
Cahaya pagi mulai bersinar hingga menembus tirai jendela kamar seorang Putri yang sedang tertidur lelap.
"Tuan Putri, ayo bangun.."
...----------------...
"Hey, Riji kenapa kau termenung begitu?"
Vamana menepuk pundak Riji yang tengah bersandar pada dinding, angin segar pun juga berhembus lembut saat itu.
Riji menoleh ke arah suara, "Oh.. Kak Vamana? Tidak, aku hanya bosan saja.."
"Apa kakak dan kau tidak kesana lagi?" Riji menggeleng.
"Bagaimana jika kau kesana lagi, sebagai seseorang yang sedang jalan-jalan.."
Riji melihat kakaknya itu dengan tatapan malas, "Memangnya kakak pikir pasarnya masih di gelar?"
Vamana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan adiknya itu dan dia mulai menjelaskan rencananya.
"Nah, bagaimana? Bukankah itu rencana yang hebat?" Ucap Vamana dengan percaya diri.
"Aku rasa..."
"Itu.."
"Buruk.." Seketika itu rasa sombong dan bangga dalam diri Vamana mulai pudar.
"Haaaah... Lalu bagaimana maumu?"
"Eum.. Akan aku bicarakan dengan Kak Afra."
Keesokan harinya Riji dan Afra mengunjungi kerajaan Rosaceae lagi. mereka pergi kesana sebagai pengunjung mereka bertemu Rayfa dan Ella yang membawa banyak keranjang penuh apel dan mawar yang melayang-layang karena mantra sihir. Riji dan Afra bertanya tentang misi apa yang di bicarakan oleh Ella kemarin, dengan semangat Ella memberi tahu semua nya. Sebuah misi yang berkaitan dengan kasus menghilangnya beberapa bunga mawar lentera di istana yang belum terpecahkan sejak 7 bulan yang lalu.
"Aaa.. jadi seperti itu? " ucap Afra, "bagaimana caranya kalian bisa bergabung dengan kelompok perdamaian itu? " tanya Riji.
"Waktu kami pertama datang kemari, kami tersesat dan Rei menolong kami."
"Rei membawa kami kesebuah rumah kosong, "
"Dia bilang rumah itu tempat biasanya mereka berdua beristirahat dan kami boleh menggunakannya untuk tinggal, lagipula rumah sebesar itu jika diisi 2 orang saja akan terasa sepi. Begitu kata Rei." Kata Ella sambil memperhatikan jalan.
"Benar, kemudian keesokan harinya Elia membuka portalnya dan kami dipertemukan dengan Putri Zeva"
"Kami diangkat menjadi pelayan pribadi Putri di luar istana." Rayva berhenti melanjutkan ceritanya.
Mereka pun sampai di sebuah rumah besar,
"Bibi! Ini apel dan mawar yang kau pesan!" Bibi itu menghampiri mereka dan memberikan Rayva uang, "Terima kasih banyak, oh iya ini aku beri 1 Pie yang baru masak, habiskan ya. Kalau tidak akan aku tuntut kalian."
E-eh? Bisa begitu ya?
Riji tersenyum kecut.
Lalu setelah itu mereka pergi ke rumah kosong itu dan bertemu Elia yang baru saja keluar dari portal cerminnya.
"Elia!" Ella menghampiri dan memeluknya.
"Ada apa?"
"Riji dan Afra, mereka bilang ingin ikut kelompok kita."
"Oh, kalau begitu ayo."
Mereka pun dibawa ke taman Kerajaan, melalui portal.
Terlihat di taman itu ada seorang perempuan berambut emas, memakai gaun warna merah muda yang sangat mewah dengan dua pelayan disampingnya.
"Yang Mulia Putri Zeva..." Ucap Elia membungkuk hormat, dan sang Putri menoleh.
"Oh.. Elia, siapa mereka?" Ucapnya.
Riji tepaku melihat kecantikan Putri Zeva, ia juga merasa bahwa Putri Zeva memiliki kemiripan dengan Rei.
Mata mereka sama-sama berwarna coklat, bentuk hidung,bibir dan wajah juga persis.
"Mereka berdua adalah orang yang ingin menjadi pengawal pribadi anda yang selanjutnya Putri" Ucap Elia memperkenalkan Riji dan Afra.
"Kalau begitu, aku akan segera mengganti gaun ini, dan akan memanggil dia."
Sementara Putri Zeva pergi beserta 2 pelayannya, Riji dan Afra saling bertukar pikiran.
Riji:Kak... Apa kakak masih ingat pertama kali datang kemari?
Afra: Ya, memangnya ada apa?
Riji: Kenapa kita tidak pernah tau kalau ada halaman seluas ini? Bukankah saat itu kita berkeliling istana?
Afra: Tanya saja pada Elia jangan padaku.
Beberapa saat kemudian datanglah Putri Zeva dan dua pelayannya bersama seorang pelayan berambut coklat, Rei.
Riji pun menutup mulutnya dan itu menarik perhatian Elia.
"Kenapa?"
"Ah.. Tidak tidak, hanya saja wajah mereka berdua sangat mirip." Mata Elia melebar seketika.
Siapa? Rei dan Putri Zeva?
B-bagaimana? B-bisa!?
Tidak! Elia kau harus fokus!
Elia menggelengkan kepalanya.
"Nah, kalau begini akan sedikit lebih mudah bergerak. Benarkan Kak Shee?"
