
Universitas intan bangsa
Di ruang dekan Susana nampak tegang , terlihat Sean , Dirga dan Richard sedang beradu argument , para dosen pun nampak beberapa kali melerai , saat Dirga menyerang Richard dengan brutal , namun sayang Sean Adijaya malah membantu Dirga , Membuat semua orang kuwalahan dengan tenaga dua pria bertubuh atletis itu .
"Dasar anj*ng , Lo kira gue gak berani sama Lo hahh, sini Lo Bangs*t gue abisin Lo , Richard sini Lo !!!!!" Teriak Dirga seperti kesetanan ketika sang bapak tiri dibawa keluar , dengan keadaan babak belur dan mengenaskan .
"Dirga jaga sopan santun !!" Salah satu dosen wanita memperingatkan Dirga yang tengah emosi .
"Pria sampah kaya gitu tak pantas di hormati , lepaskan akhhhhhhhh " Teriak Dirga semakin menjadi ketika dia berhasil melepaskan diri .
Dia segera berlari mengejar Richard yang tengah di larikan ke rumah sakit , di depan ambulan emosi Dirga kembali menjadi, dia memaksa para perawat mengeluarkan Richard , yang tengah tak sadarkan diri .
Dengan satu tarikan dia menarik tandu dengan keras , hingga Richard kembali terjatuh dengan sangat kerasnya , seolah tak puas Dirga dengan sigap menendang tubuh Ricard dengan keras , hingga Stev datang memeluknya dari belakang .
Dirga nampak terkejut dengan kehadiran Steven , di detik selanjutnya dia nampak tenang melihat sang kakak ada disampingnya , Stev menuntun sang adik ke sebuah taman diikuti Sean dibelakangnya .
"Minum dulu Dir " Ucap Sean memberikan Dirga satu botol air mineral .
Dirga pun dengan sigap mengambil dan menengguk nya sampai Habis , baru dia bisa kembali mengontrol nafas , yang sedari tadi tak beraturan .
"Why ?" Tanya Stev dengan mengelus pundak Dirga dengan pelan , sebenarnya dia tak tega melihat keadaan Richard , namun dia lebih tak tega melihat sang adik.
"Dia menghina papah , dia menghina mamah Sarah dan mamah Helena , aku mau dia mati kak, bantuin aku " Jawab Dirga dengan memeluk Stev dan menangis di dekapan nya .
"Se ?" Tanya Stev meminta penjelasan kepada Sean .
"Iya Richard berbicara seperti itu di depan kita , Aku yang menjadi saksi atas semua kekacauan ini " Jawab Sean membuat Stev tersulut emosi , berani beraninya pria tua itu menghina keluarga nya .
"Aku sendiri yang membereskannya , tenang saja ini sudah menjadi kegemaran Nindi , biar wanita itu melakukan tugasnya " Ucap Steven dengan nada marah dan geram , dengan tingkah ayah kandungnya itu , yang menurut dia sangat memalukan .
🍂🍂🍂🍂🍂
Di Rumah Sean dan Tasya .
Suasana sore hari ini sangat mencekam , Sean nampak marah melihat postingan Tasya dan Gerald , sebenarnya dia tak masalah dengan foto itu yang menurut dia biasa saja , namun ketika melihat isi komentar , hati kecilnya merasa sakit melihat banyak doa untuk Tasya dan Gerald .
"Mas " Panggil Tasya dengan pelan , dia sangat merasa bersalah dengan suaminya itu , dan dia siap menerima konsekuensi nya .
"Kamu itu menganggap aku suami enggak sih ?, kamu itu seenaknya sendiri tau gak ?, aku gak mau tau dan apa pun alasannya , posting foto pernikahan kita , kalau perlu suruh seluruh stasiun televisi untuk menayangkan nya"Ucap Sean menggebu-gebu .
"Gak bisa secepat itu mas , kalau kita posting foto pernikahan kita , itu sama saja bunuh diri , kamu tau sendiri gimana fans Gerald , biarkan saja toh itu semakin mengangkat nama brand " Jawab Tasya menolak perintah Sean dengan tegas , dia selalu berfikir panjang untuk kedepannya , tidak seperti Sean yang selalu mengandalkan emosi semata .
