
"Permisi, saya kemari untuk mencari jalan ke Kerajaan Rosoidae,untuk bertemu putri Zeva. " Ucapnya,menyibak rambutnya kebelakang.
"Ya, saya adalah putri Zeva." Zeva berdiri.
Lelaki itu melihat ini Zeva, dari atas hingga bawah.
"Hey, jangan melihat wanita seperti itu. Itu tidak sopan!" Riji menegurnya.
Dia pun mendekati Riji yang sedang bersandar, dan menendang kakinya.
"Heh.. Memang kau tau apa tentang wanita hah?" Lelaki itu melipat tangannya sembari meremehkan Riji
"Oh iya, kenalkan namaku Volker. Asal ku dari Kerajaan Nymphalidae, kupu-kupu."
Mata Rayva membesar, "Lebih baik kau tidak usah mendekati tuan Putri kami!" Ucapnya menodongkan pedang.
"Wooow! Aku tidak ingin melukaimu nona.." Ucapnya seraya mengangkat tangan.
"Sudahlah Rayva,ngomong-ngomong mengapa tuan mencari saya?"
"Karena saya ingin melamar nona.." Seketika itu Riji berdiri dari duduknya.
"Nama asli saya adalah Kendrick Volker Jarvis."
Cih.. Orang ini..
"Bangsawan Kerajaan Nympalidae." Dengan lembut Putri Zeva menolaknya dan Volker ditawari untuk menjadi salah satu dari anggota grup Pasukan kedamaian.
Yang di namai The Seven Shadow.
Tapi sebelum itu Volker bertanya pada Zeva, mengapa Putri seperti dirinya bisa berada di sini dan ada masalah apa di Kerajaan Rosaceae
Zeva pun menjelaskannya secara rinci, apapun yang ia ketahui tentang peristiwa itu.
"Ah jadi disini kalian." Ucap Sheeren.
"Ow, siapa anda?"Tanyanya melihat Volker.
"Saya Volker, Bangsawan Kerajaan Nympalidae" Ucap Volker.
Mata Sheeren pun melebar, ia berkata akan sangat bagus jika ada seseorang anggota yang berasal dari Kerajaan Hebat seperti Nhympalidae.
Akhirnya Volker pun mau bergabung.
Keesokan harinya saat latihan senjata bersama Zoya, Rei datang.
Ia pun segera bergabung, namun kehadirannya yang mendadak itu membuat Riji penasaran.
Ketika beristirahat, Riji membawa Rei ke dalam menara.
"Hey, darimana saja kau?" Tanyanya sambil melipat tangan.
"Memangnya apa urusanmu?"
"Apa kau tau nona? Aku sangat ketakutan saat di istana itu.. Ku pikir mereka mengenaliku" Ucap Riji.
"Kau ini, lagipula aku sudah pernah melihat wajahmu itu. Bahkan tanpa penyamaran"
Perkataan Rei barusan membuatnya terkejut.
"Hey, hey.. Kapan? Aku tidak pernah menunjukkannya padamu,"
"Oh! Apa kau mengintip ku saat ingin bersiap kemarin?"
Rei menamparnya "Enak saja kau bilang begitu, aku melihatnya saat kau berada di Kamar rehat di tempat pelatihan. Rambut dan matamu berwarna coklat, aku sebelumnya juga bingung. Apakah aku salah lihat, tapi setelah itu dadaku sesak, dan aku harus kembali pulang,jadi aku mengurungkan niat untuk mencari tahunya."
"Oh.."
Suasana pun menjadi sangat canggung. Riji yang masih memakai topeng nya melirik kearah Rei, dia masih terheran-heran, jelas-jelas saat itu dia tidak melepaskan sihirnya. Bahkan, saat tidur sekalipun.
Bagaimana Rei bisa tahu?
Bahkan Raja Felicidae sekalipun tidak mengetahuinya jika itu adalah dirinya.
"Rei! Riji! Kemarilah!" Teriakan Zoya itu memecah lamunan Riji.
Mereka berdua pun segera pergi.
Keesokan harinya
Entah bagaimana,Rei sudah pergi meninggalkan tempat itu. Karena persediaan makanan dan obat-obatan hampir habis, Sheeren pun mengutus Rayva, Ella dan Volker untuk pergi membeli beberapa bahan makanan. Sedangkan dirinya, Zoya, dan Elia pergi ke hutan untuk mencari tanaman obat, Afra harus pergi karena ada panggilan dari Paman Bryatta.
Dan Riji, menjaga tuan Putri Zeva yang tampaknya sedang berlatih menyanyi.
"Tuan Putri... Telinga saya sakit, bisakah tuan putri berhenti bernyanyi sejenak?Tidakkah tenggorokan Anda sakit?" Ucap Riji menutupi telinganya, tapi Zeva malah menyanyi lebih keras lagi.
"Ah, ayolah tuan Putri..."
"Kau adalah pengawal pribadi ku bukan? Nah, oleh karena itu kau harus berada di sisiku."
Tiba-tiba telinga Zeva berdenging.
Dengan cepat Riji menangkap Zeva yang hendak terjatuh itu.
Kakinya mulai melemas karena kelelahan.
Riji pun membawanya ke kamarnya.
Sayangnya kamar di menara itu ada hanya ada 3 dan kamar Zeva dan Elia adalah kamar yang berada dilantai ke 3.
