
Malam itu Disha tengah terlelap tidur,dia meringkuk sambil memeluk gulingnya,Adit tersenyum sambil membelai rambut Disha pelan.
"Selamat ulang tahun Dish.."Ucapnya mencium kening kekasihmya itu dengan sayang.
"Ehemmm jangan kelamaan nyiumna entah khilaf .." Ucap Wira ayah Disha yang sedang berdiri di samping Adit.
"Kalau khilaf bisa nikah cepat dong Om.."Ucap Adit bercanda sambil tersenyum.
"Bisa saja kamu,kalau Mamanya dengar bisa di kebiri kamu,ayo kita keluar..." Ajak Wira sambil tersenyum.
Pagi harinya Disha terbangun,dia mengucek matanya pelan memperhatikan sekitar dan melihatke arah jam yang menunjukan Pukul 6.
Disha beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya,saat keluar kamar Disha melihat bunga di atas nakas yang tadi tidak dia perhatikan.
Disha mengambil bunga tersebut dan mencium bumga mawar yang terlihat masih segar ifu sambil tersenyum,dia mengambil kartu yang terselip di bunga tersebut dan membacanya.
Waktu berlalu begitu cepat ya Dish,aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kita tertawa bersama ,aku juga tidak ingat kapan kamu terakhir mengulas senyum manismu itu untukku,
aku merindukanmu Dish maafkan aku karena pergi tanpa pamit dan tanpa memberimu kabar.
Tapi aku ingin kamu tahu aku masih mencintaimu lagi dan lagi.
Disha kembali membaca tulisan tersebut berulang-ulang dia memastikan tulisan itu benar-benar tulisan Adit kekasihnya bukan orang lain.
Setelah yakin Disha berlari keluar kamar dan menuruni tangga menuju lantai bawah,disana terlihat orang tua beserta adiknya sedang tersenyum ke arahnya sambil memegang kue.
"Selamat ulang tahun sayang.."Ucap Marlina sambil tersenyum ke arah Disha.
Disha tidak menggubris perkataan ibunya dia langsung memegang pundak ibunya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ma,tolong kali ini jawab pertanyaan Disha dengan jujur.." Ucapnya sambil menangis.
"Jawab jujur apa sih Dish emang kapan Mama pernah bohong sama kamu coba"Ucap Marlina sambil melirik ke arah suaminya berpura-pura tidak tahu apa maksud Disha.
"Iya sayang ada apa sih pagi-pagi sudah nangis,ngomong sama Papa dan Mama emangnya kamu mau tanya apa sayang" Ucap Wira sambil membelai rambut Disha lembut.
"Kasih tahu aku siapa nulis surat dan ngasih bunga ke kamarku,ayo jawab Ma" Ucap Disha sambil terus menangis dan melepaskan pegangannya di pundak Marlina.
Disha terlihat kacau mata dan hidungnya sudah memerah karena terus-menerus menangis,dia benar-benar sudah tidak bisa berpikir jernih,yang dia inginkan hanya jawaban jujur dari orang tuanya.
"Aku Dish, aku yang menulis surat dan menaruh bunga di kamarmu" Ucap Adit memotong pembicaraan mereka.
Disha menoleh ke arah lelaki yang ternyata adalah Dimas, pria itu tersenyum padanya sambil berjalan menuju ke arah Disha.
"Dimas,ngapain kamu disini?" Tanya Disha bingung.
"Bukan Dimas Dish tapi Adit,aku Adit pacar kamu.." Ucapnya Adit sambil melepas kaca mata dan tahi lalat yang menempel di dagunya.
Disha terperangah melihat Adit di depan matanya tengah tersenyum padanya,Disha kembali menangis tidak menyangka jika selama ini Adit di dekatnya.
"Dasar pembohong,kenapa kamu gak jujur sama aku ,kenapa kamu ninggalin aku gitu aja tanpa kabar,dan juga kenapa harus nyamar kayak gini,apa kamu gak tahu aku kangen banget sama kamu Dit.." Ucap Disha sambil memukuli dada Adit dengan kedua tanganya.
"Maafin aku Dish,aku juga kangen bange sama kamu.." Ucap Adit menarik Disha ke dalam pelukannya.
