
Bencana menyerang Kerajaan Malus tepat di kota yang terluar. Bencana berbentuk kabut hitam pekat, beberapa orang kesatria keluar dari sana.
Dan mereka meneriaki nama "Pangeran Audrij!"
"Dimana Pangeran Audrij!"
"A-aku tidak tahu tuan.." Ucap seorang ibu-ibu paruh baya.
"Kau tidak memberi jawaban yang benar!" Sang ksatria itu mengayunkan pedangnya.
Trang.
"Silahkan pergi dari sini !" Ucap Rei yang menangkisnya dengan pedang miliknya.
"Woah,baru kali ini aku melihat seorang wanita jago pedang" Ucap sang ksatria melepas helm nya.
"K-kak Eric?" Gumam Rei.
"Waah,apa kau terpesona dengan ketampananku nona?"
"Ugh,tentu tidak.." Ucap Rei menyeringai.
Adu pedang di antara mereka pun tak terelakkan.
Rei selalu menangkis serangan yang diberikan Eric dengan sangat mudah.
Tak berselang lama Riji datang.
"REI! AYO PERGI!"
Swoosh!
Riji berubah menjadi wujud cheetahnya,dia melompat membuat debu berterbangan hingga menutupi pandangan Eric.
"Riji?"
"Semua sudah mengungsi,tinggal kita yang berada di kota ini"
"Kau melakukannya sendirian?"
"Tidak,aku memanggil nona Zoya."
Segera,setelah Rei naik ke pundaknya Riji pun bertanya.
"...Ngomong-ngomong ada apa memangnya? Mengapa kau seperti mengenal kesatria itu?"
"Dia... Pangeran Eric"
"Apa?"
......................
"Dimana Riji?" Ucap Zoya yang telah mempersiapkan mantra peledak di tempat itu.
"Apa aku harus menjemput mereka berdua?"
"Tidak Rayva,itu akan berbahaya..."
"...Bryatta beritahu keponakanmu agar dia pergi dengan portal,aku akan meledakkan semua lokasi di depan mataku ini secara menyeluruh."
Di saat Riji sedang berlari.
"Paman??" ia terhenti mendadak.
"Hey! Mengapa kau berhenti?! Lihat mereka sudah mulai mendekat!" Rei Panik melihat Eric dan pasukannya yg mendekat.
Tiba-tiba sebuah cahaya dari langit turun mengenai mereka. Di saat yang bersamaan Zoya mulai merapal mantra.
"Cahaya suci nan luhur beri aku izin untuk membuka cahaya diriku."
"Light Shadow." sebuah aura emas menyelimuti Riji dan Rei.
DUARRRR!
Seketika itu tanah disana mulai retak-retak dan hancur,dari itu keluar api yang membuat kesatria dan kabut asap tadi lenyap, tak lupa juga api tersebut melahap semua gedung apapun yang ada di sana.Riji tergeletak tepat didepan wilayah pengungsian,Arley berlari kearah mereka.
Setelah terlihat cahaya berbentuk bayangan kucing, Riji yang sudah kembali ke bentuk manusianya. Nampaknya mantra itu membutuhkan banyak energi.
Segera setelah ia bangun,Arley menghidangkan padanya ikan bakar.
"Waah, terimakasih paman"
"Ini saja yang bisa kulakukan untuk membalas semua budi baikmu itu dengan istrimu"
"Ah,dia bukan istriku. Kami hanya bertunangan saja sebenarnya.." Mendengar ucapan Riji,Arley terkejut sekaligus bingung.
"..Tapi,aku rasa kami akan membatalkannya. Aku juga tidak pernah menyentuhnya. Jadi dia masih suci,aku berani menjaminnya.."
"..Bila Rei sudah kusentuh maka aku akan tercebur ke dalam danau besok."
...----------------...
"Oh iya,ngomong-ngomong Zaf. Tempo hari kau berkata bahwa Akademi sihir itu berhenti tepat ketika kemunculan api biru?"
"Ya,tapi itu yang kedua. Api itu muncul ketika adikku ingin menyelamatkan seorang gadis. Aku tak tau mengapa itu bisa terjadi.."
"Tunggu,bukankah akademi itu ditutup setelah 8 tahun ya?" Ucap Jie.
"Enam Jie.." Zafra kukuh dengan pendapatnya.
"Delapan!"
"Enam!"
"DELAPAAAN!"
"ENAAM!"
"Oh! Delapan tahun! Karena adikmu,Audrij sudah sudah mempunyai satu teman! Aku ingat! Dia memberitahuku itu saat umurnya baru 6 tahunan."
"Benar! Akademi itu membuka persyaratan umur dari anak anak itu minimal 2 tahunan" Sahut Jie.
"Tidak mungkin! Aku sudah menghitungnya dengan tepat!"
"Kau itu harus menerimanya Zafran."
"Cih..."