapi sayang rani merasa gelisah seperti ada yang menembusnya dari belakang. Berupaya rani mengalihkan rasa gelisah itu lebih memfokuskan menerangkan objek tentang membuka hotel di istanbul yang langsung ditandatangani oleh orang besar apa lagi kalo bukan Mr. Praditya
Sebenarnya rani merasa lelaki itulah yang menatapnya intens. Ah apa mungkin hanya perasaannya saja
"Bagaimana tuan tuan apa kalian setuju dengan melakukan percabangan kita di istanbul" kata radit kepada mereka
"Iya kami sangat setuju. Kami akan mengikut serta dalam kontrak percabangan hotelan" jawab dari salah satu dimeja rapat
Radit menganguk kepala menerima jawaban dari mereka
"Bagaimana dengan anda Mr. Praditya anda menyetujuinya?"
"Tentu saja saya menyetujuinya" ujar serkan menatap radit dan sebentar melirik rani berdiri disamping radit memberi senyuman padanya
Rani yang sedari tadi mencuri curi pandang pada serkan hanya diam dan melihat serkan memberi senyum kepadanya tapi ia tidak bisa memperdiksi apa maksud dari senyuman itu
Seperti tidak bisa diartikan
Rani mempalingkan wajahnya tidak ingin menatap serkan yang juga menatapnya. Ntah kenapa setiap ia menatap pria itu saat menjelaskan membuatnya risih
Walaupun dia memiliki wajah yang tampan
"Senang mendengarnya Mr. Praditya" radit mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Serkan mendirikan tubuhnya menerima jabatan itu
"Em jangan sungkan. saya menyukai kontrakan. So, no problem" balas serkan
"Selamat atas kesuksesan rapat ini. kalau begitu kami pamit dulu Mr. Rumengan dan Mr. Praditya" radit mengiyakan
Mereka berkeluaran meninggalkan rani radit dan serkan
"Ekhem! Bang, uda siap kan"tanya rani melihat radit dan serkan berbincang pasal pekerjaan tidak menyadari keberadaannya
Serkan dan radit menoleh
**
Akhirnya rani udah jumpa sama bapaknya reyhan tapi sayang rani belum mengetahui jika didepannya ini adalah dadynya reyhan
Kangen gak sama reyhan para readrsku. Gini ni ke enakan liat bapaknya jadi lupa sama reyhan
Oke jangan lupa dilike and komen
Tinggal diklik dah kelar
By.ranimh08