
"Baik, ibu tadi pesan apa?"
"Sayur itu dan ini"
Riji memulai pekerjaannya dengan sangat baik, semua pesanan di lakukan dengan sangat cepat dan semakin lama gerobak paman itu penuh dengan para pelanggan.
Hingga saat Sore dagangan Paman tersebut habis ludes tak bersisa.
"Hei tuan, tiadakah sayur yang tersisa untuk saya?" Goda Rei padanya.
"Tidak, kau tidak dapat sayur hari ini" Balas Riji padanya.
Lalu si pedagang menghampirinya, "Wah, terimakasih banyak anak muda"
"Tidak, tidak apa paman. Saya hanya membantu yang saya bisa"
"Hahaha, ya ya ya."
".. Oh iya, ngomong-ngomong kalian ini pasangan muda ya?"
"Anu Paman, kami ini..."
"Ya, paman bisa berkata seperti itu" Ucap Riji memotong perkataan Rei.
"Ooh, bagaimana jika kau dan istri mu ini tinggal bersama keluarga ku. Kau akan membantuku dan istri mu itu akan membantu menggurus anak-anak ku nanti selagi istri ku bekerja, apa kau mau?Kau ke sini untuk mencari pekerjaan bukan?"
"Ya ya ya, tentu saja! Kami bisa melakukannya"
Rei: "Hey! Apa yang kau lakukan!! Enak saja kau bertindak tanpa persetujuan!"
Riji: "Tenanglah nona, aku tidak akan tidur bersamamu di kasur lagi"
~Sesampainya di rumah Paman
"Aku membenci mu" Ucap Rei yang terjaga di kursi kamarnya.
"Ya nona, kasur ini sangat empuk" Ujar Riji sambil berguling-guling kesana kemari di kasurnya.
Namun tiba-tiba,
"Rij-"
"Ada apa nona? Mengapa kau terdiam? Sudah tertidur ya?"
Curiga, Riji pun membuka matanya dan
"Rei? Hey!" Rei tidak ada di sana, bahkan pintu dan jendela tertutup, tidak....Riji melihat semacam bubuk yang berkilauan di kursi Rei,
"Bubuk verticilium" Ia segera membuka jendela dan pergi keluar dengan jurus barunya.
Ia mengikuti bebauan yang sama dengan bubuk itu dan rupanya,
"Lihat, tak sia-sia aku berpatroli."
"Waah, bagaimana kau menemukan gadis secantik ini ?"
"Ya, dengan kemampuan ku tentunya"
Riji :"Cih, bandit jamur lagi. Mengapa mereka ada di mana-mana sih?"
Riji pun segera menerobos jendela kaca itu,
PRANGG
"Siapa itu?"
"Siapa yang kurang ajar itu? Beraninya dia memecahkan kaca jendela kami!"
Ia juga tak lupa memecahkan lampu yang masih menyala di sana.
"Tidak!! Lampu kesayangan ku!!" Ucap salah satu bandit.
".. Hey, lihat ada 9 bayangan."
"Satu bayangan ini pasti bayanganku, karena dia sangat tampan"
Riji tersenyum, "Hey hey, tidakkah kalian di ajari? Bahwa mengambil barang yang bukan miliknya itu,mencuri?" sambil memainkan topengnya.
"Apa maksudmu? Kami ini bandit! Tentu saja kami mencuri!"
"Haah, bodoh" Ucap Riji lirih,
"Maksudku, mengapa kalian mengambil perempuan yang sudah bersuami, ha?"
"Pftt, kau suaminya? Ahahahahaha! Tidak mungkin. Gadis in-" Bandit itu menjadi cebol, "APA YANG TELAH KAU LAKUKAN! KEMBALIKAN CELUM!"
"Huufh"
"... Ya, memang apa yang bisa kulakukan jika itu memang dirinya yang asli?" Ucap Riji dengan tatapan dingin.
Satu persatu bandit itu mulai menyerangnya namun dengan mudah Riji mengalahkan mereka.
"Ugh, kau ini merepotkan." Ujar Riji sambil menghampiri Rei dan memberinya obat penawar.
"Tolong lepaskanlah kami,"
"Kami tidak akan berbuat jahat lagi deh"
Para bandit itu bertekuk lutut di hadapan Riji,
"Lebih baik, kalian kembalikan barang-barang curian kalian. Lagipula tidak akan ada yang menyadari jika yang mengembalikan barangnya itu adalah sang bandit sendiri, "
"Sudah sekarang berdirilah, ini kuberi 20 koin emas untuk kalian hidup, sementara."
