
Panas matahari sudah mulai mereda, para pedagang siap untuk menyambut pelanggan sampai malam tiba.
"Kakak, mau sampai kapan di sini?" Tanya seorang adik pada kakaknya yang sedang berdagang.
"Sampai malam, lagipula kau bilang kekuatan sihir mu itu kacau karena sesuatu yang berasal dari sini." Ucap kakak padanya yang berbaring dalam Pedati
"Ah, aku lapar jika harus menunggu."
"Kalau begitu, ini. Kakak ada beberapa uang."
"Kakak memintanya dari ayah?"
"Enak saja kau bilang, beberapa senjata kita telah terbeli. Kalau aku memintanya dari ayah,apa kata ibu nanti?" Kata kakaknya yang sedang menghitung uang koin.
"Iya, iya.. Lalu apa yang bisa kita beli?" Dia keluar dari dalam pedati dan menghampiri kakaknya.
"Apa tidak ada penjual daging?"
Tiba-tiba ada bau yang menyengat hidung.
Semua orang yang mencium bau itu mulai pergi ke suatu pedati berwarna merah cerah dengan motif apel dan bunga mawar.
"Wah, pai ini!"
"Bukankah ini pai apel mawar itu?"
"Iya! Pasti enak ini!"
Dan kerumunan itu semakin banyak dan memenuhi tempat.
"Mari kita beli pai saja."
"Baiklah, biar aku saja yang beli."
"Tumben sekali kau ini." Ucap sang kakak melihat adiknya berlari pergi.
Karena banyaknya kerununan orang, dia harus mengantri sampai jadi yang terakhir.
"Haaah.. Haaaah... Painya satu tolong.."
"Oh, maaf tuan pai terakhir baru saja terjual. Dan beberapa pai ini adalah pesanan dari orang." Ucap sang penjual pai
"Ah, begitu ya... Baiklah tidak apa apa nyonya, Terima kasih." Riji hendak berbalik.
"Iya, saya sangat minta maaf tuan."
"Tidak apa-apa, oh iya apa nyonya masih di sini hingga pagi?" Tanyanya.
"Tidak, saya akan pergi membuat pai lagi di toko untuk penjualan selanjutnya."
"Oo.. Jadi seperti.." Tiba-tiba ada seorang gadis yang memakai tudung berwarna coklat muda datang menghampiri dengan membawa sebuah keranjang.
"Hai bibi Izora!"
"Oh, Rei!Akan aku ambilkan pesanan mu" Bibi Izora pun pergi dengan keranjang Rei di tangannya.
Pemuda itu memandangi Rei, karena merasa risih Rei menyapanya.
"Em.. Halo tuan"
"Ah ya? Nona."
"Rei.. Ini pai pesananmu." Ucap Bibi Izora memberikan keranjang yang penuh dengan 3 pai terakhir.
"Ah.. Jadi kau yang memesan ini?"
"Iya..."
"Baiklah," Gumam pemuda itu, "Aku pergi dulu ya nona"
Wajah pemuda itu nampak murung, Rei kasihan melihatnya.
Hingga pemuda itu pun mulai berjalan pergi.
"Bibi, pai ini tidak ada sihir atau apapun seperti biasanya kan?"
"Tidak, karena setelah ku lihat, bahannya habis."
"Baiklah, Terima kasih banyak bibi!"
Rei segera pergi menghampiri pemuda tadi.
"Hei tuan!" Pemuda itu berbalik badan.
"Ya?"
"Kelihatannya kau menginginkan pai ini, ini ku beri satu." Rei menyodorkan pai itu,
"Tidak, itu pai mu kau pasti juga membutuhkannya." Ucap pemuda itu.
"Aku benar-benar ingin memberikannya, tapi kalau kau tidak mau ya sudah..."
"E-eh? Tunggu!" Akhirnya pemuda itu mau.
Kemudian Rei berbalik dan memberikan satu pai padanya.
Karena merasa tidak enak pada Rei, pemuda itu memberikan 3 keping koin.
Tapi Rei menolaknya, kemudian pemuda itu membawa Rei ke tempat pedati nya.
Rei terkejut, panah yang selama ini ia cari-cari ternyata tersedia disana. Lalu pemuda itu berkata,
"Bagaimana kalau kita bertukar barang?"
"Apa maksudmu?"
"Kau menginginkan panah itu bukan?"
"Ya, tentu saja."
"Baiklah, jadi seperti ini."
Pemuda itu langsung mengambil anak panah dan busur yang di maksud Rei.
"Hey! Hey! Hey! Mau kau apakan ini?"
Pemuda itu menjelaskan tentang pertukaran barangnya dengan Rei setelah itu mereka mendatanginya.
"Ini panah mu nona."
"Terima kasih, dan ini pai mu tuan.." Tanpa sadar mereka tertawa secara bersamaan.
"Sebelumnya,aku ingin bertanya nona. Untuk apa panah itu?" Tanya Kakak pemuda itu.
"Oh, ini untuk berlatih. Kami berlatih memasak, membaca, bela diri, dan lain-lain saat sudah pukul 2 siang sampai jam 4 sore.Karena wanita disini perlu tahu itu semua,kami para wanita selalu dipandang rendah disini jadi kami berlatih untuk menjadi wanita yang terhormat" Jelas Rei,
"Oh iya, sebelumnya siapakah nama kalian?" Kakak beradik itu saling bertatapan.
"Namaku Afra nona, dan ini adikku Riji."Afra merangkul Riji.
"Iya, nona bisakah kami ikut bersama mu ke tempat pelatihan itu?"
"Tentu saja! Pelatihan itu baru saja berakhir dan hanya aku juga beberapa temanku yang tersisa disana." Ucap Rei.
Hari sudah sore, Rei menyuruh Riji dan Afra memesan kamar di penginapan terdekat.
"Kak, apa barang-barang itu akan aman?"
"Oh.."
Mereka pun segera masuk ke tempat pelatihan.
Pintu kayu pun terbuka, di sana terdapat pelataran yang luas dengan 2 orang perempuan duduk di undakan tangga.
"Siapa yang kau bawa Rei?Dan dimana painya?" Ucap gadis berambut keunguan.
"Mereka pedagang senjata, ini painya,ambilah"
"Dan lihatlah, mereka ternyata mempunyai busur dan panah ini." Rei mengeluarkan busur dan panah dari tas di balik jubahnya.
"Apa!? Ini kan!?"
Lalu seorang gadis berambut pirang menghampiri Afra dan Riji.
"Apa kalian dari negeri Kucing?"
"Iya nona, namaku Afra dan ini adik ku Riji."
Di tempat itu mereka berlatih pedang dan panah, selain itu mereka juga mempelajari banyak teknik Sihir dari Riji.
"Waah Riji sangat hebat dalam Sihir! Pasti dia bisa menjalankan misi dan membantu kita." Ucap Gadis berambut pirang.
"Ssstttsss!" Ucap Rei dan gadis lainnya.
"Misi apa?"
Riji dan Afra mulai penasaran.
Sayangnya Rei langsung menyuruh mereka untuk pergi ke penginapan.
"Ada apa dengan mereka berempat?"
"Entahlah kak, sudah ayo kita ke penginapan saja."
Sesampainya di penginapan, mereka terkejut.
Ternyata semua kamar telah penuh oleh para pendatang. Terpaksa mereka kembali ke tempat pelatihan.
"Kenapa kalian kembali kemari?" Ucap gadis berambut keunguan menghadang mereka.
"Penginapannya sudah penuh Rayva" Ucap Riji.
"Dan kami tidak tahu harus kemana."
"Haaaah kalian ini," Rayva menghela napasnya.
"Baiklah, aku akan bertanya pada Rei agar memperbolehkan kalian beristirahat disini,sebelum dia dan Elia pulang ke istana."
"Pulang ke istana?" Afra heran,
"Mereka seorang Putri Raja!?"
"Bukan, mereka itu pelayan pribadi putri.. Ah sudahlah aku akan meminta izin Rei sekarang."
Setelah itu Rayva datang dan mengantarkan mereka berdua ke kamar rehat.
Setelah itu terdengar bahwa Rayva dan Ella pergi, lalu menyisakan Rei dan Elia yang mendatangi kamar rehat untuk melihat keadaan mereka berdua.
"Mereka sudah tidur, ayo buka portal nya." Ucap Rei berbisik.
Namun,
"Wah wah.. Elia punya Sihir yang hebat juga..."
Ternyata mereka berpura-pura tertidur, mereka ingin tau apa yang disembunyikan oleh para gadis itu.
"Apa!?"
Rei dan Elia melihat ke belakang.
Di sana ada Riji dan Afra sedang tersenyum melihat dia dan Elia yang panik.
"Kami.. Bisa.. jelaskan kok" Ucap Rei gugup
"Kalau begitu sekarang jelaskan.." Ucap Afra dingin.
"Kau itu sangat dingin sekali pada gadis, tak jarang ku lihat gadis-gadis menjauhimu.." Elia berkata sambil menghampiri mereka dan menatap Afra.
Afra tidak Terima dan dia kembali membalas Elia.
"Ya ya, kau pun juga begitu nona. Perkataan mu sungguh menyakitkan, pantas sana tidak ada pria yang berani berbicara dengan mu"
"Sudahlah kalian, aku dan Elia harus pergi."
Rei berpamitan, tapi Riji mencegahnya dan menyuruhnya mengatakan yang sebenarnya.
"Baiklah, tapi saat kita sampai disana saja ya.."
Riji dam Afra kebingungan dengan perkataan Rei,"Gerobak kalian akan ku kembalikan ke tempat asalnya , kalian beritau saja di mana tempatnya." Ucap Elia.
Hutan perbatasan
Tiba-tiba suatu suara muncul di kepala Elia. "Apa itu di Hutan perbatasan?"
Riji menjawab "Iya, disana tempat yang bagus."
Tiba-tiba Rei batuk-batuk, dia bilang ia sesak nafas.
Elia panik, ia segera menulis surat untuk Rayva dan Ella.
Bahwa dia dan Rei tidak akan datang esok pagi.
"Maaf, tapi seminggu lagi kalian kembalilah kemari. Kami tidak bisa membawamu." Ucap Elia menjentikkan jarinya, dan saat itu Afra dan Riji kembali ke hutan perbatasan dengan pedatinya.
"Sebenarnya ada apa ya?"
"Sudahlah riji, kita akan pulang besok pagi"
Riji mengangguk.
...----------------...
"Putri batuk-batuk."
"Apa kita harus mengeceknya?"
"Jangan, pasti di sana sudah ada Rei dan Elia"
"Iya juga ya, pasti Senior Shee dan Zoya ada."
"Sudahlah ayo kita pergi.."
Suara para pelayan itu mulai samar-samar terdengar.
"Cepat, ganti pakaian mu! Lalu tidurlah, aku akan ada bersama Kak Shee dan Kak Zoya. Jadi panggil saja aku, saat kesusahan."
"Terima kasih banyak"
Lalu Elia pergi meninggalkannya.
“Dadaku, terasa sesak... Apa karena aku menggunakannya terlalu lama?”