"Sudah-sudah jangan kelamaan pelukannya,mending sekarang kita tutup lilin dulu,habis itu kita bisa mengobrol.." Ucap Marlina.
"Maafin Mama sama Papa Dish,kita gak maksud buat nyembunyiin semuanya dari kamu.." Ucap Marlina ke pada Disha.
Dia menceritakan semua kejadian saat dulu Disha baru bangun sampai perihal kedatangan Adit yang di sembunyikannya dia juga memberitahu jika yang memberikan kado kemarin adalah Adit.
"Jadi yang ngasih kado waktu itu juga Adit Ma?..." Tanya Disha.
"Iya itu aku Dish.." Ucap Adit sambil tersenyum.
"Yasudah kalian kalau mau kengen-kangenan boleh tapi awas jangan sampai kalian ngapa-ngapain Tante gak suka ya.." Ucap Marlina memperingatkan Adit.
"Coel dikit boleh kok Dit asal jangan kebablasan.." Ucap Wira sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Adit.
"Ish Papa apain sih ngajarin anak kok nggak bener.." Ucap Marlina sambil mencubit pinggang suaminya itu.
"Bercanda Ma,yaudah kita pergi yuk jangan gangguin mereka terus.." Ucap Wira mengajak istrinya pergi.
Setelah orang tuanya pergi Disha langsung memeluk Adit,dia masih tidak percaya jika sekarang Adit sudah kembali kepadanya.
"Aku senang dech akhirnya kita bareng lagi,aku gak mau ya kamu ninggalin aku lagi Dit.." Ucap Disha sambil melepaskan pelukannya dan memandang kearah Adit.
"Iya sayang aku janji gak bakalan ninggalin kamu lagi.." Ucap Adit lembut.
"Oh iya mana kado ulang tahun aku Dit.." Ucap Disha sambil menengadahkan tangannya meminta kado.
"Emang dengan kembalinya aku kesisi kamu gak cukup buat di jadiin kado?.." Tanya Adit sambil tersenyum.
"Cukup kok Dit cukup banget malah,kamu itu kado terindah buat aku Dit gak ada yang bisa gantiin kamu,aku cinta kamu Dit.." Ucap Disha.
" Aku juga cinta kamu Dish,kemarin,besok dan selamanya cuma kamu yang bakal aku cintai.." Ucap Adit.
Merekapun berciuman melepaskan rasa rindu di dada setelah lama berpisah seolah hari ini adalah hari terakhir mereka hidup.
Adit dan Disha tidak bisa melawan takdir yang membuat mereka harus berpisah,tapi mereka juga tidak bisa membohongi perasaan mereka yang masih sama seperti dulu bahkan mungkin bertambah.
Mereka tidak tahu esok akan bagaimana,yang jelas hari ini adalah hari bahagia mereka dan itu sudah cukup mereka hanya ingin menikmati waktu mereka berdua tanpa memikirkan hal lain.
"Dit kita jalan yuk,udah lama kita gak jalan bareng.." Ajak Disha saat mereka tengah duduk di ayunan.
"Mau kemana Dish,gak usahlah mending kita diem aja di rumah,aku masih kangen kamu.." Ucap Adit yang tentu saja membuat Disha tersipu malu.
"Ayolah Dit,inikan hari ulang tahun aku,aku pengen banget nonton dan jalan-jalan sama kamu,kemana kek aku gak perduli.." Rayu Disha manja.
"Baiklah tuan putri apa yang tidak bisa kuberikan jika kamu sudah merayuku begini.." Ucap Adit tersenyum sambil mengacak rambut Disha.
"Yaudah aku mau mandi terus siap-siap dulu ta Dit.." Ucap Disha sambil mencium pipi Adit dan berlari meninggalkan Adit.
Adit tersenyum melihat gadisnya tersipu malu karena sudah mencium pipinya,akhirnya dia bisa kembali kepada Disha,meski hati kecilnya merasa takut sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi pada mereka.
Di tempat lain di ruangan yang serba gelap itu,si pria misterius tengah memandangi photo Disha yang mengenakan gaun,photo itu adalah photo yang dia ambil saat acara kemarin di sekolah mereka.
"Kamu hidup atau mati aku tidak perduli,yang penting kamu menjadi milikku.." Ucap Si pria misterius sambil tersenyum yang terlihat sangat mengerikan.