My Guard Is My Prince

My Guard Is My Prince
Bab 9 (Mencurigakan)



"Uh"


Riji keluar sambil mengucek mata dan memakai kembali topengnya, "Akhirnya kau bangun juga kucing bertopeng" ejek Volker, tiba-tiba Nona Sheeren memeluknya"Tenang Riji Kau tidak perlu sedih"


Elia sampai menganga, "K-kak Shee?"


"Elia? Halo aku hanya ingin menghibur nya, karena aku juga tahu rasanya" Shereen memeluk kembali Riji yang diam mematung.


"Terima kasih Nona Shee"


"panggil saja Kak Shee"


"Iya"


Riji membalas pelukannya, diam-diam Shereen memberinya sebuah kalung dan berbisik ,"Jaga ini baik- baik"


Siang hari, matahari sudah berada tepat di atas ubun-ubun.


Riji: Hey Kak, bisakah kau ambilkan aku minum? Hey!


ucap Riji pada Afra lewat pikiran seperti biasa, "Ah sudahlah"


Riji langsung menuju ke dapur ,dia melihat Rei yang baru saja memasak pai.


" Oh Halo pengawal Putri yang terhormat" ucap Rei sambil tersenyum.


Glek


Riji mengabaikannya sambil memalingkan wajahnya dan meneguk segelas air, "Ah diam kau pelayan" Rei menghela napas, "Hihihihi, haaah.."


"Nampaknya kau sangat lelah tuan?"


..."Berhenti menggangguku"...


^^^"Baiklah aku akan pergi tuan kucing"^^^


Ucap Rei sambil berlari kecil dan menaiki anak tangga dengan Riji yang tetap berdiri di depan pintu dapur dengan raut muka kesal.


"Ada apa?" Volker bertanya, ia terlihat kelelahan setelah memancing.


..."Tidak, aku hanya lelah, Kakak tidak mau mengambilkan ku air tadi."...


..."Oh iya ngomong-ngomong, apa kau lelah hanya duduk dan memancing 7 ekor ikan?"...


"Diam kau!"


"Kapan kau bilang padaku untuk mengambilkan air, aku bahkan tidak ingat itu?"


Aneh sekali, batin Riji.


Kemudian dia pergi keluar menara dan berjalan-jalan santai di bawah pepohonan nan rindang.


Gedebuk!!


Sesuatu yang cukup berisi jatuh di atasnya.


"Aw.. Apa yang?" Riji membuka mata dan melihat wajah Rei yang berada tepat di depannya.


"Rei..?"


Kretek


"HAAAAAAAAAAAA!!!" Dia menindihi batu yang membuat punggungnya terasa nyeri. "Astaga! Riji! Apa kau tidak apa-apa?"


Rei segera bangun dan membantu Riji berdiri.


Lalu Rei memapah Riji ke bawah pohon yang sangat besar dan rindang.


Disana Rei mengolesi Punggung Rihi dengan salep pereda nyeri.


"Sepertinya salep ini milik Putri.."


"..Kau mencuri darinya ya!?"


Tanpa banyak bicara Rei langsung memukul dengan keras kepala Riji.


"Enak saja kau bilang! Ini salep ku tau!? Yang biasa putri gunakan itu adalah milikku!" Ucap Rei sembari mengoleskan salep itu terus menerus.


Tiba-tiba saja...


"AAAAA"


Terdengar suara teriakan Elia dari menara.


Rei segera mengemasi kotak obatnya serta Riji segera memakai kembali baju dan topengnya yang tak sengaja terlepas karena pukulan Rei.


Kemudian mereka pergi ke menara dan melihat bahwa Volker, Rayva dan Ella sudah dalam keadaan tak sadarkan diri dan beberapa perabot kacau balau. Mereka curiga dengan apa yang sedang terjadi.


Di lantai atas mereka melihat, Afra yang sedang berusaha mematahkan sihir pelindung milik Zoya.


Dengan amarah yang memuncak Afra berkata, "DIMANA PUTRI ZEVAAAA!!" Seketika itu ia berubah wujud menjadi manusia harimau.


Dengan taring yang panjang, cakar tajam yang tersembunyi ia kembali berkata, "Katakan padaku.. DIMANA LAZEVA!!!! "


Sihir pelindung itu patah,membuat Zoya, Elia dan Sheeren membentur dinding menara yang sangat kokoh itu hingga tak sadarkan diri.


"Hey Lazeva! Dimana kau?! Keluarlah Lazeva!!"


"Kalau tidak, akan ku patahkan tangan wanita ini" Ucap si Mahluk sembari memelintir tangan Zoya.


"Tid-" Riji langsung membungkamnya.


"Diamlah, aku akan mengalihkan perhatiannya kau larilah.."


"Tapi..."


"Sudah tiada waktu lagi!"


Riji berlari dan segera menyelamatkan Zoya, dan memindahkannya ke tempat yang aman.


"Cih! Prajurit rendahan! Kemari kau!!!"


Mahluk itu mulai menuju tangga turun, Namun tiba-tiba seekor kucing mengeong di dekat jendela menara mengalihkan perhatiannya.


