My Possessive Duda

My Possessive Duda
MPD~37



"Kemana anak itu? Kenapa lama sekali dikamar mandi. Apa dia bersemedi?" Reza melihat jam tangan ditangannya sambil melihat kebelakang


"Sudah 40 menit dia didalam. Apa aku nyusul aja gak ya?" Tanyanya pada diri sendiri


Reza pun berdiri tak melupakan membawa tas Rani ditangannnya melangkah pergi ketoilet belakang. Sesampai toilet perempuan reza melihat sekeliling. Aneh kenapa sunyi sekali?


Tok..tok


"Rani kamu didalam?" Ketuknnya bertanya


Ceklek


"Maaf ni ya Mas bisa liat tanda dipintu gak?" Ujar seorang cewe didepannya setelah membuka pintu toilet. Tapi reza menghiraukan perempuan didepannya. Reza malah mencoba melihat kedalam tapi dihalang perempuan didepannya


Reza menatapnya dibalas tatapan perempuan itu "aku tau" jawab reza


"Kalo mas tau kenapa masi disini? Mau ngintip ya? Saya panggil security ya Mas" kata wanita itu sambil mengancam


Reza membuang nafasnya "sorry ya mbak saya lagi cari kekasih saya didalam. Dari tadi dia tidak keluar dari sini. Mbak melihat perempuan selain mbak didalam gak?" Tanya reza


Perempuan itu mangut-mangut mengerti "oh gitu toh. Tapi Mas didalam udah gak ada siapa-siapa"


"Apa mbak yakin?" Dibalas anggukan mantap oleh perempuan itu


Tanggapan itu membuatnya menyerngit dahi aneh "kemana dia?" Gumamnya bertanya dengan dirinya


"Yasudah saya deluan Mas" perempuan itu pergi meninggalkan reza didepan pintu dengan segala kebingungannya


"Apa aku masuk aja lagi?" Reza masuk kedalam memeriksa semua pintu wc disana tapi nihil tidak ada Rani didalam


"Kemana perginya dia. ****, apa terjadi sesuatu yang tak ku ketahui" reza mengeluarkan ponselnya disaku celana lalu menelpon nomor rani


Dring... dringg


Suara ponsel berasal dari tas ditangannya bergetar "ouh ****! Dia meninggalkan ponsel di tasnya" reza  berlari keluar dengan tergesa


Ntah kenapa perasaannya gak enak sekarang


Reza keluar dari restoran melihat sekeliling mencari seseorang yang mirip dengan sosok Rani tapi tidak ada sekaliling pun cuma beberapa orang yang lewat


"**** **** **** kemana kau pergi sweety" frustasinya meremas rambutnya


Reza mengetik nomor radit diponselnya


Drrrt...drrrt


'Rani bersama mu?" Tanya reza tak sabaran setelah panggilannya diterima oleh radit


^^^'Rani? Bukannya dia bersamamu?' Tanya ulang radit disana^^^


'Iya tadi bersamaku, tapi sekarang dia tidak lagi bersamaku' ujar reza gusar


^^^'Kau gak lagi bercandakan za?'^^^


'Gak aku serius! Ini juga tas dan ponselnya bersamaku. Dia tidak membawanya' jelas reza pada radit yang juga ikut gusar


^^^'****, kemana jadi dia perginya' umpat radit^^^


'Kalau aku tau aku tidak menelpon mu bodoh'


^^^'Jangan mengataiku brengsek! Aku akan kesana sherlok dimana tempatmu. Aku akan menyusul, dan kau bodoh segera cari cara mencari adikku kalau tidak kau ku gantung!' Ujar radit murka^^^


Tut...tut


Telepon mati diambil ahli oleh radit disana


"Akkhhk sialan!!" Umpat reza menendang angin sembarang arah. Reza melihat sekeliling dan ada cctv disana


"Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi" reza kembali masuk kerestoran mencari ruangan pengamaan cctv kemudian masuk menemui dua orang penjaga pengaman disana


"Ada apa ya pak?" Tanya lelaki hitam kekar kepada reza setelah memasuki ruangan pengamanan mereka


