
Waktu terus berlalu, kini kandungan Vania memasuki usia sembilan bulan.
Vania terbangun ketika merasa perutnya sakit.
"Sayang! Sayang! Ayo bangun," ucapnya sambil menepuk wajah Mike.
Mike membuka matanya dan kaget melihat Vania yang tengah meringis kesakitan.
"Sayang kamu kenapa?"tanya Mike.
"Sayang perutku sakit sekali,"ringis Vania lagi.
"Apa kamu akan melahirkan?" tanya Mike.
"Entahlah tapi sepertinya begitu."
Mike bangkit dan segera mengenakan pakaiannya.
"Kita kerumah sakit sekarang!" Mike mengambil jaket untuk menutupi tubuh istrinya.
"Davina! Bangun sayang," ucap Mike sambil menepuk pipi Davina.
Aw ringis Vania.
Davina mengucek-ngucek matanya.
"Bunda, Bunda kenapa menangis?"tanya Davina yang langsung bangkit ketika mendengar Vania yang meringis kesakitan.
"Tidak apa-apa Nak,bunda sepertinya akan melahirkan," jawab Vania.
"Ayo sayang kita kerumah sakit sekarang!"
Mike menuntun Vania untuk berdiri.
"Masih sanggup jalan?" tanya Mike.
Vania mengangguk lirih.
"Vina, ayo Nak."
Karena waktu masih menunjukkan pukul satu dini hari, Davina terpaksa dibawa ke rumah sakit.
Di dalam mobil Vania meringis-ringis kesakitan.
Aw hiks hiks hiks, Vania meringis merasakan sakit pada bagian perutnya.
"Sabar ya Sayang," ucap Mike.
"Hiks hiks hiks Bunda!"Davina ikut menangis melihat Vania yang terlihat menderita karena menahan rasa sakitnya.
Hujan deras melanda wilayah tersebut hingga Mike tak bisa membawa mobilnya yang melaju dengan kencang.
Keringat mengucur deras di wajah Vania.
"Akh Sakit sekali!"
Vania mengatur nafasnya yang terengah-engah,Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa, hingga tubuhnya gemetaran.
"Sayang tenang ya," ucap Mike yang sedang menyetir, padahal ia sendiri tak bisa ternang.
"Awh !" Vania menjerit kembali.
" Bunda , hiks hiks." Davina menangis melihat Vania yang begitu tersiksa.
Sakit! Hiks keluh Vania sambil meneteskannya air matanya.
Mike meraih tangan istrinya yang gemetar, tak pernah ia bayangkan jika melahirkan seorang anak itu begitu menyakitkan.
"Sayang bersabarlah sebentar lagi kita akan tiba," ucap Mike.
"Hiks hiks Bunda,"tangis Davina dengan lirih.
Setelah setengah jam mereka pun tiba di rumah sakit.
Vania langsung diperiksa.
Sementara Mike menunggu dengan gelisah.
" Dedi, bunda kenapa? Kenapa di bawa ke dokter?"tanya Davina sambil menangis.
"Bunda sebentar lagi akan melahirkan kita doakan saja Bunda ya Nak," ucap Mike sambil memeluk putrinya.
Di luar ruang pemeriksaan terdengar suara rintihan kesakitan dari Vania.
"Akh sakit sekali!"ringis Vania.
"Dedi bunda menangis lagi, kita lihat keadaan Bunda, Vina takut Bunda di suntik jarum yang gede oleh om dokter," ucap Davina di sela-sela tangisannya.
"Gak kok Sayang, Bunda sedang diperiksa."
Beberapa saat kemudian seorang suster datang menghampiri Mike.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"Letak bayi anda sungsang, jadi kami akan mengambil tindakan operasi," ucap Dokter tersebut.
"Operasi?!"
Jantung Mike berdetak dengan kencang.
"Iya dokter lakukan apa saja untuk apa saja yang terbaik untuk istri saya."
"Kalau begitu anda tanda tangani prosedur operasi ini."
Dengan tangan gemetar Mike menandatangani prosedur operasi untuk istrinya.
Setelah persetujuan operasi Mike menghampiri Vania.
"Sayang," ucap Mike sambil menggenggam erat tangan Vania yang gemetaran, tangan Mike juga ikut bergetar.
