My Love My Stalker

My Love My Stalker
Awal dari semuanya



flashback on


----------------------------------------------------------------


Seorang gadis duduk sendirian di bangku taman dekat sekolah, dia melihat sekitar mencari sosok yang di tunggunya.


" Kemana sih Dewa , katanya dia mau ketemu disini.." Ucap Disha


Tadi dia mendapat pesan dari Dewa jika ada hal penting yang ingin di bicarakan dan meminta Disha datang .


Namun anak itu belum kelihatan batang hidungnya padahal Disha sudah menunggu dari 10 menit yang lalu.


" Maaf, kelamaan ya nunggu nya .." ucap Dewa datang sambil membawa seikat bunga mawar , dia memberikan bunga tersebut kepada Disha yang menerimanya dengan bingung.


" Ada apa nih tiba-tiba loe ngasih gue bunga ?." tanya Disha bingung dia menatap Dewa yang terlihat malu-malu padanya.


"Gak ada apa-apa aku sengaja beli itu buat kamu Dish.." jawabnya tersenyum malu dia masih berdiri di depan Disha.


" Oh iya loe manggil gue kesini ada apa , katanya ada hal penting yang mau di bicarain , emang mau ngomong apa ?.."Disha tidak memperdulikan Dewa yang terlihat salah tingkah di hadapannya , dia hanya ingin segera pergi dari sini.


" Itu Dish anu...," ucap Dewa gugup


Disha diam menunggu Dewa menyelesaikan ucapannya meskipun dia sudah tidak betah berlama-lama disini , Adit pasti sudah menunggunya di parkiran sekolah.


"Ah harusnya tadi gue kasih tau Adit dulu kalau gue mau kesini ..," pikirnya menyalahkan dirinya karena tidak memberitahukan Adit kalau dia pergi kemari.


" Kamu mau gak jadi pacar aku Dish..?." tanya Dewa dia memberanikan diri menatap Disha menunggu reaksi gadis pujaan nya itu untuk merespon.


" Sorry gue gak bisa !!." ucap Disha dia beranjak berdiri dan meletakan bunga pemberian Dewa di bangku.


" kenapa.?" Dewa menatap Disha dengan lekat membuat Disha perlahan mundur karena merasa takut dengan reaksi Dewa yang seperti tidak terima.


" Gue gak suka sama lo.." Disha memberanikan diri untuk menjawab berusaha menutupi ketakutannya, dia melihat ke sekeliling yag terlihat sepi " Sial." pikirnya


" Kenapa loe gak suka gue , kurang gue apa Dish gue bisa ngasih semua yang loe mau apapun itu harusnya loe terima gue.." Ucap Dewa suaranya sedikit meninggi dia beringsut mendekati Disha yang otomatis mundur menghindari Dewa.


" Tetep aja gue gak bisa , gue nggak pernah suka sama loe Wa , gue udah punya orang yang gue suka dan itu bukan lo.." jawab Disha ketakutan


" Siapa hah , kasih tau gue siapa yang loe suka Dish , apa dia lebih hebat dari gue.?" tanya Dewa sambil mencengkram bahu Disha dengan kuat membuat Disha semakin ketakutan.


" Adit tolong gue Dit " ucapnya dalam hati.


Disha tidak menjawab pertanyaan Dewa dia berusaha melepaskan cengkeraman Dewa .


"Lepasin gue Wa , sakit.." ucap Disha mulai merasakan sakit di bahunya.


" Gak bisa Dish loe harus jadi milik gue gimanapun caranya ."


Dewa mendekatkan wajahnya ke arah Disha mencoba mencium gadis tersebut , Disha langsung memalingkan wajahnya dia menangis ketakutan.


Bugh


Adit datang langsung memukul Dewa yang terkapar di tanah dia milirik ke arah Disha yang menangis ketakutan sambil jongkok dan memeluk lututnya.


Melihat itu Adit kembali emosi dengan amarah yang menggebu dia kembali memukuli Dewa dengan brutal.


" Beraninya loe gangguin Disha , apa lo sudah bosan hidup sampai lo berani nyakitin dia.." Ucap adit sambil memukuli Dewa.


Dewa melawan dengan balas memukul adit dia mencoba menendang dan menonjok wajah Adit , darah segar langsung menetes di sudut bibirnya.


Adit kembali melawan kali ini dia tidak membiarkan Dewa membalas dia mengunci Dewa di bawahnya dan terus memukul.


Tangisan Disha semakin menjadi melihat mereka berkelahi , dia mencoba berteriak namun itu tak di dengar sama sekali oleh mereka berdua.


" Adit udah jangan berkelahi lagi. !! "


Dewa terlihat lemah dia tidak mampu melawan Adit yang terus-terusan memukulinya , darah menetes di mulut dan hidungnya mata dan wajahnya terlihat kemerahan karena lebam.


"Dit udah dia bisa mati Dit.." ucap Disha tak tega melihat Dewa yang sudah mengeluarkan banyak darah.


" Biarin orang kayak gini gak pantas buat hidup ,," balas Adit masih terus memukuli Dewa.


