
Andi perlahan berjalan memasuki ruangan yang serba gelap itu, dia tercengang melihat apa yang ada di hadapannya.
"Kenapa loe ada disini?"
Andi langsung berbalik saat suara seseorang mengejutkannya, dia memandang seseorang yang sangat di kenalnya itu, orang itu menatapnya tajam penuh amarah di salah 1 tangannya terdapat tongkat besi panjang yang mengkilat.
"Lo--"
Bugh
Sebelum Andi selesai mengucapkan kata-katanya, si pria misterius langsung memukul kepala Andi dengan tongkat besi yang dia pegang.
Dengan perlahan si pria misterius menarik salah 1 kaki Andi yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan mengeluarkan banyak darah.
Si pria misterius menyeret tubuh Andi keluar ruangan di sepanjang jalan yang mereka lewati, terdapat banyak darah yang menempel di lantai keramik yang mengkilat itu.
*****
Disha berlari melewati koridor demi koridor rumah sakit hingga akhirnya dia sampai di depan ruang UGD disana terdapat orang tua Andi yang Disha tidak kenal, ada juga Tania,Dicky, Reza dan Putri.
"Andi kenapa, kenapa kalian semua menangis hah?" Tanya Disha dengan berkaca-kaca.
Tadi saat dia baru selesai makan malam bersama orang tua dan adiknya, Disha mendapat kabar dari Putri, jika Andi masuk rumah sakit dan sedang di periksa oleh tim medis.
Tanpa bertanya lebih lanjut Disha langsung pergi menaiki Taxi dan datang ke rumah sakit yang di beritahu Putri.
"Andi Dish,dia---" Ucap Putri tak sanggup melanjutkan kata-katanya sambil menangis tersedu-sedu.
"Dia kenapa? kasih tahu gue jangan bikin gue mikir yang nggak-nggak, dia baik-baik saja kan?" Tanya Disha lagi sambil memandang teman-temannya menuntut penjelasan.
"Andi koma Dish, tadi polisi ngasih kabar kalau Andi di temukan sudah tidak sadarkan diri di pinggir jalan oleh warga" Ucap Rega memberi tahu.
"Dia kenapa kecelakaan atau di rampok?" Tanya Disha.
"Belum tahu polisi masih cari tahu penyebab Andi terluka parah, kecurigaan awal ini percobaan pembunuhan soalnya barang-barang pribadi Andi masih utuh, motornya juga tidak lecet parah sama sekali, mereka ragu kalau ini kecelakaan" Ucap Dicky.
"Kok bisa sih, gimana ini bisa terjadi sama Andi" Ucap Disha menggeleng tidak percaya sambil menangis.
Tidak jauh darinya Tania duduk sendirian, gadis itu terlihat kacau matanya tak berhenti menangis, dengan hidung yang sudah memerah dia terus menangis pilu.
Bagaimana tidak Andi sahabat sekaligus orang yang dicintainya itu kini tengah terbaring tidak sadarkan diri dengan kondisi koma, dia seakan tak mampu mempercayai apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Gue juga gak tahu, setahu gue kemarin Andi pergi janjian sama lo kan ****, dia bilang dia mau kerumah lo kemarin" Ucap Putri sambil memandang Dicky.
"Iya kemarin sore dia emang ke rumah gue, tapi dia gak lama setelah ngambil kamera yang gue pakai buat motret di pantai kemarin dia langsung pergi" Ucap Dicky.
"Loe gak bohong kan ****, gue denger dia gak ada kabar setelah dari rumah lo, lo yakin lo gak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi sama Andi" Tanya Rega.
"Maksud lo apa ngomong gitu, apa jangan-jangan lo mikir kalau gue yang celakain Andi hah?" Tanya Dicky sambil mencengkram baju Rega dengan marah.
"Gue cuma nanya kenapa lo harus marah ****, santai aja bro kalau gak ngerasa salah gak usah marah" Ucap Rega sambil tersenyum sinis.
"******* lo Ga, kalau ngomong jangan sembarangan" Ucap Dicky sambil memukul wajah Rega.
Bugh
Darah segar mengalir di bibir Rega, dia tersenyum sinis menatap darahnya sendiri yang menetes di lantai, Rega mendongak menatap Dicky dengan tatapan tajamnya.
"Berhenti jangan berantem disini, apa kalian tidak mengerti Andi masih tidak sadarkan diri di dalam dan kalian malah berantem disini" Ucap Tania menatap mereka dengan pandangan nanar.
Baru saja Rega ingin kembali membalas serangan Dicky, namun suara Tania membuat dia mengurungkan niatnya, dengan kesal Rega menurunkan tangannya dan duduk di samping Disha.
"Sama dokter mereka lagi meriksa keadaan Andi setelah keluar dari ruang UGD tadi" Ucap Putri menjawab pertanyaan Disha.
Tidak lama dokter dan perawat yang memeriksa Andi keluar, segera orang tua Andi dan yang lain menghampiri mereka guna mencari tahu lebih lanjut bagaimana keadaan Andi.
"Gimana dok, apa ada kemungkinan anak saya bisa selamat?" Tanya Ibu Andi menatap dokter yang menangani putranya itu dengan penuh harap.
"Kita berdoa saja yang terbaik untuk keselamatan anak Ibu dan Bapak, kita tunggu perkembanganya hingga besok" Jawab Sang Dokter sambil berlalu pergi dengan sang perawat.
Segera setelah Dokter dan perawat itu pergi, Tania berlari memasuki ruangan di ikuti oleh yang lain, disana di ranjang rumah sakit tubuh Andi terbaring dengan berbagai alat bantu memenuhi tubuhnya, di kepalanya terdapat perban yang membalut luka Andi.
Kini tubuh dari orang yang selalu terlihat ceria dan kadang selalu membuat ulah yang kadang membuat mereka jengkel dan terhibur itu terbaring lemah tak berdaya.
Tania menangis tersedu di samping Andi, sedangkan yang lain hanya menatap Tania dengan pandangan nanar, mereka merasa iba sekaligus sedih dengan apa yang terjadi pada mereka berdua.
"Tan kita pulang yuk udah malam, besok kita baru kesini lagi" Ajak Putri sambil memegang pundak Tania.
"Iya kalian pulang saja, biar saya dan istri saya yang menunggu anak kami Andi" Ucap Ayah Andi.
"Gak gue gak mau pulang, gue mau nunggu Andi disini sampai dia sadar" Ucap Tania menolak ajakan Putri sambil menyeka air matanya yang tak berhenti mengalir.
"Udah kalian pulang saja duluan biar gue yang nemenin Tania disini, Ga tolong anterim Disha sekalian ya kasihan kalau dia pulang sendiri" Ucap Dicky meminta tolong.
"Yaudah ayo Dish pulang bareng gue sama Rega" Ucap Putri.
Disha pun ikut pulang bersama Rega dan Putri, kini yang tersisa hanya orang tua Andi, Dicky dan Tania, Dicky menatap sahabat sekaligus sepupunya itu yang terus menangisi Andi.
Dicky tidak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk menghibut Tania sahabatnya itu, yang bisa dia lakukan saat ini hanya diam dan menunggu tanpa berkata apa-apa, Dicky pun berjalan keluar ruangan dan duduk di bangku koridor rumah sakit sambil menunduk dalam.
"Dimana Disha?"
Dicky mendongak menatap seseorang yang tengah berbicara padanya, Adit menatap Dicky dengan pandangan cemas.
Saat Adit menelepon rumah Disha karena nomer Disha tidak bisa di hubungi, dia mendapat kabar jika Disha pergi ke rumah sakit membuat Adit langsung bergegas menyusulnya kemari.
"Dimas ngapai lo disini?" Tanya Dicky penasaran, dia menatap Dimas yang terlihat berbeda tanpa mengenakan kaca mata.
"Gue Adit bukan Dimas, sekarang kasih tahu gue dimana Disha?" Tanya Adit lagi.
"Dia pulang bareng Rega dan Putri barusan" Ucap Dicky dia masih bingung dengan pernyataan Dimas yang mengaku bernama Adit.
"Sial kenapa lo biarin Disha pergi bareng Rega hah?" Bentak Adit kesal.
"Maksud lo apa sih gue gak ngerti?" Ucap Dicky bingung.
"Disha dalam bahaya, gue harua pergi nyelamatin dia sebelum terlambat" Ucap Adit.
"Bahaya apa jelasin dulu apa yang terjadi sebenarnya" Ucap Dicky.
"Gue gak punya waktu buat jelasin semuanya, sekarang Rega bisa dengan bebas untuk menyakiti Disha, sebelum itu terjadi gue harus nemuin mereka" Ucap Adit sambil berlari meninggalkan Dicky.
"Tunggu gue ikut!" Ucap Dicky berlari mengejar Adit.
Di tempat lain Disha dan Rega baru saja selesai mengantarkan Putri pulang ke rumahnya, kini hanya tersisa mereka berdua di dalam mobil, tiba-tiba Rega menghentikan mobilnya di tempat sepi.
"Ga kok kita berhenti disini sih, lo mau ngapain Ga?" Tanya Disha panik saat Rega membekap mulutnya menggunakan sapu tangan.
Rega menatap Disha yang sudah tak sadarkan diri sambil tersenyum.
"Tenang Disha sayang setelah ini gak akan ada yang gangguin lo lagi" Ucapnya tersenyum sinis, dengan perlahan Rega kembali menyalakan mobilnya, meninggalkan jalan yang sepi itu