My Guard Is My Prince

My Guard Is My Prince
Bab 5 (Penyamaran)



Keesokannya Riji dan Afra pergi berangkat ke kerajaan sebelah, Rosoidae.


Mereka berangkat menggunakan kuda.


"Baiklah, kau sudah merubah warna matamu menjadi kuning seperti saat kita datang kemari beberapa waktu lalu. Ah! Jangan lupa rambut mu, ganti saja dengan warna pirang." Ucap Afra yang mengelus rambut adiknya.


"Baiklah, memangnya kakak sudah merubah mata kakak menjadi merah?" Afra menganggukkan kepalanya, "Kita hampir sampai."


Setelah sampai di kerajaan mereka pergi ke penginapan terdekat untuk memesan kamar. Selepas itu, Rayva dan Rei menjemput mereka.


"Kita sudah sampai." Ucap Rayva.


Mereka berdua di bawa ke sebuah taman bunga di belakang rumah tinggal Rayva dan Ella itu.


"Oh! Halo Tuan Riji dan Tuan Afra!" Ucap Putri Zeva.


"Ah! Tu-tuan Putri tidak perlu sesopan itu pada kami" Ucap Riji.


"Benar Tuan putri"


Zeva tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, bukankah kalian akan memulai tugas pertama kalian hari ini?" Riji dan Afra mengangguk.


"Kalau begitu, aku ada seragam untuk Riji."


Zeva mengambil sebuah bingkisan.


"Untuk apa putri?" Tanya Riji setelah menerima bingkisan itu.


Zeva menjelaskan, kalau itu adalah pakaian pengawal pribadinya. Riji akan mulai menggunakan nya saat malam ini, di acara pertemuan Kerajaan Rosoidae dan Felicidae.


Riji dan Afra menelan ludah.


Mereka menjadi panik, bagaimana jika hari ini mereka di panggil kembali ke istana?


Itu pasti akan sangat menyulitkan Riji, di tambah Riji tidak bisa menguasai Teknik sihir bayangan ganda, yang membuat penggunanya memiliki bayangan yang sangat serupa dengannya bahkan dapat dirubah sesuai keinginan penggunaannya.


Dan benar saja, tiba-tiba ada sebuah portal dan keluarlah Panglima Bryatta.


"Pangeran Zafran,Anda harus..."


Dia membeku di tempat, karena dia melihat Riji dan Afra dalam penyamaran.


"Pangeran Zafran?" Tanya putri Zeva.


"Aaa... Pasti orang ini salah orang! Benar tuan?" Afra mulai gemetaran.


"Tidak, kau adalah pangeran Zafran dan.."


Riji: "Jangan gagalkan penyamaran ku, Paman!"


Panglima Bryatta pun berhenti bicara.


ia menelan ludah, "dan.. Kau harus kembali"


"Tunggu, siapakah engkau?" Ucap Zoya yang berada tak jauh dari sana.


Membuat Bryatta terpaku pada wajahnya yang sangat cantik.


"Aku adalah Panglima kedua kerajaan Felicidae."


"Untuk apa anda kemari?"


"Aku hanya ingin menjemput Pangeran Zafran saja nona, dan siapakah nama nona?" Tanyanya tapi Zoya malah mengacuhkannya


"Afra, jelaskan!" Ucapnya tegas.


Afra menelan ludahnya.


"B-baiklah, aku adalah pangeran Zafran,"


"Aku sedang dalam.. Eee.. Penyamaran? Yah, sebelum aku kemari aku dan Ri.."


Ucapannya terpotong, sekali lagi karena Riji.


"Em.. Maksudku Aku dan Audrij berada di hutan untuk latihan di alam bebas. Oh iya! Paman dimana Audrij?" Dia melempar pertanyaan kepada Bryatta.


"Dia ada di hutan, entah kemana?" Ucapnya berbohong.


Tapi putri Zeva masih ragu, bagaimana bisa Pangeran Zafran ada di sini.


Dan Zafran pun membuka penyamaran nya.


"Baiklah, jika Riji? Apa mata dan rambut mu itu juga bagian dari penyamaranmu?" Riji mengangguk.


Kemudian Zeva memberinya sebuah topeng.


