
Malam harinya, Istana Kerajaan Rosoidae terlihat ramai sekali.
Banyak para bangsawan dari Kerajaan Felicidae dan Rosoidae yang datang.
"Riji.. Apa kau sudah siap?" Ucap Elia di depan pintu kamarnya.
"I-iya!"
Riji terlihat tampan dengan seragam yang ia kenakan itu, di tambah dengan topeng yang di wajahnya itu. Benar-benar sangat menawan.
Elia pun mengantarnya ke depan kamar Putri Zeva.
"Nah, Jika kau butuh bantuan cari saja aku, atau Kak Sheeren atau juga Kak Zoya."
"B-baik!" Elia beranjak pergi dari sana, di saat yang bersamaan Putri Zeva muncul bersama dua pelayannya.
Tanpa sengaja mata mereka beradu pandang, "Ah! Maaf Tuan Putri!"
"Tidak apa-apa" Dan mereka mulai pergi ke acara pertemuan itu.
Di Aula utama, terlihat Raja Ivander sedang mengenalkan Putri Edell dan Pangeran Eric kepada Raja Doric ke 13,Raja Kerajaan Felicidae.
Di pertemuan itu semua mata tertuju pada Putri Zeva yang lewat di tengah kerumunan bersama Pengawal Pribadinya,Riji.
"Selamat malam, Saya Putri Lazeva." Ucap Putri menunduk hormat.
"Wah, ternyata anak bungsu mu sudah menjadi gadis ya? Hahahaha, yah.. Maaf ya Lazeva, Pangeranmu tidak datang hari ini,"
"Oh iya, siapa nama pengawal bertopeng mu ini?" Pelipis Riji mulai berkeringat, ia panik dan ketakutan. Tapi ketiga kakaknya malah melihatnya sembari tertawa kecil.
"H-hamba Aud... Maksud hamba, nama hamba Riji Yang Mulia" Riji menunduk hormat.
"Nama yang bagus, Riji."
"Haaah, seandainya saja Putra Bungsu ku ada di sini. Pasti kalian akan terpesona dengan ketampanannya" Ucap Ratu Kerajaan Felicidae.
"Memangnya dimana Audrij?" Tanya Ratu Rosoidae.
"Dia sedang berlatih pedang bersama adik iparku di alam bebas."
"Wah, aku rasa Eric mungkin harus menyertainya!"
Keadaan semakin ramai, "Hey Riji, kau terlihat sangat keren" Ucap Varren menahan tawanya.
"Hai Pangeran Varren!" Zeva mendatanginya.
"Oh halo! Putri Zeva" Ucapnya.
"Apa kau bisa jelaskan kenapa Pangeran Audrij harus pergi latihan ke alam bebas?"
"Mengapa Putri ingin tau? Apa Putri menyukainya?" Ucapnya melirik Riji.
Pipi Riji mulai memanas, "Jujur saja.. Iya"
Putri Zeva tersenyum.
Riji seakan terbang ke langit begitu saja, "Oh benarkah? Kalau begitu Putri harus tau segalanya tentangnya bukan? Dan Riji adalah seseorang yang paling dekat dengannya" Ucap Varren.
Di saat mereka bertiga berbincang-bincang, Putri Edell melihatnya dari kejauhan.
"Ada apa kak?" Pangeran Eric datang padanya.
"Tidak, bukan apa-apa." Ucapnya meninggalkan aula.
Acara makan malam tiba. Semua bangsawan pun mulai membicarakan tentang bagaimana caranya mengakhiri permusuhan ini? Jujur saja basa -basi Raja dan Ratu tadi hanya untuk memperlihatkan kepada para bangsawan lain, bahwa Raja dan Ratu mereka bisa berdamai dan kenapa mereka tidak?
Namun di tengah pembicaraan,tiba-tiba muncul sebuah penyerangan.
Yang menyebabkan seisi ruangan kacau balau seperti kapal pecah.
"Ikutlah bersama kami Tuan dan nyonya Doric" Ucap Raja Ivander.
"Baiklah" Para keluarga kerajaan bersembunyi di ruang bawah tanah, hanya saja Putri Edell tidak di sana, ia bilang ia harus mengasah sihirnya hari ini bersama Kak Shee.
Tiba-tiba, Kak Sheeren, Zoya dan Elia datang melalui portal.
"Gawat! Yang mulia sepertinya Kerajaan sudah terkepung oleh para pemberontak!" Ucap Zoya.
Zeva melihat ke arah Sheeran yang dipapah oleh Elia.
"Kak Shee! Apa yang terjadi?"
"Senior Sheeren terkena serangan,"
Raja pun memerintahkan prajurit terkuatnya untuk mengantarkan Keluarga kerajaan Felicidae pulang.Karena merasa bersalah, dia sampai bersujud minta maaf, karena hal ini terjadi di saat yang tidak tepat, pasti banyak bangsawan yang kehilangan nyawa karena pemberontakan ini.
"Hey! Ivander. Tidak perlu sampai begitu! Kita ini akan tetap menjadi teman! Lakukan saja tugasmu!"
Setelah Keluarga kerajaan Felicidae di antarkan pulang lewat lorong rahasia, Riji mencoba mengecek keadaan mereka.
"Hey, nak!" Ucap Raja.
"Kau adalah pengawal baru Zeva yang ke-duapuluh ya?"
