
Panas teriknya matahari mulai sampai di atas kepala, terlihat Riji sedang menggendong Rei yang tengah tertidur.
Mereka menuju kerajaan Malus Yang masih berkeluarga dengan Kerajaan Rosacea.
"Berhenti! Tunjukan identitas mu!" Ucap si penjaga gerbang, Riji pun mengeluarkan sebuah gulungan kertas, Kemudian si penjaga membiarkan mereka masuk.
Kota yang mereka datangi adalah kota terluar kerajaan, walau terluar, kota ini sangat damai dan sejahtera. Disini pula ada toko utama dari pai apel mawar yang sangat terkenal itu.
Selain toko pai, disana juga ada banyak sekali pedagang-pedagang makanan, senjata maupun pernak-pernik.
"Hey nona, bangun lah. Nampaknya kau sedang menjelajahi mimpi indah, ya?"
Sambil mengucek matanya Rei berkata, "Ugh, siapa?. Aku sudah bangun kok"
Setelah itu mereka segera mencari penginapan terdekat.
"Uh, permisi nona apa disini ada dua kamar kosong?"
"Maaf tuan, kamar yang kosong hanya tinggal satu."
Riji : Tunggu apa? Kau pasti bercanda! Mana bisa aku tidur bersama gadis ini.. Ugh, kakak akan mengejekku nanti.
Tapi, ya sudah deh mau bagaimana lagi.
Riji pun memesan kamar itu dan membawa Rei kesana.
Ia membiarkan Rei untuk beristirahat duluan karena dia ingin berlatih sebuah mantra jurus yang telah di ajarkan Sheren padanya sebelumnya.
Dia melepas topengnya lalu merapal mantra yang telah ia Ingat-ingat selama sehari penuh.
"Cahaya suci nan luhur beri aku izin untuk membuka cahaya diriku."
"Light Shadow."
Tiba-tiba tubuh Riji bersinar,ia merasakan tubuhnya ringan,tapi ia tak tau apa yang harus ia lakukan,tak hanya itu,Ia juga mendapat perisai sihir.. Benar! Perisai cahaya,hanya terlihat dan ada saat si pengguna mengaktifkan semua panca indera yang ia miliki pada tingkat maksimal.
"Ini akan sangat berguna,"
"Return!"
Teriakannya tanpa sengaja membangunkan Rei dari tidurnya.
Rei bertanya padanya, tentang sedang apa mereka disini.
"Kita akan menginap disini untuk beberapa hari, dan bila kau tak keberatan kita bisa berbagi tempat tidur ini."
"Apa kau gila!?" Teriak Rei
"Kita saja belum menikah, apa maksud mu berkata begitu?? "
Ucap Rei dengan wajah yang memerah.
Riji pun menyeringai dan mendekat padanya,
"Mengapa nona? Apa ada masalah dengan itu?"
Rei menyelimuti dirinya yang takut dan gemeteran itu, sementara Riji terus mendekat padanya.
"Hahahaha"
"Tidak tidak, aku hanya bercanda. Mana mungkin aku meniduri seorang gadis yang bukan istri ku,"
"Aku akan tidur di kursi sana, kau jangan khawatir"
Riji beranjak dari tempat tidur namun rasa takut Rei tidak bisa hilang begitu saja.
Pada saat tengah malam, Rei terjaga.Berkeringat dingin, ketakutan dan gemetaran tiada henti.
Riji terbangun dan menyadari ada sesuatu yang pastinya membuat Rei tidak bisa tidur tenang. Tidak mungkin itu terjadi karena candaannya tadi, pikirnya.
Riji perlahan-lahan mendekatinya, dan berkata "Hey, apa kau baik-baik saja?" Tanpa ia duga Rei memeluknya, "R-Riji" Ucap Rei sambil menangis.
"Hey hey! Ada apa??" Ujar Riji sambil mengelus elus rambut Rei, "Hey nona, katakan padaku. Mengapa kau menangis? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Iya, selain candaanmu yang mengerikan tadi, aku teringat akan kak Sheeren. Aku merindukannya,"
"Saat malam begini, dia akan menemani ku dan menceritakan tentang kisah legenda"
"Kalau begitu ini adalah giliranku untuk menemanimu"
Ucap Riji
"Baiklah, cerita apa yang mau kau dengar nona?"
"Hahaha, kau ini. Kau bilang kau tidak akan tidur di kasur ini"
"Hey, tapi nona. Bukannya kau ingin mendengar cerita sebelum tidur?" Rei mencubit pipinya sambil tertawa.
"Aduuh, kau ini mau mendengar cerita tidak?"
"Ahahaha, baik baik tuan. Akan aku dengarkan"
"Apa kau tau tentang sang Phoenix Flyo?"
"Ya, tapi aku jarang mendengar ceritanya" Ucap Rei penasaran, lalu Riji mulai bercerita.
"Dulu sekali, saat gedung Perpustakaan Kehidupan masih menjadi Perpustakaan biasa di Kota Kristal. Kota Pusat dari semua Kingdom di dunia ini. Ada salah seorang gadis dari Kerajaan Elang yang di anggap aneh oleh semua orang, dia bisa mengendalikan kekuatan cahaya, yang semestinya harus di kuasai oleh kingdom Plantae..."
Rei mendengarkan cerita itu dengan seksama. Saat melihat Riji dia teringat dengan sesosok anak laki-laki yang bermain bersamanya saat ada kunjungan dari Kerajaan lain.
Anak laki-laki itu menceritakan cerita yang sama dengan apa yang di ceritakan Riji.
Dia menceritakan tentang seorang Phoenix yang telah ia idolakan sejak lama, anak laki-laki itu bilang ia mendengar cerita sang Phoenix dari Ibunya.
Anak itu juga mempunyai sihir yang sangat hebat, bahkan Sheeren dan Zoya sampai terheran-heran dengannya. Saat Ayah datang bersama anggota Kerajaan lain itulah dia tau bahwa anak laki-laki adalah Pangeran Audrij dari Kerajaan Felicidae.
Saat kunjungan Kerajaan Felicidae tak berlangsung lancar, tepat saat ia mendengar teriakan Putri Edell dan sebuah pecahan kaca,tiba-tiba Audrij langsung di bawa pergi oleh kakaknya dan sejak saat itu Rei selalu menunggu kedatangannya.
Saat tengah menunggu Audrij yang diharap-harap datang kembali, ia mencari kesibukan dengan menjadi seorang pelayan.
Sebenarnya Elia tidak setuju dengan ini karena dia bisa terluka kapan saja, tapi dengan kerja kerasnya membantu Zoya dan Sheeren dia membuktikan bahwa dia bukan Putri biasa. Memang dia menjadi Putri yang dikucilkan di Akademi sihir dulu karena sama sekali tak punya sihir, namun itu tak bisa mematahkan semangatnya untuk mencapai kebebasan untuk melakukan apa yang dia inginkan.
Lagipula dia sudah keluar dari akademi, jadi daripada lelah menunggu kakaknya Eric yang sedang sibuk berlatih karena ingin mencapai tingkat tertinggi itu, dia pun mencoba mantra Bayangan Ganda, yang Sheeren bilang hanya butuh level terendah sihir.
Dalam percobaan pertama kali nya dia sudah bisa menguasainya.
Sheeren pun terkejut melihatnya, yang ia tahu untuk bisa menguasainya minimal dibutuhkan 6 bulan latihan.Bahhkan dirinya butuh 4 bulan untuk bisa menguasainya secara sempurna.
"Dan cerita pun berakhir.. "
"Hah?" Rei pun tersadar dari lamunannya, dengan Riji yang tertidur di sampingnya,lelap karena ceritanya sendiri.
"Hoaamm.."
Rei memeluknya seperti boneka,
Rei: Hawa Riji hangat
Batinnya sambil tersenyum dan tertidur.
Pagi yang cerah keesokan harinya, mereka segera mencari sebuah pekerjaan juga rumah, karena Riji lupa memesan kamar penginapan untuk satu minggu.
"Ini semua salah mu"
"Hah? Kenapa harus aku?"
"Ya, karena kau lupa kita jadi begini. Jika tidak kita pasti dapat tidur nanti malam"
"Hmmm" Riji tak menghiraukan Rei dan terus memandang kedepan.
Lalu perhatiannya tertuju pada seorang penjual sayur yang sedang kesusahan melayani para pelanggannya.
Riji berhenti berjalan dan langsung menghampiri si pedagang.
"Lalu apa kau tau?! Eh? "
"Riji???"
Teriak Rei yang baru menyadarinya.
"Hey paman, Apa aku boleh membantu?"
"Oh tentu saja nak, kebetulan paman butuh bantuan"