My Guard Is My Prince

My Guard Is My Prince
29.Yang terpilih.



"Nyonya El, dia siapa?" Tanya Eira menunjuk ke sebuah lukisan tua yang terpampang di dinding museum 'The bitter of Aegle Marmelos'


"Dia adalah seorang Perwira Hebat, yang menegakkan keadilan di negeri ini dahulu"


".. Dia bernama Tuan Zid, menurut cerita dia adalah salah satu dari Kelima Perwira Agung 'Panca Bang' dia menjadi seorang Perwira hebat dengan tameng saktinya ini" Ucap Nyonya El melihat ke arah benda yang tertutup selendang putih.


"Singkat cerita, di akhir sebuah pertarungan dia dikhianati oleh Perwira lainnya.."


 


"Ugh! Untuk mengalahkan raksasa ini, nampaknya perlu pengorbanan!!!" Ucap Zid.


Tanpa pikir panjang, keempat temannya langsung mendorong Zid kearah Raksasa itu. Zid tak mampu bergerak,dia di ikat kuat dengan kekuatan sihir Imperata milik temannya.


"Kau saja yang jadi persembahan untuk pengorbanan ini Zid!!" Teriak mereka.


Zid semakin panik Raksasa itu menyerang balas, dia mengeluarkan gelombang bencana yang dapat menghancurkan setengah daratan Poales.


"Air Suci! Tanah yang Subur! Beri aku kekuatan!!!"


"Tectona shield!"


WUSHHHH!!


Amukan Raksasa itu terbelah melewati Zid dan malah menghempaskan keempat temannya yang lain.


Debu bertebaran dimana-mana, Zid tak mampu melihat dimana monster tersebut berada.


Di tengah tebalnya asap debu itu sesosok perempuan cantik muncul.


"Terima kasih atas apa yang Tuan lakukan" Zid kebingungan, apa yang sudah ia lakukan? Hingga menarik gadis secantik bidadari ini?


"Saya adalah Raksasa yang menyerang Tuan tadi, maaf. Saya harusnya tidak menyerang Tuan sedari awal."


"Apa maksud Anda nona?" Tanya Zid. Sambil melepaskan ikatan ilalang dari Zid, gadis itu berkata "Keempat tekan Tuan adalah seorang penipu, mereka hampir saja membuat saya hilang kendali atas kekuatan saya, mereka memaksa saya meminum sebuah ramuan pembangkit amarah yang di ambil dari api Buwana Sewu"


"Astaga!!! Aku tidak menyangka, pengorbananku mendapatkan api Buwana Sewu itu.." Dengan lembut, gadis itu kembali berkata "Maaf Tuan, atas kesalahan saya. Apkah Tuan mau membimbing saya kejalan yang benar?" Mendengar itu Zid berlutut dan berkata "Sungguh nona, bila nona sudi menjadi istri saya, saya akan sudi untuk menuntun nona kejalan yang benar"


......................


 


"Nona Shee???"


"Oh! Aku menyegel sebagian diriku di dalam kalung ini"


"... Bagaimana kau membukanya?" Tanya Sheeren, "Bukan aku, kurasa" Riki menoleh pada Cen.


"Aha-ahaha.."


".. Ekhm.. Ya.. itu tidak lucu ya?"


"Kau tetap sama seperti dulu ya?" Ucap Sheeren.


"Senior.."


Kini Riji tau, Sheeren adalah junior dari Cen saat di Akademi dulu. Tak heran jika Sheeren tau banyak hal, dia sudah berumur panjang hampir menyamai Cen.


Kini kereta berhenti


"Mengapa keretanya berhenti?Bukankah kota yang akan kita tuju masih jauh?"


"Tidak, kita berhenti disini Riji bersama orang-orang yang lain. "


"Tapi Tuan Cen.. Ini adalah kota.."


"Ya.. Aku tau.."


"The Sporag Kota Trache... tempat ini sudah runtuh dan terasingkan.." Sahut Sheeren.


"Oh iya Riji, bagaimana kabar Zeva?"Riji terdiam, ia kebingungan...


" Maksudku Zoya.."


"Kak Zoya masih seperti dulu, tapi kurasa paman ku itu akan melamarnya"


...----------------...


Sedang enak menikmati pemandangan dari 'The Four Kings'


Tiba-tiba dataran terguncang hebat.


"Getaran apa ini??"


"CEPAT NYALAKAN PELINDUNG!!!!"


Semua orang berlarian kesan kemari, El juga ikut membantu orang-orang.


Namun anehnya, di pulau bagian Paradisaeidae itu tidak nampak gelombang apapun.


Curiga, El kembali ke pulau Poales.


Dan kecurigaannya benar, Kebangkitan Gelombang Bencana kembali.....