My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Bertemu lagi



Vania menarik napas lega, karena berhasil keluar dari perusahaan tersebut.


"Untung saja dia tak mengenalku,semoga saja ini terakhir kalinya aku bertemu dengannya."


Vania kembali membawa laju mobilnya.


***


Robby tiba di depan rumah makan Vania.


Kebetulan saat itu, Vania berada di meja kasir karena para pegawainya sedang sibuk.


"Eh pak Robi, ada apa Pak ?"tanya Vania.


"Mbak, kedatangan saya yang kemari untuk menyerahkan surat kontrak dan meminta Mbak Vania menandatangani surat ini."


"Ini kontrak kerjasama kita ya?" tanya Vania.


"Ya mbak, silakan baca dan tanda tangan ini."


"Oke terima kasih pak Robi."


Vania membaca dengan seksama, isi dari perjanjian surat kontrak itu, kemudian ia menandatanganinya."


"Ini pak Robby sudah saya tanda tangani."


Vania menyodorkan dua lembar bekas tersebut kepada Robby.


"Oke berarti kerjasama Kita deal ya."


'Iya Pak Robby."


"Nanti saya akan informasikan kapan mulai pengiriman catering nya."


"Oke Pak terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi dulu ya Mbak Vania."


"Iya Pak silahkan."


Setelah mendapatkan tanda tangan kontrak dari Vania, Robby segera menghampiri Mike.


"Ini Tuan. Kontrak kerja sama kita dengan rumah makan Davina."


Mike langsung memeriksa berkas berkas yang di sodorkan oleh Robby.


"Silakan kembali ke tempat mu!"


"Baik Tuan."


Mike masih memeriksa berkas-berkas itu dan menemukan tanda tangan dan nama lengkap Vania.


"Vania Asterina," seketika senyum mengembang di wajahnya 


"Ternyata benar dia adalah istriku yang aku cari selama ini. Akhirnya aku benar-benar bisa bertemu dengannya," ucap Mike dengan perasaan bahagia sekaligus haru.


Mike kemudian menandatangani surat perjanjian kerjasama itu dengan membubuhkan nama tanda tangan dan cap dari perusahaannya.


Setelah menyimpan surat perjanjian tersebut Mike keluar dari ruangannya.


"Robby aku keluar sebentar!"


"Baik Tuan."


"Wah Tuan mau kemana tuh? Jangan-jangan dia mau ketemu Vania lagi, terus menyatakan perasaannya pada Vania dan …"


"Ah aku jadi menyesal meminta bantuan Vania untuk membantuku tadi! Coba saja tuan Mike tak melihat Vania, pasti dia tak akan punya perasaan terhadap gebetan ku itu,"omel Robby.


***


Sementara Mike menghampiri mobilnya menuju rumah makan Davina.


Sesampainya di rumah makan tersebut Mike hanya memarkir kendaraannya saja sembari melihat keadaan rumah makan tersebut.


"Rumah makan Davina?Tapi Davina siapanya Vania?  kenapa ia memberi nama rumah makannya dengan nama Davina?"pertanyaan bertubi-tubi dilayangkan Mike tanpa ada jawabannya.


'Apa Vania sudah menikah dan punya anak dengan suaminya?' batin Mike dengan cemas.


Mike membuka kaca spion mobil dan melihat dari jauh Vania tengah melayani pelanggannya.


Mike membuka pintu mobil kemudian di urungkannya, ia kembali menutup pintu mobil tersebut.


"Vania bisa syok jika aku tiba-tiba datang kemari, sebaiknya aku sabar dahulu sambil menunggu waktu yang tepat."


Mike kemudian menyalakan mesin dan keluar dari halaman parkir rumah makan Davina tersebut.


***


"Robby ke ruangan ku sekarang!"


"Iya siap Tuan!"


Sesampainya di ruangan seperti biasa Robby berdiri menunggu perintah.


"Robby, besok kau atur pertemuan pribadi Antara Aku dan pemilik Rumah makan Davina itu."


Robby sedikit kaget mendengarnya.


"Memangnya ada apa ya Tuan?" tanya Robby keceplosan 


.


Mike menatap tajam ke arah Robi. Hingga membuat Robby jadi grogi.


"Maaf tuan bukannya saya lancang, hanya saja saya perlu memberi alasan untuk mengajak Mbak Vania bertemu secara pribadi."


"Kamu bilang pertemuan ini akan membahas masalah kerjasama Kita. Tapi ingat kamu tidak boleh menyebutkan nama saya di depan Vania."


Sekali lagi Robi dibuat bingung tapi ia hanya bisa menjalankan perintah.


"Baik Tuan."


Keluar dari ruangan CEO Robby segera menghampiri tempat duduknya kemudian melakukan panggilan telepon terhadap Vania.


"Halo selamat siang pak Robby," sapa  Vania.


"Selamat siang Mbak Vania."


"Iya ada apa pak Robi?"


"Maaf Mbak, besok CEO Angkasa Pura meminta untuk pertemuan dalam membahas masalah kontrak kerjasama kita sebelumnya.


"Oh baiklah, jam berapa pertemuannya?" pak Robi.


"Sekitar jam 10.00 pagi saja Mbak, ini hanya pertemuan pribadi yang menyangkut masalah kontrak kerjasama."


"Baik pak Robby besok pagi saya akan hadir di sana."


"Oke mbak terima kasih "


Robby menutupi teleponnya.


Keesokan harinya Vania sudah bersiap untuk bertemu dengan CEO PT Angkasa pura.


Iya menggunakan rok span hitam dan blazer hitam dengan kemeja berwarna ungu yang identik sebagai warna para janda, meskipun Vania tidak bermaksud mengumbar statusnya sebagai seorang janda.


Vania menggulung rambutnya hingga ke atas dan menyisakan sedikit rambut poni di bagian depan hingga membuatnya tampak semakin cantik dan elegan.


Vania berjalan melewati koridor, kehadirannya seketika ia jadi pusat perhatian di kantor tersebut..


Vania menelpon Robny ketika berada di pintu lift.


"Halo Pak Robby, saya sudah sampai pertemuannya di mana ya?" tanya Vania.


"Oh kalau gitu, Tunggu saja diri Mbak ,Nanti saya yang akan mengantar Mbak."


Vania menunggu di depan pintu masuk lift, beberapa saat kemudian lift terbuka dan menampakkan wajah Robby.


.


"Eh sudah lama menunggu Mbak ?"tanya Robi


"Tidak juga," sahut Vania.


"Mari saya  antar Mbak, ke ruangan CEO kami."


Vania dituntun oleh Robby untuk menuju ruangan CEO.


"Silakan Mbak Vania," ucap Robi sambil membukakan pintu ruangan tersebut.


'Terima kasih pak Robby ,"ucapnya sambil tersenyum Ia pun melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.


Deg deg deg


Kembali jantung Vania berdetak kencang, ketika ia melihat wajah CEO Angkasa pura yang ada di hadapannya. Bola mata Vania pun melebar dengan sempurna.


"Ternyata Dia adalah seorang CEO di perusahaan ini," ucapannya lirih seperti ingin menangis.


bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya