
Dengan tergesa Adit dan Dicky naik kelantai dua dimana mereka memdengar suara Rega dan Disha, mereka memeriksa setiap ruangan di lantai 2 mencari keberadan Rega dan Disha.
"Ga lo mau ngapain kita bisa mati disini !" Teriak Disha.
Namun Rega tak memperdulikan teriakan Disha sambil bersenandung senang dia menuangkan bensin di seluruh ruangan tersebut.
Brakkk
Adit dan Ducky mendobrak pintu dimana Disha dan Rega berada, dengan sigap Adit langsung melepaskan ikatan Disha sedangkan Dicky menghalangi Rega yang akan menyerang mereka.
"Berhenti Ga lo gak boleh kayak gini, apa lo gila hah?" Bentak Dicky.
"Diam lo **** ini bukan urusan lo, harusnya lo gak ikut campur!" Ucap Rega marah dilihatnya Disha yang sudah terbebas dari ikatannya.
"Brengsek balikin Disha" Umpat Rega.
Disha langsung memeluk Adit sambil menangis ketukan, Adit coba menenangkan Disha dan memeluknya erat.
"Tenang Dish, aku ada disini sekarang!" Ucap Adit sambil memeluk Disha erat.
Melihat itu Dicky tersenyum samar hatinya sedikit sakit melihat mereka berdua, dia sadar dia bukan siapa-siapa bagi Disha, tapi hatinya masih belum bisa melupakam gadis yang telah mencuri hatinya itu semenjak mereka pertama kali bertemu.
"Gue senang lihat lo bahagia sama pilihan lo Dish" Ucap Dicky dalam hati.
Brugg
Rega menyerang Dicky yang lengah, dengan emosi membawa dia juga menyerang Adit, perkelahian pun tak terelakan antara ketiga, sedangkan Disha hanya menangis di sudut ruangan.
"Lepasin gue brengsek!" Teriak Rega saat Adit dan Dicky memegang kedua tangannya.
Dengan sekuat tenaga Rega berhasil melepaskan diri dia langsung menendang Adit dan Dicky dan menarik Disha, Rega mengacungkan pisau sambil menarik Disha.
"Ga lepasin Disha jangan sakitin dia!" Ucap Adit sambil menatap Disha yang tengah menangis di pelukan Rega.
"Gak bisa Disha milik gue, gak ada siapapun yang bisa ngambil dia dari gue termasuk loe Dit" Ucap Rega sambil tersenyum senang.
"Ga lo gak bisa kayak gini, lepasin Disha sebelum semuanya terlambat!" Ucap Dicky memperingatkan.
"Terlambat apa maksud lo ****, haha gue tahu lo ngiri kan karena gak bisa dapetin Disha" Ucap Rega tersenyum sinis.
"Bukan itu maksud gue, sebaiknya loe tenang dulu kita bisa bicarain ini baik-baik lo gak akan pernah dapatin Disha dengan cara kayak gini Ga" Ucap Dicky mencoba menenangkan Rega.
"Bisa **** loe salah gue bisa milikin Disha!" Ucap Rega.
"Dengan cara apa maksud lo dengan cara lo nyulik dia kayak gini Ga, apa lo sadar apa yang lo lakuin itu salah hah?" Bentak Adit marah.
"Iya dengan ini gue bisa milikin Disha, gue gak peduli dia hidup atau mati gie bakal selalu sama dia" Ucap Rega sambil tertawa senang.
"Loe beneran udah gila Ga, gue gaj nyangka lo bisa senekad ini" Ucap Dicky tak sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Terserah lo mau bilang apa ****, iya gue gila gue gila karena cinta Disha" Ucap Rega.
"Lepasin gue Ga, gue gak suka sama lo!" Ucap Disha mencoba melepaskan diri.
"Diam Disha sayang jangan banyak gerak kalau gak pisau ini akan ngerusak wajah cantik lo, dan ya gue gak perduli lo suka gue atau gak selama lo jadi milik gue itu sudah cukup!" Ucap Rega sambil mengacungkan pisau ke leher Disha.
Tiba-tiba suara sirene polisi berbunyi, Rega langsung panik di tempatnya, Dicky dan Adit mengambil kesempatan itu untuk menyelamatkan Disha dan menendang Rega.
Sebelumnya etelah sampai di rumah lama Rega, Adit langsung menelepon polisi untuk meminta bantuan, Rega menatap mereka marah rencana kembali gagal karena Adit dan Dicky.
