
Hari yang berbahagia untuk Mike dan juga Vania.
Vania menatap wajah di pantulan cermin, dirinya terlihat begitu cantik.Namun masih terlihat kesedihan di wajah Vania.
"Van kok sedih sih?" tanya Marina.
"Iya kak, aku sedih saja karena tak ada satupun Keluarga ku yang hadir, bahkan adik-adik ku pun, aku tak tahu saat ini ia berada di mana."
"Sudahlah Vania, jangan rusak momen bahagia mu, lihatlah Davina saja bahagia" ucap Marina.
"Bunda! " Panggil Davina.
Vania menoleh ke arah Davina.
"Bunda, Vina cantik gak?"
"Cantik dong," sahut Vania sambil mencubit pipi Davina.
"Cantik seperti siapa?"tanyanya lagi.
"Cantik seperti Cinderella."
Hm, Davina tersipu-sipu karena malu.
"Tante Marina, Davina cantik gak?" tanyanya lagi sambil memutar-mutar tubuhnya.
"Cantik dong, keponakan Tante."
Marina mencium pipi Davina yang begitu menggemaskan itu.
Satu persatu ia bertanya kepada orang-orang yang ia kenal yang berada di ruang di mana Vania di rias.
"Lihatlah anakmu Van, dia begitu bahagia dengan gaun Cinderella nya," cetus Marina.
"Iya, syukurlah Davina sudah kembali ceria."
"Kak, nanti tolong jaga Davina ya,saat aku dan Mike sedang berada di atas altar."
"Iya, kamu tenang saja."
***
Sementara Di rumah Mike ,persiapan pernikahan juga terjadi.
Hari yang berbahagia bagi Mike ketika melihat dirinya di pantulan cermin, yang tengah mengenakan jas pengantin prianya.
Mike tersenyum dengan bangga dan bahagia.
Nyonya Wilhelmina menghampiri kamar Mike.
"Wah Mike kau tampan sekali, mommy pikir kau belum siap, karena itulah mommy datang kemari untuk membantumu."
"Sudah mommy! Aku sudah siap!"
Nyonya Wilhelmina menatap ke arah Mike yang bersikap dingin terhadapnya.
"Mike, kenapa sih, akhir-akhir ini kau bersikap dingin dan bicaramu selalu ketus terhadap mommy. Memang mommy salah apa sih Mike?"
Mike hanya diam sambil mengenakan jam tangannya.
Mike tak menjawab, bahkan menoleh pun tidak pada Nyonya Wilhelmina.
Nyonya Wilhelmina menghempaskan nafas panjang.
"Sudah mommy duga sebelumnya Mike, pasti karena hasutan Vania itu kan kamu jadi sinis sama mommy!"
"Mike, Vania sekarang bukanlah Vania yang dulu. Dulu memang benar jika Vania itu polos, tapi setelah ia memiliki kesuksesan, mommy melihat ada perubahan pada dirinya."
"Kau pikir dengan usaha yang berkembang sukses seperti ini, itu adalah murni dari usaha Vania Mike?"
"Tentu tidak, dia pasti memanfaatkan kecantikannya itu sebagai modal awal kesuksesannya."
"Vania itu sebenarnya telah menikah dengan salah satu pengusaha sukses dan pengusaha, pasti pengusaha itulah yang telah memberi modal untuk bisa menjalankan usaha hingga dia sukses seperti ini."
"Ingat Mike, Vania dapat uang dari mana, sehingga ia bisa membangun rumah makan yang cukup besar itu, jika tidak dari hasil menjual diri."
Mike mulai terpancing emosi mendengar kata-kata Nyonya Wilhelmina itu. Namun ia berusaha untuk tetap sabar dan tenang karena tak ingin merusak momen bahagianya.
"Mommy memang membayar Vania dua puluh juta setiap bulannya, tapi itu langsung masuk ke rekening ibu Lisa dan asal kamu tahu Mike, setelah keluar dari rumah ini Vania tak pernah kembali ke rumah orang tuanya."
Nyonya Wilhelmina coba untuk mengubah pendirian Mike agar ia membatalkan pernikahan pada Vania.
