
Serkan pov
Jujur saja sekarang serkan masi memikir gadis itu melihat senyumnya membuat ia merasakan seperti hidup kembali
"Ah menyingkirlah kau dari otakku sialan"
"Kalau begini bisa gila aku memikirkanya" aku mengacak rambutku sakin frustasinya
Perempuan itu udah mengambil semua pandangannya dengan memenuhi pikirannya
Ia tidak mau lagi egois dalam dirinya ia juga berhak bahagia, bukan?
Tok...tok
"Masuk" ujarnya dingin
"Maaf tuan jika saya menganggu anda. saya disini ingin memberitahukan jika nyonya dari semalam menelepon anda tapi anda tidak mengangkatnya. sepertinya ada suatu hal yang penting" juan menjelaskan
Serkan mengerut dahi "kenapa kau tidak memberitahu kan ini kepadaku juan" tanyanya
"Maaf tuan tapi saya sudah memberitahu pada anda karena anda bilang anda sangat sibuk jadi saya mengabaikan telepone tersebut dan melanjutkan pekerjaan saya, sekali lagi saya minta maaf tuan"
"Kemarikan handphonenya" juan langsung memberikan handphone itu meletakannya dimeja lalu mengudurkan diri
"Kalau begitu saya permisi tuan" aku menganguk membiarkan juan pergi
Aku membuka hp dan melihat ada banyak sekali notif telepon masuk dihpnya dan itu dari mommynya
Serkan kembali menelepon momynya
Tring...tring
"Halo, ya mommy ada apa?"
"...."
"Apa ko bisa mom" panikku
"...."
"Sudah dibawah kerumah sakitkan mom?"
"...."
"Yauda serkan langsung kesana"
Dengan terburu buru aku mengambil jas dibangku lalu memakainya berjalan keluar
"Ada apa tuan?"
"Juan saya harus kembali kerumah. Anak saya sakit demam. Jadi selama saya belum kembali kamu yang menghandle tugas saya, mengerti" ujarku tegas nan dingin
Juan mengganguk kepala patuh
"Saya mengerti tuan, saya kirim salam buat reyhan"
"Emm" dehemnya meninggalkan juan masi memandangnya
Skip
Serkan memasuki kamar putranya
Melihat putranya tergeletak tak berdaya diatas kasur dengan tubuh pucat dan berkeringat
"Mommy" panggil serkan pada mommynya yang berada disebelah serkan memegang kuat tangan anaknya
"Mom reyhan kenapa bisa begini?" Tanya serkan memegang dahi reyhan.
Panas bahkan sangat panas
"Mommy juga tidak tau serkan. Tiba tiba saja reyhan sudah demam seperti ini dari semalam
Mommy telepon kamu gak kamu angkat angkat" ujar momy menggeserkan tubuhnya angar serkan lebih leluasa mendekati cucunya
"Dari semalam? Berarti sudah dua hari reyhan sakit mom" momy mangut mangut mengiyakan
"Kenapa tidak dibawa kerumah sakit mom" lanjutnya
"Momy sudah mau membawa reyhan kerumah sakit tapi reyhan tidak mau jadi momy memanggil dokter keluarga kita. sakit reyhan malah bertambah parah serkan. Bagaimana ini, mama khawatir"
"Boy, bangun ayo kita kerumah sakit yah" serkan mencoba memanggil reyhan yang masi memejamkan matanya sesekali bergumam memanggil seseorang, ntah siapa pun itu serkan tidak tau
"Mm-mo momy" gumam reyhan membuka matanya sayu
"Momy?" Tanya serkan
Dewi melihat itu bersedih , dewi yakin pasti cucunya kangen dengan menantunya
"Reyhan mau momy, momy nadine nak" reyhan menggeleng
"Hiks hiks bukan dad" reyhan menangis tersedu
"Momy aku tidak mengerti apa yang diucapkan reyhan. Momy yang mana itu mom kalau bukan si nadine" tanya serkan pada momynya-dewi
Dewi menghela nafas
"Nanti momy ceritain yang penting bawa dulu reyhan kerumah sakit" kata dewi menyuruh serkan
Serkan mendengar itu dengan sigap mengangkat anaknya
"Kita kerumah sakit ya, sayang" kecup serkan didahi reyhan yang sudah sepucat kapas. Serkan sudah tidak sanggup melihatnya
Dua hari ia meninggalkan anaknya dan malah mendapatkan putranya sakit demam tinggi begini. Sebenarnya reyhan sangat jarang sakit tapi sekarang sakit begini membuatnya sangat khawatir
