My Love My Stalker

My Love My Stalker
Merasa Bersalah



Adit dan Disha baru saja sampai ke parkiran sekolah,Disha turun dari mobil setelah Adit menghentikan mobilnya.


"Lo duluan saja Dish nanti gue nyusul,gue parkirin mobil dulu bentar"Ucap Adit.


"Oh iya Dim gue tunggu di dalam ya.." Ucap Disha sambil melangkah memasuki aula gedung sekolah.


Dicky tengah mondar-mondar menunggu di depan aula,dia terlihat gelisah,diapun berhenti saat Disha datang menghampirinya.


"Loe ngapain disini,yang lain mana?" Tanya Disha mencari teman-temannya yang lain.


"Mereka sudah di dalam Dish,ayo masuk aku sengaja nungguin kamu disini" Ucap Dicky sambil menarik tangan Disha dan membawanya ke dalam aula.


"Baiklah teman-temanku yang cantik-cantik dan ganteng,akhirnya acara malam ini sudah bisa di mulai,yang pertama ijinkan saya menyajikan musik romantis bagi siapa saja pasangan disini,kalian bisa berdansa dengan pasangan kalian di tempat yang sudah kami siapkan,selamat menikmati semuanya" Ucap si pembawa acara.


Musik pun mengalun mengiringi beberapa pasangan yang mulai menari dan berdansa di tempat yang sudah di sediakan oleh panitia.


Sedangkan murid yang tidak memiliki pasangan atau merasa malu untuk menari bersama pasangannya memilih menonton dan menyemangati mereka yang tengah berdansa.


"Beb,dansa yuk lumayan buat latihan.."Ajak Putri kepada Rega.


"Latihan apa Put" Tanya Tania penasaran.


"Latihan buat pesta nikah kita nanti,kali aja kita jodoh" Ucap Putri sambil tersenyum malu.


"Ayo Beb,udah lama juga kita gak dansa bareng" Ucap Rega dan membawa Putri ke tempat dansa.


"Huh dasar bocah,dimanapun dan kapanpun mereka selalu saja bermesraan"Ucap Tania kesal.


"Gak apa-apa kali Tan mereka kan emang pacaran" Ucap Andi sambil menatapnya penuh arti.


Tania terdiam dia menghindari tarapan Andi,sejak datang kemari mereka berdua terlihat canggung,wajar saja sehabis kejadian kemarin hubungan mereka jadi merenggang.


"Dish lo mau gak dansa bareng gue?"Tanya Dicky sambil tersenyum.


"Sorry Disha dansanya bareng gue,dia kesini sama gue sebagai pasangan"Ucap Adit.


Sebelum Disha bisa menjawab Adit sudah memotongnya,Dicky menatap Adit tajam karenanya dia tidak bisa berdansa dengan Disha.


"Benar Dish,kamu kesini jadi pasangan dia?" Tanya Dicky memastikan.


"Iya ****,maaf gue sudah sama Dimas soalnya tadi Iyas gak bisa nemenin gue jadi yang gantiin Iyas itu Dimas"Jawab Disha.


"Ayo Dish kita dansa bareng.." Ajak Adit sambil menarik Disha pergi.


"Sabar bro,hidup itu kadang gak sesuai sama keinginan loe.." Ucap Amdi menepuk pundak Dicky pelan.


Andi terlihat pendiam malam ini tidak seperti biasanya yang selalu berisik dan kadang membuat tingkah konyol.


"Gue pergi dulu.." Ucap Dicky sambil meninggalkan Tania dan Andi berdua.


Di lantai dansa Adit dan Disha berdansa mengikuti irama musik yang mengalun,mereka saling berpandangan seolah tersihir oleh mata masing-masing.


"Kenapa gue selalu deg-degan setiap dekat sama Dimas seperti kayak gue sama Adit dulu?..." Pikir Disha dalam hati.


"Gue kangen banget sama lo Dish,seandainya kita bisa kayak gini terus.." Gumam Adit dalam hati.


Dicky memperhatikan mereka yang tengah berdansa dengan begitu indahnya,dia tersenyum kecut saat melihat Disha dan Adit saling berpandangan.


Selesai dansa Disha pergi ke toilet sendirian,saat keluar toilet berdiri Dicky yang tengah menunggunya dengan tenang sambil berdiri.


"Dish,gue mau ngomong sama loe bentar bisa?..." Tanya Dicky.


"Gak bisa ****,gue masih ada urusan.." Tolak Disha berjalan meninggalkan Dicky.


"Segitu bencikah loe sama gue Dish?.." Tanya Dicky tersenyum kecut yang membuat Disha berbalik mengahadapnya.


"Maksud lo apa **** ngomong gitu?.." Tanya Disha.