Riji pun kembali menatapnya, "Lalu apa mau mu? Untung saja kau masih ku kasihani, apa perlu ku minta kembali koin-koin itu?" Dengan aura yang mencekam dan nada yang datar, ia membuat para bandit itu gemetaran.
"A-anu tuan, kami sangat berterimakasih."
"B-benar! Maafkan kesalahan teman kami yang tidak tau sopan santun ini"
"Hey, nona. Bangun lah"
Riji: Astaga! Anak ini, lebih baik aku segera membawanya pulang
Riji menggendong Rei, "Tuan! Sebentar" Cegah seorang dari mereka.
"Aduuh dimana ya?" Ucapnya sambil menggeledah laci tua yang ada di sampingnya.
"Nah! Ketemu! " bandit yang bernama Celum itu memberikannya sebuah jepit bunga, "Tolong berikan pada pasangan Anda ini, katakan ini sebagai permintaan maaf kami"
"Apa ini-"
"Tuan tenang saja, kami tidak mencurinya. Itu adalah pemberian leluhur kami, kami harus mencari orang yang pantas untuk memilikinya"
"Hah? Apa maksudmu?"
"Sudahlah tuan, bawa saja. Mungkin maksud Celum, nona ini mengingatkannya tentang Putri yang dulu di puji puji oleh leluhur kami dan Celum ingin nona memilikinya"
"Oh, terima kasih. Akan aku sampaikan padanya nanti"
...----------------...
Cahaya pagi telah menyambut Rei dengan hangat.
Ia pun bangun dengan segar bugar,
"Riji?"
Sebuah ketukan pintu mengagetkannya, "Nona?"
"Ah iya nyonya! Saya segera bersiap"
Setelah merapikan kamar dan dirinya Rei segera menghampiri Nyonya nya itu.
"Ya nyonya?"
"Aku mendengar dari pasanganmu kau sedang tak enak badan, "
"Saya baik-baik saja kok nyonya"
"Hmm, kalau begitu tolong urusi dua anak ku ini ya. Suamiku pasti akan cepat pulang."
"Adakah sesuatu yang lain?"
"Uhm, kurasa tidak ada. Sudah itu saja, jika kedua anakku mengajak bermain tolong jangan bermain terlalu jauh dari rumah"
"Baik nyonya"
"Jangan panggil aku begitu, panggil saja Bibi Lera"
Kemudian saat Bibi Lera sudah pergi, kedua anak itu menghampirinya.
Dua anak laki-laki kembar yang sangat imut itu mengajak Rei untuk bermain.
"Jangan terlalu jauh, ya?"
Seketika pandangan dua anak itu meredup mendengar perkataan Rei.
Rei panik, "E-eh? Apa ada yang salah?"
"Perkataan itu mengingatkan kami tentang mendiang ibu kami"
Rei: Tunggu, apa?
Langit jingga pun sudah mulai nampak guratannya.
Riji dan Paman Arley juga sudah pulang dari pekerjaannya.
"Kerjamu sangat bagus nak"
"Tidak, ini semua berkat Paman.. "
Riji menjatuhkan alat yang ia bawa,
"Rei?!" Dengan segera dia menghampiri Rei.
"Apa? Ada apa? Haaah??"
Rei membeku bersama dua anak kembar itu, belum lagi saat Riji melihatnya secara seksama ada bekas cambukan di tangannya.
Segera Riji melelehkan esnya, setelah itu mereka segera di bawa ke balai pengobatan terdekat.
Tabib mengatakan mereka baik-baik saja namun untuk Rei kondisinya terlalu kritis.
Paman Arley bertanya pada tabib kira-kira siapa yang melakukan ini?
Karena tabib itu bisa melihat masa lampau lantas sang tabib mengatakan, "Ada seorang wanita yang sedang memarahi dua anak itu namun nona ini melindunginya."
"Nona ini terkena cambuk di tangannya ini, belum lagi ia juga di maki-maki oleh wanita itu"
"Kami akan merawat mereka disini untuk sementara waktu, untuk biaya pengobatan cukup berikan obat herbal saja. Itu akan sangat membantu kami"
"Herbal apa saja yang anda butuhkan? Nona tabib" Ucap Riji