"Oooh, Hai kucing manis." Seketika kucing itu melompat dan menyakar wajah mahluk itu.


"AAAAA KUCING SIALAN!! AKAN KE HABISI KAU!!"


Kucing itu menghampiri Rei, "Ayo , kita harus pergi" Ucapnya.


"Ayo cepat!!" Rei mulai menuruni tangga bersama Riji di bahunya.


Ia berlari sampai ke tengah hutan, lalu mereka kebingungan.


"Apa yang harus kita lakukan?"


Tiba-tiba Riji melompat, "Jaguar Mode!" dan dia berubah menjadi kucing besar, Jaguar.


Ia pun mulai lubang besar.


"Hey, bila kau ingin buang air bukan di sini tempatnya"


"Enak saja kau bilang begitu.."


Setelah beberapa saat, Riji menyuruh Rei mengumpulkan kayu dan beberapa dedaunan kering di sekitarnya.


Namun Riji bingung, umpan apa yang tepat untuk memancing mahluk itu, sontak dari kejauhan pohon-pohon terlihat roboh satu-persatu menandakan mahluk itu masih mencari Rei dan Riji.


"Ayo cepat!"


"Diamlah, Atau kau saja yang jadi umpannya? Hah!"


"Eh.."


Mereka berdua termenung sejenak.


"Wahai Angin, rubah lah diriku menjadi lebih kecil.. Felis!"


"Cahaya dalam diri, bantu aku sempurnakan wujud ku.. Teknik Bayangan Ganda! Double Dark!"


Riji, merubah bentuknya menjadi kucing abu-abu serta Rei menggandakan wujudnya yang membuat Riji terpaku.


"Woah! Kau bisa melakukannya.."


"Tentu saja"


"Baiklah kau sedia di tempatmu, aku akan memancing dia kemari"


Riji segera pergi mendatangi Mahluk itu.


Namun tak di sangka-sangka, mahluk itu sudah menyadari keberadaannya duluan.


Riji : Tidak, tidak, tidak!! Ini buruk!


Riji memutar balik arahnya. Berlari sangat cepat sehingga membuat mahluk itu tunggang langgang.


Menabraki pohon-pohon besar di sekitarnya.


Rei yang terkejut kenapa Riji berbalik dengan cepat segera berlari menjauh dari sana.


Krieekk..


"Hah, apa it-"


Dengan secepat kilat, Riji menyelamatkan Rei dari sebuah pohon yang roboh.


Namun, karena kecerobohannya topengnya tersangkut tan terlepas di sebuah ranting. Dan secara bersamaan tanpa sengaja menyebabkan mata kirinya terkena goresannya.


Kemudian ia segera berdiri,


"Ayo kita harus pergi!"dan menarik Rei sembari menahan sakit di mata kirinya itu.


Mereka berlari tanpa arah, sampai Riji tidak menyadari bahwa topengnya tertinggal.


Mahluk yang kehilangan arah itu mulai berjalan pelan sambil mengendus-endus tanah, sampai ia melihat topeng Riji yang tertinggal.


"Hahaha, akan lari kemana kau sekarang?"


Mahluk itu mempercepat larinya, hingga Riji dan Rei terlihat terengah-engah karena kesulitan kabur dari kejarannya.


"Ri-Riji.. "


"Tolong, tahan sebentar saja. Aku akan segera membantumu."


Ucap Riji sambil menggandeng tangan Rei.


Karena semakin cepat Mahluk itu pun melompat kedepan dan menghentikan langkah mereka berdua.


Mahluk itu pun mengaum hingga membuat debu dan tanah di sekitarnya bertebaran.


Riji hendak berbalik, namun Rei menahannya karena sudah tidak kuat lagi berjalan.


"Tolong, aku sudah lelah.." Sontak Rei pingsan, membuat Riji harus menggendongnya.


Riji berlari sekuat tenaga.


Riji : Ayolah kak! Dimana kau?


Sambil mengeratkan rahangnya dia terus berlari.


Sampai tiba-tiba mahluk itu jatuh terlentang di tanah.


"Ah, beraninya mahluk sepertimu meniru rupaku yang tampan ini!"


Afra datang dengan percaya diri, karena berhasil melumpuhkan mahluk itu.


Setelah pergi ke menara dan mengobati semua orang yang terluka, Afra menceritakan kejadian yang sebenarnya.


.....................


Malam, tepat saat bulan purnama bersinar.


"Haah, untung saja aku selamat."


".. Oh iya keadaan paman bagaimana ya?"


Afra yang berhasil melarikan diri dari istana karena serangan Kerajaan Rosacea yang brutal langsung bergegas menemui pamannya,Bryatta.


Namun bukannya malah menemukan pamannya, dia malah menemukan mahluk manusia harimau yang sedang memakan bangkai manusia.


Ia kira manusia yang dimakan adalah pamannya.


Kemudian Afra segera menyerang mahluk itu, namun mahluk itu berhasil membuatnya tak sadarkan diri.


Sebelum benar-benar tak sadarkan diri, Afra menyadari bahwa mahluk itu telah menggunakan wujudnya, lalu berubah menjadi harimau yang pergi ke menara.