"Tentu saja tuan putri." Ucap Sheeren tersenyum.
Putri pun menghampiri mereka berdua dan bertanya, mau jadi prajurit seperti apa mereka?
Afra bilang dia ingin menjadi prajurit pengintai dan dia juga menyarankan Riji untuk diangkat menjadi seorang pengawal pribadi Putri.
Putri pun menyutujuinya dengan Riji yang terpaksa menurut.
Kemudian Putri mengalungkan pada mereka sebuah kalung berliontin lonceng emas.
Kemudian mereka berdua di pulangkan untuk berkemas.
Di Istana Felicidae Riji sangat resah.
Apa yang harus ia katakan pada ibundanya ketika tahu bahwa Putra sulung dan bungsunya itu menjadi prajurit kerajaan lain? Itu pasti akan menjadi sebuah tragedi peperangan lagi, mengingat hubungan Kingdom Animalia dan Plantae yang belum terlalu damai.
Untung saja Afra punya ide cemerlang.
Karena mereka di beri waktu hingga 5 hari, keesokan harinya mereka membicarakan itu dengan Panglima Besar kedua, Bryatta. Adik dari Raja sekaligus Paman mereka.
Afra berkata bahwa hal ini untuk kedamaian Kingdom Animalia dan Plantae tapi sang Panglima masih ragu.
Kemudian Riji mengatakan bahwa beberapa orang di sana bukan hanya dari kingdom Plantae saja, bukan dari Kerajaan Rosoidae.
"Hm... Kalau begitu, akan aku bicarakan dengan Yang Mul--"
"Hei hei! Untuk apa paman membicarakan itu dengan ayah?" Riji angkat bicara.
"Bukankah ini rahasia kita bertiga?" Sambungnya,
"Aku rasa ini akan jadi berlima." Ucap Pangeran Varren yang tiba-tiba datang.
"Haaa! Sejak kapan kau ada di sini?" Ucap Afra yang terkejut karena kepala Vamana yang muncul dari atas.
"Sejak kalian semua berkumpul disini."
Setelah itu Vamana bertanya pada mereka, sesuatu apakah itu yang harus dirahasiakan dari Raja? Dan mengapa harus dirahasiakan?
Riji dan Afra saling menatap.
Afra ragu untuk berbohong, karena itu akan menambah sulit keadaan. Jadi dia memutuskan untuk mengatakan semua, mulai dari perjumpaan mereka dengan Rei sampai saat dia dan Riji diangkat menjadi prajurit.
Vamana dan Varren mendengarkan dengan seksama semua peristiwa yang sedang di ceritakan kakak tertuanya itu, "Jadi, oleh karena itu kakak meminta bantuan Panglima Bryatta?" Tanya Varren.
Afra merebahkan tubuhnya dan berkata, "Ya, karena aku dan Riji ingin pergi ke alam bebas dan menjalankan misi itu.." Sembari menutup mata dan merasakan angin lembut yang menyapu wajah tampannya itu.
"Lalu apa rencana kakak?" Tanya Riji yang juga ikut berbaring di sebelahnya.
"Bagaimana kalau kita akan mengambil latihan di alam bebas bersama Panglima, dan hidup di sana."
"Tapi Pangeran, Anda adalah Pangeran tertua. Anda pasti akan sibuk dengan urusan kerajaan, bagaimana itu bisa berhasil?"
"Benar juga ya..." Ucap Vamana.
"Yah, kalau begitu saat aku belum kembali akan aku serahkan pada Vamana dan Varren, lagipula aku bukan pengawal pribadi Putri.. Benarkan Riji?" Afra melihat ke arah adik bungsunya yang bagun.
"Ah, kakak ini menyebalkan sekali..."
Saat makan malam ,Riji pun memberanikan diri untuk mengatakan pada ayahnya tentang latihan bertahan hidup di alam bebas bersama Panglima. Saat menanyakan itu Raja dan Ratu saling pandang. Mengapa anaknya tiba-tiba ingin berlatih di alam liar? Raja mulai curiga pada Riji, pasalnya yang ia tau Riji tidak terlalu mahir dalam hal berpedang dan memanah, juga saat Riji kecil dia sangat takut dengan alam liar dan hanya bermain di sekitar istana bersama ketiga kakaknya itu.
"Mengapa kau tiba-tiba ingin berlatih di alam bebas? Bukankah dulu kau takut? Apa ada alasan dibalik itu?" Raja bertanya padanya, Riji menelan ludahnya. Matanya melebar, apa yang harus ku katakan, apakah kebenarannya? Tidak! Ayah tidak boleh tau akan hal ini.
"Ya.. Karena, aku tidak takut lagi, dan lagipula aku harus bisa menguasai teknik berpedang dan memanah kan?" ucapnya meyakinkan Ayahnya itu. Ratu khawatir, ia takut bila suaminya mengizinkan Riji pergi makan akan terjadi sesuatu.
"Tapi--"
"Ya, baiklah kalau begitu akan aku perbolehkan. Tetapi untuk Zafran, kau akan sering kembali ke istana untuk mengurus kerajaan,jadi Audrij kau harus bisa bertahan hidup mandiri ya." Baru saja Ratu hendak berbicara tapi Raja tidak sengaja memotongnya.
"Ah, maaf.. Ada apa sayang? Apa ada yang ingin kau bicarakan?" Ucap Raja, tapi Ratu menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kita akan mulai besok saja persiapannya ya?"