"Menyerahlah Ga sebelum semuanya terlambat, gue yakin loe masih ada kesempatan" Ucap Dicky.
"Gak bisa gue gak bakal nyerah, kalai gue gak bisa dapatin Disha lebih baik kita mati semua disini" Ucap Rega.
Rega tersenyum sambil mengeluarkan dan menyalakan korek api miliknya dan langsung melempar korek api tersebut kesembarang tempat, api langsung menjalar dengan cepat di ruangan yang sebelumnya sudah disiram bensin tersebut.
Adit, Disha dan Dicky langsung panik, dengan tergesa-gesa mereka langsung keluar ruangan untuk menyelamatkan diri, namun Rega mengejar mengahalangi mereka.
"Dit lo selamatin Disha dulu buar gue yang jagain Rega, entar gue nyusul" Ucap Dicky menghalangi Rega yang berusaha turun dari tangga.
"Minggir lo ****!" Ucap Rega sambil menusukan pisaunya berkali-kali ketubuh Dicky.
Disha langsung berteriak histeris melihat Dicky yang tersungkur berlumuran darah, nafasnya mulai tidak teratur Dicky memegang kaki Rega yang mencoba kabur, namun usahanya gagal Rega berhasil kabur dan meninggalkan mereka bertiga.
"**** lo harus bertahan **** ayo sini gue bantu kita keluar dari sini" Ucap Adit sambil memapah Dicky keluar rumah.
Dalam perjalanan keluar beberapa polisi masuk dan membantu mereka menyelamatkan diri.
Dorr
Suara tembakan terdengar dari arah luar, saat mereka keluar terlihat Rega sudah tergeletak tak berdaya, pria itu sudah meninggal dengan luka tembak di dadanya.
Dengan sigap para polisi langsung mengangkat tubuh Rega yang sudah tak berdaya itu dan membawanya ke dalam mobil.
Dicky langsung dibawa masuk kedalam mobil polisi dan membawanya menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan Disha memegang tangan Dicky sambil menangis.
Ini salahnya karena menyelamatkan dia Dicky jadi terluka seperti ini, Dicky menghapus air mata Disha sambil tersenyum samar, sesekali dia mengernyit merasakan lukanya yang terus mengeluarkan darah.
"Jangan nangis Dish, nanti cantik lo hilang kalau nangis terus" Hibur Dicky.
"Lo jangan banyak gerak **** nanti lukanya tambah parah, maaf ini semua gara-gara gue harusnya lo gak nyelamatin gue ****" Ucap Disha menyesal.
"Jangan bilang gitu Dish jangan bikin pengorbanan gue sia-sia ini bukan salah lo jangan nyalahin diri sendiri" Ucap Dicky menenangkan.
Dicky tersenyum lembut ke arah Disha, dia senang gadis pujaannya baik-baik saja dan selamat, Dicky menarik tangan Adit dan Disha dan menyatukan tangan mereka berdua.
"Jagain Disha Dit, gue cuma bisa jagain dia sampai sini selanjutnya tugas lo buat jagain dia!" Ucap Dicky.
"Lo gak boleh bilang gitu **** loe harus selamat sebentar lagi kita sampai rumah sakit, bertahanlah sebentar lagi ****" Ucap Adit dia tidak bisa membendung air matanya dan ikut menangis bersama Disha.
"Dish makasih ya selama ini lo udah jadi cewek yang bisa bikin hari-hari gue jadi berwarna, kalau lo gak ada mungkin gue gak akan pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta" Ucap Dicky sambil tersemyum nafasnya mulai tidak beraturan.
"**** lo kenapa Dicky, pliss bertahan jangan ninggalin gue!" Ucap Disha panik.
"Jagain Disha Dit, jagain dia buat gue karena selain lo gue juga sayang dia!" Ucap Dicky sambil tersenyum lemah.
Dengan perlahan mata Dicky mulai menutup sempurna, dia menghembuskan air matanya sambil tersenyum, setetes air mata keluar dari matanya yang tertutu.
"Dicky!" Teriak Disha histeris.
Adit memeluk Disha mencoba menengkan gadis pujaannya itu, ditatapnya wajah Dicky yang terlihat tenang.
Kini Dicky telah pergi meninggalkan mereka, meninggalkan sejuta kenangan yang tak mungkin dilupakan, di malam yang tenang itu gerimis mulai turun seolah ikut berduka atas kepergian Dicky.