"Ayolah Mike, mommy hanya ingin menyadarkanmu, agar kau tak menyesal di kemudian hari."
Nyonya Wilhelmina membujuk Mike dengan segala macam cara agar membatalkan pernikahan itu.Ia masih tak rela jika Vania menjadi menantu di keluarganya kembali.
Mike sengaja membiarkan Nyonya Wilhelmina membicarakan yang tidak-tidak tentang Vania sambil ia merekam suara Nyonya Wilhelmina.
Biasanya orang yang berbohong akan terkesan berbelit-belit.Mike menunggu Nyonya Wilhelmina keceplosan dan secara tak sengaja membongkar kebusukannya sendiri.
"Seseorang yang sudah merasakan hidup enak, ia akan semakin rakus untuk memiliki harta Mike. Karena itulah Vania menuduh mommy meracuni Davina dengan lolipop itu."
"Dengan begitu, kamu tidak akan percaya lagi pada mommy, dan Vania bisa menguasai kamu sepenuhnya Mike!"
'Darimana dia tahu jika kami mencarinya telah memberikan racun pada Davina.' batin Mike sambil menoleh ke arah Nyonya Wilhelmina.
"Sudah selesai mommy?!"tanya Mike ketika Nyonya Wilhelmina berhenti untuk melihat reaksi dirinya.
"Mike kau tak percaya kata-kata mommy mu ini?kau lebih percaya orang lain. Mike wanita yang lebih cantik dari Vania itu banyak, mommy hanya ingin agar kau pertimbangan kembali, kau terlalu cepat memutuskan pernikahan ini Mike, berpikirlah yang jernih, coba dengarkan mommy dulu Mike!"
"Sudahlah mommy, hari ini, hari pernikahan ku, jadi jangan ada drama lagi yang bisa merusak hari bahagia ku ini."
Mike berlalu begitu saja meninggalkan Nyonya Wilhelmina yang kini menatap tajam ke arahnya
"Dasar keras kepala kau Mike! Apa harus aku menghabisi kalian semua!"
"Huh tapi, itu terlalu berisiko."
Nyonya Wilhelmina merogoh saku tasnya untuk mengambil gawai miliknya yang sedang bergetar.
"Halo Mishel ada apa?"
"Mommy, apa kau sudah berhasil menyingkirkan anaknya Mike itu?" tanya Mishel.
"Diamlah kau! Aku sudah bilang jangan memanggilku dengan panggilan Mommy di telepon!"
"Tapi mom …"
Nyonya Wilhelmina langsung memutuskan sambungan teleponnya.
***
Untuk mencegah hal yang tidak-tidak tuan John mengerahkan pasukan keamanan untuk mengawasi gereja tempat dimana Mike dan Vania akan melangsungkan pernikahan.
Tak hanya itu kendaraan yang akan mengawal Mike dan Vania di periksa dengan seksama.
Mike memasuki mobil pengantinnya disusul dengan tuan John dan nyonya Wilhelmina dengan mobil yang berbeda.
"Dari siapa sih mommy, kok dari tadi tadi sibuk sendiri?" tanya tuan Jhon yang memperhatikan Nyonya Wilhelmina yang sibuk dengan urusannya.
"Eh gak apa-apa kok Daddy." Nyonya Wilhelmina menutup pesannya.
Tuan John menatap curiga ke arah istrinya itu yang terkesan menyembunyikan sesuatu.
***
Mike tersenyum sepanjang perjalanannya, akhirnya waktu yang dinantikan akan segera tiba.
Setengah jam kemudian ia sudah tiba di gereja.
Kedatangannya berbarengan dengan mobil Vania yang juga baru tiba di gereja.
"Bunda itu Dedi!" Seru Davina dengan bahagia.
Mike yang melihat mobil Vania tiba, langsung menghampiri mobil pengantinnya itu.
Dengan rona wajah yang bahagia, Mike membuka pintu mobil untuk Vania.
"Ayo Sayang," ucap Mike sambil menyodorkan tangannya ke arah Vania.