"Setiap gue pengen deketin loe,loe selalu ngehindar dari gue,apa salah kalau gue pengen dekat sama los Dish?.." Tanya Dicky.


"Maaf ****,gue gak bermaksud buat ngehindarin loe,gue cuma gak mau ngasih loe harapan apapun dan malah ngerusak pertemanan kita.." Jawab Disha pelan.


Dicky mengangguk mengerti mendengar ucapan Disha,dia tahu Disha akan berkata begitu padanya.


"Iya gue tahu Dish,maaf kalau selama ini gue selalu bikin loe gak nyaman,risih dan bahkan gak suka kalau lagi dekat sama gue,tapi jangan ngehindar dan jauhin gue karena gue sayang sama loe Dish.." Ucap Dicky dan berbalik meninggalkan Disha.


Disha menatap punggung Dicky yang semakin menjauh,dia merasa bersalah karena sudah membuat Dicky bersedih,tapi apa dayanya dia sendiri tidak bisa membohongi hatinya.


Tania yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari dalam toilet tersenyum dan langsung keluar menemui Disha yang sedang menatap ke arah dimana Dicky menghilang.


"Loe seharusnya gak ngomong gitu Dish.." Ucap Tania.


"Emangnya kenapa Tan,gue gak mungkin bohongin diri gue sendiri dan ngasih harapan palsu sama dia..." Ucap Disha sambil menoleh kearah Tania dan menatapnya bingung.


Tania tersenyum saat Disha menatapnya seperti itu,wajar saja jika Disha tidak mengerti maksud dari ucapannya.


"Gue tahu Dish,gue juga gak minta loe buat nerima cinta Dicky,gue tahu kok loe emang gak suka sama dia,tapi seenggaknya loe bisa ngasih Dicky kesempatan buat deket sama loe Dish,dia cuma butuh perhatian dari seseorang,loe gak perlu jadi pacarnya tapi gue harap loe bisa ngehibur dia sebagai sahabat Dish.."Ucap Tania sambil tersenyum sendu.


"Maksudnya gimana Tan,gue gak ngerti sumpah emang dia sekesepian itu sampai butuh perhatian dari orang lain?..." Tanya Disha penasaran.


"Dicky itu gak pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya sendiri Dish,ibunya sibuk sendiri dengan belanja,arisan dan berkumpul dengan teman-temannya, sedangkan ayahnya bahkan pulang saja sudah jarang Dish,ayah Dicky hanya memberikan kemewahan dan perintah agar Dicky melakukan semua keinginannya dia gak pernah peduli dengan apa yang di inginkan dan di butuhkan Dicky,apalagi kalau orang tua Dicky bertemu mereka akan bertengkar hebat bahkan mereka tidak menutupinya di depan Dicky, bahkan itu terjadi sejak dia kecil Dish.." Ucap Tania menceritakan kisah tentang keluarga Dicky.


Disha tertegun di tempatnya dia tidak menyangka jika Dicky mengalami semua itu,di depannya Dicky terlihat ceria dan biasa saja.


"Kok bisa,padahal selama ini dia gak pernah kelihatan murung dia juga gak pernah cerita apa-apa.."Ucap Disha tak percaya.


"Itulah Dicky,dia gak pernah mau nunjukin dan menceritakan kesedihannya kepada siapapun termasuk sahabat-sahabatnya,gue juga gak bakalan tahu kalau gue bukan saudara Dicky yang juga tinggal tepat di depan rumahnya Dish.." Ucap Tania.


Dalam perjalanan pulang Adit memperhatikan Disha yang kelihatan murung seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Loe kenapa murung gitu,harusnya loe senang dong kita menang jadi Raja dan Ratu.." Ucap Adit berbasa-basi mencoba mencairkan suasana.


Disha berbalik dan tersenyum tipis,mereka memang menang tapi bukan itu yang sedang dia pikirkan melainkan kata-kata Tania tentang Dicky.


"Gue senang kok.." Jawab Disha pelan.


"Terus kenapa loe murung gitu Dish?.."Tanya Adit saat mereka baru saja sampai di depan rumah Disha.


"Gak kok,gue cuma lagi mikirin sesuatu Dim,yaudah ya gue masuk dulu, makasih Dim loe udah nganterin gue pulang dan hati-hati ya di jalannya.." Ucap Disha sambil melangkah keluar mobil dan langsung masuk menuju rumahnya tanpa berbalik lagi.


Adit memperhatikan Disha sampai gadis itu masuk ke dalam rumah,sepertinya dia harus membuka jati dirinya kepada Disha, keadaannya sudah tak menjamin keselamatan Disha meski dia menyamar.


Adit menjalankan mobilnya membelah jalanan kota yang padat.