"Please Dit demi gue , gue gak mau lo kenapa-napa gue yakin kok Dewa gak bakal gangguin gue lagi.." ucap Disha pelan matanya menatap Adit sendu .


Adit menjatuhkan lengannya dan juga melepaskan cengkeramannya pada Dewa , dia beranjak bangun dan mundur membiarkan Dewa tergeletak di tanah.


" Sekali lagi loe ganggu Disha loe gak balal gue lepasin lagi.." ucap Adit mengancam.


Tanpa menunggu jawaban Adit menarik tangan Disha membawanya pergi meninggalkan Dewa terkapar di tanah.


" Sini muka loe biar gue obatin .." ucap Disha


Dia mengobati Adit dengan kapas dan betadine yang sudah di belinya tadi , Adit meringis kesakitan, rasa perih di mulutnya mulai terasa.


Setelah selesai mengobati Disha menyimpan obat dan kapas ke dalam tasnya .Saat ini mereka tengah berada di halte depan sekolah .


" Ayo pulang ." Ucap Adit tanpa berbasa-basi dan langsung menaiki motornya.


Disha menaiki jok belakang dalam dia dia tidak berani berkata , Adit terlihat marah padanya , ini salahnya karena dia tidak memberitahukan Adit saat menemui Dewa.


Motor mereka berjalan melewati jalanan yang ramai , Disha memperhatikan Adit dari belakang , dia mencoba mengucapkan sesuatu namun langsung mengurungkan niatnya dia takut akan memperkeruh suasana lebih baik dia diam menunggu Adit duluan bicara padanya.


" Turun " Ucap Adit sesampainya mereka di depamn rumah Disha.


Disha tidak beranjak turun dia malah memeluk Adit dari belakang.


" Maaf ." ucap Disha pelan dia menunduk menyembunyikan air matanya di balik punggung Adit.


Adit tidak bergeming dia diam saja tanpa berkata atau beranjak dari motornya membiarkan Disha terus menangis.


" Gue tau gue salah sama lo Dit , harusnya gue ngasih tau lo dulu sebelum ketemuan sama Dewa , please Dit maafin gue jangan diemin gue terus.." ucap Disha sambil terisak dia benar-benar menyesal jika saja dia memberitahu Adit , mungkin semuanya tidak akan terjadi.


" Ngapain loe ngasih tau gue , gue kan bukan siapa-siapa lo , lo gak harus laporan ke gue loe mau kemana atau ketemu sama siapa , gue gak perduli !.." ucap Adit sambil turun di atas motornya.


" Kalau lo gak perduli loe gak bakal nyelametin gue tadi Dit , jangan ngomong gitu ini , salah gue Dit.." ucap Disha kembali memeluk Adit dari belakang.


Adit melepaskan pelukan Disha dan berbalik memandang nya ,dia melihat mata Disha yang sembab dan terus menangis sambil menatap Adit.


" Loe tau kan gue gak mau loe kenapa-napa , gue gak mau liat loe terluka apalagi nangis kayak gini , gue sayang loe Dish.." ucap Adit memegang wajah Disha sambil menyeka air mata Disha.


" Gue juga Dit." ucap Disha mulai berhenti menangis .


Adit tersenyum mendengar pernyataan Disha " Tapi gue bukan sayang sama lo sebagai sahabat Dish , gue cinta sama lo sebagai cowok ke cewek bukan sahabat.." ucapnya pelan akhirnya dia mengungkapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam.


Adit menunduk dalam , setelah ini mungkin Disha tidak akan mau berteman dengannya lagi , setelah tahu perasaan Adit yang sebenarnya.


" Gue juga suka sama loe sebagai cewek ke cowok bukan sahabat Dit" ucap Disha tersenyum malu.


Adit mendongak menatap Disha mencari kebohongan di balik ucapanmya , tapi tidak Disha menatapnya dengan penuh keyakinan .


" I love you Dish ." ucap Adit sambil memeluk Disha dia terlihat sangat bahagia.


" I love you too Dit.." ucap Disha membalas pelukan Adit ia tak kalah bahagia seperti Adit.


Adit melepaskan pelukan mereka , dia menarik tengkuk Disha dan langsung menempelkan bibir mereka.


Disha mengerjap karena terkejut dia menutup matanya membiarkan Adit menciumnya.


Merasa di beri ijin Adit mulai ******* bibir Disha pelan dia mengecap bibir gadis tersebut yang terasa manis si mulutnya.


Disha membalas lumatan Adit , meski agak canggung dia mencoba menerima perlakuan Adit padanya, sensasi aneh mulai menjalari mereka berdua seiring dengan pagutan yang semakin intens.


" Dishaaaaa."


Adit dan Disha melepaskan pagutan mereka dan melihat ke arah sumber suara yang baru saja berteriak.


Marlina berdiri memandang mereka dengan mata melotot dia terlihat shock , air mengalir di selang yang sedang dia pegang.


Adit dan Disha saling berpandangan habis sudah kali ini mereka tidak akan lolos dengan mudah.


Tidak jauh dari mereka , seseorang menatap mereka dengan tajam tangannya terkepal merasa marah dengan apa yang dilihatnya barusan.