My Love My Stalker

My Love My Stalker
sekolah



Pagi itu Disha tengah sarapan bersama orang tua beserta adiknya,Disha terlihat sudah rapi dengan seragam sekolah tas nya ia sampirkan di kursi makan yang ia duduki begitu juga dengan yang lain mereka juga telah siap dengan pakaian kebesaranya masing-masing.


"Mah besok papa mau keluar kota beberapa hari tolong siapin keperluan papa ya mah!"


ayah disha memberitahu disela sela sarapan mereka.


"Keluar kota, kemana pah? mama harus nyiapin baju buat berapa hari pah"tanya istrinya,Disha dan Keano pun mendengarkan dengan seksama sambil tetap melanjutkan makan.


"Ke surabaya mah ,papa disana cuma tiga hari,jangan kebanyakan bawa baju mah secukupnya aja,oh iya mau di bawain apa nih.?"tanya Wira kepada istri dan anak-anaknya.


"Mama sich gak mau apa-apa pah yang penting papa sehat disana jangan lupa makan.,gak tau nih Disha sama Keano"jawab istrinya sambil melirik Disha dan Keano


" Aku mau mainan ya pah yang banyak"ucap Keano girang.


"Diem loh bocil minta oleh-oleh apa ngerampok loh"ucap Disha sambil menatap tajam pada adiknya.


"Apain sih syirik aja" Keano meledek Disha


Mereka memang tidak pernah akur hampir setiap hari mereka berantem,hanya terkadang saja mereka akur dan melakukan genjatan senjata seperti hari dimana saat orang tuanya pergi atau saat Art di rumah sedang pulang kampung,mereka akan akur itupun karna mereka kelaparan dan memasak mie bersama.


"Awas loh ya gue kunciin lo d kamar mandi"ancam Disha dia kesal dengan adiknya yang sangat menyebalkan .'Nyokap gue ngidam apaan ya sampe gue punya adik kayak gini'pikirnya


"Udah berantem mulu kerjaan kalian,mah jagain rumah jangan sampe rumah berantakan gara-gara ulah mereka"ayahnya melerai merasa bosan dengan tingkah ke 2 anakny yang slalu ribut.


"Siap pah"ucap ibunya semangat .


Tidak lama kemudian Disha pun berangkat mengendarai sepeda motor nya,dengan santai dia mengarungi arus lalu lintas yang selalu padat,sampai di lampu merah dia bertemu Tania yang di bonceng Dicky.


"Hay Dish!"sapa Tania dia melambaikan tangan ke arah Disha dengan semangat .


Suaranya mengalahkan suara bising klakson mobil dan motor yang saling besahutan,saat itu mereka sedang menunggu lampu kembali hijau.


"Hay Tan hay juga ****" Disha balas menyapa sambil tersenyum dengan ramah.


Dicky membalas sapaan Disha dengan tersenyum dan kembali fokus memperhatikan lampu jalan ,hingga lampu kembali hijau mereka mengendarai motor dengan beriringan ,sampai di sekolah Dicky memarkirkan motornya di samping motor Disha.


Tania turun sambil membuka helm yang segera di ambil Dicky dan langsung menghampiri Disha yang juga sudah selesai memarkirkan motornya.


"Ayo Dish kita masuk kelas bareng,**** gue duluan ya!" Tania merangkul Disha mengajak nya pergi,tangannya melambai ke arah Dicky yg tidak jauh dengan mereka.


"lya hati-hati di jalan awas lo ke pentok tembok"gurau Dicky melihat kepergian mereka,iapun bergegas ke kelas dengan gaya cool nya yang membuat para siswi terpesona.


Sesampainya di jelas Disha dan Tania menyapa teman sekelas mereka sambil berjalan ke tempat duduk mereka disana terlihat Andi yang sudah nyengir kepada mereka berdua.


"Lo ngapain duduk disitu,bangku lo kan disana?" tanya Tania heran dengan Andi yang kini duduk di depan mejanya dan Disha.


"Hari ini gue pindah kesini bosen duduk di pojokan mulu kayak pengen berak aja"ucap Andi dengan santai memerkan deretan giginya ia terlihat bersemangat memulai hari ini.


"Pindah lagi sono,males gue liat muka lo yang ada butek gue " Tania mengusir Andy setelah ia dan Disha duduk di kursi masing-masing.


"Males ach lagian ya beb harusnya kamu seneng ada aku disini,jadi kamu bisa pandangin aku setiap saat"ucap Andi


"Najis gue mandangin lo mending gue liatin tembok "ingin sekali Tania menjambak andi yang pagi-pagi sudah merusak mood nya entah apa yang d pikirkan anak ini sampe dia pindah duduk di depan nya.


'kesambet apaan lagi nich bocah,siap-siap aja w d gangguin ma dia'gummnya kesal.


Disamping itu saat Disha ingin memasukan tasnya ke bawah meja di sana terdapat beberapa hadiah seperti coklat,bunga dan boneka,ia kelarkan satu persatu di hadiah tersebut terdapat beberapa surat dan nomor telepon dari para pengirim tersebut.


"**** banyak banget hadiah lo Dish,menang banyak lo ,," Andi tidak menyangka jika Disha mempunyai banyak penggemar padahal Disha belum genap sebulan pindah ke sekolah mereka.


"Iya Dish makin banyak aj penggemar lo,buka Dish surat nya liat dari siapa aja." Tania memberi interupsi kepada Disha dia penasaran cowok mana saja yang mengirim Disha hadiah.


"Gak ach males lo aja yang buka" Disha tidak berminat ataupun penasaran dengan pemgirim hadiah-hadiah tersebut baginya itu tidak penting.


Seolah di beri perintah tania pun membuka surat-surat yang ada di hadiah tersebut satu per satu yang juga di ikuti oleh Andy.


"Ini mah dari c Ipang,jangan mau Dish selirnya banyak dia mah"ucap Tania setelah membuka salah 1 surat tersebut.


Mendengar itu Disha hanya tersenyum bingung karna ia sendiri belum terlalu hafal nama orang-orang di Sekolahnya.


"Ini mah dari c Kibo,gila nih anak berani juga yah dia " Andi ikut bersuara setelah membaca salah 1 surat.


" Ini mah dari c andre anak sekolah sebelah kok bisa nyasar kesini ya pake jasa online kali ya" Tania kembali menyebut salah 1 pengirim hadiah tersebut.


" Ini gue juga dari Anton anak futsal,keren nih di surat nya ada gambar kupu-kupu" Andi tersenyum membaca surat tersebut.


"Si Anton yang pacarnya anak kelas 1 itu?,jangan mau Dish ntar lo d begal lagi,ceweknya galak Dish gue aja takut" Tania ngeri sendiri membayangkan Mili pacar Anton yang terkenal super galak tapi ia sendiri takjub Anton berani mengirim hadiah kepada Disa "Abis nih anak kalo ketahuan' pikirnya.


Mereka kembali menyebutkan nama-nama pengirim hadiah tersebut yang menurut mereka tidak ada yang menarik hingga salah 1 surat membuat Tania terkejut.


"Wah gila Dish,lo d gebet bule ganteng"ucap Tania setelah membaca surat tersebut


" Apaan di gebet siapa maksud lo" Andi mengambil surat dari Tania dan langsung membacanya.


" Ini mah dari c Justin" ucapny pelan.


"Justin,dia siapa" tanya Disha penasaran baru kali ini dia mendengar nama tersebut apalagi dia bule rasanya dia tidak pernah melihat cowok bule di sekolah ini.


"Itu loh Dish ketua Osis sekolah kita" terang Tania


" Bukanya nama dia Iyas ya?" Disha mengingat cowok blasteran yang kadang suka lewat kelasnya.


" Iya nama dia dia Justin Andreas tapi dia lebih sering d panggil Iyas ,ganteng loh dish selain Dicky dia juga salah 1 cowok terganteng di sekolah ini" Tania menerangkan dengan semangat tak menyangka jika Disha bisa mendapat pesan dari Iyas yang terkenal pendiam di sekolah.


"Dish bonekanya buat gue ya lucu banget"ucap Tania meminta boneka beruang kecil berwarna coklat yang terlihat sangat imut.


"Iya lo ambil aja kalo kalian mau ambil semua nya aja " Disha mempersilahkan Tania dan Andi mengambil hadiah hadiah tersebut.


"Serius lo Dish gue bagiin ke temen-temen yang lain ya.." Tania bertanya dengan girang sambil mengambil beberapa coklat dan hadiah lainnya.


"maruk banget hidup lo,Dish gue minta 1 aja ya lumayan buat ganjel perut" Andi mengambil salah 1 coklat dan langsung memakanya.


"Berisik lo,boleh kan Dish?" ucap Tania tak memperdulikan ucapan Andi


" Boleh kok lo ghe ambil ini aja buat adek gue.." ucap Disha mengambil 2 batang coklat.


" Lo punya adik Dish,cewek apa cowok.?" Tania baru tau jika Disha memiliki adik selama ini Disha tidak pernah membahas tentang adiknya, sama hal nya dengan Andi yang ikut menunggu jawaban Disha


" Iya,cowok masih kecil baru kelas 5 sd" elas Disha


" Seru dong Dish,bisa di ajak main bola" Andi bersemangat mendengar adik dDsha seorang cowok di rumah dia juga punya adik tapi perempuan yang cerewetnya minta ampun


yang kadang slalu membangunkan nya hanya untuk minta di beliin es krim.


" Gue kan cewek mana bisa maen bola lagian adek gue rese lo gak akan suka" jawab Disha


"masa sich sama aja dong kayak adek gue juga rese tapi dia cewek Dish" Andi mengingat kembali keributan yang sering terjadi karna adiknya.


" Oh iya namanya juga anak kecil sih pasti gitu" balas Disha tersenyum kecil


" lya Ndi,untung gue gak punya adek kalo punya gak tau dech bakalan kek gimana" Tania ikut bersuara


" Gak gitu juga sih Tan,punya adek seru kok serese-rese nya adek tetep aja mereka bikin gemes dan kadang suka bikin lo ketawa sama tingkah mereka" Disha mengingat saat dia bersedih adiknya itu slalu mencoba menghibur dirinya yang kadang membuat ia terharu.


