
Semua persiapan telah selesai, kini tibalah saatnya keberangkatan Riji untuk latihan.
"Apa tidak apa-apa jika tidak menggunakan pengawal?"
"Kalau kau ingin anak bungsumu itu segera dewasa, maka biarlah dia mandiri." Ucap Raja pada Ratu yang masih khawatir.
"Lagi pula panglima sudah ada di sana kan?"
Ratu mengangguk-angguk.
Saat di perjalanan menuju ke alam bebas mereka harus melewati pintu keluar kerajaan yang terletak sangat jauh.
Mereka pergi dengan berkuda, hingga memancing perhatian warga setempat.
"Itu seperti panglima dan Pangeran Zafran.." Ucap seorang wanita yang berdiri di depan toko roti.
"Benar, dan yang satu lagi pasti pangeran Audrij"
"Mengapa mereka pergi dari istana?"
"Yang kudengar, mereka akan latihan bertahan hidup di alam bebas." Ucap si pemilik toko.
"Dari mana kau tau?"
"Tadi.." Mereka pun berkerumun di depan toko roti itu.
Zafran:"Hey Riji, kelihatannya kau mulai di bicarakan"
Audrij:"Aku rasa bukan aku saja.."
Setelah menempuh perjalanan yang panjang itu, mereka sampai di gerbang. Sesudah menyampaikan pesan mereka melanjutkan perjalanan ke alam bebas.
Mereka sampai di bagian hutan bebas, yakni hutan yang tidak menjadi bagian dari Kerajaan manapun dan hutan ini lah yang menjadi perbatasan sesungguhnya.
Karena hari sudah mulai gelap, mereka membangun perkemahan.
"Setidaknya, kita di sini akan membangun sebuah rumah kayu untuk berlindung besok." Ucap Panglima.
Keesokan harinya mereka mulai menebang beberapa pohon tua dan mulai membangun.
"Nah, sudah selesai!!"
"Kurasa hanya kerangkanya saja yang selesai, Paman" Ucap Afra yang melihat rumah kayu itu belum siap sepenuhnya.
"Ah! Kenapa kita tidak menggunakan sihir saja? Kan lebih mudah?" Kata Riji sembari memotong kayu dengan kapak yang Paman Bryatta bawa. Mendengar Riji yang terus saja berceloteh.Paman Bryatta berkata,
"Kalau begitu, namanya bukan bertahan hidup di alam bebas. Oh iya! Lagipula kalian ini menjadi prajurit kan? Maka oleh karena itu fisik dan mental kalian harus kuat." Sembari menepuk-nepuk otot tangannya.
"Haaaah... Benar juga.." Ucap Riji murung.
"Baiklah kalau begitu akan aku ajarkan kalian teknik berpedang besok! Jadi kita harus menyelesaikan rumah kayu ini secepatnya! Dan dengan sedikit sihir."
Kata Paman Bryatta.
"Cih" Riji merengut kesal, dia pun mengerahkan semua kekuatannya, entah itu sihirnya atau pun kekuatan fisiknya.
Ia membuat kapak yang masih berada di tangan Zafran menjadi kapak ajaib yang menebang pohon sesuai dengan keinginannya. Kemudian setelah pohon itu menjadi kayu gelondongan, Riji tak segan-segan untuk memotongnya menjadi dua bagian dan melemparkannya ke samping Zafran.
"Hey Zafran.."
"Apa dia benar-benar Audrij yang kukenal?" Ucap Paman Bryatta yang masih terkejut dengan kekuatan Riji yang sangat cepat itu.
"Ya, Entahlah.. Aku juga tidak pernah melihatnya sangat bersemangat seperti ini"
Matahari pun mulai terbenam, Riji pun sudah kewalahan dan akhirnya rumah kayu mereka selesai di bangun.
Untuk sementara Riji dan Afra bermalam di sana.
Keesokan harinya mereka di latih berpedang oleh Paman Bryatta dan dia di buat terkejut sekali lagi dengan Riji. Walau hanya menggunakan pedang kayu, Riji dengan mudah bisa mengalahkannya. Anehnya, kali ini Riji benar-benar tidak menggunakan sihirnya. Sama sekali.
"Kau tidak curang seperti dulu rupanya?" Ucap Paman Bryatta yang menahan pedang kayu Riji.
"Diamlah!" Bentak Riji,tiba-tiba entah kenapa pandangannya menjadi buram. Tanpa sadar,Riji membuka celah untuk Paman Bryatta menyerangnya dan mengalahkannya.
"Heh? Ada apa dengan mu Audrij?" Tanyanya kepada Riji yang terjatuh karena serangan yang dia berikan.
Riji memegang kepalanya, "A-aku tidak tau.. Tiba-tiba pandanganku menjadi buram dan kepalaku sangat sakit."