"Aku mau melihat rekaman cctv ulang pada jam 04.15 wib tadi" kata reza mendekati berbagai layar-layar penangkapan cctv disekitar restorant tapi diahadang oleh lelaki satunya


Kita sebut saja lelaki 1 dan 2


"Maaf pak, kami tidak bisa mengijinkan anda untuk memeriksanya" pria 1 berdiri


"Aku tak butuh ijin mengijin dari kalian. Minggir dari hadapan ku" ucap reza tajam pada kedua pria didepannya


"Aku disini bukan main-main jadi minggir secepatnya atau kalian akan dapat ganjarannya!" Tekan reza geram


Kedua pria menggeleng-geleng kepala masi mempertahankan posisi mereka untuk menghalang reza


"Tidak bisa pak"


Reza membuang nafasnya kasar


"Perlihatkan saja rekaman jam 04.15 sekarang. Managermu aku yang akan urus. Ini kartu namaku beri saja pada manegermu atau aku yang akan menemuinya" reza memberikan kartu namanya kepada mereka


Pria 2 mengambil kartu nama ditangan reza lalu membacanya


Reza Alghifari Wijaya


Kedua lelaki itu saling pandang dengan wajah pucat


Dengan cepat mereka merunduk kebawah meminta maaf atas kelalain mereka yang tidak menyadari salah satu orang terpenting di negaranya


"Maaf kan kami tuan sudah menghalangi anda, kami benar tidak tau jika tuan adalah-" ujar pria 1


"Minggir!" Tekan reza


Spontan kedua lelaki itu pergi dari tempatnya mempersilahkan reza memeriksanya


Kedua lelaki itu saling memandang dengan takut


Dengan cepat Reza mengulang cctv berlalu yang menampilkan lorong toilet disana tapi nihil tidak ada orang satu pun yang lewat bahkan masuk ke toilet tersebut


"Sial! Bahkan cctv disabotase!" Bentak reza mengebrak meja setelah memeriksa cctv jam berlalu berulang-ulang


Gurat diwajah reza sudah bercampur aduk, biasanya ia tidak selengah ini


"Siapa bajingan ini! Sialan, anjing keparat!!" Teriak reza kembali meninju layar cctv tersebut


Reza berbalik menghadap kedua lelaki dengan amarah "kalian! Bagaimana bisa kalian melakukan pekerjaan hah!" Murka reza


"Maaf tuan kami tidak tau jika sudah terjadi hacker disini"


"Bodoh! Seharusnya keamanan disini nomor satukan, bangsat! Lihat saja jika aku tidak menemukannya kalian yang akan pertama aku cari" reza berjalan keluar mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi


Reza hanya takut jika tak menemukan Rani yang entah dimana sekarang atau apa yang dilakukan orang yang menculik Rani-nya


Lihat saja kalau sampai ada satu goresan ditubuh Rani lihat-lihat saja orang itu akan ia kuliti sampai meminta pengampunan darinya


Bughh,,,


"Dimana Rani!" Satu pukulan dipipi mengenai Reza yang sudah terbaring dilantai disertai Radit diatasnya memegang kera baju reza dengan penuh amarah


Reza menyeka sudut bibirnya yang sobek lalu menatap Radit "maaf aku juga tidak tau" ujar reza serius


"Kau!" Teriak Radit bangkit dari tubuh Reza dan mengeluarkan ponselnya dari saku celana


"Kerahkan semua bodyguard kalau perlu FBI sekarang juga" ujar Radit tajam mengepal tangannya kuat


",,,,"


"Sialan, adikku menghilang! Kalian cari adikku sampai ketemu! Kalau tidak kepala kalian yang akan jadi taruhannya" tekan Radit


"Aku akan membantu mencari"


Radit menoleh "seharusnya itu yang kau lakukan brengsek!"


"Aku tau, itu sudah aku lakukan. Tetapi sepertinya ada yang mengganjal"


"Apa maksudmu?" tanya Radit


"Sepertinya ini sudah direncanakan. Aku melihat diruang cctv mereka menyetabotase semua rekaman" jelas reza


"Cih, seharusnya aku tidak mengijinkan adikku menemuimu" radit berdecak


"Sekali lagi maaf kan aku" sesal reza karena tidak bisa menjaga Rania Rumengan


***


by,ranimh08