" Iiya bener ,tapi mana ada orang yang mau jadi adek lo Tan kayak preman gitu" Andi tersenyum jahil pada Tania.


"Sialan lo mau gue tonjok loh" ancam Tania,sebenarnya Tania termasuk gadis cantik yang penampilanya juga modis hanya saja jika berurusan dengan Andi membuatnya berubah jadi preman pasar yang slalu ingin memukul orang.


" Tuh kan belum apa-apa sifat preman nya keluar" ucap Andi


Mendengar itu Tania menjadi kesal dan langsun menjambak rambut Andi namun kegiatanya terhenti karna bel masuk berbunyi dan Bu Rina wali kelas guru mtk mereka datang.


Sedangkan Disha hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka yang tidak pernah akur.


Saat jam istirahat Disha,Tania dan Andi duduk di salah 1 bangku kantin menunggu yang lain.


"Capek banget hari ini , otak gue kayak di peres gara-gara ulangan dadakan dari pak Galuh mana gue belum belajar lagi remedial lagi dach gue" curhat Andi merasa lemas membayangkan hasil ulanganya yang pasti merah.


"Sama gue juga lagian pak Galuh gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba ngasih ulangan bikin mumet aja mana w ngerti fisika coba ."ujar Tania


" Lo sih mending Tan nasib gue nih gimana,gue gak mau nyokap gue d suruh ke sekolah lagi,bisa abis gue di marahin nyokap" Ucap Andi lemas


" Lo sih udah ulangan lo merah mulu sering bolos dan gak masuk lagi,nyari mati itu mah Ndi" balas Tania


" Kenapa kalian gak belajar bareng aja sih,kan lumayan biar nilai kalian gak terlalu anjlok" Disha memberi saran ikut prihatin dengan nasib mereka.


" Belajar sama siapa Dish,kalo bareng dia yang ada nilai gue makin anjlok,lo kan tau nilai kita 11/12 samanya .." Tania menjawab dengan muka melasnya


" Iya Dish emang nya lo udah pinter dari lahir ,gue mah apa atuch gak di rimed aja udah sujud syukur gue mah" Ucap Andi tak kalah lemas.


"Kan ada Dicky,Putri sama Rega kenapa gak bareng sama mereka aja." ucap Disha.


"Mereka mah gak ada yang bisa di andelin,Dicky kalo ngajar kek uji nyali tau gak bentar-bentar kalo gue nanya malah di maki-maki tau,Putri sama Rega mah gak guna sama aja" terang Andi


" Iya Dish walaupun mereka gak seanjlok kita nilainya tapi percaya dech belajar sama mereka bukan nya pinter malah dongkol liat mereka pacaran mulu" tambah Tania


" Ada apaan nich pada ngomongin gue.." Dicky dan yang lain datang dan langsung duduk di depan mereka.


" Ini tadi kita abis ulangan dadakan.." sahut Tania sambil meminum es jeruk yang baru datang bersama pesanan teman-teman yang lain.


"Oh ya siapa?,gimana lancar?.." Putri ikut bersuara penasaran melihat wajah Tania dan Andi yang terlihat lesu.


"Lancar pala lo,ini juga gue lagi siap-siap di hukum yakin dach gue mah, gue benci Fisika" jawab Andi berapi-api


" Sabar ya gue ikut prihatin,beb kayak nya ntar malam kita harus belajar besok kan ada pelajaran pak Galuh" Putri mengajak Rega belaja bersama.


" Ayok beb entar aku ke rumah kamu ya" Rega menjawab sambil tersenyum manis.


" enek gue lama-lama liat lo berdua.." Tania merasa risih melihat tingkah mereka yang slalu mesra di manpun'bener kali ya kalo lagi pacaran dunia berasa milik berdua yang lain mh numpang doang'pikirnya.


" Syirik aja lo makanya pacaran dong jomblo mulu sih.." jawab Putri sambil melirik Andi yang terlihat salah tingkah dengan sindiran Putri.


" Udah,ngobrol mulu kapan makanya laper nih gue.." Dicky ikut bersuara


mereka pun mulai makan bakso mang joni langganan mereka.


Sesekali Dicky melirik Disha yang tengah makan,sedangkan Disha yang sadar di perhatikan Dicky hanya diam pura-pura tidak tau.


Selepas makan mereka berkumpul di pinggir lapangan hanya untuk mengobrol sambil melihat siswa yang berlalu lalang,sesekali mereka tertawa dengan tingkah kocak Andi tak terkecuali Disha.


Namun sorot matanya menyiratkan suatu kesedihan yang mendalam ,ia tersenyum kecut mengingat bayangan nya di masa lalu.


'Andai kita gak kayak gini semua pasti masih sama ' pikirnya ,dulu ia juga begitu dengan teman-teman nya di Bandung namun suatu kejadian mengubah semua nya,kejadian yang tidak mungkin di ulang kembali.