My Love My Stalker

My Love My Stalker
Mulai Bertindak



Iyas tengah berjalan sendirian menuruni tangga, hari sudah sore murid yang lain sudah pulang duluan hanya beberapa yang masih tinggal disana.


Iyas baru saja selesai mengerjakan tugasnya untuk persiapan acara nanti malam, dia memukul pundaknya pelan yang terasa pegal,dia terlihat kelelahan mengerjakan tugasnya sebagai ketua Osis.


Sssstttt


Gubbbraaak.


Iyas tiba-tiba tergelincir dari tangga membuatnya menggelinding menuruni tangga dan jatuh ke bawah dengan kepala yang mengeluarkan banyak darah.


Para siswa yang berada di dekat sana langsung berlari ke arah tangga dimana Iyas terjatuh setelah mendengar suara Iyas yang terjatuh.


Tidak terlalu banyak siswa saat itu kebanyakan dari mereka adalah anggota osis mereka berkerumun melihat Iyas yang tergeletak tak sadarkan diri.


Beberapa siswa langsung berlari ke ruang guru,ada juga yang sedang menelepon ambulance mereka semua terlihat panik,diantara kericuhan itu seorang siswa membuang botol minyak yang baru saja dia gunakan untuk membuat Iyas terjatuh kedalam tong sampah,dia tersenyum sinis dan berlalu pergi di antara kerumunan siswa.


Disha berlari di antara koridor rumah sakit,dia baru saja mendapat kabar jika Iyas terjatuh dari tangga dan sedang di rawat di rumah sakit saat dia menelepon Iyas tadi.


Tadinya dia menelepon untuk menanyakan perihal kapan Iyas akan menjemputnya untuk acara nanti malam namun yang mengangkatnya adalah Dimas dan malah memberitahu kabar buruk yang menimpa Iyas.


Di depan ruang IGD terlihat beberapa siswa yang sedang menunggu Iyas termasuk Dimas, ada juga Pak Bima Kepala Sekolah sekaligus ayah dari Iyas.


" Gimana keadaan Iyas dia baik-baik saja kan?.." Tanya Disha kepada Dimas yang tengah duduk di bangku koridor dia tidak mengenali siswa lain yang dia yakin adalah anggota Osis.


"Kita masih belum tahu,dokter masih memeriksa keadaan Iyas.." Jawab Dimas pelan.


"Kamu temannya Iyas?.." Tanya Pak Bima sambil menatap Disha.


"Iya Pak,saya temannya Iyas tadi saya menelepon Iyas buat nanya soal acara nanti malam,dan saya malah dapat kabar buruk.." Jawab Disha.


Pak Bima mengangguk mengerti.


"Tidak usah khawatis anak saya tidak akan kenapa-napa,dia anak yang kuat saya yakin dia pasti bisa lewatin semua ini.." Ucap Pak Bima kemudian.


"Pak kita pamit dulu ya,kita masih harus persiapin acara nanti malam sekarang sudah jam 5 sore kita gak bisa nunggu Iyas,kalau acara nanti malam gagal Iyas bakal kecewa, ini semua ide dia kita gak mungkin batalin acara yang sudah disusun Iyas begitu saja.."Ucap salah seorang siswa yang memakai kacamata dia merupakan wakil ketua Osis.


"Baiklah kalian pergi saja,dan terima kasih karena sudah menolong Iyas dan lanjutkan acaranya jangan sampai gagal,Bapak dukung kalian semua.." Ucap Pak Bima memberi ijin.


Merekapun bersalaman kepada Pak Bima dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit yang tersisa hanya tinggal Pak Bima,Disha dan Adit alias Dimas.


Adit melamun membayangkan yang terjadi pada Iyas dia yakin sekali itu bukan kecelakaan biasa,tadi saat dia memeriksa tangga terdapat banyak sekali minyak yang membuat lantainya menjadi licin,tapi dia tidak tahu siapa yang melakukannya,apakah orang misterius itu?


Jika benar,Adit harus berhati-hati orang itu sudah bergerak menunjukan jati dirinya,dia menyalahkan dirinya sendiri karena membuat sahabatnya itu ikut jadi korban.


"Harusnya gue awasin orang itu,bodoh sekali lo Adit bisa kecolongan gini.." Ucapnya dalam hati menyalahkan dirinya sendiri.


Disha memperhatikan Dimas yang terlihat kacau dia seperti memikirkan sesuatu yang Disha tidak tahu apa.


"Kalian juga pasti ingin ikut acara nanti malam,pergilah biar saya yang menunggu Iyas disini.." Ucap Pak Bima lagi kepada Disha dan Adit.


"Gak usah Om,biar Dimas ikut jagain Iyas sampai dia sadar.." Tolak Adit.