Sean hanya diam tanpa mengeluarkan statement nya , ucapan Tasya benar juga tapi dia tak sepenuhnya menerima , Sean mau menyangkal tapi tak punya kata kata , untuk melawan argumen Tasya .
"Sudah sudah Jangan terlalu dipikirin mas , sebaiknya mandi gih bentar lagi buka puasa kan biar seger " Ucap Tasya dengan senyum hangat sang suami .
"Hemm " Jawab Sean dengan bergumam saja .
Tak beberapa lama Sean telah selesai dengan ritual membersihkan dirinya , dia nampak lebih fresh dengan Outfit celana pendek hitam dengan kaos polos berwarna putih .
"Sudah selesai ?" Tanya Tasya ketika Sean menidurkan kepalanya di pangkuan nya .
"Hemm " Jawab Sean , nampaknya pria itu masih dalam mode ngambek , membuat Tasya gemas sendiri dengan suami brondong nya .
"Masih ngambek ?" Tanya Tasya dengan mengusap lembut pipi Sean , membuat sang empu berubah menjadi merah .
"Enggak " Jawab Sean dengan menutup wajahnya dengan tangan Tasya , dia tak mau wajah salting nya ketahuan .
"Yaudah keluar yuk , cari takjil sekalian jalan jalan sore , masih kuat kan puasanya ?" Tanya Tasya membuat Sean terkejut dan salah tingkah , dia bingung antara jujur atau berbohong dalam menjawab nya .
"Masih kuat kok " Jawab Sean dengan berbohong membuat Tasya bangga dengan sang suami .
"Yaudah kita pamit Bu Retno dulu , agar beliau tak masak lauk " Ajak Tasya disetujui oleh Sean .
Mereka pun berjalan bersama menuju belakang rumah , nampak Bu Retno tengah sibuk dengan beberapa Potong pakaian yang akan dia seterika .
"Bu saya dan Sean keluar dulu yaa , nanti masak nasi saja , untuk lauk biar nanti saya beli di jalan " Pamit Tasya kepada Bu Retno .
"Iya non hati hati yaa " Jawab Bu Retno sebelum Tasya pergi menjauh dari jangkauan nya .
Sean dengan sigap mengeluarkan salah satu koleksi mobil miliknya , dia memilih mobil Porsche dengan atap terbuka , Agar mereka bisa leluasa menghirup dan menikmati suasana sore hari .
🍂🍂🍂🍂🍂
Markas besar Hercules group
Di sebuah ruangan rapat yang sangat besar , Nindi memimpin rapat yang dihadiri ratusan riders dari seluruh Dunia , mereka sedang membahas penyerangan Rusia terhadap Ukraina , yang berdampak buruk dengan beberapa perusahaan , yang berada di bawah kendali mereka .
Nindi dengan tegas memerintahkan seluruh anak buahnya , untuk melindungi seluruh perusahaan dari ancaman , dia juga tak segan-segan memerintah bawahannya , untuk membunuh mati siapa saja yang akan mengancam nya .
Para rider pun nampak patuh dan puas dengan keputusan Nindi , yang menurut mereka lebih tegas daripada Jay Hercules , sikap Nindi yang frontal dan tempramen , membuat seluruh musuh yang menggangu berfikir dua kali , berhadapan dengan sang bos besar Hercules group .
Setelah rapat selesai , seluruh riders nampak langsung kembali ke negara masing masing , banyak dari mereka menggunakan helikopter, dan tak sedikit juga yang menggunakan jalur laut dengan kapal pesiar .
Nindi dengan langkah anggun nya berjalan menuju ruangan nya , yang berada di lantai paling atas , dia segera mendudukkan bokongnya ke kursi kebesaran .
Tak begitu lama dia membuka kembali handphone , yang sedari tadi dia of kan agar tak mengganggu jalannya rapat , matanya seketika terbelalak melihat berita penganiayaan , yang dilakukan Sean dan Dirga kepada Richard , hingga pria tua itu kritis .
Nindi pun segera memanggil para bahwasannya untuk menghadap kepadanya , ini tak bisa dibiarkan begitu saja.
"Hubungi seluruh ketua partai , untuk membaking hukum Sean dan Dirga , satu lagi hapus seluruh berita nya secepatnya "
Next jangan lupa like coment and faforit 😁🙏