
Adit memperhatikan Disha yang terlihat asyik sambil tertawa menonton pertunjukan Andi dan yang lain.
Adit tersenyum akhirnya dia bisa juga melihat tawa Disha yang sudah lama tak dilihatnya.
" Aku kangen kamu Dish.." Gumamnya pelan.
Disha menoleh merasa ada orang yang memperhatikannya , namun dia tidak bisa melihat siapapun yang mencurigakan semuanya terlihat asyik menonton peetunjukan Andi , Rega dan Dicky.
" Kenapa gue ngerasa akhir-akhir kayak ada yang ngikutin gue sih.." Gumamnya pelan dalam hati.
" Dish anterin gue ke toilet yuk , gue mau pipis nih.." Ajak Putri .
" Ayo gue juga mau ke toilet , Tan kita ketoilet dulu bentar ya.." Ucap Disha sambil melangkah pergi bersama Putri.
" Jangan lama-lama.." Ucap Tania dan kembali asyik menonton pertujukan sahabat-sahabatnya itu , dia bertepuk tangan saat pertunjukan usai bersama penonton yang lain , mereka terlihat sangat puas menonton pertunjukan Andi , Rega dan Dicky.
" Lagi , lagi , lagi .." Teriak para penonton meminta Andi dan yang lain kembali tampil.
" Maaf guys kalau mau lihat pertunjukan kita tunggu tahun depan.." Ucap Andi .
"Yahhh gak asyik.." teriak Kibo di ikuti yang lain.
" Berisik loe pada , pinggang gue udah sakit nih gara-gara joget barusan bisa encok gue kalau harus tampil lagi , sekarang ijinin gue buat ngomong sesuatu sama temen gue yaitu Tania , tolong naik ke atas panggung.." Ucap Andi sambil menatap Tania.
Tania mengerjap bingung,dia melihat orang-orang yang menatapnya penasaran akan apa yang akan di katakan Andi padanya.
" Tania ayo naik kesini, jangan bengong disitu.." Ucap Andi lagi.
" Ayo Tan naik , kalau nggak si Andi bisa ngamuk.." Ucap Kibo.
" Iya kak ayo naik kasihan temannya nungguin tuch..." Ucap salah seorang siswi yang dia tidak tahu siapa yang di angguki yang lain.
" Nih Bocah nyebelin mau ngapain sih pake manggil-manggil gue segala , bikin gue malu aja dilihatin orang banyak.." Sungut Tania dalam hati.
Dengan terpaksa tania melewati kerumunan para penonton dan naik le atas panggung menghampiri Andi yang sudah menunggu kedatangannya sambil tersenyum.
"Ada apa , cepetan ngomomg sebelum gue gampar loe pake manggil gue kesini , malu tahu gak.." Sungut Tania kesal.
Andi tersenyum mendengar ucapan Tania ,dia mengambil bunga dari Dicky yang sudah dia siapkan sebelum pertunjukan di mulai dan langsung berlutut di depan Tania.
" Loe ngapain Ndi ,ayo berdiri di lihatin orang banyak nih.." Ucap Tania bingung sambil menarik Andi untuk bangun.
Namun Andi tidak bergeming,dia masih saja berlutut di depan Tania , membuat gadia itu bingung harus melakukan apa.
Para penonton yang tadinya berisik mendadak hening mereka seolah menunggu apa yang akan di katakan Andi pada gadis itu.
" Tan , gue tahu gue suka banget bikin loe kesel , marah dan bahkan benci sama gue ,loe berhak buat ngerasa kayak gitu sama gue , gue emang ngeselin.." Ucap Andi memulai kata-katanya.
"Emang ,loe kemana aja baru sadar sekarang.." Ucap Tania kesal.
Para penonton tertawa mendengar percakapan mereka dan kembali hening saat Andi memulai kata-katanya lagi.
"Tapi loe tahu nggak..? kalau gue ngelakuin itu semua cuman buat loe bisa perhatiin gue , cuman buat bikin loe selalu dekat dan ingat gue terus , gue tahu gue salah tapi itu gue lakukan karena pengen bisa deket lo Tan , gue gak perduli meski itu cuma pada saat loe kesal aja sama gue." Ucap Andi sambil memegang sebelah tangan Tania.
Tania menatap Andi bingung, dia tidak tahu harus mengatakan apa ,otaknya seolah-olah kosong tidak mampu mencerna kata-kata yang ucapan Andi.
" Lihat tuch gebetan loe udah di tembak , loe sih kelamaan diam jadi kecolongan kan lo.." Ucap Andi kepada Iyas.
Mereka melihat ke arah Tania dan Andi di atas panggung , Iyas memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil.
"Gue sudah bilang kan sama loe ,percuma gue deketin juga kalau hatinya sudah nyangkut ke yang lain.." Ucap Iyas sendu.
" Sabar Yas , gue tahu kok gimana perasaan loe kayak gimana, maaf gue udah bikin loe galau lagi.." Ucap Adit merasa bersalah.
" Santai aja Dit , mungkin ini memang sudah jadi takdir gue, sebentar lagi gue akan lihat mereka bersatu, dan dengan perlahan gue harus mundur dan coba lupain dia.." Ucap Iyas.
" Jangan gitu dong Yas,katanya loe gak bakalan nyerah sebelum lihat janur kuning melengkung di rumah Tania, ayolah bro jangan patah semangat..." Ucap Adit memberi semangat kepada Iyas .
"Gue gak patah semangat Dit,gue cuma tahu diri aja gue tahu mana yang harus di kejar dan yang nggak ,dan sekarang mundur pelan-pelan adalah jalan terbaik buat gue,gue gak punya kesempatan disini Dit, loe harusnya lebih paham dari gue soal ini,mereka gak mungkin di pisahin kayak loe dan Disha.." Ucap Iyas panjang lebar sambil tersenyum.
Adit terdiam mencerna semua kata-kata yang di katakan Iyas, dia memang benar kalau mereka tidak mungkin di pisahkan satu sama lain seperti dirinya dan Disha dulu.
Yang membedakan sekarang adalah dia tidak bisa dekat dengan Disha untuk sementara tidak seperti dulu,sedangkan Andi dan Tania baru saja akan memulai kisah mereka berdua.
"Maaf Yas.." Ucap Adit menyesal karena telah memberikan saran yang dia sendiri tahu itu tidak akan berhasil.
" Minta maaf mulu lo kayak lebaran ,sudah kita lihat saja mereka, gue pengen dengar jawaban Tania.." Ucap Iyas sambil kembali fokus menonton Andi dan Tania.
Adit tersenyum sahabatnya itu memang selalu optimis,dia tidak pernah menunjukan kelemahannya di depan orang lain, seperti saat ini dia dengan tegarnya menonton orang yang dicintainya di tembak oleh orang lain.
"Gue salut sama loe Yas, kalau gue jadi loe mungkin gue udah nguburin diri gue sendiri.." Ucap Adit dalam hati dan ikut menonton ke arah panggung.
Di atas panggung Tania terdiam mendengar pernyataan dari Andi barusan , dia tidak menyangka jika Andi akan mengungkapkan perasaannya .
" Terima , terima , terima..." Ucap Para penonton memberi semngat.
Andi tersenyum mendengar teriakan dari para penonton yang mendukung dirinya,dia kembali menatap Tania , dia yakin sekali kalau gadis itu akan menerima cintanya.
"Jadi gimana loe mau kan jadi pacar gue.?.." Ucap Andi kembali bertanya.
Tania menggeleng ,matanya terlihat berkaca-kaca seolah menahan tangis.
" Sorry Ndi gue gak bisa..." Jawab Tania dan langsung berlali meninggalkan panggung.
Hening para penonton tidak berani bersuara sepatah katapun mereka seolah terkejut dengan jawaban dari Tania, mereka menatap Andi iba merasa kasihan pada lelaki yang baru saja di campakan itu.
Adit dan Iyas saling berpandangan , mereka sendiri bingung dengan apa yag terjadi barusan.
Di tempatnya Andi terduduk lemas , dia menunduk dalam seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan, Tania menolak cintanya bukan sebaliknya seperti yang dia harapkan.
"**** banget gue, seharusnya gue gak terlalu percaya diri kalau dia bakal nerima cinta gue.." Ucapnya dalam hati sambil tersenyum kecut.
" Loe ngapain duduk terus disitu , kejar Tania.." Ucap Rega membuyarkan lamunan Andi.
"Loe gak dengar dia sudah nolak gue tadi.." Ucap Andi menatap Rega kesal.
" Loe **** atau gimana sih hah, itu tandanya dia minta loe ngejar dia ,**** banget sih loe, cepat pergi sebelum gue lempar nih gitar ke muka loe.." Ucap Rega kesal dengan tingkah Andi yang hanya diam.
Mendengar itu Andi langsung menuruni panggung dan berlari mengejar Tania.