"Jangan begitu,Iyas pasti baik-baik saja lebih baik kalian pergi,ini acara kalian jangan sia-siakan itu,kamu juga pergilah.." Ucap Pak Bima kepada Disha.


"Saya gak jadi ikut juga gak apa-apa kok Om,lagian pasangan saya buat ke acara nanti itu Iyas,sekarang Iyas kayak gini saya sudah gak punya teman pasangan lagi.." Ucap Disha menjelaskan.


"Itu ada Dimas,kamu pergi saja dengan dia,lagipula Dimas itu juga gak punya pasangan kalian bisa pergi bersama,kamu mau kan Dimas?.." Tanya Pak Bima kepada Adit.


Disha menatap Dimas yang terlihat diam saja, dia jadi berpikir apa Dimas tidak ingin pergi bersamanya.


"Baiklah Om,Dimas pamit dulu kalau ada apa-apa kasih tahu Dimas..." Ucap Dimas sambil berdiri.


Disha dan Adit berjalan bersama keluar rumah sakit,mereka sama-sama terdiam tidak berkata apapun sampai akhirnya mereka sampai di parkiran.


"Ayo naik,gue antar lo pulang.." Ajak Adit sambil membukakan pintu mobilnya.


Disha menggeleng menolak ajak Dimas.


"Gak usah Dim,gue bawa motor kok,," Ucap Disha sambil menunjuk motor yang di parkir di samping mobil Adit.


"Yasudah hati-hati,nanti jam 7 loe gue jemput ya,kasih gue nomor loe biar gue bisa kasih kabar sama loe sekaligus nanti lo kasih tahu gue alamat rumah lo.." Ucap Adit sambil menegluarkan hanphone nya meminta nomor Disha.


Setelah bertukar nomor merekapun berpisah menuju rumahnya masing-masing,di perjalanan Adit mengikuti Disha dia memastikan gadis itu aman sampai rumah.


Selama perjalanan pulang Disha merasa seseorang tengah mengikuti motornya,di belakang dia melihat mobil Dimas yang berada tidak jauh dengannya,apa Dimas orang yang mengikutinya?tapi tidak Disha tidak boleh berprasangka buruk mungkin saja arah rumah Dimas sama dengannya.


Terlebih lagi Disha sudah merasa ada orang yang mengikutinya terus beberapa waktu terakhir dia tidak boleh menuduh siapapun tanpa bukti.


Tepat jam 7 malam Adit sudah sampai di depan pintu rumah Disha,Adit mengetuk pintu rumah Disha yang langsung di bukakan oleh Marlina.


"Adit.." Ucap Marlina pelan dia melihat kanan kiri takut seseorang mendengar mereka.


"Kamu ngapain disini Dit,gimana kalau Disha tahu untung gak ada yang dengar kita disini.." Ucap Marlina lagi.


"Ano dengar kok Ma.." Ucap Ano dari arah belakang.


Marlina berbalik menatap anak bungsunya itu sambil berdecak kesal,anak itu selalu saja mengikutinya.


"Ngapain kamu nguping awas ya,jangan kasih tahu kakakmu kalau Disha sampai tahu uang jajan kamu Mama potong.." Ancam Marlina sambil melotot.


"Iya siap Ma,hai bang Adit.." Sapa Ano.


"Hai No,makin ganteng aja kamu.." Jawab Adit sambil tersenyum.


"Jadi kamu ngapain kesini Dit,kamu mau Disha tahu kamu masih hidup?.." Tanya Marlina lagi.


"Tenang saja Tante,Adit disini nyamar sebagai Dimas,kita sudah janjian buat pergi ke acara sekolah bareng.." Ucap Adit sambil memperlihatkan kaca mata dan tahi lalat yang menempel di dagunya.


"Oh iya juga ya, Disha ,Dish teman kamu sudah datang nih.." Teriak Marlina memanggil Disha.


"Apaan sih Ma berisik banget,Disha tahu kok.." Ucap Disha sambil menghampiri mereka.


Adit menatap Disha yang terlihat cantik dan anggun,gadis itu terlihat cantik meski hanya memakai make up natural dan terlihat sederhana.


"Yaudah Disha pamit dulu ya Ma assalamualaikum.." Ucap Disha sambil menyalami ibunya.


"Saya juga pamit tante,assalamualaikum.."Pamit Adit ikut menyalami Marlina.


"Waalaikum salam hati-hati ya,jangan kemalaman pulangnya.." Ucap Marlina.


Adit dan Disha pun pergi meninggalkan rumah menuju ke sekolah tempat acara itu di selenggarakan,diam-diam Adit melirik Disha sambil tersenyum.


Sadar dirinya di perhatikan Disha berbalik memandang ke luar jendela,dia memegang detak jantungnya yang tak beraturan.


"Kenapa sih gue kok deg-deg an gini,Dimas juga ngapain sih lihatin gue terus.." Ucap Disha dalam hati.