"Ke-duapuluh? Apa maksud yang mulia?"
"Putri ku, Zeva punya ini punya banyak sekali Pengawal pribadi. Namun entah karena apa beberapa dari mereka selalu gugur saat pertama kali mengemban tugas"
"Semoga itu tidak terjadi padamu, dan kau bisa melindungi putri kami! Oleh karena itu, Sheeren! Zoya! Elia! Dan kau! Cepat bawa Putri Zeva pergi dari sini! Sebelum terlambat! Karena Istana ini sudah tidak selamat, aku tau mereka mengincar Zeva!"
"Jadi segera pergi! Dan selamatkan beberapa rakyat yang tersisa! Jauhkan mereka dari istana agar mereka tidak terkena sihir ledakanku!"
"Para Pengawal dan pelayan! Kalian harus pergi dari sini mengikuti Penyihir Sheeren, jika kalian mau selamat!" Ucap Raja yang mengeluarkan pedang, serta Ratu yang mulai mengaktifkan sihirnya.
"Tidak! Beberapa dari kami akan disini bersama Yang Mulia, sebagai bentuk penghormatan karena telah membuat kami menjadi manusia yang lebih baik!" Ucap salah satu prajurit.
Sementara Raja dan Ratu bertarung melawan semua pemberontak, Putri Zeva dan seluruh pelayannya pergi ke sebuah menara yang terletak sangat jauh dari istana, sampai mereka harus berkali-kali menggunakan portal sihir.
Disana mereka menyusun rencana yang matang bagaimana caranya putri dapat melarikan diri.
"Rayva! Ella! Kalian sudah memindahkan semua penduduk yang tersisa ke negeri sebrang?" Tanya Zoya.
"Sudah! Mereka juga di sambut baik oleh penduduk setempat."
Tiba-tiba suara dentuman keras, terdengar dari arah timur diikuti dengan terbakarnya beberapa pepohonan di samping tempat itu.
Apakah? Raja menggunakan sihir ledakannya?
...----------------...
"Kalian, para pelayan dan prajurit yang pemberani... Semoga dalam perjalanan kalian selamat." Ucap Putri Zeva.
Pagi, setelah Raja meledakkan seluruh Kerajaan dengan sihirnya beberapa pelayan dan prajurit yang tersisa mulai mengembara ke kerajaan-kerajaan sebelah untuk kembali membangun semua hal yang telah di tinggalkan di tanah kelahiran mereka.
"Kak Zoya!" Ucap Elia berlari menghampiri mereka.
"Pemimpin para pemberontak itu ingin membinasakan tuan putri Zeva!" Ucap Afra yang berada di belakang Elia,
"Apa!?" Kemudian Elia memberikan sebuah kertas yang bertinta darah.
Kertas itu bertuliskan,
Ketika bunga mawar baru mekar, maka bunga mawar yang telah lama akan tergantikan.Tapi jika bakal bunga itu bukan dari pohon yang sama, maka salah satu dari mereka harus binasa.
Lazeva, akan aku cari dirimu sampai ajal datang menjemput! Dan aku pastikan dirimu akan binasa dengan tanganku sendiri!
"Gawat! Apa yang harus kita lakukan?" Ucap Ella.
"Tunggu, dimana Rei?" Tanya Riji.
"Iya, itu benar"
"Sudahlah, Rayva.. Dia pasti juga sudah pergi bersama rombongan tadi." Ucap Elia.
"Atau jangan-jangan dia ..."
"SUDAH! DIAMLAH KALIAN!" Teriak Zoya yang sudah kesal dengan kebisingan mereka.
"Apa kalian tau hewan apa ini?" Ucap Sheeren sambil menunjukan hewan itu.
"Kupu-kupu? Memangnya kenapa Nona?" Tanya Afra.
"Lihat baik-baik bagian sayapnya."
Setelah di perhatikan lebih seksama, terdapat corak di kupu-kupu tersebut dan warna sayapnya berbeda.
"Ini Kupu-kupu dua warna, ini adalah segel terkuat yang pernah ada. Mulai hari ini kalian akan aku ajari beberapa sihir, Lalu setelah itu Zoya akan mengajari kalian cara bertarung."
Mereka semua menelan ludah, terutama Riji.
Dia memang tidak terlalu mahir dalam bertarung, terutama berpedang,dia hanya tau beberapa teknik saja. Itupun teknik yang diajarkan Rei.
Keesokan paginya, saat matahari belum muncul ke permukaan.
Sheeren dan Zoya mulai melatih mereka, termasuk putri Zeva.
Saat pelatihan sihir, ternyata hanya putri Zeva saja lah yang tidak bisa menguasainya.
Tapi hal itu malah berbanding terbalik dengan saat dia dilatih oleh Zoya. Zeva sangat piawai dalam mengayunkan pedang, memanah benda yang bergerak dan sebagainya.Di bawah pepohonan rindang mereka berteduh,"Oh, begitu..."
"Iya, kata kak Shee sihirku itu sedikit. Jadi, tidak terlalu bisa menggunakan mantra-mantra seperti kalian." Ucap Zeva setelah menjelaskan mengapa dia gagal dalam latihan sihir.
Tiba-tiba semak-semak di depan mereka bergoyang-goyang, dan munculah sesosok lelaki berambut kuning.
"Ah! Semak yang menyebalkan!"