"Hiks...hikss... lehan gak mau daad. Lehan mau momy" rontah reyhan
"Iya sayang nanti kita jumpa momy kamu yah, kamu harus sembuh oke" bujuk serkan memasuki reyhan kedalam mobil meletakan reyhan dipangkuan momy-dewi
Hospital J.Praditya
Dengan tergesa gesa serkan memasuki rumah sakit
"Dokter! Dokter" panggil serkan teriak bergemang dirumah sakit
"Mari masuk keruangan saya, ser" suruh dokter
"Tolong letakan disini dan mohon anda keluar dulu biar supaya saya memeriksanya dengan teliti"
"Saya tidak mau. Ini anak saya" bantah serkan menatap dokter itu tajam
"Saya tau ser, justru itu untuk keselamatan anak anda. Anda keluar sementara agar saya memulai memeriksanya"
"Serkan biarkan saja dokter itu yang menagani reyhan, okey. Reyhan akan baik baik saja" bujuk dewi menepuk pungung anaknya lembut
"Tapi ma rey-"
"Silahkan dokter anda bisa melakukanya" ucap dewi mempersilahkan
"Baik Mrs" dokter masuk dan para suster menutup pintu putih itu dengan rapat
"Tenang serkan. Reyhan tidak akan kenapa kenapa, percaya sama momy" dewi menenangkan anaknya agar tidak terlalu khawatir
"Baiklah mom" sahut serkan lesuh menduduki pantatnya dikursi tunggu menutupi wajahnya dengan kedua tangan
Dewi sedih melihatnya. Apa lebih baik ia kasih tau saja sebenarnya jika reyhan sakit begitu karena seorang gadis yang sudah dewi anggap menjadi calon menantunya
"Dengan keluarga pasien" ucap dokter keluar dari ruangan
"Saya dok, ayahnya! Ada apa dengan anak saya" serkan memajukan badanya mendesak dokter untuk mengatakan kondisi putranya sama hal dengan dewi berdiri tidak jauh dari anak dan dokter
"Begini ser Kondisi anak anda baik baik saja hanya demam naik turun seperti demam anak biasanya" jelas dokter
"Trus kenapa anak saya bisa mengalami demam, ha! selama reyhan dilahirkan dia tidak pernah sakit dan sekarang demam itu membuat anak saya pucat tidak berdaya apalagi dahinya sangat panas ketika saya pegang. Dan kau bilang hanya demam biasa! Coba kau periksa kembali kalau tidak kau yang akan ada dibrangkar itu dan kuhancurkan rumah sakit ini dengan sejentik jari" murka serkan menarik kera baju dokter itu dengan tatapan yang sangat menajam
"Ma-aaf ser tapi saya-" ucapan dokter dipotong oleh dewi
Biarkan saja rumah sakit miliknya dihancurkan oleh dirinya, jika saja dokter yang diperkerjakan tidakĀ sebecus ini
"Stop serkan dengarkan dulu dokter ini berbicara jangan memotongnya" ujar dewi memisahkan anaknya yang sudah meliputi amarah
"Tapi ma-"
"Dengarkan dulu dokternya baru kau leluasa ingin apakan rumah sakit ini! Jangan membuat keadaan menjadi tambah parah karena emosi yang tidak bisa kau kendalikan serkan, ini rumah sakit. Tahankan emosimu" ujar dewi memarahi serkan yang tidak bisa diatur
Serkan melepaskan kera baju dokter dengan gesit menatap sinis, jika bukan karena momynya dokter ini sudah ia lemparkan lubang buaya
Mimik muka dokter itu ketakutan dan pucat pasi pada manusia didepannya. Bagaimana tidak ia ketakutan jika rumah sebesar lapangan bola dan dikatakan lebih besar dari lapangan bola akan dihancurkan apalagi dengannya juga ikut dihancurkan, cuma sejentik jari doang!
"Jelaskan" tekan serkan tajam
"Begini ser, sebenarnya anak anda menginginkan suatu hal yang ia rindukan sampai anak anda mengalami sakit demam. Tapi itu tidak membahayakan anak anda" ujar dokter gugup memperjelaskan
"Seperti tadi saya mendengarkan jika ia menyebutkan nama seorang seperti, momy. Mungkin anak anda sangat merindukan momynya dan juga reyhan mempunyai phobia takut kehilangan. Karena itu reyhan merasa takut jika yang dirindukan anak anda akan meninggalkannya. Makanya anak anda sampai demam tinggi begitu" tambahnya
***
Jangan lupa dilove and komen
By.mh08