Vania turun dari mobil sambil menggandeng tangan Mike.
Keduanya melambaikan tangannya sepanjang koridor menuju Senyum merekah tak henti menghiasi wajah pengantin baru itu.
***
Beberapa saat kemudian upacara pemberkatan nikah pun telah selesai. Kedua pasangan itu kini telah resmi menjadi suami dan istri.
Mike menuntun Vania kembali untuk meninggalkan gereja. Tuan Jhon menghampiri Vania dan Mike.
Ia merentangkan tangannya kepada kedua pasangan pengantin tersebut.
'Selamat ya Mike dan Vania," ucap Tuan John memeluk Mike.
"Terima kasih daddy," ucap tuan John.
Tuan John menghampiri Vania.
"Selamat datang kembali di keluarga kami Vania, semoga kebahagiaan menyertai kau dan Mike," ucap tuan Jhon sambil memeluk Vania.
"Terima kasih Daddy," ucap Vania membalas pelukan tersebut.
Vania meneteskan air mata antara haru dan beberapa saat mereka mengurai pelukannya.
Sementara Nyonya Wilhelmina enggan memberikan ucapan selamat kepada keduanya.
"Opa!" Panggil Davina sambil berlari menghampiri tuan John.
Tuan John menoleh ke arah Davina.
"Opa, Vina cantik tidak?"tanya Davina sambil memutar tubuh mungilnya di hadapan tuan John.
"Cantik sekali!"ucap Tuan John sambil mengangkat tubuh Davina kemudian menggendongnya.
Tuan John berkali-kali mencium pipi Davina yang chubby itu.
"Ayo kita pulang ke rumah dulu untuk mempersiapkan acara selanjutnya," ajak tuan John.
"Iya daddy."
"Davina Sayang, ikut bersama Opa di dalam mobil ya," ajak tuan John.
"Gak mau!"
"Kenapa Sayang?"
"Takut!"
"Takut kenapa?"
Davina melirik ke arah Nyonya Wilhelmina kemudian berbisik di telinga tuan John.
"Vina takut sama Oma, wajah Oma seperti nenek sihir dalam mimpi Vina."
"Hah!" Tuan John kaget mendengar penuturan dari cucunya itu.
"Haha, jangan begitu, biar bagaimanapun dia adalah Oma Davina."
Nyonya Wilhelmina menatap sinis ke arah Davina. Hingga Davina takut sampai melorotkan tubuhnya kebawah.
Davina berlari kecil menghampiri Vania dan Mike yang berjalan bergandengan tangan.
Tuan John melirik ke arah Nyonya Wilhelmina.
"Kenapa dia begitu takut pada mu?!"tanya tuan John.
"Ah paling-paling Vania yang menjelek-jelekkan aku jadinya Davina takut kepada ku."
"Kalau dengan anak kecil tatapanmu jangan terlalu sinis, Davina itu masih kecil, pasti dia takut melihat wajahmu itu."
"Ah kau selalu menyalahkanku dan membelanya," dengus Nyonya Wilhelmina.
***
Mike dan Vania tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah para tamu dan wartawan yang mengabadikan momen indah mereka, rona wajah mereka terlihat begitu bahagia.
"Kau cantik sekali malam ini," bisik Mike.
Vania hanya tersenyum.
"Aku jadi tak sabar menunggu malam pertama kita," ucap Mike sambil tersenyum mesum.
"Maaf ya, tapi hari ini aku tak bisa."
"Kenapa?"
"Biasalah aku kedatangan tamu bulanan."
"Hah kau serius?"tanya Mike bernada kecewa.
"Seriuslah," sahut Vania sambil tersenyum.
'Yah, harus menunggu berapa lama lagi?"tanya Mike dengan kecewa.
"Haha paling seminggu."
"Yah gak jadi lagi makan duren Montong, nasib-nasib," cetus Mike bernada kecewa.
Vania tersenyum simpul karena Mike begitu percaya dengan kebohongannya.
'Huh bagaimana nanti malam kalau Mike tahu aku sedang tak datang bulan?' batin Vania .
bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya.