
Setelah Riji dan Zeva berada di lantai paling bawah menara, mereka bertemu dengan para bandit lainnya juga Elia, Zoya dan Sheeren yang telah pulang.
Namun, karena tidak sengaja membuat Ohim pingsan. Riji harus berduel dengan Kehim, saudara kembar Ohim.
"Astaga! Barangnya banyak sekali!" Ucap Volker yang melihat sebuah kertas berisikan daftar barang belanjaan mereka.
"Ini adalah persediaan, jadi memang harus banyak kan?" Sahut Rayva yang berada di depannya, memandu jalan.
"Nah, kita sudah sampai!"
Mereka bertiga berdiri tepat di depan sebuah toko senjata.
Bahkan Volker sampai menganga melihat sebuah tombak keluaran terbaru dari toko itu.
"Kau menginginkannya?" Tanya Ella padanya.
"Iya, namun.."
"Tidak tidak, aku hanya..."
Volker terlihat kikuk, tiba-tiba Rayva berteriak pada mereka.
"Hey! Kemarilah! Bantu aku"
Saat mereka masuk kedalam, banyak sekali tombak yang sejenis dengan yang di idam-diamkan Volker,juga terdapat pedang dengan bilah yang sangat mengkilap dan tajam.
Mereka mendatangi Rayva, "Bantu aku membawanya, aku bisa kehabisan tenaga jika menggunakan semua sihirku."
"Baiklah" Volker, Rayva dan Ella berdiri berdampingan. Volker dan Rayva memegang pundak Ella untuk menyalurkan tenaga sihir mereka secara bersamaan.
"Cahaya agung berikan aku kekuatan mu! Wahai senjata ringankanlah beratmu"
Dari telapak tangan Ella muncul sebuah cahaya.
Setelah membuat senjata-senjata itu seringan bulu, mereka segera pergi untuk pulang.
"Ini uangnya"
"Terima kasih tuan! Datanglah lagi !"
Volker pun segera menyusul Rayva dan Ella yang sudah ada di luar toko.
"Tunggu sebentar, Ella!" Volker melesat kearahnya.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Volker yang menangkapnya.
"T-tidak aku baik-baik saja.." Dibelakangnya ada Rayva yang sedang memunguti senjata yang berserakan.
"Untung saja, mereka masih ringan. Aku rasa ini terlalu berat untukmu. Ah! Bagaimana kalau kita pergi makan sebentar?"
"Hore! Biar aku saja yang membelikannya!"
Ucap Ella pergi dengan 10 koin perak di tangannya.
"Waah, kelihatannya dia memang lapar."
"Yah, mungkin. Kalau begitu ini.." Ucap Rayva memasukkan beberapa senjata ke keranjang yang di bawa Volker.
"Hey Rayva, apa kau tidak merasa itu terlalu berat? Bahumu bisa sakit jika keranjangmu terisi penuh begitu. Sini! Berikan beberapa padaku!"
"Oh! Ini, Terima kasih" Mereka berdua pergi menghampiri Ella.
Ella memberi mereka roti lapis yang telah ia beli.
Setelah itu mereka pun pergi untuk pulang ke menara.
Sesampainya di menara mereka bertiga melihat Riji yang sudah memar-memar tubuhnya sedang duduk di kursi pojokan bersama Zeva yang tengah mengobatinya.
"Oh kalian sudah pulang?" Sheeren menghampiri mereka dan merapal mantra sihir,"Tanah agung nan kuat berikan aku kekuatanmu! Getaran bumi tunjukan jalanku!" Tiba-tiba dari bawah lantai terbuka sebuah ruang bawah tanah, "Nah, kalian letakan saja semua senjatanya di sana." Ucapnya kemudian pergi mendatangi gerombolan bandit yang sudah terikat tali itu.
"Oh.. Apa yang harus aku lakukan pada kalian yah?"
"Lepaskan kami saja! Aduh.. Di sini terasa sangat sesak!" Ucap Bandit pendek itu.
"Sayangnya tidak semudah itu, Cahaya bulan agung! Beri aku kuasamu! Segel Sihir Rembulan Ganda!"
Sheeren mengarahkan telapak tangannya kearah mereka, dan tiba-tiba mereka menjadi kurcaci kecil.
"Akan aku balas kalian!!" Ucap mereka dan pergi melarikan diri.
"Apa!? mereka sebenarnya kurcaci?"
"Benar Elia, mereka hanyalah kurcaci kecil dari Kerajaan Fungi yang sangat jauh dari Kerajaan Rosaceae ini"
"Apakah mereka mengalami kebangkitan sihir tingkat 4?" Tanya Zoya dari dapur yang sedang membuat adonan bersama Ella.
"Tidak, lebih tepatnya mereka mengalami Kejutan Sihir, dimana saat terjadi suatu peristiwa yang sangat mengejutkan dan peristiwa itu disertai dengan sihir maka Kejutan sihir akan terjadi secara acak,"
"Lihatlah bandit kembar yang sangat gendut tadi, mereka ternyata hanyalah bandit yang kurus. Sedangkan bandit yang terpendek, dia menjadi bandit yang sangat tinggi setelah ku tekan sihir nya."
"Permata Keinginan?" Ucap Riji dan Zeva bersamaan.
"Yap, benar sekali. Permata keinginan yang berada di Kerajaan Nhympalidae" Volker mulai bercerita tentang legenda dan kisah Permata keinginan.
"Oh.. Mereka berada di menara timur ya? Informasi yang sangat akurat kumbang kecil" Ucap seekor Harimau, kemudian dia pergi berlari.
Malam pun telah datang, Riji melihat Volker yang terduduk di jendela menara lantai kedua itu sedang melihat ke arah bulan purnama malam itu.
"Hey Volker, mengapa kau tidak tidur?"
"Aku tidak bisa, hari ini bulan purnama yang mengingatkan aku tentang kejadian yang sudah berlalu berabad-abad itu. Kejadian dimana Kerajaan Nhympalidae harus kehilangan Pangeran terhormatnya, Pangeran Gionel."
"Ah dongeng itu.." Ucap Riji dengan santai, tapi tiba-tiba Volker berjalan kearahnya dan mencengkram kerah bajunya.
"Dongeng kau bilang!?" Volker menarik kerah baju Riji hingga dia merasa tercekik.
"Ap-a... Ya-ng.. S-salah?"
Tiba-tiba Rayva keluar dari kamarnya dan melerai mereka.
Rayva memarahi mereka habis-habisan hingga membuat semua orang terbangun, kecuali Zeva.
"Astaga padahal hanya salah paham begitu.. Hoooam" Ucap Elia kembali naik ke lantai atas.
Mereka berdua pun di hukum untuk terjaga semalaman di luar.
"Ini semua salahmu Riji"
"Kau juga berisik, Volker!".
Mereka mulai beradu tinju.
Namun beberapa saat kemudian dari semak-semak terdengar eraman.
" Riji... "
"Diamlah kau Volker" Mereka mendekati semak itu.
Dan..
Ternyata tidak ada apa-apa, namun tiba-tiba mereka diserang dari belakang oleh seekor Harimau.
Volker sudah pingsan, sedangkan Riji berpura-pura mati untuk menyelamatkan diri.
"Astaga, hahahahahhahahaha kalian ini sungguh penakut yah?" Tawa Harimau itu.
Riji pun bangkit dan berusaha membangunkan Volker.
"Kak Afra?" Dan Harimau itu pun berubah bentuk menjadi seorang lelaki berbadan tinggi dan berambut coklat panjang.
"Ya?"
"Rambutmu menjadi panjang sekali.. Bagaimana bisa? Eh..." Rambut palsu itu terjatuh saat Riji menyentuhnya.
Melihat Volker yang belum juga terbangun, Riji pun menggunakan sihirnya.
Setelah Volker terbangun dia melihat Afra dengan tatapan kurang suka.
"Kenapa kau memakai rambut palsu dan pakaian seperti itu?" Tanya Volker
"Aku Zafran, kau bisa memanggilku Afra."
"Kau.. Pangeran Zafran?"
"Benar, dan dia sepupuku" Ucap Afra melihat ke arah Riji
"Oh Riji! Kau sepupunya? Apa kau seumuran dengan Pangeran Audrij?"
"Iya.. Kenapa?"
"Kau apa kau bisa sampaikan padanya, aku mengajaknya berduel nanti! Akan aku tunjukan bahwa aku tidak selemah dulu lagi!"
"Yayaya kau bisa--"
"Tidak, tidak bisa. Kerajaan Felicidae telah di serang pemberontak. Semua keluarga ku di culik,namun aku sempat menyelamatkan diri kemari." Ucap Afra.
"Apa!?" Volker dan Riji berdiri bersamaan,
"Tidak.. Ini, tidak mungkin terjadi..." Kaki Riji melemas, dia terhuyung ke kebelakang dan akhirnya pingsan.
Pagi harinya, dia berada di kursi panjang di dapur, tempat dia tidur biasanya.
"Ah begitu, pasti dia sangat sedih dan terpukul." Ucap Sheeren yang baru saja mendengar cerita dari Volker dan Afra.
Riji yang telah bangun pun ikut bergabung bersama mereka.