
Sringgg!!
Cahaya yang menyilaukan,setelah mereka membuka mata, empat sosok yang mereka kenal tiada kini ada dihadapannya.
"G-Gionel?"
"Putri Kr-Krysa?"
................
Clek!
Seketika lilin dan lampu tua menyala bersamaan.
"Selamat Datang di Labirin Kastil Tanpa Ruang!" Sontak mereka terkejut, darimana datangnya suara ini? Bahkan Rei dan Rayva tak mengenalinya.
"Ini bukan suara nyonya El" Gumam Rei.
"Disini,kalian akan dibimbing menuju arah takdir dan kebenaran kalian!"
Volker mengepal erat tangannya,seolah olah ini adalah hal yang ia sudah tunggu sekian lama.
"Tenang saja,Labirin Kastil ini tidak akan memakan waktu kalian."
"Tapi,jangan terlalu senang. Banyak Ujian dan Hal yang harus kalian korbankan"
"Apakah kalian siap untuk Ujian yang pertama?" Tanya suara itu.
"SIAP!" Mereka semua menjawab serentak.
"Baiklah,Ujian yang pertama..."
Pintu pertama terbuka,cahaya menyilaukan datang.
"Percaya i lah,apa yang kamu percayai" Ucap suara itu.
"Hah?? Apa maksudmu??" Volker kebingungan.
Setelah cahaya meredup mereka semua terkejut dengan apa yang ada di depan mereka.
"I-Ibu?" Ella memaku di bibir pintu sebuah ruangan yang hangat.
"Dia bukan ibu" Ucap sesosok perempuan yang mirip dengannya,sebut saja The Ella.
"Siapa kau?!" Ella mundur, kebingungan.
"Ugh! apa ini?? Ruangan penuh buku ini sangat berdebu!" Riji terbatuk-batuk melewati kumpulan buku yang berserakan dimana-mana.
"Bleh!"
Dia menepuk-nepuk celananya yang kotor karena debu.
"Wah,kukira kau akan tetap memakai topeng"
"Suara itu..." Batin Riji.
Dia terkejut! Dirinya ada dua? Bagaimana bisa?
"Rayva!Rayva!!!" Rei berteriak-teriak,
"Bisakah kau pelankan suaramu? Aku sedang mencoba untuk tetap bagus"
Sesosok perempuan bangsawan,tidak, sesosok Putri kerajaan tengah duduk di samping jendela. Rambut emasnya menjuntai.
"Kau.. Aku?"
JLEGARRRR!!
"Ini mudah untukku"
Elia berhasil melalui itu dengan mudah,karena is tau ia hanya tinggal menjadi 'orang lain' yang harus memburu dirinya sendiri.
Suara itu datang lagi,kali ini ia menyambut Elia dihamparan ladang bunga matahari.
Terlihat langit berwarna biru,cerah tanpa awan.
"Ujian kedua, Misteri Kotak Petaka"
"Apa apan itu?"
"Satu orang sudah melanjutkan ke ujian ke 2"
Zafran:Cih! Pasti itu Elia! Huh? Siapa kau?
"Aku adalah kau,tapi ilusi. Percayai lah apa yang kamu percayai"
"Baik,kau adalah diriku,kau akan membawaku ketempat penuh rahasia,begitu?"
WUSHHH!!!
Setelah angin itu mereda,Zafran menyadari bahwa ia sudah berpindah tempat.
Disana ada jalan menuju ruang bawah tanah.
Zafran mengikuti ilusi dirinya, panggil saja The Zaf.
The Zaf membuka pintu dan
SWOOSHH
Angin datang lagi,Zafran,ia sedang berada di sebuah perpustakaan akademi sihir tempo dulu.
"Hey Leon! Dimana Krysa?"
"Entahlah aku tidak melihatnya belakangan ini"
"ITU BUKAN IBU!"
Ella merasa ragu,apa ia harus menuruti perkataan ilusinya?
Ia bertanya pada The Ella,bila is menuruti perkataannya apa yang akan terjadi.
The Ella hanya tersenyum,anehnya,senyuman itu bukan senyuman manis belaka.
Rasanya... Hangat..
Ella maju selangkah,jika dia berhenti dan memeluk ibunya dia akan gagal.
"MAJULAH TERUS! KAU TAU IBU TIDAK AKAN MENGHALANGI MU UNTUK PERGI KE TEMPAT YANG KAU INGINKAN BUKAN???"
Ella,mematung terdiam.
Ia terlarut dalam pikirannya.
"PERCAYALAH! JIKA KAU MENYERANGNYA PUN IA TAK AKAN HANCUR!"
Ella terdiam,dia mengingat kejadian buruknya yang membekukan orang tuanya.
"Kumohon Ella, percayalah padaku..."
Dengan langkah gemetar,Ella maju menuju The Ella.
Tapi kakinya membeku saat berada di samping ilusi ibunya.
"Aku...T-Tidak bisa... Ber-gerak!!"
The Ella juga kebingungan,karena dasarnya Ella pengguna es.. Dan es hanya akan cair bila ada cahaya,panas dan api.
"Ulurkan tanganmu.." Ucap The Ella..
"Aku... Akan membekukan mu..Aku-"
"Itu tidak akan berpengaruh padaku, percayai lah apa yang kau percayai"
Ella pun menggapai tangan The Ella,dengan sekuat tenaga The Ella menarik Ella.
KRAKKK!!
Esnya mulai retak,tapi dengan mudah 'ibu' membekukannya kembali.
"Aku takut.. ini tidak akan berhasil..." Air mata Ella mulai turun.
Tiba-tiba sebuah tangan hangat mengusap air mata itu.
"I-Ibu? Ayah??"
Ella melihat ada Ayah dan Ibunya di samping The Ella.
The Ella mengusap lembut pipi Ella,"Ayo...Percayalah,kumohon"
Mendadak tubuh Ella menghangat,es di kakinya mulai mencair perlahan begitu juga dengan 'ibu'
\*\*KRATAK!
BRAK\*\*!!
"Ella!"
Dalam pelukan The Ella,Ella menangis sejadi-jadinya.
"Nak,kau berhasil.." Ucap sang ibu memeluk erat putrinya.
"Kejadian itu,bukanlah salah mu Ella." Sang Ayah menyahut.
Di sana Ella merasakan kehangatan keluarga setelah sekian lama membeku dalam ruangan dingin kesunyian.
"Hai kalian!" Putri Krysa melambaikan tangannya.
"Kalian sudah berjuang keras untuk mencapai tujuan ini" Sambung Rosae.
"Terimakasih,dan maaf kami sampaikan" Leo membungkuk hormat pada mereka.
"Apa? Aku tidak merindukan kalian sama sekali kok.." Ketus Gionel.
"Gio!" Krysa memukul kepalanya,"Ah,maaf maaf."
"..Yah,waktu kami tidak banyak hanya saja aku akan bilang.Penerus kami sama seperti kami,berasal dari keturunan dua teman kami dan akan menjadi seperti kami."
Semua terdiam,menganga. Sempat-sempatnya Gionel bercanda saat tengah genting begini.
"Sudah kurasa itu saja yang bisa ku bicarakan,karena kami sudah tidak akan bisa kembali lagi kemari..."
"..Terimakasih" Ucap 4 sosok itu bersamaan dan mulai menghilang.