"Sayang, karena letak bayi kita sungsang,Dokter menyarankan agar kamu di operasi."
Vania mengangguk lirih sambil menahan rasa sakitnya.
Dengan penuh kasih sayang Mike mengusap kening dan anak rambut Vania.
Bola mata Mike berembun, melihat sang istri yang tengah berjuang melahirkan seorang anak untuknya. Mike membayangkan bagaimana Vania melahirkan seorang diri saat melahirkan putrinya.
Bulir bening menetes di pipi Mike sambil mengusap kepala Vania.
Wajahnya mendekat ke arah telinga Vania.
"Aku mencintaimu Sayang," bisik Mike sambil mencium lekat pipi istrinya.
"Kamu yang kuat ya,aku gak sanggup melihat kamu menderita seperti ini," ucap Mike lagi.
"Bunda hiks hiks," Davina menangis sambil memeluk tangan Vania.
"Davina kenapa menangis Nak?"
"Vina takut Bunda meninggal," tutur Vina seketika tangisannya pecah.
"Gak kok sayang, Bunda gak apa-apa, doain Bunda agar bisa melewati semua ini," ucap Vania sambil mengusap pipi Davina.
Hiks hiks.
"Kamu yang kuat ya, aku selalu menunggu kamu, setelah ujian ini kita pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna," ucap Mike sambil mengusap kepala istrinya.
Sesekali ia mencium kening Vania.
"Aku pasti kuat kok, karena aku masih gak mau pergi meninggalkan kalian berdua," ucap Vania.
"Permisi Tuan, Nyonya harus dibawa ke ruang operasi," ucap seorang Suster.
'Iya Suster."
Suster mendorong hospital bed keluar dari ruang pemeriksaan menuju ruang operasi.
Selama melewati koridor Mike selalu menggenggam tangan Vania sambil menggendong putrinya.
Ketika hendak masuk ke dalam ruang operasi,Tangan Mike terpaksa harus dilepaskan
"Bunda! Teriak Davina ketika Vania masuk ke dalam ruang operasi.
"Davina,sudah sayang, jangan menangis lagi."
"Hiks hiks,Bunda! Dedi bunda dibawa Suster itu," ucap Davina sambil menangis.
Mike memeluk Davina untuk mengurangi rasa takutnya.
"Vina jangan bersedih ya, kita doakan saja agar bunda selalu di lindungi oleh Tuhan yang maha esa."
"Bunda saat ini melahirkan adik untuk kita dan sebentar lagi adik Vina akan lahir, Vina mau kan punya adik?"
"Gak mau,adik bikin susah bunda saja, sampai bunda nangis-nangis gitu."
Mike tersenyum sambil mencubit pipi Davina.
"Gak lah, dulu Davina waktu lahir juga seperti itu."
Davina mengerucut bibirnya.
"Dedi juga ya?"tanyanya.
'Haha, Iya Sayang. Kita berhutang nyawa pada ibu, karena itulah surga di bawah telapak kaki ibu, jadi Davina harus jadi anak yang menurut kata Bunda ya."
"Iya Dedi."
" Ya sudah kita tunggu saja ya sebentar lagi Bunda juga keluar dari ruang operasi," ucap Mike.
"Iya Dedi."
satu jam menunggu Davina merasa begitu mengantuk, hingga ia tertidur di pelukan Mike.
Tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi dari ruang operasi.
Mike tersenyum sambil mengecup pucuk kepala Davina.
"Adik kamu sudah lahir Sayang," ucap Mike.
Beberapa saat kemudian seorang Suster keluar dari ruangan tersebut dengan membawa seorang bayi.
Mike buru-buru menghampiri suster tersebut.
"Suster bagaimana dengan keadaan istri saya Suster?"tanya Mike.
Pasien baik-baik saja, untuk sementara masih di observasi di ruang operasi.
Oh syukurlah..
"Ini bayi saya tanya Mike?"
Iya Tuan, istri anda melahirkan bayi laki-laki.
Seketika senyum terkembang di wajah Mike betapa bahagianya Mike saat itu.
"Davina, Davina bangun Nak."
"Ada apa Dedi?" tanya Davina sambil mengucuk-ngucuk matanya.
" Adik kamu sudah lahir Davina."
"Sudah lahir, di mana Dedi?"