"Coba kau pakai sihir penyembuh mu itu" Usul Afra.
"Tidak, aku tidak bisa menggunakannya."
Tiba-tiba Riji memuntahkan darah dari mulutnya.
"Riji!" Ucap Afra.
"Riji? Bukankan namamu itu Audrij?"
"Ah, Paman tidak perlu tau itu untuk sekarang. Lebih baik Paman carikan ob--"
Ucapannya terpotong oleh adiknya,
"Tidak, tidak.. Aku rasa ini mulai membaik,"
"Akh! Walau sedikit demi sedikit." Riji memegangi perutnya.
"Uh.. Apa ada makanan?"
"Nah, oleh karena itu mari kita menjelajah hutan ini!"
Setelah pergi menyusuri hutan, mereka pulang dengan beberapa ikan hasil tangkapan di sungai dan beberapa buah buahan liar.
"Ah, aku tidak menyangka jika kau dan Zafran bisa memakai bentuk Jaguar, padahal kalian selalu memakai bentuk kucing biasa untuk berubah." Ucap paman Bryatta sambil membalik ikan yang di bakar di atas api yang mereka buat.
"Dan apa kalian tahu? Bila seseorang dari Kerajaan Filicidae dapat menguasai atau menggunakan banyak jenis bentuk perubahan spesies pasti dia adalah calon seorang penyihir yang hebat, ditambah lagi jika kau dapat menggunakan banyak senjata. Percayalah, itu adalah sebuah anugrah."
Riji menghela napas panjang, "Tidak, bagiku itu seperti kutukan, Paman."
Sembari menyantap ikan yang sudah masak Paman Bryatta berkata, "Kenapa? Apa yang salah dengan itu? Asalkan tidak kau gunakan untuk kejahatan, pasti akan baik-baik saja bukan?"
"Bukan seperti itu paman." Afra angkat bicara.
"Lantas?" Ucap Paman dengan mulut penuh daging ikan.
"Di umur 1 tahun Riji benar-benar tidak mempunyai sihir sedikit pun, tidak seperti bayi pada umumnya, yang punya sihir walau sangat sedikit."
Zafran meneguk sebotol air, "Tapi... Di umurnya yang ke 2 tahun, disertai dengan munculnya Mawar Api Biru. Tiba-tiba dia memiliki kekuatan sihir yang amat sangat dahsyat." Dan dia kembali melanjutkannya.
Paman Bryatta masih mencoba memahami, "Sedahsyat apa itu?"
"Apakah paman tau? Penyebab kematian dari 2 pelayan yang sedang memandikan ku 16 tahun yang lalu?"
"Ah! Kematian itu, yang menyebabkan kau juga pingsan? Aku rasa itu pasti ulah salah satu pelayan yang lain. Atau mungkin saja karena mereka sebelumnya teracuni dengan asap dari Mawar api biru yang berada di depan istana."
"Bukan, bukan itu penyebab utamanya." Ucap Zafran memakan ikannya.
"Lalu?"
"Akulah penyebab nya " Riji menunduk.
"Apa maksudmu itu? Tidak mungkin.. Gejolak sihir itu hanya bisa terjadi saat umurmu mencapai 8 tahun."
"Penyihir Kerajaan mengatakan bahwa Riji sudah mengeluarkan gejolak sihir pada umur 2 tahun, itu adalah sihir yang sangat besar untuk balita seumurannya."
"Jadi, kau takut mengerahkan semua kemampuanmu itu agar tidak membunuh orang tidak bersalah?" Riji mengangguk pelan, "Itu bagus, kau harus bisa mengendalikannya.. Kau adalah keponakan ku, tidak! Kalian adalah keponakan ku.. Keponakan yang sangat aku sayangi seperti anak sendiri."
Paman Bryatta merangkul mereka berdua.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal anak.. Paman belum punya istri sama sekali ya?" Ucap Riji yang membuat Pamannya itu tekejut, "Ahahahahahah Aaaaa!!"
Riji dan Afra tertawa mengejek, Pamannya pun menjewer telinga mereka.
"Aduh duh.. Maaf Paman, hahaha" Ucap Riji memegangi telinganya yang merah.
"Oh iya Paman ingin tau kenapa aku memanggil Audrij dengan nama Riji?" Pamannya mengangguk-angguk.
"Nah kami punya panggilan tersendiri ketika kami keluar dari istana, Riji adalah nama panggilan Audrij, Vam dan Ren adalah nama panggilan Vamana dan Varen, dan aku biasa di panggil Afra,"
"Apa Paman paham?"
"Yayaya, lebih baik kalian bersiap untuk keberangkatan kalian besok. Paman akan berada di sini untuk mencari dan meneliti beberapa tanaman untuk obat."
Riji tersenyum dan berdiri, "Baiklah ayo!"