"Ini pakailah topeng ini jika kau ingin pergi ke pertemuan itu tanpa harus di kenali."


Di saat Riji memakai topeng itu secara bersamaan ia melepas penyamarannya.


Mata beserta rambutnya berubah drastis. Dari mata kuning menjadi coklat, dari rambut hitam pekat menjadi coklat sedikit terang.


"Maaf Panglima, apa kau bisa merahasiakan ini?"


"Tentu yang mulia, hamba akan ada di hutan bersama pangeran Audrij."


Setelah itu Afra membuka portal dan pergi bersama Bryatta.


"Hey Riji, apa hubunganmu dengan Pangeran Zafran dan Panglima nya, juga dengan Pangeran Audrij?" Tanya Zeva.


"Hamba hanya keponakan dari Panglima."


"Bukankah Panglima Bryatta adalah adik kandung Raja?" Zoya bertanya padanya.


"Hamba keponakan jauhnya, nona..?"


"Zoya" Ucap Rei.


"Nona Zoya"


"Oh, begitu. Tapi kau memanggil pangeran Zafran dengan kata kakak, apa ada hubung..." Ucapan Zoya terpotong oleh Rayva,


"Itu lumrah saja kan? Jikalau Pangeran Zafran dan Riji adalah sepupu jauh dan sudah akrab. Maka tidak ada salahnya."


"Aah iya itu benar!"


"Baiklah, Riji kau harus mempersiapkan dirimu nanti." Ucap Putri Zeva yang pergi dengan portal bersama Zoya dan Rei.


Sedangkan Rayva dan Riji memutuskan untuk berkeliling di tempat-tempat sekitar.


"Hey Riji, jika kau adalah sepupu jauh Pangeran Zafran berarti kau seorang bangsawan bukan?" Riji mengangguk,


"Oh iya kau bisa melepas topeng itu"


"Tidak tidak, topeng ini sangat berguna untukku."


"Berguna untuk apa?" Ucap Rei yang tiba-tiba datang entah dari mana.


"Rei! Bagaimana kau bisa kemari?" Tanya Riji padanya.


"Ya Rei, tapi dia tidak mau melepaskannya."


Rayva melipat tangannya.


"Kalau begitu mari kita pergi untuk makan pai!" Ucapnya pergi.


Setelah mendapat pai yang mereka inginkan, mereka pun pergi ke istana.


"Elia!" Teriaknya.


"Zev... Eh! Rei!"


Elia mengajak mereka ke taman pelayan, tempat di mana semua pelayan beristirahat saat gilirannya telah habis.


Tiba-tiba sebuah portal muncul di samping Riji.


Keluarlah sesosok perempuan dari sana, dia hampir terjatuh tapi untung saja Riji berhasil menangkapnya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Aku baik, Terima kasih Riji." Ucapnya


"Apa yang terjadi padamu Ella?" Tanya Rei.


Ella mulai bercerita.


Tadi pagi saat ia masih berada di rumah Bibi Izora Semua masih berjalan lancar seperti hari-hari biasanya.


Sampai ketika ia harus memetik apel dan mawar sendiri di kebun belakang rumah bibi Izora, tiba-tiba beberapa orang menyerangnya.


Karena panik ia bersembunyi di balik salah satu pohon apel dan membuka portal.


"Elia, ayo kita kesana." Ucap Rei.


"Tidak, untuk apa kalian kesana? Bagaimana jika kalian terluka?" Rayva khawatir.


"Jangan khawatir Ray, kita akan ke sana bersama-sama" Rei menepuk pundaknya.


"Portal sudah siap!"


Kemudian mereka semua masuk ke dalam portal.


"Cih, Sialan mereka sudah menyandera bibi-bibi itu." Riji hendak mengeluarkan sihirnya, tapi Rei mencegahnya.


"Ada apa Rei?"


"Sttts, diamlah. Aku punya rencana."


 


"Hey wanita gendut! Katakan dimana kau sembunyikan Putri terkutuk itu?" Ucap salah satu dari mereka.


"Siapa yang kau bicarakan?"Ucap Bibi Izora.


"Siapa lagi, kalau bukan Cyrinda Floella Padma? Dia adalah Putri dari Kerajaan lotus yang harus kami bunuh karena kami telah dibayar dengan sangat banyak dan harus membawa mayatnya." Salah satu dari mereka juga tak segan-segan menendang bibi itu.


Riji yang tak tahan langsung keluar dari tempat persembunyiannya.


"Riji bodoh.."


"Sudahlah Rei, mari kita tolong dia." Ucap Elia.


Elia dan Rei pun bergabung,"Wah wah wah, ada dua wanita cantik juga rupanya yah?"


Riji mengeluarkan pedangnya, dan berlari kearah mereka.


"Wooow, duel satu lawan satu saja kawan.."


Sementara Riji sedang bertarung dengan salah satu dari orang tak dikenal itu. Rayva dan Ella pergi mengendap-endap untuk menyelamatkan Bibi Izora


"Hey nona, lepas saja jubah bertudung mu itu, aku rasa kau akan lebih cantik."


"Ahahahahhahahahaha!" Tanpa kata-kata Rei melesat langsung ke arah orang asing itu. Dia menusuk perutnya.


"Be-beraninya kau!?" Orang itu pun mengayunkan pedangnya ke arah Rei, tapi itu berhasil dihindari dan Rei pun menusuk perutnya, lagi.


"Hay kau! Jika kau tak berhenti, kedua teman mu ini akan aku pastikan mati." Ucapnya menyodorkan pisau yang berlumuran darah.


Orang asing yang sedang berhadapan dengan Riji terkejut.


Bagaimana bisa?!


Melihat lawannya tengah lengah, Riji pun mengambil kesempatan untuk menyerangnya balik.


Setelah itu mereka diikat di sebuah pohon.


"Elia, sembuhkan mereka."


Elia pun mengarahkan sihir penyembuhnya pada mereka.


"Katakan padaku, siapa yang kalian icar itu? Dan beritau aku siapa yang membayar kalian untuk ini?" Ucap Rei dengan tatapan yang sangat tajam.


Mereka mengatakan bahwa ini adalah permintaan dari salah satu mentri di Kerajaan lotus. Mereka di bayar dengan harga yang sangat mahal, karena yang mereka bunuh bukanlah orang biasa. Dan mereka menunjuk Ella.


"Ella, kemarilah.." Ella pergi menghampirinya, "Kau juga Rayva"


"Kalian berdua jelaskan padaku. Ella apa kau memang putri kerajaan lotus itu? Dan Rayva, bagaimana kau bisa bertemu Ella?"


Ucap Rei lembut, "Aku bertemu Ella saat sedang melarikan diri dari kejaran ayahku.."


"Siapa itu?"


"Rei, kau tidak perlu tau akan hal itu.." Ucap Rayva enteng.


"Baik, jika kau tidak mau jujur..."


"Maka diamlah sekarang," Ucapnya yang hampir mengeluarkan pisau.


"Hei Ella, jujur saja. Kami tidak akan keberatan."


Setelah beberapa saat, Ella baru mau bercerita.


Dulu saat Ella lahir ke dunia tidak ada masalah apapun, hingga di umurnya yang ke 9 tahun. Tiba-tiba orang tuanya membeku menjadi es.


Orang-orang istana bilang ini karena ulahnya, gejolak sihir yang dialami Ella mungkin sangat besar. Belum lagi setiap Ella melewati suatu ruangan yang berisi air, maka air didalam sana akan membeku atau dingin.


Padahal tidak ada sihir yang terasa sama sekali. Lalu karena Kerajaan kekosongan pemerintahan,dirinya, Putri Cyrinda akan menggantikannya. Tetapi banyak orang yang tidak setuju, mereka bilang putri terlalu muda, atau terlalu berbahaya karena takut kekuatan sihirnya lepas begitu saja. Akhirnya Kakak dari ayahnya, Raja terdahulu. Memimpin kerajaan itu kembali.


Namun, kejadian tak terduga terus menerus datang kepada Ella. Hingga membuat satu Kerajaan kacau balau.


Hingga dia di asingkan ke sebuah tempat bersama seorang penyihir yang melatihnya.


Dan di tempat itulah Ella bertemu dengan Rayva.


"Yah, mungkin itu sebabnya. Tapi tidak mungkin suatu kejadian itu terjadi begitu saja."