Mau tidak mau Riji harus menggendong Zeva sampai kesana.
"Putri, bisakah kau berpegangan?" Zeva mengangguk.
"Cahaya sang kilat beri aku kecepatan! Mode Cheetah!"
Seketika itu Riji berlari dengan sangat cepat, tapi karena kecepatannya itu rambut Putri Zeva sedikit acak-acakan.
"Maaf Putri.."
"Tidak apa-apa." Kemudian Riji membaringkan Putri di tempat tidur, lalu dia merapal mantra dan dia segera mengobati kaki Zeva.
Tapi anehnya, sihir penyembuhan yang ia gunakan tidak bereaksi sama sekali.
Sudah ia coba berkali-kali dan tetap sama saja.
Kemudian Zeva mengatakan, bahwa tubuhnya selalu menolak sihir.
Jadi saat dia sakit dia hanya bisa menerima obat-obatan herbal.
Namun ketika Riji ingin mencarinya, kakinya juga melemas, sedangkan di bawah nampaknya Elia, Zoya dan Sheeren sudah pulang. Alhasil Riji berjalan dengan tertatih-tatih.
Namun, ini sedikit aneh. Mengapa seperti banyak sekali orang, apakah yang lainnya juga sudah pulang?
Karena curiga, Riji segera bersembunyi di lemari kosong dengan Zeva.
Dari lubang lemari yang kecil mereka bisa melihat, ada beberapa bandit yang datang.
Sekitar 8 orang, 4 orang lagi masih berada di bawah.
Tanpa sengaja Zeva bersin dan membuat para bandit mendekati lemari persembunyian mereka.
Riji mendekati Zeva, dan menyelimuti nya dengan jubah yang ia kenakan, "Angin suci dingin nan sejuk, berikan aku kekuatan tak terlihat mu.."
Sesudah ia merapal mantra itu, salah satu bandit membuka pintu almari.
"Palingan hanya perasaanku saja." Ucapnya menutup kembali almari itu.
"Aku rasa sudah aman Putri" Riji melihat ke arah Zeva, wajah mereka sangat dekat. Bahkan nyaris saja berciuman, dan Riji terpaku dengan mata coklat Zeva mata indah yang tidak asing baginya.
Tiba-tiba dari lantai bawah muncul suara gaduh.
Seperti sedang ada sebuah pertarungan. Para bandit pun turun dan akhirnya Riji dan Zeva keluar dari lemari itu. Tapi ketika dia hendak berjalan, sosok bayangan yang besar menghalanginya. Dia mendongak dan melihat satu bandit gendut. Riji mencari celah dan segera menggendong Zeva sambil berlari, tapi dia dihadang oleh bandit yang kurus. Walau kurus bandit itu sangat lincah, dia mampu untuk menghindari serangan Riji.
Karena terdesak Zeva pun melawan, dia melawan bandit bertubuh besar itu.
Sedangkan Riji masih sibuk untuk menyerang bandit kurus itu dengan sihir pembeku miliknya. Tembakan sihir Riji terus saja meleset untuk mengenai bandit kurus itu.
Dan Zeva tidak bisa melumpuhkan bandit bertubuh besar itu, karena tubuhnya yang keras.
"Riji!" Baru saja Riji menoleh, Zeva melompat dan berjungkir balik menggunakan bahunya sebagai tumpuan.
Dan saat Zeva menghempaskan kakinya bandit kurus itu pingsan karena pukulan tepat di kepalanya
"Nah, satu sudah beres. Sekarang kau bereskan si besar itu saja" Ucapnya.
Riji mengangguk dan dengan sigap dia langsung menyerang bandit besar itu.
Setiap orang pasti punya kelemahan, saat Riji tau kelemahan bandit besar itu adalah lamban dan selalu membuka mulutnya karena lelah. Riji segera menggunakan sihirnya untuk mengalahkannya, "Air yang dingin dan Angin yang sejuk, berikan aku kristal es mu yang bertumpuk!" Kemudian di tangan Riji ada sebuah kristal es yang sangat kecil, seukuran biji jagung.
Saat bandit besar itu membuka mulutnya Riji langsung memasukkannya, dan membuat bandit itu membeku menjadi es.
Setelah itu mereka keluar dari sana, dan mendapati kotak-kotak berserakan di anak tangga.
Di lantai dasar menara terdengar suara pertarungan.
Riji dan Zeva mengendap-endap kesana.
"Hey, apa yang kau lihat kawan?" Tanya Riji pada bandit botak disebelahnya. "Hihihi, lihatlah kawan Baga sedang bertarung dengan seorang wanita,"
"Tunggu, mengapa suara mu berbeda?" Belum sempat melihat siapa, bandit botak itu terlanjur pingsan karena pukulan Riji. Sampai-sampai hidungnya berdarah.
"Ohim! Beraninya kau!" Ucap bandit tinggi dan gendut sambil berjalan kearah Riji.
"Kehim! Ajaklah dia kemari bergulat bersamamu, lihat Tibra sudah gugur. Aku perlu hiburan lagi." Ucap bandit yang sangat pendek, nampaknya dia adalah ketua dari bandit itu. "Hey! Kau bilang setelah kak Zoya menang pertarungan berakhir! Dan kau akan pergi!" Gertak Elia.
"Sayangnya, ada penantang baru nona.. Dan ini pasti akan sangat menyenangkan"