"Suster boleh saya menggendong putra saya sebentar," minta Mike.
"Oh iya Tuan silahkan saja," suster itu menyerahkan bayinya kepada.
Mike menurunkan Davina kemudian menggendong bayinya.
"Sayang kamu ganteng sekali," ucap Mike sambil mencium bayi itu.
"Dedi Vina boleh lihat nggak dedeknya?"
Mike sedikit membungkukkan tubuhnya ,memperlihatkan bayi laki-laki itu kepada Davina.
"Ih lucunya, pipinya boleh dipegang nggak Dedi?" tanya Vina.
"Jangan sayang."
"Vina boleh gendong nggak?"
"Jangan kamu masih kecil,cium saja dedeknya."
Davina mendaratkan kecupan pada pipi mungil bayi laki-laki tersebut.
Make kembali ke posisi berdiri setelah mencium bayi laki-lakinya ia mengembalikan bayi tersebut kepada suster.
"Silakan suster," ucap Mike.
"Iya Tuan, untuk sementara,bayi Anda saya bawa ke ruang perawatan bayi baru lahir sambil menunggu ibunya keluar dari ruang operasi."
"Iya suster."
"Dedi kenapa dedek Vina di bawa Suster?"
"Nggak kok sayang ,itu hanya sementara, sambil menunggu Bunda keluar dari ruang perawatan operasi."
"Sekarang kita tunggu bunda di depan ruang operasi."
Beberapa saat kemudian Vania keluar dari ruangan operasi.
Mike mengikuti kemana Suster membawa istrinya.
***
Vania membuka matanya setelah dari ruang operasi.
"Bunda," sapa Davina sambil tersenyum.
"Sayang," lirih Vania.
"Dimana Daddy?" tanya Vania lirih.
"Tuh," tunjuk Davina ke arah Mike yang sedang menggendong bayinya.
"Sayang, sudah sadar?" tanya Mike yang langs6 mendaratkan kecupan di kening Vania.
Mike mendekatkan bayinya itu ke Vania.
'Ini bayi kita Sayang," ucap Mike.
Setetes bulir bening menetes di pipi Vania.
"Dia mirip sekali dengan mu," ucap Vania sambil menatap bayi laki-laki itu.
"Iya, dia tampan sekali, matanya hidungnya mirip denganmu," ucap Mike.
Vania mencium bayi laki-lakinya dengan butiran air matanya yang menetes.
"Terima kasih atas perjuanganmu melahirkan putra putri kita, " ucap Mike sambil mencium kening Vania.
Vania dan Mike merasa begitu bahagia atas kelahiran putra mereka.Lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Mike dan Vania hidup bahagia selamanya
Hiks hiks, maaf ya reader, karena author gak tahu harus menulis apa lagi, terpaksa author tamatkan cerita ini 😭😭 karena author gak tega memberikan konflik di rumah tangga mereka.
Terima kasih karena sudah sedia membaca karya author ini, kurang dan lebihnya mohon di maafkan sebesar-besarnya.
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatu 🙏.
Author punya rekomendasi karya baru dari author siapa tahu berminat.
The Twins CEO.
Cerita ini menceritakan perjalanan dua CEO muda dalam menemukan cinta sejatinya. Seperti biasa author mengusung tema konflik ringan dan keluarga hangat,
Atau judul terbaru karya author yg lain.
Pengantin Yang Dipertaruhkan berikut sinopsis nya.
Helena Gwen harus menerima kekecewaan.
Di hari yang sama ia harus menikahi dua lelaki sekaligus akibat sang suami yang kalah dalam perjudiannya.
Pernikahan pertamanya yang ia jalani adalah pernikahan bisnis yang bermaksud untuk menyatukan dua perusahaan terbesar di Asia
Tenggara.
Pernikahan kedua harus ia jalani di hari yang sama bersama Miguel yakini seorang miliader yang memiliki kepentingan pribadi terhadap ayah Helena Gwen.
Pernikahan itu terjadi karena Helena di pertaruhkan sang suami di malam pernikahannya.
lalu bagaimana dengan nasib Helena yang ternyata ia bukanlah satu-satunya wanita milik Miguel Simon dan bagaimana bisa cinta tumbuh di kedua hati yang sama-sama menyimpan dendam.
.